Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 54


__ADS_3

El Joa berdiri dan mengangkat kedua tangannya ke atas.


"Ya, mereka pengawal mata-mata." Kata Ben.


Sedangkan di lantai atas Traver dan para anak buahnya menyergap setiap ruangan dan kamar yang ada di setiap mansion.


Saat itu Traver mendobrak salah satu pintu dan melihat Blaze sedang bersama dengan seorang perempuan cantik dan seksi.


Blaze terlalu mabuk dan memiliki setengah dari kesadarannya.


Sang perempuan yang menemani Blaze, kemudian berlari ketika Traver masuk dengan para pengawal membawa senjata api.


"Sial." Umpat Blaze.


Salah satu pengawal berlari dan menemui Traver.


"Tuan, kami menemuka Pete, dia bersama agen wanita yang kita tugaskan, namun..."


Pengawal melirik pada Blaze yang tak bisa berkutik dengan tubuh telanjang.


Traver menghela nafas.


"Apa ada pesan terakhir yang dia katakan." Kata Traver.


"Sebelum menembak kepalanya sendiri, Pete mengatakan jika dia telah melakukan kesalahan besar dan tidak sanggup menatap wajah Tuan Ben." Kata Pengawal itu.


"Ringkus saja Blaze dan bawa ke hadapan Tuan Ben." Kata Traver berbalik pergi.


"Baik Tuan Traver."


Namun, ketika Traver baru saja melangkah kan kakinya, ia berhenti.


"Bawa juga wanita yang bersama Blaze." Perintah Traver tanpa menengok.


Para pengawal menundukkan kepala.


Kemudian, Traver turun dan melihat Ben telah meringkus El Joa.


Pria itu bersimpuh di lantai sedangkan Ben duduk di atas kursi.


Tak berapa lama, para pengawal membawa Blaze ke hadapan Ben.


Ansella pun juga di bawa ke hadapan Ben, dan tersungkur jatuh di lantai. Tubuhnya gemetaran dan seolah mendadak mendapatkan serangan kedinginan yang membuat tubuhnya kaku dan bergetar.


"Tuan, Ansella bersama Blaze." Kata Traver.


Ben melihat pada Blaze dan Ansella dengan tatapan dingin.


Para pengawal memaksa Blaze untuk bersimpuh di hadapan Ben, dengan kondisi setengah mabuk, Blaze merangkak dan memegangi kaki Ben.


"Tu... Tuan... Ampuni saya."


"Para pengawal menemukan Pete, tapi dia menembak kepala nya sendiri tuan, dia mengatakan tak sanggup berhadapan dengan anda." Bisik Traver.


Ben masih diam.


Lalu kemudian Ben sadar ada yang aneh, jika Rei Brandon akhirnya bergabung dengan El Joa, seharusnya dia memberikan kekuatannya untuk mempertahankan tempat persembunyian mereka.


"Kau menemukan Rei Brandon?" Tanya Ben.


"Maaf Tuan, sudah kami sisir di semua tempat, saya juga tidak menemukan pengawal Rei Brandon." Kata Traver.


"Tuan... Saya khilaf... Maafkan saya Tuan." Kata Blaze yang telah merangkak dan memegangi serta mencium kaki Ben.


"Cih..." Ejek El Joa.


"Tu... Tuan, saya tidak tahu apapun, saya hanya... Saya..." Ansella melirik kan matanya ke kanan dan ke kiri tak tahu harus berkata apa, ia tahu Ben adalah manusia kejam, namun yang ia lihat saat ini, seperti bukanlah manusia melainkan iblis.

__ADS_1


Ben masih diam, pria itu berfikir ada sesuatu yang janggal.


"Posisi Rudolf Carlos dan yang lain?" Tanya Ben pada Traver.


"Masih menyisir tempat tuan, memastikan bahwa semua pengawal telah mati setelah serangan kita, dan merawat para pengawal kita yang terluka." Kata Traver.


"Tarik mundur semuanya." Perintah Ben.


"Apa!" Traver terkejut dan membelalakkan mata.


El Joa mendelik dan langsung melihat ke arah Traver.


Ben menatap El Joa dengan tajam.


"Lacak keberadaan Rei Brandon, dan berikan hadiah permainan pada Rei Brandon, sesuatu yang sangat istimewa dan bisa membuatnya keluar." Perintah Ben.


Traver kini paham apa yang Ben pikirkan, Rei Brandon adalah senjata El Joa, namun sampai di tempat persembunyian bahkan tidak ada tanda-ta da Rei Brandon, masalahnya adalah, Traver harus bisa melacak dimana keberadaan Rei Brandon, apa yang akan Rei Brandon lakukan, dan Traver harus tahu apa rencana Rei Brandon.


"Tidak ada waktu. Seseorang harus memberitahu dimana Rei Brandon berada sekarang. Ledakkan gudang barang." Perintah Ben.


"Baik Tuan." Kata Traver.


Traver kemudian memerintahkan anak buahnya untuk meledakkan gudang barang, serta memerintahkan pada petinggi mafia untuk mundur.


"Kau gila Ben! Barang-barang itu milik para petinggi mafia yang telah ku rampas, mereka akan marah padamu, karena barang-barangnya telah kau musnahkan." Kata El Joa.


"Kau pikir begitu?" Kata Ben.


"Mereka para petinggi Mafia akan membunuhmu karena telah membakar barang-barang."


"Oya?"


El Joa geram.


"Tentu saja mereka bergabung denganmu karena ingin barang-barang mereka kembali dengan utuh, untuk apa lagi mereka mempertaruhkan segalanya jika bukan demi mendapatkan barang-barang mereka lagi yang telah lu rampas."


"Berisik. Aku tidak peduli." Kata Ben acuh.


El Joa mengepalkan kedua tangannya, tubuhnya mulai gemetar. El Joa tidak dapat memprovokasi Ben, ia tidak dapat membuat Ben berubah pikiran, sedikitpun El Joa tidak bisa membuat Ben gentar.


"Tuan semua peledaknya sudah terpasang di gudang barang, saya akan memerintahkan mereka untuk meledakkannya." Kata Traver.


"Ben! Barang-barang itu bernilai ratusan triliun kau gila!!" Teriak El Joa.


"Tuan Ben..." Tubuh Blaze bergetar hebat, ia tak percaya Ben akan memusnahkan barang-barang bernilai ratusan triliun.


"Barang-barang di gudang itu, salah satunya adalah obat milikmu Ben yang telah ku rampas menggunakan nama Carlos, obat-obatan itu berkwalitas tinggi, dan memiliki harga jual tinggi." Kata El Joa marah.


"Lalu?" Kata Ben.


"Lalu?" Tanya El Joa heran.


"Aku tidak butuh barang-barang itu." Kata Ben.


"Dasar angkuh! Tapi para petinggi mafia lainnya...." Kalimat El Joa terhenti.


"Berikan perintah pada mereka sekarang Traver." Kata Ben.


"Baik Tuan."


El Joa mulai gundah, ia panik, ia tak bisa berpikir jernih, barang-barang yang telah ia kumpulkan susah payah akan hancur dan habis. El Joa tahu, Ben sangat menakutkan dan nekat tapi ternyata Ben jauh melampaui prediksinya.


Bahkan, kini El Joa sangat kesal, ia telah mengambil pengawal-pengawal terbaik, ia merebut mereka dari para petinggi mafia kenapa tetap sama sekali tak membuatnya beruntung.


"Kau tahu El Joa, meskipun kau merebut para pengawal terbaik milik para mafia lain, membuat mereka berkhianat dan memihakmu, tapi jika dirimu sendiri payah, kau tidak akan bisa berbuat apapun, selamanya kau tetap sampah." Kata Ben.


"Sial!" Umpat El Joa.

__ADS_1


"Jadi... Katakan padaku, dimana Rei Brandon."


El Joa mendelik, pria itu bersimpuh dengan tubuh kaku, ia tidak mengira jika Ben akan menyadari siasatnya.


"Kau... Bagaimana... Kau bisa membaca siasatku..."


"Itu sangat mudah..." Kata Ben, menyilangkan kakinya dengan angkuh.


El Joa masih diam dan panik.


"Ledakkan yang paling ujung." Perintah Ben.


Traver mengangguk.


El Joa terkejut, dan bimbang.


BOOOMMMM!!! DUAARRR!!!


Ledakan besar terjadi, suara nya sangat besar, api pun membesar seperti kobaran yang panas di neraka dan El Joa menutup mata di penuhi keringat dingin yang membanjir, pria itu membayangkan barang-barang yang sudah siap di jual seperti ribuan tumpukan uang yang terbakar sia-sia.


"Aaarrgg....!" El Joa menggeram dengan sangat kesal.


"Katakan... Apa yang Rei Brandon rencanakan." Kata Ben lagi.


El Joa bergidik melihat tatapan Ben yang sangat mengerikan.


Melihat El Joa masih bimbang membuat Ben semakin benci.


"Ledakkan bagian tengah." Kata Ben.


"Baik Tuan."


"Jangan! Akan ku beritahu." Jawab El Joa.


"Tuan El Joa!!!" Teriak Blaze.


"Sebenarnya, Rei Brandon merencanakan penculikan tentang seorang wanita." Kata El Joa.


Ben mengernyitkan dahinya, tubuhnya mulai menegang.


"Katanya, wanita itu adalah kelemahanmu. Hanya dengan cara itulah kami bisa menghancurkanmu."


"Brengsek!" Teriak Ben bergegas berdiri.


"Terlambat... Dia pasti telah menangkap wanita mu. Ben. Haha... Ha... Aahha...." Kata El Joa sambil tertawa terbahak-bahak.


Ben merasa sangat kesal.


"Ledakkan semua gudang penyimpanan barang." Kata Ben bergegas pergi.


"Baik Tuan.


"Apa!!! Ben kau.... Sialan! Brengsek!!!" Teriak El Joa.


Ben bergegas pergi, sebuah ledakan besar tepat di samping mansion yang memiliki lahan sendiri saling membuat suara menggelegar.


BOOOMMMM....!!!


DUUAAARRR....!!!!


DUUUAAAARRRR....!!!!


BOOOMMMM....!!!


Ben berjalan keluar dengan langkah garang, seperti ia mengambang dalam kobaran api yang panas.


Mantelnya berterbangan tertiup api panas yang di hasilkan dari ledakan gudang luas untuk penyimpanan barang.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2