Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 274


__ADS_3

Di dalam kamar perawatan mewah yang Gavriel tempati saat itu Ansella masih berdiri di dekat jendela, pandangan matanya tertuju pada Daisy yang sedang mengobrol dengan Zac.


"Aku berbuat banyak salah pada Daisy." Kata Ansella menyedekapkan tangannya dan menyandarkan bahu serta kepalanya nya di jendela.


"Kau tiba-tiba menghilang, jadi kemana saja selama ini?" Tanya Gavriel berusaha untuk duduk.


Ansella kemudian sigap membantu Gavriel dan memencet ranjang agar ranjang itu menjadi tegak.


"Aku mengasingkan diri ke tempat dimana tak ada seorang pun yang mengetahui dan mengenalku. Aku juga sudah berhenti bekerja dengan para madam." Kata Ansella.


Gavriel mengangguk pelan.


"Jadi... Siapa yang memberitahumu aku terluka." Tanya Gavriel.


Ansella kemudian duduk di kursi sebelah ranjang Gavriel.


"Aku mengasingkan diri mencari ketenangan di Swiss, namun secara kebetulan seseorang menyapaku ketika aku sedang makan sendirian di restoran, dia adalah Tuan Derreck. Meskipun, saat itu Tuan Derreck masih melihat ku dengan tatapan jijik dan merendahkanku namun saat itu, dia mengatakan dengan sopan jika aku akan di bayar olehnya seandainya aku mau mengunjungimu yang sedang sakit, dan aku harus merayumu, dia bilang tak akan pernah setuju dengan hubunganmu dengan Zay." Kata Ansella.


Gavriel tertawa.


"Dia masih saja menggunakan cara licik dan rendahan. Dulu juga seperti itu saat kisahnya dengan Daisy, sebelum dia tahu ternyata Daisy adalah adiknya." Kata Gavriel.


"Tapi... Apa kau yakin dengan hubunganmu itu? Bukan kah Zay terlihat cukup labil." Kata Ansella.


"Itu karena banyak luka yang di rasakannya selama masih anak-anak. Mungkin sekarang dia sedang melampiaskannya." Kata Gavriel.


"Dokter Gavriel... Aku tidak bermaksud mengkritikmu, karena aku pun adalah wanita yang bisa dikatakan tidak baik, aku mungkin tidak pantas mengatakan ini karena aku juga jauh dari kata sempurna dan baik, tapi ini karena kau pria yang baik, aku hanya kasihan jika suatu hari nanti, Zay akan berubah dan bosan denganmu, karena aku melihat Zay adalah gadis keras kepala." Kata Ansella.


Gavriel tersenyum.


"Aku tahu, aku tahu bagaimana Zay dengan sangat baik, bahkan aku tahu lebih baik dari siapapun, aku tahu suatu saat nanti dia pasti akan berubah, cara pandangnya juga akan berubah, aku membebaskannya, biarkan dia berbuat sesuka hatinya terhadapku." Kata Gavriel.


Ansella terkejut dengan penuturan Gavriel.


"Sepasrah ini kah dirimu? Kau pria mapan, tampan, dan berkharisma. Kau memiliki segalanya, banyak wanita mengantri untukmu. Atau jangan-jangan karena Zay memiliki wajah yang sangat mirip dengan Daisy?" Kata Ansella.


Gavriel diam.


"Dokter Gavriel sebelum terlambat tidak bisakah kau memikirkannya lagi?" Lanjut Ansella.


"Ben sudah memberikan ijin, dia mendukungku." Kata Gavriel tetap pada pendirian.

__ADS_1


Ansella masih menarik nafasnya dalam-dalam, ia masih menahan emosi yang hampir meledak menjafi sebuah tangisan.


"Tapi, aku tidak rela jika suatu hari nanti kau akan kecewa, dan patah hati." Kata Ansella dengan suara bergetar.


"Kita tak pernah tahu, bisa jadi Zay justru akan setia dengan ku."


"Tidak mungkin. Aku bisa membaca gelagatnya dari sekarang. Tatapan matanya, cara nya memandang, dan caranya berbicara, lalu cara dia mengintrupsi orang lain, dan ada sesuatu hal yang melekat padanya, dia seperti akan menjadi pemain dan tokoh utama dalam mempermainkan banyak laki-laki. Percaya lah padaku, Zay hanya meniru sifat keras kepala dari ibunya yang suka memberontak dan suka dengan kebebasan, selebihnya, Zay membangun wataknya sendiri, pegang kata-kata ku Dokter Gavriel, dia akan menjadi seorang gadis Player. Mungkin sekarang dia sedikit ceroboh, namun semakin bertambah usianya, dia lah yang akan memegang kendali para leher pria." Kata Ansella.


"Tutup mulutmu Ansella, kau tak berhak mengatakan hal seperti itu sedangkan dirimu sendiri..."


"Ya aku tahu seperti apa aku. Aku paham. Maka dari itu, dunia gelap para wanita aku sudah hafal. Aku bisa menilainya satu demi satu, aku berpengalaman untuk itu." Kata Ansella.


"Pada akhirnya apakah kau menerima tawaran Derreck untuk memisahkanku dengan Zay? Jadi sekarang kau ingin mencuci otakku." Kata Gavriel.


"Dokter Gavriel, aku sangat berterimakasih atas semua yang kau lakukan padaku, jika bukan karena kau, aku tak bisa hidup sampai sekarang. Aku... Hanya tidak ingin kau terluka. Aku... Tidak menerima sepeserpun dari Tuan Derreck. Hanya saja aku... "


"Kau kenapa? Apa kau jatuh cinta padaku." Kata Gavriel dengan tatapan dingin.


Ansella memalingkan wajahnya.


"Kau ingin mengulang kisah antara kau, Daisy dan Ben, di kisahku dan Zay?" Kata Gavriel dingin.


"Maafkan aku..." Kata Ansella menyesal dan menundukkan kepalanya. Tangannya yang memiliki jari-jari lentik dengan kuku-kuku berpoles warna cat merah menyala meremas sprei karena Ansella merasa gugup dan takut.


Ansella mendongak melihat Gavriel yang begitu dingin. Pada akhirnya Ansella pun mengangguk pelan.


"Aku akan kembali ke Swiss, tapi jika ada sesuatu yang membuatmu sedih, pintu rumahku terbuka kapan saja untukmu." Kata Ansella.


Kemudian Ansella pergi, Gavriel memalingkan wajahnya ketika Ansella melangkahkan kakinya keluar tanpa berpamitan.


Saat itu Gavriel tahu, apapun yang di katakan Ansella adalah kebenaran yang sudah Gavriel tahu sejak lama, maka dari itu Gavriel selalu mengatakan bahwa Zay gadis bebas.


"Zay adalah gadis bebas, dia bisa menggunakanku kapan saja." Kata Gavriel melihat ke arah luar.


"Meskipun, aku berharap, tidak akan seperti itu. Aku berharap dia akan menjadi milikku selamanya."


Sejujurnya, Gavriel adalah dokter kompeten yang bahkan bisa membaca setiap karakter dan kepribadian setiap orang. Hanya saja, Gavriel terus saja ingin mematahkan semua kesimpulannya yang ada dalam diri Zay, hingga akhirnya seorang Ansella datang dan memperjelas semuanya, bahwa bukan hanya Gavriel saja yang menilai jika Zay akan menjadi sosok Player.


Gavriel memijit keningnya, dan memejamkan matanya.


"Aku hanya tidak ingin melihat fakta itu, dan terus menutup mataku dari kebenaran." Kata Gavriel.

__ADS_1


Setelah di pikirkan lagi, memang tak ada anak yang benar-benar bisa meniru atau menuruni 100% watak orang tuanya.


Namun, Gavriel tak menyangka jika perhitungannya kali ini pada Zay adalah hal yang sangat mengejutkan bagi dirinya sendiri.


Beberapa tahun lagi, Zay akan menjadi seorang wanita dewasa yang sangat berbeda.


Di tempat lain, di bawah pohon rindang yang dingin. Daisy masih mengobrol dengan Zac dengan obrolan ringan, ia sebenarnya ingin memperbaiki hubungannya dengan Zac yang bahkan selalu menyayanginya melebihi apapun. Daisy merindukan sosok Zac yang selalu memeluknya dengan hangat.


Saat itu Daisy sadar, Zac memang sudah saat untuk hidup memiliki pasangan agar mengisi kekosongan dan dinginnya perasaan Zac.


"Kapan-kapan ajak Gaby ke mansion." Kata Daisy.


Zac melihat ke arah wajah sang ibu.


"Ibu mengatakannya dengan serius, ajaklah dia untuk makan malam, aku tidak akan menekannya." Kata Daisy.


"Ibu merestui kami?" Tanya Zac.


Daisy mengangguk pelan.


"Aku harap kalian bisa bahagia dan selalu setia sampai maut memisahkan. Untuk hubungan mu ini dengan Gaby, kita membuat guncangan besar pada organsisasi Mafia." Kata Daisy.


"Aku mengerti." Sahut Zac.


"Lalu, berikan penjelasan secara pelan-pelan mengapa ayahmu membunuh ibunya dengan brutal."


"Aku akan menjelaskannya, dia juga harus tahu kejahatan apa saja yang sudah ibunya lakukan." kata Zac.


"Dia pasti akan terpukul, dia menjadi yatim piatu, temani dia untuk beberapa hari, jangan meninggalkannya sendirian, meski ia meminta untuk sendiri dengan dalih mencari ketenangan. Ibu khawatir dia akan berbuat sesuatu di luar akal sehatnya." Kata Daisy.


"Aku mengerti, aku akan pulang sekarang untuk menemuinya." Kata Zac.


Daisy mengangguk, kemudian Zac memeluk sang ibu.


"Terimakasih ibu sudah mau merestui kami."


Daisy mengangguk dan menepuk punggung anaknya pelan.


"Itu karena Gaby juga menunjukkan kesetiaannya pada mu, dia benar-benar mau meninggalkan keluarganya demi dirimu." Kata Daisy.


"Pulanglah..." Kata Daisy lagi.

__ADS_1


Kemudian Zac melepaskan pelukannya dan pergi menuju mansion miliknya untuk bertemu Gaby.


Bersambung~


__ADS_2