
Daisy tersenyum dan menutup matanya, ia menggigit bibir.
"Ben baru saja melamar ku ibu..." Kata Daisy tak bisa menyembunyikan senyuman lebarnya yang malu-malu.
Beatrice menutup mulut dengan kedua tangan.
"Benarkah? Semua bangsawan konglomerat tahu, dia benci pernikahan, dan sekarang melamarmu. Apa karena kau hamil?" Tanya Beatrice yang tiba-tiba menangis.
Daisy menghapus air mata ibunya.
"Kenapa ibu menangis?" Kata Daisy murung.
"Ibu bahagia... Sangat bahagia... Kau tahu, semua wanita yang mengerubungi Ben? Mereka seperti lebah, yang ingin sekali menyengat Ben, tapi Ben dengan dingin kejam selalu menepis mereka. Wush! Wush!" Beatrice memperagakan dengan tangannya.
"Ben dingin dan tak berperasaan pada wanita. Ibu sangat bangga padamu..." Kata Beatrice membelai lipi Daisy.
Daisy tersenyum lebar.
Ben yang mendengar merasa lega, akhirnya ia puas karena telah mengambil keputusan yang tepat.
Kali ini Ben benar-benar bertekad akan berubah menjadi pria yang baik untuk Daisy dan calon anaknya.
******
Beberapa hari kemudian~
Beberapa hari kemudian Daisy di perbolehkan keluar dari rumah sakit, karena keadaannya sudah membaik.
Bukan hanya kesehatannya saja yang membaik, namun hubungannya dengan Ben serta dengan Beatrice sang ibu pun berjalan sempurna.
Daisy menceritakan seluruh kisahnya pada Beatrice, dan Beatrice selalu semangat dan tidak pernah berkedip ketika anaknya bercerita.
Saat itu Beatrice pulang malam, karena ikut menemani Daisy pulang lebih dulu ke mansion milik Ben, lagi-lagi Beatrice selalu lupa waktu saat bersama Daisy, begitu pun Daisy yang selalu ceria dan bersemangat saat bercerita dengan ibunya.
Ben juga tak mempermasalahkan kedekatan mereka, selagi Daisy bahagia.
Malam yang semakin larut dan cuaca semakin dingin, Beatrice merapatkan mantelnya ketika keluar dari mobil dan masuk ke dalam mansion miliknya.
Dengan bersenandung Beatrice langsung menuju kamarnya dan menaruh tas nya.
Saat itu sudah tengah malam, dan lampu kamar tiba-tiba menyala.
Beatrice melihat ke sekeliling siapa yang telah menyalakan lampunya, ternyata itu adalah Mark Waldorf.
"Akhir-akhir ini kau sangat sibuk?" Tanya Mark.
"Ya... Aku sibuk, perusahaan Fashion kembali bekerja sama dengan artis-artis papan atas luar negeri, kami akan menggabungkan bintang luar negeri dengan artis korea, apalagi sekarang wajah-wajah bintang korea sedang menjajaki seluruh pasar hiburan, jadi perusahaanku harus benar-benar menampilkan desain terbaik." Kata Beatrice melepaskan antingnya.
__ADS_1
"Kau pikir suamimu adalah orang bodoh yang akan percaya setiap perkataanmu begitu saja?"
"Aku tidak pernah mengatakan kau bodoh, masalah kau percaya atau tidak itu urusanmu." Kata Beatrice ketus.
Mark dengan cepat dan kasar menarik lengan Beatrice, membuat Beatrice terkejut.
"Berhenti menemuinya."
Beatrice dan Mark saling pandang. Tatapan Mark tajam.
"Kalau aku katakan tidak, kau mau apa? Membunuhku? Atau membunuh anakmu untuk ke dua kalinya?"
Mark mencengkram lengan Beatrice lagi dengan erat.
Beatrice menahan sakit.
"Apa kau tidak terketuk hatimu sedikit saja? Bahwa anakmu Daisy, tumbuh sebagai wanita yang cantik?"
"Aku tak punya anak perempuan!!!" Teriak Mark.
"Ya sekarang aku sudah muak denganmu, terserah kau. Tapi bagiku anakku tetaplah anakku, aku yang melahirkannya, aku yang mengandung selama 9 bulan penuh dengan kram dan sakit punggung, mual, pusing, tubuh tak nyaman, aku yang merasakan kesakitan ketika kontraksi, aku juga yang mengejan hingga kehabisan tenaga. Kau... Bagiku kau bahkan tidak pantas mengakui mereka sebagai anakmu, kau tidak pantas berperan sebagai ayah."
Mark menjadi marah dan mengepalkan tangannya.
"Kenapa? Kau mau memukulku? Ketahuilah segala sesuatu yang terdengar menyakitkan bagimu, itu berarti adalah fakta, dan aku sudah memutuskan, bahwa akan bercerai denganmu, untunglah sebelum menikah kita menandatangi perjanjian pra nikah, jadi hartaku akan tetap utuh, dan akan ku berikan pada anakku, itulah yang seharusnya. Tidak seperti seseorang yang gila harta bahkan sepertinya sampai mati pun kau akan membawanya."
"Aku sudah terlalu lunak padamu!!!" Teriak Mark.
"Dulu aku memang takut padamu, tapi sekarang tidak ada lagi yang ku takutkan, aku belajar dari Daisy, dia anakku yang pemberani dan aku juga akan menjadi berani seperti dirinya. Jadi sekarang kau keluar dari kamarku!!!" Teriak Beatrice.
Mark dengan kesal dan marah keluar dari kamar itu dengan membanting pintu.
Beatrice terduduk lemas di tepi ranjang, baru kali ini Beatrice berteriak pada Mark, selama pernikahannya ia selalu diam dan tak pernah melawan.
Mark kembali ke ruangan kantor, saat itu Lewis ada di sana. Mark mengambil cerutu besarnya dan menempelkan di mulut, Lewis kemudian memantikkan api.
Mark menyesap cerutu itu sedalam mungkin, lalu membuangnya.
"Tuan... Tidakkah anda sebaiknya mendukung Nona Daisy?"
Tatapan Mark tajam tertuju pada Lewis.
"Benjove bukan orang sembarangan, bahkan jika kita melawannya dengan menyatukan kekuatan bersama mafia lain, kita tak akan menang, membuat benjove ada di pihak anda adalah keuntungan besar."
"Kau pikir dia akan menerimaku? Setelah aku berniat ingin membunuh Daisy sejak dia berusia 6 bulan?" Kata Mark dengan dingin.
"Setidaknya anda mencoba mendekati Nona Daisy." Kata Lewis.
__ADS_1
"Ben tak akan membiarkan aku mendekati Daisy, sekarang yang lebih penting adalah, Beatrice ingin mengajukan perceraian." Kata Mark.
Lewis terkejut, bagaimana Beatrice yang selalu diam dan lemah sekarang menjadi lebih kuat dan sering memberontak.
"Sepertinya Beatrice, semakin berani karena Ben ada di belakangnya."
"Atau bisa jadi, semangat hidupnya kembali setelah sekian puluh tahun Nyonya Beatrice hanya seperti makhluk hidup yang mati, mungkin karena Nona Daisy lah Nyonya Beatrice kembali hidup dan bersemangat." Kata Lewis.
"Aku akan membujuk Beatrice, aku tak bisa kehilangan dia." Kata Mark menyesap cerutunya lagi.
******
Sedangkan di tempat lain, pagi-pagi mansion sedang di hebohnya oleh perilaku Ben yang mengerikan.
Ben menjadi sensitif dengan segala sesuatu, membuat semua pelayan merasa ketakutan dan ngeri.
Bahkan Ben baru saja memecat koki terbaik mereka. Sang koki yang telah melayani dari mansion itu berdiri.
Di dapur semua pelayan dan koki serta asisten koki hanya berdiri menundukkan kepala mereka, sedangkan pria angkuh yang kejam itu berdiri dengan menutup hidung menggunakan sapu tangan.
"Kalian idiot!!! Ternyata kemampuan memasak kalian seperti bayi!!! Bagaimana bisa selama ini ternyata aku makan makanan yang kalian masak!!! Semua rasanya seperti sampah!!! Baunya juga seperti sampah!!! Membuatku muntah!!!" Teriak Ben tak karu-karuan.
Daisy yang mendengar bahwa terjadi keributan di dapur pun berlari.
Traver menunggu di belakang Ben, Daisy yang berlari di ikuti Mena pun masuk dengan khawatir karena suara teriakan Ben menggema kemana-mana.
"Ada apa Ben pagi-pagi begini?" Kata Daisy.
"Sarapan yang mereka masak berbau!" Kata Ben.
Saat itu Daisy memang sedang yoga di taman belakang, dan tidak sarapan bersama Ben.
"Bau?" Daisy mengerutkan alisnya.
"Ya Bau busuk! Aku sampai muntah!" Kata Ben.
Daisy langsung terkejut, ia tak percaya Ben bertingkah aneh, belum lagi melihat wajah Ben yang seperti terlipat-lipat karena kesal.
"Traver, pecat semua nya dan ganti yang baru!!! Pekerjaan orang-orang yang lebih berpengalaman."
"Tuan mereka adalah koki bintang 10, dan sudah yang paling bagus." Kata Traver.
"Kau... Berani nya membantahku!!!" Teriak Ben.
Daisy kebingungan ada apa sebenarnya yang terjadi pada Ben, kemarin malam Ben masih seperti biasanya, tak ada yang aneh, namun pagi-pagi setelah bangun tidur, Daisy ingat bahwa Ben menjadi aneh, tiba-tiba Ben berlari menunu kamar mandi, dan pria itu pun muntah-muntah, membuat Daisy khawatir, ia pikir Ben sedang masuk angin dan tidak enak badan.
Namun, ketika Daisy hendak memanggil dokter, Ben mengatakan bahwa ia baik-baik saja.
__ADS_1
Akhirnya Daisy memilih untuk yoga, dan Ben masih ada di kamar, namun seperti perang dunia ke 2, Ben tiba-tiba meluapkan kemurkaannya di dapur, membuat Daisy secepat mungkin berlari menuju dapur.
Bersambung