Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 270


__ADS_3

Cukup lama Ben hanya duduk diam di kursinya tepat di hadapan mejanya telah ada beberapa lembar foto Mena bersama Heiden, ketika Mena menyelamatkan Heiden.


Ben justru memimirkan bagaimana ia harus mengontrol dirinya, dengan apa yang sedang ia alami.


Ben berfikir cukup keras kandungan apa yang tercampur di asap perangsang yang Gia buat. Apakah mengandung narkobaa seperti ganja atau sabuu, ataukah heroines karena ada efek halusinasi.


Atau apapun itu, karena Ben merasa sedang tidak baik-baik saja.


Ben mengambil nafas nya panjang kemudian melihat foto di hadapannya, kini ia kembali ingat, bahwa ia akan memanggil Mena.


Ben pun memencet angka panggilan cepat di teleponnya yang ada di atas meja nya dan langsung terhubung pada Mena.


"Ya Tuan Ben." Kata Mena.


"Ke ruanganku sekarang." Perintah Ben.


"Baik Tuan Ben." Mena paham dan tahu inilah saatnya.


Tak berapa lama pintu di ketuk dan di buka oleh Mena.


Ben melihatnya, dan ia pun berdiri dari kursinya, ia melihat Mena pengawal tangguhnya yang menundukkan kepala.


"Kau tahu kenapa aku memanggilmu." Kata Ben.


Mena mengangguk pelan.


"Tidak ada yang bisa saya sembunyikan dari anda Tuan Ben. Anda pasti tahu segalanya." Kata Mena.


Ben membuang nafasnya.


Tak berapa lama pintu di ketuk dan kemudian di buka perlahan, ternyata itu adalah Traver.


"Tuan Ben, saya sudah memerintahkan pengawal kita yang berjaga di sana untuk memisahkan sel penjara Gia dengan para tahanan mafia kelas rendah, saya rasa itu yang terbaik, karena Gia bisa mati di setubuhii oleh para pria sebanyak itu ." Kata Traver


Ben mengerti.


Traver melihat Mena sekilas, dan masih tetap berdiri.


"Ada yang lain?" Tanya Ben kemudian berjalan memutari meja dan duduk di tepi meja nya.


"Tidak Tuan." Kata Traver.

__ADS_1


"Lalu? Kenapa masih di sini." Kata Ben.


"Saya akan tetap di sini, saya yang akan bertanggung jawab atas apapun yang sudah adik saya lakukan." Kata Traver.


"Bertanggung jawab? Lalu dengan cara apa kau bertanggung jawab, bahkan hidupmu sudah kau gadaikan padaku, apa lagi yang ingin kau gadaikan padaku?" Kata Ben.


Traver tertunduk tak bisa menjawab, Traver memang sudah bersumpah setia pada Ben hingga akhir hayatnya, karena hutang budinya pada Ben yang telah mau menampungnya ketika Traver menjadi gelandangan.


"Traver, biasanya kau akan memukul adikmu jika dia melakukan kesalahan, melihatmu mulai melembek, apa kau juga berniat akan mengkhianatiku." Kata Ben.


"Maaf Tuan Ben, saya tidak berani, hanya saja, akhir-akhir ini saya merasa bahwa adik saya lebih berharga dari nyawa saya, jadi sebagai gantinya anda bisa mengambil nyawa saya." Kata Traver.


"Traver..." Mena menahan kalimatnya, lehernya tercekat sakit.


"Mudah sekali kau mengatakan itu. Ini masalah kepercayaan Traver dan profesionalitas dalam misi. Kau lupa hal itu?" Kata Ben memutar pelan globe kecil yang ada di dekatnya.


Traver diam tak bisa menjawab lagi, bahkan Mena merasa seluruh tubuhnya gemetar, melihat Tuannya yang tenang dan dingin.


"Aku memang sangat kecewa kali ini dengan Mena, bahkan rasa kecewaku pada Mena belum terobati ketika Mena membantu Daisy melarikan diri dariku. Jadi, aku ingin sekali membunuhnya, karena ku pikir Mena sudah tak berguna untukku, bagaimana bisa, dia mengambil setiap keputusannya sendiri, dan mengkhianatiku."


"Meski misi nya gagal, namun beberapa informasi sudah kau berikan padaku, jadi Traver, berikan adikmu hukuman setengah dari hukuman biasanya pada para pengawal yang berkhianat." Kata Ben berdiri dan memutar tubuhnya membelakangi Mena, Ben hendak duduk.


Namun, mendengar Ben memberikan keputusannya, Mena langsung terduduk di lantai, ia lunglai bersimpuh memohon ampun pada Ben.


"Seharusnya kau pikirkan lebih dulu sebelum mengambil keputusan." Kata Ben duduk di kursinya.


"Tuan Ben... Saya mohon ampuni adik saya." Kata Traver.


"Heiden... Adalah pengawal paling kuat di Keluarga Scoot. Kau tahu, berapa banyak yang ia bunuh? Berapa banyak anakku kehilangan orang-orang terbaiknya?" Kata Ben.


Mena menangis dan tak bisa lagi membantah.


"Lakukan lah Traver. Kau yang akan menghukumnya, aku tak bisa menormalkan dan tak bisa menolerirnya, aku harus adil. Hukuman tetap hukuman." Kata Ben.


"Tuan pikirkan lagi bagaimana dengan Nyonya Daisy. Mena adalah orang kepercayaan Nyonya Daisy." Pinta Traver.


"Kau memakai istriku sebagai senjata menyerangku?" Kata Ben.


"Tidak Tuan. Tolong maafkan saya." Kata Traver panik.


Baru kali ini Traver terlihat sangat gelisah.

__ADS_1


"Aku tahu Mena, mungkin kau ingin meniru kakak mu, tapi kakakmu benar-benar bisa menahan diri, sangat menahan diri, saat dia tahu bawah Casey adalah pengawal pribadi sekaligus sekretaris pribadi Dereck, kala itu kami bermusuhan. Traver baru berani ketika aku dan Daisy menikah, dan hubunganku dengan Derreck membaik. Tapi, untuk kasusmu ini berbeda Mena. Heiden sudah membunuh sangat banyak pasukan milik Zac." Kata Ben.


"Tuan Ben Heiden berjanji akan berpihak pada anda." Kata Mena.


"Benarkah? Tapi aku bukan tempat penampungan. Dia bisa mengkhianati Gia, kelak dia juga bisa mengkhianatiku." Kata Ben.


Traver dan Mena tak lagi mengatakan apapun tentang pembelaan. Semua yang di katakan Ben memang benar.


Cukup lama ruangan hening dan tak bergeming, mereka sibuk dalam pikiran masing-masing, namun Ben kemudian mengatakan sesuatu.


"Mengingat kau pernah bertaruh nyawa untuk Daisy, aku berikan kau pilihan. Pertama, jalani hukuman nya di afrika, dan berada di pengasingan selama beberapa tahun, atau kau keluar dari tugas kepengawalanmu di Keluarga Haghwer." Kata Ben.


"Tuan Ben! Saya tidak mungkin keluar dari pengabdian saya pada Keluarga Haghwer! Ini sebuah penghinaan bagi saya!" Kata Mena dengan suara bergetar dan tubuh bergetar.


"Lalu apa yang akan kau pilih."


"Saya akan tetap melayani keluarga Haghwer, dan akan memilih tempat pengasingan selama beberapa tahun."


Traver terlihat sedih, dan memghembuskan nafas beratnya. Traver ingat tempat pengasingan itu bahkan lebih mengerikan dari medan perang, dan mungkin lebih mengerikan dari neraka.


Kota pembuangan khusus mafia yang berkhianat dan membangkang pada sang tuan, Kota terisolir bak penjara yang dikemas dengan pulau, banyak sekali yang akhirnya berubah seperti zombie atau menjadi gila karena tidak kuat, banyak sekali yang saling membunuh dan saling memakan satu sama lainnya.


Kelaparan, dan harus berjuang mengais makanan, bertarung dengan para mafia buangan yang merasa menguasai wilayah tersebut, belum lagi serangan para mafia gila, Traver tak bisa membayangkan adiknya akan bisa bertahan di sana.


"Tuan Ben... Saya akan menggantikan adik saya." Kata Traver kemudian.


"Traver...!! Tidak!! Aku yang berbuat, aku yang akan menjalaninya." Kata Mena mendongak melihat ke arah kakaknya yang tertunduk.


Ben kemudian berdiri dan mendekati Traver.


"BUUGGGHH!!!" Pukulan keras melayang tepat di pipi Traver. Membuat Traver yang berdiri menjadi goyah.


"Pergi kalian! Aku akan pikirkan hukuman apa yang cocok untuk Mena." Kata Ben kesal.


"Baik Tuan, terimakasih." Kata Traver membungkuk.


"Terimakasih Tuan Ben." Mena pun bangkit dan membungkuk.


Kemudian mereka keluar meninggalkan Ben sendirian yang memijit pelipisnya.


Beberapa masalah membuat Ben kesal, belum lagi ia butuh Gavriel untuk meneliti obat yang telah Gia gunakan. Namun, Gavriel justru sekarat.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2