Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 220


__ADS_3

Dalam benak Gavriel, ini bukan hanya tentang pembuktian bahwa Gavriel juga bisa hebat tak hanya dalam segi ilmu kedokteran.


Moran Murder, sang ayah adalah mafia tua yang pernah berjaya pada masa mudanya, hanya namanya semakin kian meredup lalu menghilang ketika Moran Murder menyatakan pensiun dari organisasi mafia.


Gavriel, yang saat itu masih remaja sempat sangat marah karena keputusan sepihak sang ayah, namun ia hanya bisa menahan dan memendam perasaan itu.


Sedangkan Douglas yang mengira orang tuanya lebih sayang pada Gavriel berbeda dengan pendapat Gavriel, bagi Gavriel orang tuanya justru lebih sayang pada Douglas.


Pertama sang ibu rela bunuh diri karena penyesalannya dan rasa bersalahnya pada Douglas, karena Douglas lahir dengan kepribadian yang cacat.


Kedua, sang ayah, Moran Murder memutuskan pensiun karena Moran tak ingin mengangkat senjata lagi, setelah istrinya meninggal, ia tak ingin memburu sang anak atau membalas semua kekacauan yang telah di timbulkan Douglas.


Sebenarnya, bukan hanya Zac dan Douglas yang akan berseteru.


Namun, peperangan itu akan lebih besar, karena Gavriel juga akan membangkitkan amarahnya yang sudah lama ia pendam pada Douglas.


Saat itu Gavriel berjalan keluar dengan kaki yang mantap dan sedikit lebih cepat lalu masuk ke dalam mobil sport nya berwarna hitam.


Mobil itu melaju dengan pelan, ketika sudah melewati jalan keluar dari mansion dan keluar dari gerbang mansion, Gavriel menginjak gas nya lebih dalam membuat mobil nya melaju dengan kencang, dan suara mobil nya berderu keras.


Dalam perjalanan itu, Gavriel menghubungi komandan pasukan Murder.


"Siapkan 400 pasukan." Kata Gavriel.


"Tapi Tuan Gavriel, untuk apa?"


"Untuk menghajar pasukan Douglas."


"Tuan... Douglas? Apakah Tuan Douglas..."


"Ya, kakakku.. Atau lebih tepatnya, dulu dia kakakku." Kata Gavriel.


"Tapi, apakah Tuan Besar tahubtentang Tuan Douglas? Tuan Besar akan sangat marah jika anda kembali terjun ke dalam urusan dan lingkaran mafia."


"Aku yang akan bertanggung jawab untuk semua kemarahan ayah, lakukan saja perintahku, akan ku kirimkan lokasinya. Secepatnya terbangkan mereka." Kata Gavriel menekan tombol di mobilnya yang sudah terkoneksi pada ponselnya.


Gavriel kembali memegang stir kemudia dan menekan gas lebih dalam, dalam sekejab ia sudah sampai di mansionnya.


Semua pelayan sibuk bersih-bersih dan menundukkan kepala mereka ketika Gavriel tiba-tiba melewati mereka dengan sangat tergesa-gesa.


Tidak biasanya Gavriel tak membalas sapaan mereka, biasanya Gavriel akan membalas tersenyum atau sekedar kalimat basa basi.


Sesampainya di dalam kamar, perlahan Gavriel masuk ke dalam ruangan yang selalu ia kunci, ruangan itu tak pernah ia masuki selama berpuluh-puluh tahun, Gavriel pun membuka sebuah peti berukuran cukup besar.


Setelah di buka terlihatlah di sana beberapa pistol dan senjata, namun yang paling mencuri perhatian Gavriel adalah pistol berwarna putih, itu benar-benar sangat putih dengan beberapa ukiran menarik, lalu dua buah samurai yang terlihat ramping, dan ada beberapa senapan laras panjang yang terlihat masih sangat baru.

__ADS_1


Gavriel menghela mafasnya pendek. Lalu tangan kekarnya memeriksa pistol berwarna putih tersebut.


Ingatan Gavriel di bawa pada kisah masa lalu dimana ia selalu menembak dengan tepat sasaran, bahkan itu ketika usianya masih di bawah 10 tahun.


Gavriel membuka pistol itu. Memeriksa peluru nya.


"SEERRRR.... CKRAKKK!!!" Lalu menutupnya kembali.


Kemudian Gavriel menaruh pistol itu di pinggang belakangnya, sebuah belati hitam pekat mencuri perhatiannya juga.


Itu adalah belati yang ia dapatkan setelah perjuangannya berlatih sangat keras, belati yang sangat ia sayangi, karena itulah Gavriel rela berlatih dengan keras agar bisa mendapatkan belati tersebut dari sang ayah, namun setelah mendapatkan belati itulah, Douglas membuat keluarga Murder pensiun dari lingkaran Mafia.


Belati hitam itu menggambarkan amarah Gavriel, dimana orang tuanya yang sebenarnya hanya memikirkan Douglas dan tak memikirkan dirinya yang telah berjuang dengan sangat keras berlatih demi bisa dilibat orang tuanya, namun kedua orang tua Gavriel seolah hanya melihat pada perkembangan Douglas dan tentang segala kekhawatiran mereka terhadap Douglas. Sang kakak yang cacat mentalnya.


Gavriel pun menutup peti besar tersebut setelah mengambil belatinya dan kembali turun, tiba-tiba ponselnya bergetar dan itu dari komandan pasukan Murder.


"Tuan Gavriel pasukan sebanyak 400 orang sudah mendekati titik lokasi."


"Aku akan kesana untuk memimpin." Kata Gavriel.


Gavriel pun melanjutkan perjalanannya, ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh.


Di dalam perjalanan, saat di pertengahan jalan Gavriel menghubungi komandan pasukan.


"Berikan ledakan kecil, di luar mansion." Kata Gavriel.


Saat itu Gavriel hampir sampai dan sudah melihat mansion Zac.


"SIUUUWWW BUUUMMMM!!!" Ledakan skala rendah menghujam di halaman depan gerbang mansion.


Para pasukan Douglas Scoot yang tidak siap pun kalang kabut.


"Entah untuk apa banyak pasukan yang hanya berleha-leha di depan mansion milik Zac, sebenarnya apa tujuan mereka." Kata Gavriel.


Gavriel memarkirkan mobilnya dan keluar dengan cepat mengarahkan pistolnya, menembaki para pengawal Douglas.


Para pasukan yang sudah sampai pun turun dari helikopter yang berderu keras saling membuat ombak angin.


Para pasukan lainnya juga turun dari kapal dan berjalan dari dermaga langsung menuju lokasi yang di tentukan.


Sasaran mereka adalah pasukan Douglas tanpa menghancurkan mansion.


"DORRR DOORR DOORRRR DORRRR!!!" Pasukan Douglas panik dan saling tembak dengan pasukan Murder.


"Tuan Gavriel!" Teriak Salah satu komandan.

__ADS_1


Gavriel melihat seseorang mengarahkan pistol padanya dengan cepat Gavriel menghindar, dan membungkuk sedikit ke belakang, tangannya sigap mengambil belati hitam nya dan ketika tubuh Gabriel berdiri tegak kembali, ia melemparkan belatinya pada pengawal yang mbidiknya.


Belati itu terbang dengan cepat.


"HWENGGGG HWEENGGG!!!"


"JLEEBBB!!!!"


"AAAARHHHH!!!"


Belati hitam itu langsung menancap pada leher kiri sang pengawal, dan pengawal itu ambruk.


Gavriel berjalan pelan lalu mencabut belati tersebut dengan santai. Kemudian Gavriel melihat pemandangan dimana para pasukan Murder dan Pasukan Douglas Scoot saling bertarung, ada yang bertarung dengan berkelahi ada yang saling menembak ada juga yang saling memakai pedang.


Gavriel kemudian mengelap Belatinya dengan pakaian milik pasukan Douglas yang sudah mati sekiranya sudah bersih Gavriel memasukkannya lagi ke dalam pinggangnya.


Kemudian Gavriel memandangi lautan manusia yang saling berperang itu.


Mata Gavriel mulai fokus, ia memang sudah lama tak ada di medan perang namun kejelian matanya masih sangat akurat, apalagi seorang dokter di tuntut untuk melihat dengan jelas dan teliti.


Tangan Gavriel terulur maju, ia membidik setiap musuhnya.


"DORRR!!!"


"DORRRR!!!"


"DOORRRR!"


Setiap bidikannya tepat di bagian jantung.


Hingga peperangan pun berlangsung sekitar beberapa jam, dan semua pasukan Douglas mulai habis.


Tinggal 1 komandan yang berjalan sambil terpincang, dengan wajah dan tubuh sudah memperihatinkan.


Gavriel pun maju dan melihat ke arah komandan pasukan Douglas dengan santai.


"Katakan pada Douglas, Gavriel Murder sudah kembali." Kata Gavriel kemudian ia berbalik.


Dan gerbang besar yang tahan peluru itu pun terbuka.


"Tepat waktu sekali, apa mereka sedang menyaksikan melalui CCTV, dasar bocah nakal. Pamannya ada di medan perang dia duduk manis di dalam." Kata Gavriel masuk ke dalam mobilnya dan menekan gas mobilnya.


Namun sebelum masuk ke dalam gerbang besar itu Gavriel membuka kaca jendela dan berhenti sejenak di dekat komandan pasukan Murder.


"Bereskan sisanya. Ayah pasti sudah tahu, katakan padanya aku akan segera pulang ke London." Perintah Gavriel.

__ADS_1


"Baik Tuan."


Bersambung~


__ADS_2