Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 150


__ADS_3

Gia masih diam termenung tanpa menjawab sepatah kata pun.


"Baiklah... Aku akan pergi, dan akan menunggu kabar selanjutnya." Kata Carlos.


Kemudian Carlos memberikan kode pada salah satu pengawalnya.


"Berikan padanya." Kata Carlos.


Sang pengawal memberikan satu ponsel pada Gia.


"Kau hubungi aku menggunakan itu, aku akan ada di sekitaran sini, jadi malam ini tentukan pilihanmu, besok pagi aku akan mendatangimu." Kata Carlos melangkah pergi.


Gia melihat mobil-mobil beriringan itu pun akhirnya pergi, dan ia berjalan lamban untuk menuju penginapan, di tangannya begitu banyak ada pilihan.


Gia merasa tiba-tiba ia berada dalam kubangan masalah setelah menyelamatkan pria tampan itu, dan yang paling membuat sakit hatinya adalah, ternyata pria itu sudah memiliki istri.


"Ben tergila-gila pada istrinya..." Kalimat Carlos terus saja dan selalu ternginang-ngiang di telinga Gia.


Gia masuk ke dalam minimarket dan langsung menunju kamarnya, dimana kamar dan minimarket menyambung menjadi satu.


Setiap akhir minggu akan ada truk kecil yang mengangkut persediaan untuk minimarket tersebut, entah siapa yang menyuruh dan siapa yang membayar namun seolah-olah itu sudah menjadi keharusan, mungkin pengelola pulau atau pemilik pulau masih membuatnya seperti itu, dan membayarnya dari tempat dia sekarang berada entah dia ada dimana.


Gia duduk di lantai, di hadapannya ada beberapa benda yang harus ia pilih.


Di antaranya, jam tangan mewah milik Ben, ponsel dan 2 plastik Ziplock berisi suntikan hidup dan mati, pilihan-pilihan itu begitu sulit bagi Gia.


"Jika saja kau belum punya istri, pasti pilihan ini tak akan pernah sulit." Kata Gia menyandarkan kepalanya di atas lengannya dan memandangi semua barang-barang itu.


Gia duduk lesu di atas lantai menyandarkan kepala di atas lengannya yang ia taruh di meja.


"Apakah dia mau makan? Apakah dia bisa makan?" Tanya Gia lagi dengan suara lirih.


"Apakah aku biarkan saja, dan dia akan mati dengan sendirinya? Lagi pula jika di hidup istrinya pasti akan menemukannya dan mereka akan bersama."

__ADS_1


"Ataukah, aku membawanya pergi? Haaahaaa... Jangan konyol Gia, kau pikir kau siapa dan punya apa? sepeda saja butut." Kata Gia.


"Aku bingung..." Gia hanya memandangi barang-barang yang ada di hadapannya dengan lemah.


Malam pun kian lama kian larut, dan jam terus berputar hingga matahari pagi pun menyembul di ufuk timur.


Saat itu Gia masih tertidur di tempat duduknya di lantai, menyandarkan kepalanya di atas meja yang ada beberapa barang yang membuatnya kebingungan semalaman.


Pintu tiba-tiba di buka, itu adalah Ben, pria itu berjalan hingga ke mininarket depan dan mencari Gia karena dia khawatir, apalagi Ben sadar Gia tidak menemuinya, Ben pikir Gia tidak pulang dan terjadi sesuatu.


Saat Ben berjalan pelan ia melihat Gia masih tidur, matanya kemudian tertuju pada barang-barang di samping kepala Gia.


Itu adalah jam tangan, ponsel, serta 2 plastik Ziplock berisi suntikan dan Vial ampul.


Ben mengambil 2 plastik berisi ampoul dan membaca setiap ampoulnya.


Dengan menahan nyeri Ben menaruh infusnya di atas almari dan kemudian membuka plastik suntikan itu.


Untungnya transfusi darah sudah selesai dan Ben melepaskan nya sendiri sebelum ia pergi mencari Gia.


Ben kemudian mengambil ponsel yang ada di hadapan Gia, dan memeriksanya.


Senyuman kecil berada di sudut bibir Ben.


"Di sadap." Kata Ben mengotak atiknya.


"Baiklah, mari kita lihat pilihan apa yang akan kau buat Gia, waktumu sebelum semua orang tiba ke sini." Kata Ben.


Saat itu juga Ben mengotak atik ponsel pintar itu, dan melakukan sesuatu setelah selesai Ben keluar dari kamar Gia.


Gia tak menyadari jika Ben sudah datang dan memeriksa kamarnya, serta memakai ponselnya.


Saat Ben keluar ia mengambil beberapa permen untuk ia makan, karena ia tak mau lagi minum alkohol ia pun mengambilnya dan menaruhnya di dalam saku nya. Satu permen ia buka dan ia makan.

__ADS_1


Dengan berjalan tertatih dan tak sempurna, Ben berusaha untuk kembali ke kamarnya.


Setelah beberapa jam kepergian Ben, Gia pun bangun dan tersadar, ia membersihkan mulutnya dari air liur yang mengucur.


"Astaga... Aku ketiduran..." Kata Gia yang masih setengah sadar.


Matanya kembali melihat barang-barang di hadapannya membuat ingatannya kembali pada kejadian tadi malam.


"Ya ini sudah waktunya untuk aku mengambil keputusan bukan?" kata Gia.


Kemudian Gia menyambar jaketnya dan keluar dari kamar, pagi itu udara sangat dingin dan menusuk seluruh tulang belulang Gia, kabut masih ada meski matahari sudah naik.


"Baiklah, mari ambil beberapa tanaman, aku bisa melakukannya." Kata Gia.


Saat itu Gia berniat mengambil tanaman obat untuk di berikan pada Ben.


Gia memetik beberapa di kebun yang sudah ada sejak Gia datang, kebun-kebun itu seluruhnya berisi tanaman obat dengan pot-pot besar dan kecil beranekaragam, dan sekelilingnya di lindungi dengan plastik warna putih.


Kebun sederhana yang sepertinya di rawat dengan baik oleh sang pemilik tersebut, Gia menduga pemiliknya adalah pemilik pulau itu juga, yang membangun klinik serta minimarket dan kota yang mangkrak.


Gia sedikit mengerti tentang hal pengobatan alternatif melalui tumbuhan, ia sudah beberapa kali meraciknya sendiri untuk mengobati luka dan menyembuhkan luka kecil untuk para warga.


Dengan cekatan tangannya memetik beberapa tumbuhan lalu Gia menaruhnya di dalam keranjang rotan yang ia bawa di pinggangnya.


"Baik Ben, aku sudah memutuskannya, aku akan memilikimu selamanya, aku akan melakukan apa saja agar kau segera sembuh dan sehat, namun dengan cara membuatmu kehilangan ingatanmu, aku sudah membaca buku, ada beberapa ramuan obat dari tumbuhan yang bisa membuat mu sedikit demi sedikit kehilangan ingatan, aku berjanji akan menjagamu dengan segenap tenagaku, aku sudah menyelamatkan hidupmu, tak apakan jika aku sedikit serakah tentang ingin memiliki mu walaupun tidak dengan ingatan mu, aku akan membuatmu bahagia dan aku akan menjadikanmu suamiku yang bahagia." Kata Gia bersemangat dan begitu antusias.


"Aku tak akan menyuntikkan apapun dari obat-obatan yang di berikan oleh pria itu karena aku tak tahu kandungan apa yang ada di dalamnya, bisa jadi semua ampoulnya akan membunuhmu, aku tidak percaya pada orang itu." Kata Gia selesai memetik beberapa tumbuhan dan menenteng rotannya.


Gia pun berjalan perlahan menuju minimarketnya kembali, alas kakinya tiba-tiba putus, dan ia terkejut melihat betapa kakinya sangat kotor dan begitu lusuh, pakaiannya juga tak layak untuk di sebut pakaian wanita.


"Apakah aku harus berdandan untuk Ben, sepertinya aku akan pergi ke kota dan membeli baju serta beberapa alat untuk merias diri, aku akan tampil cantik di depan Ben." Kata Gia tersenyum malu-malu.


Saat Gia berjalan malu-malu dan tersenyum penuh harapan yang indah-indah, saat itu juga Gia melihat banyak sekalu mobil-mobil hitam dan mewah berderet sepanjang jalan hingga tak bisa lagi Gia menghitungnya.

__ADS_1


Banyak pengawal berseragam serba hitam, memakai kacamata, dan memakai earphone, bahkan hingga membuat penginapan seperti tertutup oleh para pengawal itu.


Bersambung


__ADS_2