
Beberapa jam Mena menunggu, dan akhirnya dokter Gavriel keluar. Para perawat membawa Daisy yang masih dalam kondisi pingsan dan sudah di pasang infus untuk menuju kamar perawatan.
"Dokter... Bagaimana..." Tanya Mena khawatir.
"Tenang saja dia tidak apa-apa." Kata Gavriel tersenyum.
Setelah Daisy di pindahkan ke kamar perawatan, Mena dengan setia menemaninya, begitu juga Gavriel.
Hingga pada sore hari, Daisy akhirnya membuka matanya perlahan.
"Nona Daisy." Pekik Mena dan menghampiri Daisy.
Gavriel juga berdiri dan melihat Daisy.
"Di... Mana..." Kata Daisy.
"Ada di rumah sakit Nona, anda pingsan." Kata Mena.
"Aah... Begitu." Kata Daisy.
Kemudian Daisy melihat ke arah Gavriel, yang berdiri dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jubah putih kedokterannya.
"Apa yang terjadi? Apa aku mengidap penyakit tertentu? Tubuh ku aneh. Aku benar-benar merasa sangat aneh." Tanya Daisy pada Gavriel.
"Bisa kita bicara berdua?" Tanya Gavriel.
Kemudian Daisy memandang pada Mena.
"Saya akan keluar sebentar Nona, kebetulan saya juga akan mencari minum." Kata Mena tersenyum.
Setelah Mena keluar Gavriel pun mendekat.
"Sejak kapan?" Tanya Gavriel.
"Ya?" Tanya Daisy.
"Sejak kapan kau merasa tubuhmu aneh." Kata Gavriel.
"Mungkin beberapa hari lalu, aku mulai merasa terus-terusan lelah dan letih, aku selalu mengantuk, dan yang paling parah adalah hari ini, aku mual dan muntah saat menghirup sesuatu... Aku..." Daisy berhenti melanjutkan kalimatnya.
Gavriel masih memandangi Daisy.
Ingatan Daisy kembali pada botol obat racikan Dokter Gavriel yang pada akhirnya lupa tidak ia minum, Daisy ingat dia menyimpannya di dalam laci meja di dekat ranjang kamar Ben karena ia sangat kesal. Kemudian Daisy juga sadar jika ia sudah telat haid, Daisy kemudian menutup matanya dengan telapak tangannya.
"Sepertinya kau sudah tahu penyebabnya. Kau tidak meminum obatnya? Apa kau sudah berbicara dengan Ben mengenai pernikahan dan anak?"
Daisy menggeleng.
"Semuanya... Belum, seminggu lalu, aku berniat ingin membicarakan itu pada Ben. Namun... Sesampainya di mansion, Ben mengamuk, semua menjadi porak-poranda, aku dan dia menjadi bertengkar karena hal sepele dan Ben juga sudah pergi selama seminggu tanpa kabar apapun hingga sekarang, dan pada akhirnya aku belum jadi membicarakan masalah pernikahan dan anak." Kata Daisy.
Gavriel menghirup nafasnya pelan.
"Kemana dia pergi."
Daisy menggelengkan kepala.
"Katanya akhir-akhir ini dia memiliki banyak masalah di perusahaan, di pasar gelap, dan para mafia yang menganggu, bahkan sampai seminggu ini dia tidak memberikan kabar." Kata Daisy.
__ADS_1
Gavriel mengangguk.
"Kau mau melakukan USG untuk melihat perkembangan janinnya?" Tanya Gavriel.
Daisy meremas kedua tangannya.
"Entahlah, aku tidak yakin." Kata Daisy.
"Jika kau berubah pikiran, silahkan menghubungi aku, dan lagi kehamilan trimester awal sangat rentan, jadi kau harus banyak istirahat."
Daisy hanya diam.
Gavriel kemudian memegang tangan Daisy.
"Jangan terlalu stress itu akan mempengaruhi perkembangan janin, dan juga jangan sungkan untuk menghubungiku selalu, apapun itu yang kau butuhkan, aku akan menolong." Kata Gavriel.
Daisy masih diam, namun pada akhirnya ia mengangguk.
Kemudian Gavriel pamit, ia keluar dari ruangan perawatan, karena harus memeriksa pasien yang lain.
Mena pun kembali menemani Daisy.
Hari selanjutnya, Daisy sudah mulai lebih baik, ia berjalan-jalan pelan mencari udara segar di temani Mena, kemudian duduk di sebuah mistar yang sejuk.
"Apakah Ben membuangku." Kata Daisy tiba-tiba.
"Nona, mengapa anda berfikir seperti itu." Kata Mena.
"Dia tidak pulang, tidak memberikan kabar juga, ku pikir kami telah berbaikan, tapi Ben selalu memiliki sifat yang rumit, mungkin saja sekarang Ben sedang membuangku, dia sedang berada di suatu tempat dan bersenang-senang." Kata Daisy.
"Tidak Nona!!! Tuan Ben bukan orang yang seperti itu." Kata Mena.
"Tapi aku penasaran apa yang Ben sedang lakukan, aku benci semua pikiran dan dugaan yang merongrong otak dan perasaanku Mena." Kata Daisy menangis.
Saat itu mereka sedang duduk di bawah pohon, dan Mena memeluk Daisy dengan lembut.
"Tuan Ben pasti kembali Nona, dia tidak akan membuang anda. Traver kan juga ikut dengannya." Kata Mena.
"Entahlah Mena, aku tidak bisa berfikir waras sekarang." Kata Daisy.
******
Negara Afrika
Ben menyesap alkoholnya, saat itu semua seluler tidak aktif, dan tidak ada jaringan internet.
Di hutan yang lebat, mereka sedang melakukan pemburuan pada Margareth.
Margareth telah mengibarkan bendera perang pada Ben, dan Ben adalah orang yang tidak mau begitu saja melepaskan orang yang telah menantangnya.
Apalagi barang-barang milik Ben yang sedang di kirim di perdagangan gelap internasional di bakar dan di hancurkan oleh Margareth.
Harga diri Ben sangat tinggi, ia tidak mau begitu saja di pandang remeh. Ben akan menghancurkan siapapun yang bermain-main dengannya.
Malam semakin larut, Traver dan para pengawal telah memasang tenda lagi untuk bermalam.
"Tuan... Kami menemukan jejaknya." Kata salah satu pengawal yang baru saja kembali.
__ADS_1
"Dimana." Kata Ben.
"Ada di hulu sungai, sepertinya akan ada seseorang yang menolongnya, menggunakan kapal."
"Bergerak sekarang." Kata Ben mengambil pedang dan senapannya.
Malam itu hutan yang di penuhi binatang tak di kenal, serta gerimis embun dari dinginnya suhu malam, membuat Ben dan semua pengawal harus memastikan tidak ada binatang buas yang menyergap mereka.
Pada kejauhan, akhirnya Ben melihat seorang wanita paruh baya.
Ben paling tidak suka di tantang, paling benci di provokasi apalagi di gertak, semua itu melukai harga dirinya. Ben sangat marah hingga ia harus terus memburu Margareth.
Dan Ben akan mengincar serta mencari hingga ke lubang semut sekalipun orang-orang yang berlagak seperti itu.
"Traver, kau mau mainan baru?" Kata Ben.
"Apa boleh Tuan?"
"Tentu saja. Kau bebas melakukannya." Kata Ben.
Traver tersenyum licik.
Kemudian Traver menyembur panah kecil melalui mulutnya, dan panah kecil itu tepat mengenaik leher Margareth.
"AAARGKK!!!"
Wanita paruh baya itu memegangi panah kecil tersebut, dan lehernya, darah mengalir cukup cepat.
Traver dan Ben serta pengawal yang lainnya keluar daru persembunyian.
"Kau mau lari kemana lagi. Tapi ku akui, kau sangat pintar bersembunyi, memang cocok dengan julukan kalian, para mafia tersembunyi, kalian mafia bayangan yang hebat bersembunyi. Yah intinya begitulah, tapi tidak untuk bersembunyi dari ku." Kata Ben.
Margareth bergidik ngeri, melihat wajah gelap Benjove.
"Sudahi main-mainnya, aku sangat ingin pulang ke rumah. Traver mainan mu di sana." Lanjut Ben dengan menuding pada Margareth.
Traver tersenyum licik, kemudian ia maju dan mengeluarkan belatinya.
"Bukankah anda sangat bersemangat ingin melawan Tuan Ben untuk membalas dendam? Kenapa hari ini anda sangat ciut." Kata Traver.
Dengan gerakan cepat Traver menyayat leher Margareth dan darah mengucur dengan cepat.
Margareth pun tersungkur di atas tanah.
Traver menginjak punggung Margareth memastikan bahwa wanita itu sudah tak bernyawa.
Kemudian Traver menggelindingkan tubuh Margareth ke sungai, saat itu buaya pun berdatangan.
Ben tersenyum klise, dan menyimpan kembali senapannya.
"Haaaaa.... Dia benar-benar bisa membuang-buang waktuku. Seharusnya kau siksa dulu tadi." Kata Ben pada Traver.
"Maaf Tuan, saya gegabah." Kata Traver.
"Ayo pulang." Kata Ben.
Bersambung
__ADS_1