Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 185


__ADS_3

Malam hari di apartmen milik Ben, Saat itu Daisy masih sibuk untuk menghubungi Zay, anak perempuannya, karena mereka kini sama-sama berada di AS.


"Apakah masih belum terhubung." Tanya Ben sembari mengeringkan rambutnya dan duduk di sebelah sang istri.


Daisy menggelengkan kepalanya pelan, ia terlihat khawatir dan cemas.


Ben mendekat dan mencium leher istrinya.


"Zay sudah dewasa dia bisa menjaga dirinya." Kata Ben menyesap leher sang istri dan menimbulkan bekas merah.


Daisy kemudian mendorong sedikit tubuh Ben untuk menjauh.


"Aku benar-benar khawatir."


"Aku akan keringkan rambutmu dulu, nanti kau bisa masuk angin." Ben berdiri mengambil hairdryer.


Tak berapa lama ponsel Ben bergetar.


"Drrt...Drrrt...."


"Drrrt... Drrrt..."


"Sayang apakah itu ponselku?" Tanya Ben dari ruangan yang lain.


Daisy melihat siapa yang menghubungi.


"Dari Rudolf Gama." Kata Daisy singkat dan kemudian mencoba menghubungi anaknya kembali.


Ben kembali dengan membawa Hairdryer, lalu mengambil ponselnya.


"Ya." Jawab Ben.


"Ben... Apa kau tahu Zay terlibat sindikat perdagangan obat terlarang, dia bergabung dengan mafia hitam."


Ben diam sejenak, berusaha semaksimal mungkin untuk tak terkejut, dan memasang wajah seperti biasanya.


"Sayang aku keluar sebentar, ini telepon penting." Kata Ben meminta izin pada istrinya.


Daisy mengangguk dan kembali mengetik ponselnya untuk mengirim pesan pada Zay.


Ben berjalan dengan cepat, wajahnya yang tadi tenang dan tanpa ekspresi berubah menjadi wajah yang tegang dan cemas.


"Apa kau bilang!" Geram Ben dengan suara yang tertahan.


"Aku mendapat informasi, Zay melakukan perjalanan dengan seorang pria, dan ciri-cirinya seperti Carlos De Hugo."


Ben memijit pelipis nya dan memejam kan mata. pria itu menelan ludahnya dengan kasar, rahangnya mengeras dan kemudian berkacak pinggang dengan tangan sebelahnya.


"Apa kau yakin." Kata Ben.


"Aku akan mengirimkan tangkapan CCTV nya, kami dapatkan di di bandara, sepertinya mereka melakukan perjalanan bersama melalui bandara komersil untuk mengelabui petugas, sedangkan barangnya di kirim melalui laut."

__ADS_1


Tak berselang lama Ben menerima sebuah foto CCTV, dengan cepat ia melihatnya.


Matanya membulat, meski foto itu tak terlalu jelas, namun ia sudah sangat yakin jika yang berpakaian jeans dengan jaket kulit hitam dan memakai topi adalah anaknya, Zay. Sedangkan di sampingnya pria yang memakai baju casual dengan sepatu sneakers menggendong tas ransel di bahu kirinya dan memakai topi hitam lambang organisasi mafia De hugo adalah Carlos.


"Brengsek!" Ben memukul dinding apartmen dengan amarah meluap.Kemudian menempelkan ponselnya ke telinga lagi.


"Bagaimana mereka bisa saling kenal! Terakhir kali Zay mengatakan bahwa dirinya ada di AS, Daisy berulang kali menghubunginya namun tidak tersambung."


"Sepertinya Zay tahu bahwa kalian akan ada di AS, namun dia tetap melakukan perjalanan itu sebelum kalian tiba di AS. Sebentar, aku mendapat email lagi dari mata-mataku... Mungkin itu tentang Zay."


Ben menunggu beberapa waktu dengan tangan mengepal yang ada di dinding. Otaknya mulai memikirkan rencana apa yang harus ia buat untuk mendapatkan anaknya kembali.


Entah Zay mau atau tidak, entah Zay berontak dan melawan, Ben akan mengurungnya.


"Ben... Kau masih di sana." Kata Rudolf.


"Ya." Kata Ben tegas.


"Aku akan kirimkam fotonya, tapi kau harus janji dulu padaku, bahwa kau tidak akan bertindak gegabah, aku tahu jika soal anak kau tidak bisa berfikir rasional." Kata Rudolf.


"CEPATLAH !!!" Teriak Ben sudah tak bisa lagi menunggu.


Kemudian sebuah foto di kirimkan, dan itu adalah foto Zay yang berciuman dengan Carlos di tepi pantai, tentu saja Zay memakai pakaian renang yang minim dan memakai kemeja berwarna putih dengan topi di kepalanya, di susul dengan beberapa foto lagi yang terbaru, Zay terlihat bahagia bermain di sebuah wahana dengan Carlos.


Tangan Ben bergetar hebat, kakinya seolah ingin patah, semua dunianya seakan runtuh tak lagi bersinar, dadanya bergemuruh, jantungnya berpacu dengan waktu, kepalanya seakan ingin meledak, seketika ia melemparkan ponselnya ke dinding.


"BRAAKKK!!!"


"Ben... " Panggil Daisy dan melihat ponsel milik Ben sudah remuk di lantai.


"Sayang..." Jawab Ben sembari tersenyum kaku.


"Kau sedang marah? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Daisy masih memiliki jarak cukup jauh.


Ben hanya tersenyum dan menggendikkan bahunya.


"Tidak ada." Kata Ben.


Daisy pun berjalan perlahan dan menghampiri Ben, lalu memeluknya.


"Tapi aku merasa kau marah dan sedang menyembunyikan sesuatu, apakah itu masalah yang besar hingga membuatmu semarah itu." Tanya Daisy.


"Sudah malam, hubungi Mena untuk datang ke sini." Kata Ben.


"Kenapa?"


"Untuk menjagamu, dan agar menjemputmu pulang kembali ke Negara K." Kata Ben sembari berjalan masuk ke dalam kamar bersama Daisy.


"Aku masih ingin di sini, apakah kau akan pergi?" Tanya Daisy.


"Ada urusan mendadak aku harus pergi." Kata Ben sembari mengambil ponsel Daisy yang ada di atas meja.

__ADS_1


Daisy duduk di tepi ranjang tak mengerti, ada apa dengan perubahan sikap suaminya, ia yakin ada yang tidak beres.


Ben memakai ponsel Daisy untuk menghubungi Traver.


"Halo Traver... " Kata Ben.


"Ya Tuan."


"Kau masih berjaga di apartmen Zac?" Tanya Ben.


"Ya Tuan."


"Ikut aku ada yang harus kita kerjakan, namun sebelum itu, panggil Casey dan beberapa pengawal yang tangguh untuk ada di samping Zac. Pastikan Casey sudah sampai baru kau temui aku." Perintah Ben.


"Baik Tuan."


Setelah pembicaraan itu, ponsel pun di matikan.


"Apakah ada masalah? Jika kau tidak jujur aku akan marah." Kata Daisy cemas.


Ben kemudian duduk di depan Daisy dan memeluk istrinya.


"Tidak ada... Hanya beberapa kecoa ingin mengotori rumah kita." Kata Ben mencium leher Daisy.


"Tapi... Kau terlihat sangat marah."


"Aku akan bereskan, kau tenang saja." Kata Ben tersenyum pada Daisy.


Daisy hanya diam menatap suaminya, ia tahu ada masalah gawat dari gestur suaminya dan wajah suaminya.


"Aku akan pergi saat Mena sudah sampai di sini, hubungi dia, aku akan cari angin sebentar. Bersikap baiklah." Senyuman Ben dalam.


Ben berjalan keluar kamar, ia benar-benar ingin mencari angin segar, beberapa pengawal mengikuti dan berjaga.


Saat itu ingatan nya di bawa kembali pada saat ia menghukum Zay di bawah hujan dan kilat petir yang begitu mengerikan, itu semua di sebabkan karena Zay melakukan kesalahan berulang kali ketika pelajaran menembak.


Meski tidak tega namun Ben selalu bertindak tegas.


"Kau boleh memilih pria manapun Zay, tapi kenapa harus dia. Carlos, bajingaan itu, pasti telah merayumu dan hanya akan mempermainkanmu." Geram Ben.


Pikiran Ben di liputi kemarahan, ia berfikir harus segera di salurkan, dengan langkah panjang, Ben menuju ruangan Gym.


Dengan tergesa-gesa Ben mengganti pakaiannya, dan melakukan angkat beban, untuk melepaskan dan melampiaskan amarahnya yang sedang terbakar, ia merasa ingin memukuli seseorang karena saking marahnya.


Beberapa menit kemudian Ben berpindah untuk menendang dan memukul samsak. Berulang kali ia melakukannya namun amarahnya tak kunjung reda.


Ben ingin segera mencari Zay dan menyeretnya pulang lalu mengurungnya agar tak bisa lagi bertemu dengan Carlos.


Zay. Anak perempuan satu-satunya, bintang kehidupannya, putrinya yang paling indah, melakukan hubungan dengan pria yang pernah mencintai istrinya, pria yang berkhianat padanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2