Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 146


__ADS_3

Siang itu, Mansion milik Mark Waldorf sedang begitu ramai, Mark serta Derreck mulai mengerahkan semua pengawal milik mereka guna mencari Ben, namun lagi-lagi mereka tidak terpikirkan untuk mencari Ben di pulai tetangga milik seseorang yang juga seorang mafia yang identitasnya tersembunyi.


"Bagaimana kabarnya tentang Ben?" Tanya Mark pada komandan pengawal.


"Kami masih belum bisa menemukannya Tuan."


Mark menggelengkan kepalanya, dan Derreck hanya menyedekapkan tangan, berfikir.


"Kenapa kita tidak mencoba mencari Ben di pulau tanpa nama sebelah Maladewi." Kata Derreck.


"Mana mungkin Ben ke sana, di sana bahkan tidak ada apapun, jika Ben nekat ke sana, yang ada dia hanya akan mati, Ben bukan pria bodoh kan." Kata Mark Waldorf.


"Tapi entah itu hanya perkiraan sekecil apapun, apa salahnya kita coba." Kata Derreck.


Mark Waldorf kemudian diam, dan berfikir sejenak.


"Kau atur saja." Kata Mark Waldorf dan kembali ke dalam menemui cucu-cucunya.


Sedangkan di ruangan lain, di dalam kamar mewah Daisy masih belum sadar, mungkin karena kelelahan dan obat yang Traver berikan cukup tinggi dosisnya membuat Daisy masih terlelap tertidur.


Saat itu, di dalam kamar mewah dengan jendela-jendela besar menjulang tinggi, begitu banyak cahaya masuk dan bersinar, wajah Daisy yang cantik pun seolah seperti putri tidur dalam serial dongeng paling laris.


Carlos duduk menyilangkan kaki dan menyedekapkan tangannya.


Matanya tak pernah lepas dan tak pernah sedetik pun berpaling dari menatap wajah Daisy.


Jika Carlos boleh jujur dan membuka kotak pandoranya yang sudah lama ia buang, hal yang ingin dia katakan saat-saat seperti ini adalah, bahwa Carlos masih jatuh cinta pada Daisy.


"Apakah aku harus mengambil sikap? Jadi, pilihan apa yang harus ku ambil?" Kata Carlos lirih.


Sejujurnya dalam hati kecil Carlos, awalnya ia sedih Ben masih tak ada kabar tentang keadaannya yang masih hidup atau kah sudah mati.


Namun, ketika Carlos menggendong Daisy, menjaga Daisy selama di perjalanan dari pulau Maladewi menuju Negara K, lalu menemani Daisy dan tak beranjak kemanapun, mata Carlos kembali di buai dan di manjakan dengan kecantikan asli Daisy yang polos dan lugu. Wajah cantik dengan kulit yang bening dan bersinar.


Carlos seperti ingin sekali mengambil kembali kotak pandora cintanya yang telah lama ia tutup dan ia buang jauh tanpa mau melihatnya, itu karena ia masih sayang dengan nyawanya, semua itu semata-mata juga karena ketakutannya pada Ben.


Namun, setelah berjam-jam bersama Daisy, ketamakan, kerakusan, dan hal gila mulai merasuki jiwa dan pikiran Carlos. Sedikit demi sedikit Obsesinya menggerogoti dan mengikis ketakutannya pada Ben.


Sejujurnya, Carlos berharap Benjove mati, dan Carlos ingin menjadi kan Daisy sebagai miliknya, Carlos ingin memenjarakan Daisy sebagai istri satu-satunya, dan tawanannya.


Saat itu, tiba-tiba pintu di buka dan itu adalah Beatrice yang datang untuk menengok Daisy, ia ditemani Mena di belakangnya.


"Carlos kau boleh pulang, biarkan kami yang menjaga Daisy. Kau pasti juga lelah." Kata Beatrice.


Carlos berdiri dari tempat duduknya dan kemudian tersenyum.

__ADS_1


"Tidak apa-apa... Saya akan tetap di sini sampai Daisy bangun, ada sesuatu yang harus saya sampaikan padanya."


Beatrice berfikir sejenak.


"Baiklah terserah kau saja, panggil aku jika ada sesuatu pada Daisy, aku ada di kamar cucuku." Kata Beatrice.


Carlos mengangguk pelan dan tersenyum.


Mena mengikuti di belakang Beatrice.


Saat keluar dari kamar Daisy, Beatrice berjalan dengan berfikir sesuatu, ia memiliki pikirannya sendiri, dan tiba-tiba menghentikan langkah kakinya.


"Mena..." Kata Beatrice.


"Ya Nyonya..."


"Bisakah kau, awasi Carlos. Feelling ku tidak bagus tentangnya." Perintah Beatrice.


"Baik Nyonya." Kata Mena menundukkan kepala.


Beatrice pun melanjutkan langkah kakinya menuju ruangan cucu-cucunya di sana sudah ada Mark.


"Bllaa... Blaa... Blaa...Ciluuuubbaa...!!!" Mark membuat wajah aneh untuk cucu-cucu nya.


Zac dan Zay pun tertawa berbarengan hingga tubuh mereka sampai roboh dan terpental ke belakang saking merasa lucu, untungnya saat itu mereka ada di atas tempat yang empuk.


"Belum ada... Derreck sedang berusaha mencari lagi di pulau sebelah Maladewi."


"Pulau tanpa nama?" Tanya Beatrice.


"Ya... "


Beatrice mengangguk pelan.


"Semoga Ben ada di sana." Kata Beatrice.


Mark kembali memberikan mainan pada Zac.


"Tapi... Aku tidak suka dengan Carlos." Kata Beatrice lagi.


"Kenapa." Tanya Mark sembari bermain dengan Zac.


"Dia sepertinya memiliki niat tidak baik untuk Daisy, dari pandangannya, aku bisa melihat dia menyukai anak kita."


"Tentu saja, siapa yang tidak akan jatuh cinta pada Daisy, dia cantik." Kata Mark.

__ADS_1


"Aku sudah menyuruh Mena untuk menyelidiki Carlos, apa yang akan dia lakukan, dan apa yang akan dia rencanakan." Kata Beatrice.


Mark mengangguk pelan.


"Ku pikirr dia bukan orang seperti itu, lagi pula, dia orang kepercayaan Ben."


"Saat ini, dijaman ini, orang paling dekat adalah orang yang paling berpotensi mengkhianati." Kata Beatrice.


"Ya sudah... Lakukan apa saja agar bisa membuatmu tenang, jika kau butuh bantuan katakan padaku. Luwis sedang mencari Ben membantu Derreck, Casey juga sudah repot membantu mengurus Zac dan Zay, apa kau butuh seorang sekretaris pribadi?"


"Tidak... Aku tidak suka ada orang lain mengikuti ku di belakang." Kata Beatrice.


Mark mengangguk pelan.


Di tempat lain, Carlos masih duduk memandangi Daisy, tiba-tiba tangannya terulur maju, telunjuk nya menyentuh pipi Daisy yang saat itu Daisy masih menutup mata.


Dengan lembut telunjuk Carlos membelai pipi Daisy dan kemudian turun ke leher Daisy.


Carlos melihat leher putih dan jenjang milik Daisy, dan ia menelan ludahnya. Ingin sekali Carlos menghisap leher itu hingga membekas.


Tanpa sadar, Carlos sudah maju dan mendekat pada leher Daisy, mulut Carlos sudah menempel dan mengecup leher Daisy.


"Sebentar saja. Hanya sebentar." Kata Carlos seolah sedang menyirami dahaga nya yang begitu kering dalam hati.


Namun, ternyata Carlos salah, cumbuaannya membuatnya gila, ia frustasi dan sangat menggila, tak bisa lagi menahan diri.


Sesapan Carlos menjadi cukup kuat, tangannya maju dan meraih leher kiri Daisy, kecupan Carlos menjadi kuat, pria itu menyesap leher Daisy hingga menimbulkan bekas, tangannya mulai sedikit demi sedikit turun kebawah dan hendak menyentuh buah dada Daisy.


"Drrtt.... Drrttt...!!!"


Ponsel yang bergetar di saku Carlos sontak membuatnya tersentak. Carloz terkejut setengah mati, jantungnya mendadak panas dan ingin meledak.


Mata Carlos melihat leher Daisy yang memiliki bekas merah sangat merah.


"Astaga...." Kata Carlos mendesah dan mengusap wajahnya.


Dengan malas Carlos mengangkat ponselnya tanpa melihat lebih dulu siapa yang menghubunginya.


"Ya..." Kata Carlos.


"Ha... Haloo... Apakah benar ini keluarga Tuan yang sedang sakit?" Tanya wanita itu dari dalam panggilannya.


"Apa yang kau maksud? Siapa kau." Tanya Carlos malas.


"Kalau tidak salah, namanya adalah Ben... Benjove Haghwer, apakah anda keluarganya?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2