Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 246


__ADS_3

Saat itu dengan marah, Daisy mengajak Derreck ke ruangan di mana Gavriel dan Zay berada, Daisy tidak tahu apa yang sedang Gavriel dan Zay lakukan.


"Kenapa kau katakan itu di depan Gege Vamos, ini kesempatan bagus agar Zay bisa mulai menjalin hubungan lagi dengan seorang yang seusianya." Kata Daisy.


"Tapi, Gege Vamos juga harus tahu, bahwa Zay pernah menjalin hubungan dengan Carlos De Hugo. Kita memang keluarga mafia, tapi untuk mendidik gadis kita selalu hati-hati untuk Zay, akui saja kita sudah kecolongan!"


"Meskipun keluarga mafia, Zay tidak pernah melakukan sesuatu hal senonoh dengan Carlos!" Geram Daisy.


"Mmmhhh... Lagii... Gavrieell... Lagii... Aku ingin lebih."


Tiba-tiba Derreck mendengar erangan, dan mencegah Daisy masuk.


"Ssstt...." Kata Derreck menekan telunjuknya pada bibirnya ke arah Daisy.


Daisy terkejut, saat tubuhnya di tahan oleh Derreck dan tak boleh masuk, kini mereka ada di depan pintu ruangan yang tertutup sedikit.


"Zay... Sudah cukup, semua orang akan curiga jika kita tidak kembali." Bujuk Gavriel.


"Tidak... Aku masih takut, aku masih gemetar, aku ingin kau hilangkan semua jejak yang sudah Carlos berikan padaku, aku ingin menghapus ingatan semuanya dalam kepala ku dan menggantinya dengan ingatan yang baru bersamamu, aku butuh kau Gavriel, ayo kita lanjutkan ke kamar." Pinta Zay dengan lemah.


"Zay... Dengarkan aku... Kita tidak bisa begini, aku akan menyembuhkan trauma mu, tapi jangan melakukan hal seperti ini, aku seperti sedang mencurangi keluargamu."


"Aku takut Gavriel. Bagaimana jika video yang Carlos ambil tersebar, bagaimana jika pelecehaan sekssual yang Carlos rekam ternyata sudah ada yang melihatnya dan akan tersebar kemana-mana, mereka pasti akan berfikiran bahwa aku pelacuur yang sok suci. Pasti mereka akan mengolok-olok keluarga Haghwer. Ayah dan ibuku akan malu."


Seketika Daisy menutup mulutnya dengan menangkupkan tangannya, air matanya mengalir, dadanya seperti di hantam batu besar, ia langsung teringat wajah Carlos yang dulu pernah mengejarnya dan ternyata tak hanya merusak keluarganya, Carlos juga telah meracuni dan merusak mental anaknya.


"Tolong aku Gavriel... Aku takut, hilangkan semuanya, hilangkan bekas tangan yang pernah Carlos sentuh di tubuhku, aku merasa mual dan jijik, tapi jika video itu tersebar mereka semua tak akan percaya, mereka akan berfikir aku pelacuur gila yang menikmati pelecehaan itu....!!!" Zay menangis dan terus menangis dalam pelukan Gavriel.


Derreck yang mendengar itu, mengepalkan kedua tangannya, dan melihat ke arah Daisy yang sudah seperti linglung.


"Gavriel, aku butuh kau... Hanya kau yang aku percaya. Gavriel cium aku lagi, aku takut. Aku tidak ingin menikah dengan pria yang tidak tahu apapun dengan kondisiku, bahkan tatapanya saja membuatku takut."


Kemudian Gavriel mencium Zay lagi, dengan rakus Zay menerima itu, hingga suara ciuman mereka berbunyi.


Derreck yang melihat Daisy dengan tubuh gemetaran pun perlahan mengajak Daisy pergi dan mengantarkan ke kamar.


Sedangkan Zay yang masih di landa ketakutan tetap tidak ingin pisah dengan Gavriel.


"Aku akan mengantarmu ke kamar, aku akan bilang jika kau kurang sehat, agar mereka tidak curiga. Aku harus terlihat di sana." Bujuk Gavriel.


"Berjanjilah kau akan datang ke kamarku." Pinta Zay.


Gavriel mengangguk pelan.


Di saat Gavriel mengantar Zay ke kamar, saat itu Derreck sedang akan kembali ke perjamuan, dengan cepat Derreck bersembunyi dan membiarkan Gavriel serta Zay lewat, setelah itu Derreck pun kembali ke meja dimana Ben masih berbincang dengan Gege Vamos.


Ternyata mereka sudah berpindah ke ruang keluarga bagian depan, Derreck masuk dan membaur, ia duduk dengan santai.


"Sepertinya Daisy sedang tidak enak badan, tiba-tiba kepalanya pusing, aku mengantarnya ke kamar." Kata Derreck sembari menuang minuman.


Ben melihat sikap kikuk Derreck dan merasa ada sesuatu yang tidak beres, tak berapa lama, Gavriel juga kembali.

__ADS_1


"Dimana Zay..." Tanya Gege Vamos.


"Tadi aku berpapasan dengan Zay, dia mengatakan perutnya sakit, sepertinya dia sedang mengalami masa periode wanitanya di hari pertama, jadi aku mengantarnya." Kata Gavriel.


Derreck langsung menenggak satu gelas whiskeynya dan menelannya dengan kasar, mendengar alasan Gavriel.


"Sayang sekali, mungkin aku datang di waktu yang kurang tepat." Kata Gege Vamos.


Ben hanya diam.


"Kalau begitu saya pulang saja dulu Tuan Ben, tapi lain waktu saya akan berkunjung kembali, untuk menemui Zay." Kata Gege Vamos.


"Main kesini tidak apa-apa." Kata Ben.


Setelah mereka semua mengantar Gege Vamos, dan setelah kepergian Gege Vamos, Derreck menahan Ben. Saat itu Gavriel sudah pergi lebih dulu untuk menemui Zay.


"Kenapa?" Tanya Ben.


"Apa yang kau rencanakan." Kata Derreck.


"Apa maksudmu." Kata Ben.


"Zay... Dia... " Lidah Derreck tertahan.


"Kenapa dengan Zay." Tanya Ben.


"Aku yakin kau tahu. Tidak mungkin kau tidak tahu hubungan Gavriel dan Zay." Kata Derreck kemudian.


"Aku melihat mereka bercumbuu... Di ruangan keluarga di belakang!" Geram Derreck.


"Dan kau tahu apa yang ku dengar! Carlos melecehhkan Zay dengan merekamnya..!" Geram Derreck.


Dengan cepat Ben menarik krah kemeja Derreck dan membenturkan tubuh Derreck di dinding.


"Tuan...." Kata Traver menengahi.


Ben menekan krah baju Derreck hingga sedikit menekan leher Derreck hendak mencekik.


Saat itu Gavriel sudah masuk lebih dulu dan tak tahu jika sedang terjadi perdebatan.


Namun Rudolf kembali karena mendengar kegaduhan.


"Hey... Ben!!!" Teriak Rudolf melerai.


"Jangan pernah menyebutkan nama itu lagi, jika saja aku bisa, sampai ke neraka pun dia ingin ku bunuh." Kata Ben.


Kemudian Ben melepaskan cengkramannya.


"Ada apa dengan kalian." Tanya Rudolf tak mengerti.


"Jelaskan semuanya pada Daisy, kau harus mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana bisa Zay menjalin hubungan dengan pria yang lebih tua lagi!!! Dan semua nya adalah pria yang pernah mencintai Daisy!!!" Pekik Derreck dengan geram masih menjaga suaranya tetap rendah.

__ADS_1


Ben masih diam dan mengeratkan rahangnya, kemudian Ben pergi di ikuti Rudolf dan Derreck serta Traver menuju kamar Daisy.


Di sana Daisy sudah berlinang air mata, dengan banyak tidu di atas meja. Daisy tak menyangka anak perempuannya menjadi seperti itu.


Dalam kata lain, seberani itu melakukan hal-hal penuh gairah dengan pria yang lebih tua lagi darinya, dan yang paling memukul hati dan perasaannya adalah, bagaimana Carlos ternyata telah merusak anaknya.


"Sayang..." Panggil Ben.


Daisy memicingkan matanya pada Ben.


"Kau tahu itu kan!!!" Teriak Daisy.


Traver pun segera menutup pintu kamar tersebut.


"Aku yang menyuruhnya agar Gavriel menjadi pasangan Zay."


"Kau yang menyuruhnya?" Tanya Daisy tak percaya sangat terkejut.


"Ya. Gavriel menyukai Zay, aku tahu Gavriel pria baik, Zay juga lebih menyukai pria yang lebih dewasa, karena masa remajanya yang kehilangan kasih sayang dariku. Lalu, aku membuat kesepakatan dengan Gavriel, jika dia mau menyerahkan pasukan Murder pada Zac, aku akan merestui Gavriel dengan Zay."


"PLLAAAKKK!!!" Tamparan kuat mendarat di pipi kuat Ben.


Meski tamparan itu sangat kuat, namun Ben tak bergeming, posisi kepalanya tak bergerak meski satu inch.


"KAU GILA!!!! KAU MENJUAL ANAKMU SENDIRI!!! MEMANG BENAR KAU MAFIA TAPI KAU TIDAK BERHAK MELAKUKAN HAL ITU!!!! KEJI!!!"


"Gavriel pria baik." Kata Ben.


"TAPI DIA PERNAH MENCINTAIKU!!! DAN ZAY MEMILIKI WAJAH YANG SAMA PERSIS DENGANKU!!! KAU MASIH TIDAK BISA BELAJAR DARI CARLOS BEN!!!" Teriak Daisy murka.


Daisy menangis dan kemudian mengambil vas bunga lalu melemparkannya untuk melampiaskan amarahnya.


"PYAAARRR!!!" Vas bunga itu membentur dinding dan pecah berserakan di lantai.


Derreck dan Rudolf serta Traver hanya bisa diam menyaksikan bagaimana Daisy akan melampiaskan amarahnya.


"Lalu, apa kau juga sudah tahu apa yang sudah Carlos lakukan pada Zay, dan sekarang Zay mengalami trauma mental?" Tanda Daisy mengatur nafas dan emosinya.


"Aku tahu ketika aku sadar pasca koma, seseorang masuk, dan memutar video, ku pikir dia Carlos, lalu Zac datang menembak layar tv itu, namun video itu belum terputar sepenuhnya. Aku juga tahu jika Zay akan mengalami trauma mental, karena aku juga pernah mengalami itu." Kata Ben.


"Yaaa Tuhhaann.... Dan sekarang Kau berikan Zay pada Gavriel, dia pernah menyukaiku, dia seperti Carlos."


"Dia berbeda." Bantah Ben dengan cepat dan masih tenang.


Daisy duduk lesu di sofa dan memijit kepalanya yang pening.


"Seharusnya kau memberitahu kami." Kata Derreck.


"Jika ku beritahu apa kalian akan mengerti? Aku tahu, hanya Gavriel yang bisa menyembuhkan penyakit trauma Zay, aku tahu Zay pasti akan mengalami hal seperti ini, trauma, dan mentalnya terguncang, karena aku lebih dulu mengalamainya dan aku tahu seperti apa rasanya memiliki trauma karena pelecehaan seksuaal, aku tahu rasanya menderita di kungkung dalam kegelapan dengan bayang-bayang masa lalu, dan aku tahu bagaimana sakitnya setiap sel yang ada di tubuh ketika ingatan itu terus ada." Kata Ben.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2