
Zac duduk di kursinya, dengan menyandarkan punggungnya dan mengamati setiap perempuan yang masuk untuk interview lanjutan, para wanita atau gadis yang masuk ke dalam kantornya semua nya terlihat sama saja bagi Zac, tidak ada yang spesial, rata-rata mereka pintar dan memiliki banyak pengalaman.
Namun, bukan itu yang Zac cari, dia membutuhkan seseorang yang bisa membuatnya menjadi bersemangat saat ia bekerja, seorang sekretaris pribadi wanita yang pintar namun lugu, memiliki sedikit kepolosan dan juga dekat dengan sifat bodoh.
Sejujurnya, Zac terkadang cukup bosan dengan kegiatannya yang monoton, ia hanya ingin membutuhkan sesuatu penghiburan yang selalu ada di dekatnya, namun bisa mengurusi segala nya yang ia butuhkan.
Dalam arti lain adalah, Zac sedang ingin mencari wanita yang bisa menjadi sekretaris pribadinya dan juga bisa ia permainkan juga, namun tak kan goyah dengan semua permainan yang ia lakukan.
Hingga perempuan ke 5, Zac sudah jenuh, ia menjadi malas untuk mencari sekretaris pribadi lagi, semua rata-rata terlalu naif dan begitu munafik, memiliki pedoman dan prinsip unik, tapi ketika Zac menggoda sedikit saja, atau mempermainkan mereka dengan rayuan sedikit, mereka langsung goyah dan terbuai, mereka sama sekali tak menarik, itu akan membuat Zac cepat bosan, Zac butuh seseorang wanita yang meski ingin ia permainkan wanita itu tak akan jatuh cinta padanya, dan tak kan goyah.
Mungkin layaknya patung tanpa perasaannya. Sejujurnya sifat kekanak-kanakan Zac terkadang muncul, meski sering kali Zac harus menahannya, guna menjaga profilnya. Semua itu karena imbas ketika Zac masih kecil selalu di tuntut untuk dewasa.
"Membosankan." Kata Zac.
Namun, saat perempuan ke 6 masuk ke ruangannya, aroma wangi langsung menyerbak ke seluruh ruangan kantornya.
Zac yang menundukkan mata melihat laptop nya seketika melirikkan matanya tanpa merubah posisi kepala dan tubuh.
Gadis itu memiliki kulit putih dan bersih, rambutnya sepanjang bahu dan tergerai begitu halus, matanya seperti perhiasan saphir berwarna hijau pudar yang cerah, namun satu hal yang membuat Zac penasaran.
Leher gadis itu tiba-tiba saja mengundang hasratnya. Leher polos yang begitu jenjang dan mulus, di balik kerah kemeja lutih yang sedikit terbuka.
Seolah Zac ingin mengigitnya karena gemas.
"Perkenalkan dirimu." Kata Zac dingin dan memutar-mutar pena nya.
"Saya Gaby, dan saya lulusan Universitas terbaik di AS, saya akan bekerja dengan keras dan dengan dedikasi yang tinggi untuk melayani anda dalam segala pekerjaan dan membantu anda dengan seluruh tenaga saya..." Kata Gaby menundukkan kepala.
"Kenapa kau ingin menjadi sekretaris pribadi."
"Karena uang, saya butuh uang." Kata Gaby gamblang dan blak-blak an.
Zac sedikit menaikkan sudut bibirnya, ia tahu gadis ini polos dan lugu dari mata dan polah nya.
"Apa kau tahu tugas sekretaris pribadi?" Tanya Zac.
"Menyusun laporan dan pekerjaan untuk anda. Bersama setiap saat dengan anda, mengatur rapat dan segala keperluan anda ketika rapat dan bertemu dengan relasi."
__ADS_1
"Itu semua adalah tugas Clarissa." Kata Zac.
Gaby pun melongo tak mengerti, lalu apa tugas sekretaris pribadi yang Zac mau.
Zac menggaruk pelipisnya menggunakan telunjukknya yang panjang dan ia berdiri dari kursinya, kemudian duduk di tepi meja.
Postur Zac memang tinggi dan begitu ideal, dia tampan seperti artis, tidak, bahkan artis manapun akan kalah dengan wajah sempurna itu.
Tampan, seksi, menggoda dan sangat menawan, namun Gaby dengan cepat membuang pikiran itu, ia harus fokus, karena hanya inilah jalan satu-satunya ia dapat hidup dengan bebas, bekerja dan menafkahi dirinya sendiri.
Di lain pihak, Zac merasa Gaby berbeda dengan wanita-wanita lain yang masuk ke dalam ruangannya sebelum Gaby, saat mereka semua di tanya pekerjaan tentang sekretaris pribadi, mereka seperti sudah hafal di luar kepala, tentang semua kebutuhan Zac, dan itu membuat Zac bosan.
"Sekretaris pribadiku akan mengurusi semua urusan pribadi ku termasuk, saat aku mandi, pakaian, tempat tidur, dan makanan." Kata Zac.
"Jika melakukan itu semua mengapa anda tidak mengatakan mencari pelayan saja." Kata Gaby.
"Bukan hanya itu, dia harus tidur di apartmenku, karena ada banyak pekerjaan yang harus di selesaikan, untuk esok dan rapat bertemu Klien."
Gaby menelan ludah nya.
"Itu hanya sebagian kecil pekerjaan sebagai sekretaris pribadi." Zac menyedekapkan tangannya.
"Fleksibel, tentu saja kau juga harus bisa berkamuflase."
"Berkamuflase?" Tanya Gaby.
"Ya, akan banyak sekali wanita penganggu, kau sebagai sekretaris pribadi kadang harus bisa menyesuaikan diri, berperan sebagai pacar, istri atau pun ibu bagi ku, agar para wanita itu pergi, tak cukup jika aku hanya menggunakan Traver atau pengawal, karena Traver dan para pengawalku juga tampan, mereka juga sering kali di kelilingi wanita." Kata Zac.
Gaby hanya diam dan memikirkannya sejenak.
"Jika kau mau kau akan bekerja mulai hari ini juga dan ikut dengan ku ke apartamen, tentunya kau memiliki kamar dan ruangan sendiri, karena banyak pekerjaan yang harus di selesaikan, besok aku akan terbang ke luar Negeri, aku butuh sekretaris pribadi di sana." Kata Zac memasukkan kedua tangannya ke celana dan berbalik melihat ke arah jendela besar memandangi hamparan gedung-gedung pencakar langit.
Gaby masih memikirkannya, yang memberatkannya adalah tugasnya sebagai sekretaris pribadi dimana mengurusi semua aktivitas pribadi bossnya, apalagi ia harus menginap.
"Jika kau tidak mau kau bisa pergi sekarang..."
"Saya mau Tuan... Saya mau." Kata Gaby dengan cepat.
__ADS_1
"Baiklah, Traver akan mengatakan tugas apa saja yang harus kau lakukan." Zac kemudian mendekat pada Gaby.
"Satu lagi, aku cukup menyusahkan dalam segala hal, jadi jika kau ingin mundur sekarang adalah waktunya, namun jika kau tetap ingin menjadi sekretaris pribadiku lakukan semuanya dengan totalitas jangan setengah-setengah. Apa kau mengerti." Kata Zac berbisik di telinga Gaby.
Gaby hanya mengangguk dengan cepat.
"Traver akan memberikan alamat apartmenku, kau kemasi barang-barangmu, dia akan membantumu membawanya ke sana."
"Tuan... Saya mohon, beri saya waktu satu malam ini saja, karena hari ini saya ada acara keluarga."
Zac membuang nafasnya pendek.
"Pukul berapa acaramu selesai." Kata Zac.
"Pukul 8 malam mungkin sudah selesai." Kata Gaby.
"Setengah 9 kau harus sudah ada di apartmen, untuk menyiapkan semua perlengkapan berkas-berkas rapat ke luar negeri, satu lagi, minta nomor pimpinan perusahaan GIANT Grup pada Traver , kau hubungi dia bahwa aku akan datang untuk mengakuisisi perusahaan mereka, jangan lupa siapkan berkas pengambilan hak kepemimpinan mereka, minta pada Clarissa." Kata Zac berdiri di hadapan Gaby dengan tubuh tingginya.
Saat itu, Gaby langsung merasa sedang di dalam lumpur hisap, tiba-tiba saja otaknya berhenti dan nge blank.
Bagaimana tidak, tugas beruntut dan tuntutan di sisipi ancaman terus menyerangnya bahkan sebelum ia resmi menjadi sekretaris pribadi Zac.
"Aku tidak akan mengulangi kalimatku, jika ada kesalahan kau akan ku hukum." Kata Zac dan duduk di kursinya lagi, ia kembali sibuk dengan laptopnya.
"Kalau begitu saya permisi." Kata Gaby.
"Tunggu." Kata Zac.
"Ya Tuan..."
"Jangan lupa ganti dandanmu ketika kau berada di dekatku." Zac mengeluarkan Black Card miliknya.
"Beli baju yang layak." Kata Zac menaruh black card itu di atas meja.
Gaby termangu tak percaya bagaimana ia harus bersikap, apakah menerimanya dengan tanpa rasa malu, atau suka cita. Namun, jika ia tolak apa kah bossnya akan tersinggung. Gaby memikirkan sesuatu apakah ini hanya sebuah ujian kesetiaan atau ujian tentang apakah dia mata duitan atau tidak. Gaby benar-benar kebingungan.
"Kau menolak atasanmu." Kata Zac dingin.
__ADS_1
"Ti.. Tidak... Terimakasih Tuan, akan saya pergunakan dengan sebaik mungkin." Kata Gaby gugup langsung mengambil Black Card tersebut.
Bersambung