
Daisy sudah sampai di sebuah taman dimana Gavriel menunggunya.
Gavriel kemudian melihat Daisy berlarian menuju dirinya. Pria itu berdiri.
"Pelan-pelan." Kata Gavriel khawatir melihat Daisy berlarian.
Dengan nafas masih naik turun ngos-ngos san Daisy menatap Gavriel dengan sedih, matanya masih terlihat merah dan basah.
"Kau menangis? Apa yang Ben lakukan?" Tanya Gavriel.
Daisy meremas kedua lengan Gavriel ketika Gavriel menahan bahu Daisy.
"Ben... Dia... Dia... Menyuruhku untuk menggugurkan nya. Bayi ini... Dia memintaku..." Daisy panik, dengan menangis ia tidak bisa lagi berpikir jernih.
Kini yang ada di pikiran dan hati Daisy hanyalah takut, Ben tidak akan melepaskannya kali ini.
"Tenang Daisy... Aku yang akan berbicara dengannya."
"Sayangnya aku tidak tertarik berbicara denganmu." Seseorang menjawab.
Daisy terkejut mendengar suara yang tak asing itu, ia pun berbalik dan melihat Ben sudah berada di dekat mereka.
"Ben..." Kata Daisy lirih.
"Aku penasaran, kau bergegas pergi kemana, dan ternyata menemui pria ini." Kata Ben.
"Ben... Aku tahu kau terkejut, tapi aku akan menjelaskannya." Kata Gavriel.
Ben langsung menarik krah baju Gavriel.
"Tidak perlu! Biarkan semua jelas. Daisy katakan dengan keras siapa yang telah menghamilimu, katakan dengan keras bayi siapa yang sekarang ada di dalam perutmu!" Kata Ben masih mencengkram kuat krah baju Gavriel.
Daisy menangis.
"Ben... Kau salah paham." Kata Daisy.
Gavriel masih tidak mengerti.
Namun melihat kemarahan Ben dan Daisy yang mengatakan salah paham kini akhirnya Gavriel dapat membaca situasinya.
"Aku menyuruhmu membuat pilihan Daisy, kau harus menggugurkan bayi itu, atau kau memilih pria ini." Kata Ben mendorong Gavriel.
Daisy kebingungan.
"Katakan yang keras anak siapa itu!!!" Teriak Ben.
"Dia anakku Ben." Kata Gavriel dengan wajah merah dan mata merah.
Daisy pun syock dan terkejut, bukan ini yang dia mau, bukan seperti ini, keadaannya semakin kacau.
Ben mengeratkan rahangnya. Itulah yang Ben mau, seseorang mengakuinya.
"Apa?" Kata Ben.
"Bayi itu adalah anakku, dan Daisy tidak akan menggugurkannya." Kata Gavriel.
__ADS_1
"BUGHH!!! BUGGG!!!" Ben memukul wajah Gavriel berulang kali.
"Ben!!! Hentikan!!" Kata Daisy.
Setelah memukul Gavriel Ben menarik pergelangan tangan Daisy.
"Kau tahu Gavriel, akan menarik jika kau sendiri yang membunuh anak itu, aku ingin kau yang menjadi dokter aborssi Daisy."
"Ben... Kau ibliss...!!!" Teriak Daisy.
"Ya... Aku memang iblis, dan seharusnya kau tahu itu sejak pertama kali kita bertemu, kau tak seharus nya meminta tolong pada Iblis, kau tak seharusnya melakukan kontrak perjanjian dengan Iblis, dan kali ini aku akan tunjukkan bagaimana iblis itu murka." Kata Ben dengan wajah amarah pada Daisy.
Daisy menangis dan merasa tubuhnya lemah.
Ben menyeret lengan Daisy untuk ikut dengannya.
Gavriel bangkit dan menarik lengan sebelah milik Daisy, membuat Ben terkejut.
"Lepaskan dia Ben." Kata Gavriel.
Ben tersenyum kecut dan sinis.
"Kenapa? Kau lupa dia kekasihku? Kau di penuhi nafsu dengan kekasihku, apa dia membuatmu sangat bersemangat untuk bercinta?" Kata Ben.
"Aku mencintainya Ben, kau lepaskan Daisy, kali ini biarkan aku yang akan menjaganya."
Daisy menutup mulutnya yang menganga ketika Gavriel mengatakan jika ia mencintai Daisy.
"BUGGG!!! BUUGGG!!! BUGGG!!!" Ben kembali memukuli dan menendang Gavriel.
"Kau pikir kau siapa! Kau pikir kau pahlawan? Kau berlagak menjadi pria yang ingin bertanggung jawab sekarang? Kau menghamili wanita milikku Gavriel apa kau benar-benar sangat ingin mati!" Ben kemudian mengambil pistolnya dari dalam jasnya.
Daisy yang melihat seketika membulatkan matanya dan berlari memeluk Ben dari depan.
"Ben kumohon jangan lakukan, aku bersedia melakukan apapun, tapi jangan lakukan itu, jangan lakukan Ben... ayo kita pulang saja." Kata Daisy.
Ben semakin memuncak amarahnya, emosi mengepul di atas ubun-ubunnya.
"Kau... Berani nya kau... Memohon padaku untuk melindungi pria ini! Apa kau tidak tahu bagaimana perasaanku!!!" Teriak Ben pada Daisy.
"Aku hanya... Aku hanya tidak ingin kau melukai siapapun." Kata Daisy.
"Ya, mari kita pulang sekarang juga, kau akan tahu konsekuensi dari apa yang sudah kau lakukan, memohon dan ingin melindungi pria itu? Yang benar saja." Kata Ben menarik lengan Daisy lagi.
Kemudian Ben membuka pintu mobil, memaksa Daisy masuk dan menutup pintu mobil lagi dengan kasar.
Ben berjalan memutari mobil dan masuk ke dalam mobil, Ben pun langsung menginjak gas mobil.
Daisy melihat Gavriel yang kesakitan melalui jendelanya.
"Kau kasihan padanya?" Kata Ben.
"Haaa... Tentu saja kau kasihan padanya, dia adalah ayah dari anakmu." Kata Ben emosi.
Perjalanan ke mansion terasa begitu cepat bagi Daisy, dan kini perasaannya semakin campur aduk, Daisy tak tahu apa yang akan Ben lakukan.
__ADS_1
Di depan tangga besar, Mena dan juga Traver menunggu, dan melihat Ben menyeret Daisy, membuat mereka panik, bahkan para pelayan yang lain pun juga ketakutan.
Traver hanya berfikir, apakah Tuannya benar-benar membunuh Gavriel.
Saat Ben menarik Daisy naik ke tangga, Traver menghalangi.
"Tuan Ben..." Kata Traver.
"Aku tidak akan menyakiti Daisy." Kata Ben dengan wajah kesal.
"Oh dan aku belum membunuh Gavriel." Kata Ben melanjutkan.
Ben bergegas ke kama Daisy, dan melemparkan Daisy ke atas ranjang.
Ben membuka kemejanya dan membuangnya.
"Ben... Apa... Apa yang akan kau lakukan..." Kata Daisy.
"Apa lagi? Aku akan menghapus semua nya." Kata Ben.
"Menghapus?" Tanya Daisy.
Ben kemudian membuka ikat pinggangnya dan membuangnya, kemudian Ben naik dengan menekan ranjang menggunakan lutut kerasnya.
"Jadi... Bagaimana Gavriel menyentuhmu?" Kata Ben.
Mata Daisy terbelalak.
"Apakah pertama-tama dia menyentuh kaki mu?" Ben menarik kaki Daisy dan menciumnya.
"Aku akan menghapus ciumannya jika dia menciummu di sini." Ben mencium kaki Daisy, hingga menimbulkan bunyi cap cup. Terus mencium dan mencium hingga naik ke atas paha.
"Lalu apa kah selanjutnya dia menekan bagian ini?" Tanya Ben menekan bagian sensitive Daisy menggunakan ibu jarinya.
"Tidak Ben... Aku tidak pernah... Aku melakukannya hanya dengan dirimu." Kata Daisy menangis.
"Ohya? Apa itu benar? Aku bahkan tidak percaya dengan semua kalimatmu Daisy, bahkan Gavriel sudah mengakuinya, jadi untuk apa kau berjuang menutupinya." Kata Ben menatap tajam kedua mata Daisy.
"Lalu aku penasaran apakah dia juga mencium bagian ini?" Kata Ben mencium leher Daisy.
"Ben... Shh... Ben hentikan kau tidak boleh melanjutkannya." Kata Daisy.
Ben berhenti dan kemudian menatap tajam pada Daisy.
"Kenapa?"
Daisy hanya diam.
"Kenapa aku tidak boleh tapi pria itu boleh." Kata Ben sinis.
Daisy kembali terkejut, semua kalimatnya selalu di patahkan dengan mudah oleh Ben, Daisy tak pandai berdebat, Ben selalu menang telak saat membolak balikkan kalimatnya.
"Jadi....!" Ben menarik kuat kaki Daisy membuat Daisy terbaring.
"Mari hapus semua jejak yang sudah pria itu sentuh, aku sudah tidak tahan, memikirkan bagaimana pria itu menyentuhmu hingga kau menjadi hamil." Kata Ben dengan amarah tinggi, urat-urat dan ototnya menonjol di leher dan rahangnya.
__ADS_1
Bersambung