
Di Pulau Tanpa Nama, Aaron yang mendengarkan rekaman langsung dari kalung yang ia berikan pada Gaby sangat marah dan tak bisa mengontrol emosi.
Mendengar itu, Aaron melemparkan headset nya dan berdiri.
"BRRAAAKK!!!"
Aaron melemparkan semua barang-barang yang ada di atas mejanya, ia pun keluar mencari Heiden dengan rasa marah.
"Dimana Heiden." Tanya Aaron pada salah satu pengawal.
"Belum terlihat dari kemarin Tuan." Kata sang pengawal.
"Dia tidak ada di sini?" Tanya Aaron.
"Ya Tuan, sejak kemarin Heiden tidak ada, katanya dia pergi bersama Mena pelayan yang baru, dan sampai sekarang belum pulang." Kata Pengawal itu.
"Periksa semua cctv jalan." Perintah Heiden.
Aaron merasa kan kejanggalan, Heiden adalah pria patuh bagai prajurit dia tak akan pergi kemana pun tanpa kabar ataupun pergi dengan waktu yang lama.
Kemudian para pengawal berlarian menuju ruangan kendali dan memeriksa cctv yang ada di jalanan, namun tak ada yang bisa terekam.
Aaron ikut bersama mereka.
"Semua di sabotase tuan." Kata pengawal itu sambil memeriksa lagi.
"Tak ada yang terekam, sepertinya ada yang sengaja menyabotase jaringan." Kata pengawal itu.
"Periksa seluruh pelosok Pulau Tanpa Nama, dan selidiki lagi siapa sebenarnya pelayan wanita itu." Perintah Aaron dengan marah dan keluar dari ruang kendali.
Di lain sisi, sekarang adalah hari ke dua Heiden ada di rumah pondok dimana Mena menyekap Heiden, dan Mena sudah menghubungi Traver.
Namun, Traver masih dalam perjalanan penjemputan, sedangkan para pengawal Scoot dan Vince sudah sadar jika Heiden dalam masalah.
"Mena..." Panggil Heiden.
Mena hanya diam dan memainkan belatinya, ia juga hanya melirik sekilas pada Heiden.
"Kakakmu... Bernama Traver?" Tanya Heiden.
"Ya, kenapa."
"Aku sering mendengar namanya, cerita dari para mafia, dia adalah pria yang tangguh, dia sangat cepat dalam bertarung, jika saja aku bukan musuh kalian, apakah dia akan merestui hubungan kita?"
"Kita tak punya hubungan apapun!" Kata Mena dengan cepat.
Sudut bibir Heiden terangkat tipis.
"Bahkan aku sudah bermimpi tentang hal-hal indah, ternyata hanya aku saja yang punya harapan dan impian itu." Kata Heiden.
Tiba-tiba suara helikopter terdengar, namun, di sisi yang lain pula, ada suara-suara gemuruh dan berisik.
Heiden tersenyum dingin.
"Ketidakhadiran ku, tentu saja membuat para pengawal sadar bahwa aku pasti dalam masalah. Mena menyerahlah." Kata Heiden.
"Tak ada kata menyerah!" Kata Mena.
__ADS_1
Kemudian Mena bergegas ingin membawa Heiden pergi namun, saat Mena ingin membuka borgol Heiden yang ada di teralis besi ranjang, dengan cepat kaki Heiden memiting leher Mena dan membanting Mena.
"BRRUUUKKK!!!"
Mena terbanting di atas ranjang, Heiden yang sudah terbuka borgolnya, lalu menangkap Mena, dan memiting Mena, kemudian membaringkannya di bawahnya.
"Sekuat apapun dan sepintar apapun keahlian mu dalam bertarung, aku tahu, pikiranmu sedang bercabang, konsentrasimu sedang terpecah, apa kau memikirkanku... Mena?" Tanya Heiden mencengkram tubuh Mena berada di bawahnya.
Mena mencoba melepaskan dirinya namun tenaganya tidak cukup.
"Aku berikan satu kesempatan lagi, hidup bersamaku atau kau tetap memilih kita bermusuhan." Kata Heiden.
"Jangan harapkan sesuatu yang mustahil!!" Teriak Mena.
"JEDUUGG!!!"
Mena membenturkan kepalanya pada Heiden, itu benturan yang sangat kuat, seketika Heiden merasakan pusing dan matanya kabur, begitupun Mena.
"Oochh.... !!! Ssstt...!!" Mena memdesaah kesakitan. Telinganya berdenging, kepalanya sakit, namun dengan cepat Mena menggulingkan tubuhnya ke samping dan terjatuh di lantai.
Sedangkan Heiden masih duduk di atas ranjang menekuk kedua lututnya, dan memegangi kepala, sesekali ia menggelengkan kepala dan mengedipkan matanya.
Mena keluar lebih dulu, para pengawal Heiden yang sadar bahwa itu adalah si pelayan gadungan langsung mengejar Mena, kecepatan Mena tak bisa di saingi, Mena langsung menarik tali helikopter dan helikopter pun langsung terbang melesat.
"DOORRR!!! DOORRR!!! DOOORR!!!"
Para pengawal menembaki helikopter namun tak ada yang mengenainya.
Aaron mendorong para pengawal.
"BRRUGGG!!" Pengawal pun jatuh.
Tak lama kemudian Heiden keluar dengan sudah memakai pakaian kemejanya namun sedikit berantakan.
"Lain kali jangan mudah terpikat oleh perempuan." Sindir Aaron dan kemudian pergi meninggalkan Heiden.
Heiden menundukkan kepala dan mengikuti Aaron.
Sesampainya di Mansion, Gia mendengar cerita Heiden, jika ternyata Mena pengawal pribadi Haghwer yang tangguh menyamar menjadi pelayan.
"Bersihkan semua nya dan periksa lagi kamar pelayan itu, sialan!!" Kata Gia marah.
"Lalu, apakah sudah ada jawaban dari Zac? Keputusan apa yang mereka ambil?"
"Belum Nyonya." Kata Heiden.
"Nanti malam adalah malam terakhir, dan besok pagi adalah hari penentuan." Kata Aaron.
"Persiapkan siaran langsung, kita akan memutar Video itu ke seluruh pelosok Negara K." Kata Gia.
Heiden terkejut dengan rencana itu.
"Awalnya aku hanya ingin memutar video itu di Kota Z, tapi sepertinya akan lebih seru jika langsung saja kita putar ke seluruh Negara K. Maka, Ben tak akan pernah punya wajah lagi, dan Daisy akan terpuruk dalam kesengsaraan cemohan dan ejekan semua orang di dunia. Keluarga Haghwer akan hancur." Kata Gia.
Melihat Heiden masih diam Gia menjadi marah.
"Persiapkam sekarang!" Teriak Gia.
__ADS_1
"Baik Nyonya Gia."
"Heiden..." Panggil Aaron.
"Ya Tuan Aaron."
"Pastikan saat peperangan itu, pasukan Brandon atau pasukan milik Charles berkhianat pada Zac." Kata Aaron.
"Akan saya pastikan, saya akan menghubungi Charles." Kata Heiden pergi.
Gia memijit pelipisnya dan membuang nafas.
"Mereka ingin membuat kita pincang, dengan menculik Heiden. Tapi untungnya kau tanggap Aaron." Kata Gia.
Aaron diam saja namun pikirannya mulai gundah, untung saja ia berfikir cepat, jika tidak Heiden benar-benar di bawa pergi.
******
Di perjalanan menuju Negara K, kepala Mena masih terasa sangat pening, tiba-tiba ada darah mengalir di hidung dan telinganya.
"Mena...!" Traver terkejut dan mengambil sapu tangannya lalu mengelap darah yang keluar.
"Aku tidak apa-apa..." Kata Mena.
"Ini bukan hal yang sepele...!" Kata Traver.
"Maaf, aku gagal. Aku benar-benar minta maaf, aku menyesal telah gagal melaksanakan misi ini. Heiden dapat kabur dan tidak bisa kita bawa."
"Tidak masalah, yang penting kita sudah tahu rencana apa yang akan mereka lakukan." Kata Traver.
"Namun... Tetap saja... Aku kalah...."
Tiba-tiba tubuh Mena lemah dan langsung pingsan dengan darah yang masih mengalir dari hidung dan telinganya.
"MENA!!!" Teriak Traver mulai panik.
"Percepat helikopter!" Teriak Traver.
Helikopter pun melaju dengan cepat untuk sampai di mansion, setelah beberapa saat mereka sampai di Mansion, Traver langsung menggendong Mena, dan untungnya sudah ada yang menghubungi Dokter Gavriel.
Daisy yang juga tahu keadaan Mena, langsung panik.
"Mena... Ada apa dengan Mena!!" Teriak Daisy.
Gavriel serta Traver langsung masuk ke ruangan perawatan yang ada di dalam mansion.
"Dokter Gavriel, helikopter sudah siap jika kita harus memindahkan Mena ke rumah sakit." Kata Traver.
Gavriel menekan bahu Traver dan mengangguk.
Saat itu Ben juga memperhatikan, ia menunggu penjelasan, sebenarnya ada apa dan kenapa Mena menjadi seperti itu.
Butuh beberapa jam pemeriksaan Mena, dan Gavriel pun keluar dengan hasilnya, semua langsung berdiri dan berharap ada kabar baik.
"Mena hanya pingsan, kepalanya terbentur dengan sangat keras, dia pernah mengalami trauma, dan koma, aku harus memeriksanya lebih lanjut, jadi kami akan memindahkan Mena ke rumah sakit." Kata Gavriel.
"Tolonglah..." Kata Daisy lehernya tercekat tak bisa berkata apapun lagi.
__ADS_1
Gavriel melihat Zay dimana Zay sedang memperhatikan dari kejauhan dengan tatapan sedih, mereka benar-benar tak bisa bertemu, karena kesibukan Gavriel.
Bersambung~