
Zac kemudian mundur dan melepaskan cengkramannya, ia mulai mengendur dan membebaskan Gaby dari kungkungannya.
"Saya tidak seperti wanita-wanita yang gampangan tidur dengan anda... Anda mungkin terbiasa dan sudah akrab dengan situasi ini, bahkan tadi di depan orang tua anda tapi saya..."
Namun, tanpa mendengarkan kalimat Gaby sampai habis Zac memutar tubuh dan wajahnya, ia berbalik tanpa melihat ke arah Gaby.
Beberapa langkah barulah ia berhenti, tubuhnya masih membelakangi Gaby, tanpa memutar wajahnya ia berkata.
"Kau tidak perlu mengatakan sesuatu yang sebenarnya kau tidak tahu apapun, aku benci dengan wanita yang sok tahu." Kata Zac.
"Tapi...!! Semua berita tentang anda yang tidur dengan puluhan wanita telah menyebar!!!" Teriak Gaby.
"Ya, memang itulah tujuanku, semua orang berfikir seperti itu, jadi tidak masalah kau berfikir begitu juga." Kata Zac dingin dan berjalan pelan menuju kamarnya.
Gaby saat itu terdiam, ia seperti melihat seorang pria kuat namun juga rapuh, seorang pria yang kesepian, Gaby melihat punggung lebar dan kokoh milik Zac, namun ia juga melihat kesedihan, entah itu hanya firasatnya ataukah memang benar, sesuatu yang besar sedang Zac sembunyikan.
"Aku pikir Tuan Muda Zac memyembunyikan sesuatu."
Beberapa menit, Gaby hanya berdiri dan terdiam bersamdar pada dinding di dekat dapur.
Kedua mata lentik Gaby akhirnya bertengger pada secangkir kopi hitam yang beberapa saat lalu ia buat.
"Astaga... Kopinya..." Kata Gaby berdecak dan berjalan mengambil kopi tersebut.
Gaby menempatkan cangkir mewah itu di atas loyang marmer mewah pula.
Dengan hati-hati Gaby membawanya menuju kamar Zac.
Saat itu pintu kamar Zac terbuka sedikit, dan Gaby mengerutkan alisnya.
"Apakah masih lembur?" Tanya Gaby lirih.
Lampu kamar masih menyala, Gaby masuk dengan membawa loyang dan secangkir kopi.
Bibir Gaby sedikit tersenyum tatkala ia berhasil masuk dan melihat tuannya sedang duduk di kursi kerjanya membelakangi pintu.
__ADS_1
Gaby berfikir Zac sedang sibuk dengan komputernya, sehingga Gaby langsung masuk untuk memberikan kopinya.
"Tuan Muda, anda lupa dengan kopi anda, mungkin sudah dingin apakah perlu saya buatkan lagi..." Kata Gaby yang masih memiliki jarak cukup jauh masih membawa nampannya, ia berdiri di tengah-tengah ruangan.
Namun, Zac tak menjawab. Gaby melihat satu tangan Zac yang kekar memegangi beberapa berkas di atas meja, namun ia tak bisa melihat keseluruhan Zac yang duduk membelakangi nya menggunaka kursi kebesarannya.
Gaby kemudian melangkah maju lagi, ia berfikir Zac tak mendengar ucapannya. Namun, pada akhirnya Gaby memang sudah paham betul sifat Zac meski baru beberapa jam menjadi sekretaris Zac.
Pria itu, Zac, si pemuda sombong bagi Gaby, adalah orang yang cenderung tidak mendengar suara lain untuk masuk ke telinganya ketika sedang fokus, bukannya tidak bisa mendengar, namun memang tidak mau mendengarkan.
Gaby pun memutuskan untuk maju dan langsung meletakkannya saja di atas meja.
"Tuan muda Zac..." Kata Gaby lagi semakin mendekat.
Gaby melenguhkan nafasnya, ia baru ingat dan sadar pria itu pasti telah mengabaikannya, pria itu pasti sudah sangat marah padanya. Gaby, mulai ingat pula jika Zac adalah monster berdarah dingin.
"Tuan Muda Zac, saya tidak bermaksud untuk melukai perasaan anda, saya akan menaruh kopi ini di meja anda, jika anda sangat marah terhadap saya, maka maafkan saya." Kata Gaby.
Gaby pun melangkah maju, namun ketika ia mulai mendekat, sesuatu yang aneh pun mulai menyeruak.
Gaby menelan ludahnya kenapa Zac memanggil manggil namanya. Gaby melihat urat-urat tangan Zac mengencang dengan tonjolan-tonjolan otot yang semakin meremas beberapa berkeas di tangannya yang ada di atas meja.
Gaby pikir Zac sedang sakit, seketika Gaby pun langsung menaruh kopi itu di atas meja dengan suara yang sangat keras. Hampir membanting.
Seketika Gaby langsung memutar kursi Zac, dan terkejutlah ia pada pandangan mata nya yang tertuju pada sosok Zac.
Saat itu Zac membuka matanya dan terlihat Gaby ada di hadapannya.
Sedangkan Gaby, melihat ke arah celana yang sedikit terbuka dan mengeluarkan benda milik Zac sedang kan tangan satunya milik Zac sibuk memegangi dan membuat gerakan naik turun, benda itu besar namun masih sedikit lembek, sesuatu yang dalam proses tegak berdiri meski belum sempurna.
"I...Ituu..." Gaby seketika mematung dengan wajah yang sangat merah.
Gaby memergoki Zac sedang membuat benda miliknya berdiri.
"Tuan... Tapi... Kenapa amda memanggil nama saya... De.. Dengan memegang benda itu..." Kata Gaby tergagap.
__ADS_1
Zac diam dan hanya melihat Gaby dengan dingin, namun beberapa saat kemudian melihat Gaby ada di hadapannya benda miliknya tiba-tiba bergerak naik dan menjadi semakin kokoh berdiri, urat-urat yang terukir indah pun menonjol dengan sempurna.
Zac menelan ludahnya dan tubuhnya semakin memanas hanya dengan melihat Gaby ada di hadapannya memandanginya.
Merasa di perhatikan oleh Zac, Gaby semakin kwalahan, ia panik, ia takut, ia malu, ia terkejut, dan juga kebingungan harus mengatakan apa pada Zac.
"Anu... Tuan Muda... Pertama-tama tolong maafkan saya... Emm... Saya... Harus bilang bagaimana ya Tuan... " Gaby memalingkan wajahnya dan ingin menutup matanya.
"Sa... Saya tidak tahu anda sedang melakukan hal seperti itu... Sa... Saya..."
"Apa kau tidak tahu caranya mengetuk pintu atau semacamnya?"
"Ten... Tu saya tahu Tuan, tapi saya sudah memanggil manggil anda, saya terus berbicara pada anda tapi anda tidak menyahut, ketika saya mendekat anda melenguh dan memanggil nama saya, saya pikir anda sedang sakit, karena wajah anda sedikit terlihat seperti sedang kesakitan saat kemudia saya putar kursi anda... Ternyata anda sedang melakukan itu... Maafkan saya Tuan Muda saya benar-benar tidak tahu...!!!" Kata Gaby kebingungan apakah ia harus berbicara dengan memalingkan wajah nya atau melihat ke arah Zac.
Zac masih diam.
"Atau mungkin anda tidak mendengar saya karena... Anda terlalu bersemangat dan terlalu fokus melakukan itu Tuan Zac..." Kata Gaby dengan mengumpulkan semua keberaniannya untuk membela dirinya.
Gaby tak ingin di pecat, tapi apa yang telah ia lakukan adalah kesalahan fatal, itu adalah ruang an Zac dan sudah pasti Zac memiliki hak privasi, namun ia justru menerobos masuk dan melihat hal tak senonoh seperti itu.
Gaby menelan ludahnya ketakutan.
Zac kemudian memijit pelipisnya dan berdiri.
Gaby melirik sedikit dan gugup.
"Kenapa dia tidak memasukkan benda besar itu ke dalam celananya!!!" Geram Gaby dalam hati.
"Kau ingin melihatnya?" Tanya Zac mendekat pada Gaby.
"Maa... Maaf... Kan saya... Saya tidak berani Tuan Zac."
"Tapi kau tadi melihatnya, dan aku juga tahu kau mencuri-curi ingin melihatnya lagi." Kata Zac lagi berdiri di hadapan Gaby dengan angkuh.
"Ba... Bagaimana saya tidak melihatnya? Anda seperti ingin memperlihatkannya pada saya..." Kata Gaby membela dirinya tak mau kalah.
__ADS_1
Bersambung