Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 156


__ADS_3

Negara K


Butuh waktu beberapa jam untuk sampai ke Negara K, dan langsung menuju mansion milik Ben.


Zac dan Zay, sudah di bawa ke mansion juga oleh Beatrice dan Casey serta Lewis.


Saat semua rombongan sampai di Mansion, Gavriel yang sudah menghubungi para tim medisnya juga sudah siap di mansion.


Semua tindakan pertolongan akan di lakukan di Mansion, Ben selalu benci rumah sakit.


Sore itu mobil-mobil melaju masuk ke dalam gerbang besar dan langsung berjajar terparkir rapi di depan Mansion, tim medis langsung tanggap membawa troli tempat tidur.


Ben keluar dari mobilnya, namun pria itu menolak untuk tidur di atas ranjang troli.


"Aku masih kuat jalan." Kata Ben acuh.


"Yaa... Tidak ada juga yang menganggapmu lemah Ben. Terserah kau sajalah, bukan Ben jika tak seperti itu." Kata gavriel yang sudah tahu tabiat Ben.


Mark, Dereck, serta yang lainnya sudah masuk lebih dulu dan menunggu, mereka duduk di ruangan keluarga, menunggu tindakan Gavriel dan para timnya pada Ben.


Gavriel melakukan operasi ulang, penjahitan ulang dan ia mengobati seluruhnya agar tidak menimbulkan infeksi.


Saat itu Ben di bius lokal, kali ini Ben tak minum alkohol.


"Bagimana? Lebih baik kan dari pada alkohol." Kata Gavriel.


"Itu karena aku ingin ini segera selesai. Ada banyak pekerjaan yang harus ku urus."


"Perbaiki cara berfikirmu Ben, di bius bukan berarti lemah. Lagi pula, jangan buru-buru bekerja, luangkan waktumu untuk istri dan anak mu."


"Aku tidak suka dibius itu saja, dan aku bekerja bukan untuk ke perusahaan, aku akan mencari tahu siapa yang sudah menyentuh istriku." Kata Ben dingin.


"Apakah ada sesuatu yang aku masih tak tahu tentangmu? Lalu, siapa yang menyentuh siapa? Daisy di sentuh? Bagaimana?" Tanya Gavriel dengan masih sibuk menyerahkan alat dan menrima alat operasi dari tim nya.


"Aku pernah di bius saat usia ku masih kecil, itu adalah perdagangan anak, dan aku tidak tahu apa yang terjadi saat itu, jadi aku membenci semua hal tentang bius. Apalagi jika bius itu membuatku tidak sadar. Aku seperti terperangkap dalam kegelapan dan tidak ada seorang pun yang bisa ku percaya, karena ketika aku bangun dari bius itu, aku sudah berada di dunia yang berbeda, mereka memperbudakku seperti aku adalah babi atau kerbau, untungnya aku masih mengingat wajah-wajah mereka dan membalas dendam. Dan untuk masalah Daisy, kuharap bukan kau yang menyentuhnya. " Kata Ben.


"Untuk masalah bius, kau bisa mempercayaiku, dan untuk masalah Daisy aku baru saja kembali dari London."


"Ya... Seharusnya, aku harus mempercayakan semuanya pada mu untuk seumur hidupku, tapi kau melukai kepercayaanku dengan menyukai Daisy." Ungkit Ben.


"Aku sedang memimpin Ben, kau dalam cengkramanku, bisa saja aku menusukmu dengan pisau bedah ini, jadi setidaknya kau mengatur kalimatmu, meskipun aku menyukai Daisy, aku tidak akan senekat itu berkhianat." Kata Gavriel masih fokus.


"Tusuk saja, kau pikir aku takut." Tantang Ben.

__ADS_1


"Tapi... Bagaimana keadaan wanita itu" Kata Ben selanjutnya.


"Siapa?" Tanya Gavriel.


"Kakak tiri Daisy." Kata Ben.


"Jika yang kau maksud Ansella, aku tidak tahu?"


"Jangan berbohong pada orang yang tidak bisa di bohongi."


"Jadi kau juga sudah tahu, jika Ansella yang melakukan itu pada Marry Anne?"


"Mmm."


"Aku sibuk di London, terakhir kali dia sudah mulai sembuh."


Ben mengangguk pelan, ia ingat bagaimana ia mengancam Ansella saat di rumah sakit agar Ansella tak lagi berhubungan atau berkomunikasi dengan Daisy.


Entah apa motif Ansella melakukan pembunuhan itu pada Marry Anne, namun cepat atau lambat Ben ingin menemui Ansella dan bertanya kenapa dia membunuh Marry Anne. Ben masih belum bisa percaya pada orang begitu saja, terlebih di masa lalu Ansella selalu menganggu Daisy.


Operasi berjalan lancar, Ben juga sudah bersih, tubuhnya kembali wangi, rambutnya juga sudah tertata rapi, sedangkan kumis dan bulu di dagunya sudah bersih.


Ketampanan Ben sudah kembali meningkat 100%.


Tengah malam ketika semua orang sudah pulang ke mansion masing-masing Daisy datang menemui suaminya.


Daisy melihat Ben tertidur dengan lelap. Begitu damai dan seperti orang yang sedang pingsan.


"Apa karena obatny?" Tanya Daisy.


Perlahan Daisy membelai wajah Ben, dengan cepat pula Ben mencengkram pergelangan tangan Daisy, Ben pikir itu adalah musuh, begitu banyak kejadian tak terduga di hidupnya, tak sedikit orang di sisinya berkhianat membuat Ben selalu waspada.


"Aaakk....!!!" Daisy memekik kesakitan.


"Sayang... Maaf aku tidak tahu itu adalah kau." Kata Ben mengendurkan genggamannya.


Daisy memalingkan wajahnya acuh.


"Sepertinya kau masih sangat marah padaku." Kata Ben.


Perlahan Ben bangun dengan meringis.


"Kenapa kau duduk, luka mu akan terbuka lagi!" Kata Daisy khawatir.

__ADS_1


"Tenang saja, Gavriel dokter handal dan dokter terbaik, lukanya akan sembuh dengan cepat." Kata Ben.


Tangan besar Ben terulur maju dan memegang leher Daisy lagi, ibu jari Ben menekan dan membelai bekas merah di leher Daisy.


"Kemarilah." Pinta Ben.


"Ada apa?" Tanya Daisy.


"Aku ingin menghapus sesuatu, karena itu membuat mata dan hatiku sakit." Kata Ben.


Daisy mengerutkan kedua alisnya.


"Ada apa sebenarnya?" Tanya Daisy mendekat.


Dengan perlahan Ben mencium leher Daisy, ia menekan leher belakang Daisy dan meremas kepala Daisy.


Ben kemudian menghisap leher Daisy dengan kuat.


"Bennn...." Daisy meremas kedua bahu Ben.


Daisy masih menunggu, namun Ben tak kunjung selesai, pria itu terus aaja menghisap hingga kuat leher Daisy.


"Ngghh... Ben... Pelan sedikit... Itu sakit..." Kata Daisy.


Lalu Ben membuay tanda lagi di sekitarnya, hingga leher Daisy di penuhi bekas-bekas merah.


Setelah itu Ben melepaskan Daisy.


"Ku pikir sudah tidak terlihat lagi. Tapi, sepertinya mataku memang terlalu jeli, aku masih melihat bekas orang itu di lehermu." Kata Ben.


"Apa yang kau maksud?" Daisy memegang i lehernya dengan kedua telapak tangannya.


"Saat aku tak ada, dengan siapa dan bersama siapa kau akhir-akhir ini."


"Aku? Aku bersama dengan anak-anak dan keluargaku... Ada apa?" Tanya Daisy.


"Ada bekas merah di lehermu, itu cupaang tapi bukan milikku."


"Benarkah?" Daisy meraba-raba lehermya dan hendak mencari kaca.


"Tunggu..." Kata Daisy berhenti.


"Bukankah seharusnya kita membahas tentang kau berciuman dengan wanita itu? Kenapa sekarang kau jadi membahas aku? Dan lagi, apa kau sedang menghindari kesalahanmu dengan menuduh ku? Apa kau sedang memfitnahku berselingkuh."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2