
Daisy sudah masuk ke dalam kamar perawatan Ansella, dan melihat saudara tirinya masih terbaring lemah dengan beberapa selang infus masih menempel di tangannya, serta ada selang oksigen di hidung.
Ansella seperti ingin mengatakan sesuatu, Daisy pun mendekatkan telingannya.
"Aku dengar, kau memiliki hubungan dengan Tuan Dokter, dan dengan pria polisi ituu..." Kata Ansella lemah dengan mata sayu.
"Kau ingin aku datang, karena kau ingin mengatakan itu?" Tanya Daisy.
Ansella mengangguk.
"Kau mendengar dari siapa?" Tanya Daisy.
"Marry... Anne..."
"Marry Anne? Siapa dia?" Tanya Daisy lagi.
"Pemilik Bar yang kau datangi dengan pria Ketua polisi. Marry Anne, datang menemuiku. Daisy... Aku hanya ingin mengatakan ini padamu, jangan pernah bermain api, karena sekalinya kau tersulut seluruh nya akan terbakar, kau sudah memiliki kehidupan yang bisa membuat semua orang iri, jangan lakukan tindakan bodoh..." Kata Ansella.
"Kenapa kau memberitahuku ini? Kau jadi seperti sedang berperan menjadi kakak sungguhan." Kata Daisy.
Ansella kemudian memegang tangan Daisy yang ada di atas ranjang.
"Aku mungkin terlambat, tapi aku yang sekarang berbeda dengan yang dulu, aku melalui pahitnya menjadi musuhmu, aku hanya ingin mengingatkanmu, jangan pernah membuat Ben terluka, karena akan selalu ada orang yang menginginkan sosok pria seperti Ben. Daisy... Berhati-hatilah dengan wanita yang bernama Marry Anne."
"Memangnya siapa dia?"
"Dia... Adalah..."
"BRAAKK!!" Pintu tiba-tiba di buka itu adalah Ben.
"Apa sudah selesai. Pengawalku sudah menemukan ibumu. Samantha yang telah merencanakan semuanya, dan membawa lari uangmu, lalu pacarmu, juga sudah di serahkan pada pihak polisi. Tapi, ibu mu memilih mengakhiri hidupnya menjatuhkan dirinya ke jurang. Mayatnya sedang di autopsi." Kata Ben kemudian dengan panjang lebar.
Ansella menelan ludah dan mencengkram tangan Daisy lebih erat.
"Terimakasih..." Kata Ansella suaranya bergetar.
"Bisakah, aku berbicara dengan Ansella sebentar lagi?" Pinta Daisy.
Ben menggeleng.
Kemudian Daisy melihat ke arah Ansella dengan sedih.
"Aku pulang ya..."
Ansella mengangguk.
"Jangan sungkan untuk menghubungiku jika kau butuh apa-apa..." Kata Daisy tersenyum.
Ansella mengangguk lagi, setelah itu Daisy pergi lebih dulu.
Namun, saat itu Ben masih belum beranjak dari tempatnya berdiri, dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, Ben mendekat ke ranjang Ansella dan menatap Ansella tajam.
"Ku dengar, Marry Anne menjengukmu, kau pasti tahu siapa dia karena kau pernah satu Madam dengan Marry Anne. Tidak perlu ku tanya lagi, kau juga pasti tahu hubungan kami, jika kau berani membuka mulutmu pada Daisy, aku akan merobek mulutmu dengan tanganku sendiri." Ancam Ben pada Ansella.
Wajah Ansella ketakutan, kepalanya menggeleng dan air matanya jatuh membasahi bantal.
"Sebaiknya kau pilih keputusan yang tepat untuk hidupmu. Aku memberikan perintah pada para pengawalku untuk mneyelesaikan kasusmu, karena aku ingin segera mengakhiri hubungan mu dengan Daisy, jangan pernah menguhubunginya lagi, atau terlihat di hadapan istriku lagi. Kau paham."
Ansella mengangguk dengan cepat, kemudian Ben keluar dari kamar perawatan, saat itu Daisy sedang mengobrol dengan Traver.
"Ada apa?" Tanya Ben.
"Aku akan ikut denganmu ke kantor, ada sesuatu yang harus ku ambil, Traver ingin mengantarkan barang itu tapi aku harus mengambilnya sendiri."
"Dimana kau letakkan?" Tanya Ben.
__ADS_1
"Di rumah atas, di atas kantormu, aku meletakkan barang ku di sana."
"Barang apa?"
"Ah itu... Hanya dompet kecil, dulu pernah ku letakkan di sana, ada foto ibu ku Isabel. Sudah lama sekali, aku mencarinya dan aku baru ingat jika dulu aku meletakkannya di dalam laci." Kata Daisy.
Ben mengangguk.
"Aku akan mengambilkannya untukmu."
"Tidak perlu, aku ikut." Kata Daisy berjalan lebih dulu dan masuk ke dalam mobil.
Ben melihat ke arah Traver.
"Saya sudah mencegahnya Tuan, tapi Nyonya Daisy bersikukuh." Kata Traver.
"Apa dia sudah datang?"
"Belum ada kabar apapun tuan." Kata Traver.
"Baiklah..." Ben kemudian berjalan menyusul masuk ke dalam mobil.
Di dalam perjalanan menuju perusahaan Ben hanya diam, sesekali Daisy memberitahu sesuatu yang dia sukai dari laman website toko barang terkenal, dan Ben seketika langsung menekan tombol-tombol untuk di beli.
"Kenapa kau tekan...!!" Kata Daisy.
"Kau ingin membelinya, jadi ku tekan saja." Kata Ben.
"Aku menunjukkannya padamu, karena aku menyukainya saja, meskipun aku menyukainya belum tentu aku ingin membeli atau memilikinya." Kata Daisy.
"Menurutku, ketika kita menyukai sesuatu, kita harus memilikinya." Kata Ben.
"Menyukai dan ingin memiliki adalah sesuatu hal yang berbeda, jika aku menyukai belum tentu harus memiliki atau ingin memiliki, jika aku butuh baru aku ingin memilikinya."
Daisy tertawa.
"Ada apa?" Tanya Ben.
"Kau membandingkan sesuatu yang tidak bisa di sandingkan. Aku sedang membicarakan baju, aku hanya menyukainya tapi aku tidak membutuhkannya dan hanya suka saja tidak berniat membeli."
"Kau selalu berfikir rumit, suka ya beli, dan barang itu jadi milikmu, selesai." Kata Ben.
"Ahh... Kau selalu saja ingin aku menjadi wanita yang boros." Kata Daisy.
"Itu bagus, jadi aku tidak sia-sia bekerja, jika kau tidak boros, uangku mau di kemanakan. Cobalah sayang, beli mobil, rumah, resort ataubsesuatu yang besar, aku sangat menghargainya jika kau mau memakai uangku untuk kesenangnamu." Kata Ben.
Daisy manyun dan kalah debat.
Ben kemudian menarik tubuh Daisy dan menciumnya. Setelah itu Ben menjilat telinga Daisy.
"Aku ingin..." Bisik Ben.
Daisy pun mendorong Ben.
"Ini masih di jalan." Kata Daisy fokus pada tabletnya lagi melihat-lihat baju, tas dan sepatu.
Ben mengambil tablet itu dan membuangnya ke sisi lain.
"Tidak masalah, kau duduk di atasku." Bisik Ben.
"Traver akan mendengarnya." Kata Daisy.
"Biarkan saja, biarkan dia ikut terangsanng."
"Kasihan dia belum punya pacar." Kata Daisy.
__ADS_1
"Dia bisa mencari wanita manapun, semua wanita menginginkannya, tunggu kenapa kita jadi bahas Traver?"
"Entahlah...." Daisy tertawa.
Ben menghisap leher Daisy dan menimbulkan bekas lagi.
"Astaga Ben... Akan ku sembunyikan kemana lagi leherku, semua sudah penuh." Daisy tertawa geli.
Traver kemudian menutup pembatas mobil dan kembali fokus menyetir.
"Ayo lakukan di sini..."
"Tidak..." Kata Daisy tersenyum dan merangkulkan kedua tangannya di leher Ben.
Ben kemudian menarik tubuh Daisy untuk duduk di atasnya.
Daisy pun duduk dengan membuka kedua paha dan kakinya dengan mengangkangg di atas paha Ben.
"Berikan sedikit, okey..." Pinta Ben.
Daisy tertawa, namun tangan Ben benar-benar nakal dan sudah menurukan underware milik Daisy.
Saat itu mobil sudah masuk Bassment, Traver memarkirkannya dan keluar dari mobil lalu menunggu di sudut.
Mobil sedikit bergoyang, dan Traver mengawasi sekeliling, beberapa pengawal pun juga keluar dari mobil mereka dan berdiri untuk berjaga di sekeliling.
Saat itu Ben sudah mulai menggaulii Daisy lagi, padahal ia sudah semalam penuh hingga pagi tanpa henti.
Entah apapun kondisi yang di miliki Ben, saat ia menahannya selama 3 tahun, Ben benar-benar tersiksa dan rasanya hampir mati, dia hanya bisa menyalurkan semuanya dengan bermain bersama anak-anaknya.
Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya mobil berhenti bergoyang, Ben menghubungi Traver.
"Bawakan pakaian untuk istriku." Perintah Ben.
"Baik Tuan." Kata Traver.
Tak butuh waktu lama Traver pergi, ia kembali membawa pakaian setelan panjang untuk Daisy dan mengetuk jendela mobil.
"Tuan..." Kata Traver.
Saat itu Daisy memakai jas milik Ben, dan Ben membuka jendela mobil menerima paper bag berisi pakaian untuk Daisy.
Setelah jendela mobil di tutup, Ben mengambil baju di dalam paper bag, Daisy mulai memakainya.
"Aku akan pulang telat, kau tidak perlu menunggu dan tidurlah lebih awal." Kata Ben.
"Iya, setelah mengambil dompet ku, aku akan pulang."
"Biarkan Traver mengantarmu pulang ke mansion." Perintah Ben.
"Iya paduka yang mulia rajaa...." Kata Daisy membalas dengan candaan.
"Kau membuatku gemas... Astaga... Bagaimana ini, ayo kita lanjutkan..."
"Sudaahhh... Cukup... Kau mengoyakknya, itu sudah terasa sakit dan perih."
Ben tertawa dan mencium kening Daisy.
"Terimakasih istriku... Aku mencintaimu..."
Daisy selesai memakai pakaiannya.
"Aku juga..." Kata Daisy tertawa bahagia.
Bersambung
__ADS_1