Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 86


__ADS_3

SORRI SEMUA...


EPISODE 85 DI TOLAK, JADI LANGSUNG LONCAT DI EPISODE 86.


TERIMAKASIH~


Daisy dan Ben datang terlambat, namun Derreck sudah lebih dulu datang menemui Gustav sebelum Gustav menjemput ajal, sedangkan Gavriel sudah sangat berusaha semaksimal mungkin karena penyakit komplikasi di masa tua Gustav.


Gustav sudah mencapai umurnya yang sudah tidak bisa dikatakan muda lagi.


Pria baik itu meninggalkan dunia dengan damai, dan pemakaman berlangsung khidmat. Setidaknya, sebelum meninggal, Gustav telah memberikan informasi yang seharusnya sejak dulu ia beritahukan pada Derreck, Gustav juga telah meminta maaf pada Derreck karena memyembunyikan rahasia besar tentang keberadaan adik perempuannya yang masih hidup.


Beberapa pelayat berpakaian serba hitam memenuhi makam Gustav.


Selain Derreck yang ada di sana, ada pula Mark Waldorf, Beatrice, juga beberapa kerabat Gustav lainnya.


Ben berdiri tegap dengan tubuh besar dan tinggi dengan mantel hitam berada di bahunya, ia berdiri tepat di samping Daisy, dan Gavriel juga berdiri di dekat Daisy serta Traver.


Saat itu Ben memakai mantel hitam yang besar di bahu, sedangkan Daisy yang memakai dress pendek berwarna hitam, model sederhana tetap terlihat sangat anggun dan cantik.


"Apa pertunanganmu tidak berjalan baik? Kau putus dengan Sunny?" Tanya Beatrice pada Derreck dengan berbisik.


Derreck membuang nafasnya malas.


"Tapi.. Katanya, mereka yang ber jodoh itu wajahnya akan mirip, ku rasa Sunny memiliki wajah yang sangat mirip denganmu, kalian pasti akan bersama lagi, sekuat apapun dia pergi pada akhirnya dia pasti akan kembali padamu." Kata Beatrice.


"Eghemm..." Mark Waldorf berdehem cukup dalam, lehernya tiba-tiba merasa serak dan mengganjal.


Melihat Derreck terus-terusan melirik ke arah Daisy, Ben mendekap Daisy dari samping dan mengeratkan pelukannya, membuat tubuh kecil Daisy menempel pada tubuh besar Ben.


Daisy merasa agak tidak nyaman, apalagi saat itu mereka sedang berada di pemakaman.


"Tuan Ben..." Traver mendekat.


Ben mendengar.


"Clarissa memberitahu, Eksport akan tersendat, karena ketersediaan bahan baku barang menipis dan stock yang di import belum datang." Kata Traver.


"Kembali ke perusahaan sekarang." Perintah Ben.


"Baik Tuan."


"Ayo pulang." Ajak Ben.


"Sekarang?" Tanya Daisy.


Ben mengangguk pelan.


"Bisakah aku tetap di sini sebentar?" Tanya Daisy.

__ADS_1


Ben diam dan berfikir sejenak.


"Traver akan menemanimu." Kata Ben.


"Ti... Tidak, aku bisa pulang bersama Dokter Gavriel, ada yang ingin ku tanyakan juga tentang keadaan Mena." Kata Daisy.


Ben berhenti sejenak, ia tak suka dengan keputusan Daisy, namun saat itu adalah hari dimana kurang tepat ia berdebat di sana.


Ben hanya mengangguk pelan, dan kemudian mengecup kening Daisy.


"Jangan pernah matikan ponselmu." Kata Ben.


"Ya aku tahu, ada pelacak di ponselku." Kata Daisy.


"Aku khawatir." Kata Ben menekan.


"Iya aku faham kekhawatiranmu sayang..." Jawab Daisy tersenyum.


Ben kemudian pergi bersama Traver.


Sedangkan Daisy setelah pemakaman itu, ia pun pulang di antarkan oleh Dokter Gavriel menggunakan mobil Gavriel, namun di pertengahan jalan Daisy memikirkan sesuatu, dan ia tidak ingin langsung pulang ke mansion.


"Dokter Gavriel, saya ingin konsultasi lagi, sebenarnya ini menyangkut Ben dan juga menyangkut kesehatanku." Kata Daisy.


Saat itu Gavriel menyetir mobil, dan ingin mengantarkan Daisy pulang.


"Jadi kau mau pergi ke rumah sakitku? Atau kita pulang ke Mansion?" Tanya Gavriel.


"Tidak apa-apa... Aku rasa kita lebih akan nyaman jika mengobrol dengan begini, aku juga lebih menyukai sikap santai ini." Kata Daisy.


"Jadi kau ingin ku periksa atau bagaimana?" Tanya Gavriel.


"Sebenarnya itu juga salah satunya." Pinta Daisy.


"Baiklah aku akan putar balik, dan kita pergi ke kantor ku." Kata Gavriel kemudian memutar stir kemudinya.


Namun di saat itu pula Ben yang sudah duduk di ruangan rapat, berhadapan dengan para staf petinggi perusahaannya, terus saja melihat ponselnya.


Kepalanya berdenyut panas, otot rahangnya menguat, urat lehernya menonjol, tangan kekar berstekstur kasar itu mengeratkan genggamannya pada ponsel yang ia pegang, hampir saja ia remukkan.


Ketika ia tahu, Daisy yang awalnya memiliki tujuan untuk pulang ke mansion, dan tiba-tiba memutar arah kembali ke arah lain, membuat Ben meremas ponsel miliknya dan melemparnya ke atas meja.


"BRAAKKK!!!" Ponsel Ben tergeletak di atas meja dengan kasar dan brutal.


Saat itu salah satu Ketua Tim penanggung jawab urusan Ekspor Import sedang menjelaskan solusi dan skema penanggulangan masalah yang sedang mereka hadapi, pria itu bergidik dan terkejut serta takut melihat amarah Ben tidak juga kunjung mereda.


"Tidak becus!!! Untuk apa kalian ada di perusahaan ku, aku minta solusi bukannya omong kosong!!!" Teriak Ben.


Kemudian Ben mengambil dokumen di depan nya dan membuang nya.

__ADS_1


"Apa kalian semua buta!! Otak kalian rusak!!! Jangan ada yang pulang sebelum kalian berikan aku solusi yang brilliant!!!" Teriak Ben lagi masih duduk di kursi kebesarannya.


Ruangan Rapat jelas sangat tidak kondusif, apalagi semua staff sangat takut dan bingung, semua solusi yang mereka berikan di tolak dan di hajar mentah-mentah oleh Ben.


Sedangkan Daisy sudah sampai di Rumah sakit milik Gavriel.


Saat itu Daisy langsung pada intinya, setelah Gavriel memberikan teh hangat pada Daisy.


"Ku rasa Ben... Benar-benar tidak ingin berencana menikah atau mempunyai anak." Kata Daisy sembari duduk di sofa.


Gavriel mengangguk tanda mengerti, pria itu duduk dengan santai dan mendengarkan Daisy penuh perhatian.


"Jadi sebenarnya kau ingin punya anak dan menikah?" Tanya Gavriel.


"Tentu saja, itu adalah impian semua wanita. Mana ada wanita yang mau terus menerus menjalani hubungan tanpa status yang jelas. Maksudku adalah kami bukan hanya sekedar berpacaran biasa, aku dan dia... Yang jelas... Aku butuh kejelasan dari seorang Ben, kau tahu begitu banyak wanita yang menginginkannya." Kata Daisy takut.


"Tapi, aku rasa Ben orang setia. Namun, jika kau ingin seorang anak kau harus membicarakannya secara terbuka dengan Ben, dan untuk masalah menikah, ku harap Ben juga memikirkannya, aku mengerti apa yang kau rasakan." Kata Gavriel.


Daisy mengangguk puas, bahwa Gavriel mau mendengarkannya dan mengerti perasaannya.


"Aku akan coba untuk berbicara dengannya malam ini." Kata Daisy.


Gavriel setuju.


"Ben memiliki sifat dan karakter yang rumit, aku cukup lama bisa mengerti pola pikir dan pola nya bersikap, namun, sepertinya Ben belum ingin memiliki anak karena luka masa kecilnya, kemungkinan trauma nya masih belum sembuh. Apa Ben masih sering mengigau ketika tidur?"


Daisy mengingat-ingat.


"Apa dia mengigau?" Tanya Daisy.


"Ben mengigau parah, dia bahkan tidak dapat tidur tanpa obat, ketika tingkat traumanya semakin kuat, bahkan obat bisu pun akan sulit membuatnya terlelap. Tapi, kemungkinan trauma di masa lalu yang Ben alami sewaktu kecil telah sembuh dengan seiringnya waktu, jika dia selalu melalui hari-harinya penuh dengan kehangatan bersamamu. Aku harap Ben bisa segera sembuh dari trauma nya."


"Aku hanya mendengar sekilas dari Mena, trauma nya tentang ibu kandungnya." Kata Daisy.


Gavriel mengangguk.


"Jika aku bilang, dia tidak pantas di sebut ibu. Ben adalah anak yang malang, jika saja aku bertemu dia sewaktu kecil, aku benar-benar ingin menariknya agar tidak tenggelam lebih jauh dalam cengkraman wanita itu. Tapi, kami di pertemukan ketika kami sudah sama-sama dewasa, aku bertemu dia dengan kondisi trauma yang dia alami begitu parah." Kata Gavriel.


Daisy mengerti.


"Aku akan pelan-pelan membicarakan hal ini pada Ben, aku juga tidak mau membuatnya terluka lebih dalam masalah trauma masa kecilnya." Kata Daisy sedih.


Gavriel mengangguk setuju.


"Satu hal lagi." Kata Daisy.


"Ya?"


"Bolehkah aku meminta Vitamin? Akhir-akhir ini aku agak sering merasa lelah." Kata Daisy.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan memberikannya, tapi minumlah setelah makan, kau juga harus menambah makanan bergizi untukmu, jangan terlalu banyak ketergantungan vitamin." Kata Gavriel.


Bersambung


__ADS_2