
Gege Vamos memeluk Zay ingin menenangkan Zay yang sudah menangis terisak.
Namun, Zay mendorong Gege Vamos dan mendatangi Ben.
"Semua ini adalah salah ayah!!! Gavriel terluka karena Ayah tidak datang lebih awal!!! Ayah datang terlambat untuk melawan mereka!!!" Teriak Zay marah pada Ben.
"Zay... " Zac hendak menasehati Zay namun Ben menahan Zac.
"Zay... Kau masih belum mengerti dunia mafia?" Kata Ben.
"Aku benci dunia mafia!" Geram Zay.
"Aku mendidikmu dari kau masih kecil hingga dewasa, aku menggempur dirimu hingga aku rasa kau mampu bertahan di dunia mafia ini, mau tidak mau, suka tidak suka, beginilah aturan hidup di dunia mafia Zay. Peperangan itu adalah milik kakakkmu, adu kekuasaan itu adalah tentang Zac dan Keluarga Scoot serta Keluarga Vince. Jika Keluarga Hahgwer maju sebelum waktunya, dan membantu Zac, mau di taruh di mana wajah kakakkmu. Dia hanya akan menjadi bahan tertawaan para mafia lain." Kata Ben.
"Zac... Zac... Zac...!!! Semua nya tentang Zac!!! Aku bagaimana!! Gavriel bagaimana!!" Teriak Zay.
"Zac juga kehilangan orang kepercayaannya. Charles." Kata Ben.
"Jadi, mari kita hentikan dunia mafia ini. Bukan hanya Zac yang kehilangan! Aku juga kehilangan Gavriel! Lalu kenapa hanya Zac yangbselalu ayah pikirkan!!!"
"Karena Zac yang akan menjadi pewaris Haghwer, dia harus lebih kuat dariku! Maka dari itu adu kekuatan adalah hal yang paling penting untuk menambah keahliannya dan kekuasaannya. Meskipun Gavriel menjadi seperti sekarang, ayah pun merasa kehilangan. Tapi Zay kau seharusnya juga sadar, bahwa tidak sepantasnya kau lengah, kau anak dari Benjove, bagaimana kau bisa di jebak berulang kali." Kata Ben.
"Aku benar-benar membenci kalian semua!" Kata Zay kehabisan kata untuk berdebat, ia geram dan pergi keluar untuk menenangkan diri.
Zac hendak menyusul namun Gege Vamos menghalangi.
"Biar aku saja yang menyusulnya." Kata Gege Vamos berlari mengejar Zay.
Zac terduduk di kursi dan membenturkan kepala belakangnya di dinding.
"Jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri Zac, kau juga sudah berjuang banyak demi Zay, aku pikir, watak dan sifat Zay sama seperti ibunya." Bisik Rudolf dan menepuk bahu Zac, tak ingin Ben mendengarnya.
"Kenapa kau berbisik paman, ibunya Zay adalah ibuku. Meski ayah tak mendengar, tapi aku juga terluka kau mengatakan itu." Kata Zac.
Rudolf mengangguk pelan, dan menepuk bahu Zac.
"Oke paman minta maaf, tapi mereka benar-benar mirip, jika batu bisa pecah, watak tak akan bisa berubah." Kata Rudolf.
Zac membuang nafasnya pelan.
"Kau pulang saja dulu Zac." Kata Ben.
"Lalu ayah?" Tanya Zac.
"Aku akan menunggu di sini untuk beberapa hari. Menjaga Zay juga." Kata Ben.
"Ayah tidak ingin bertemu ibu? Maksudku... Ayah juga terkena asap perangsangg." Kata Zac.
__ADS_1
"Itu tidak akan membuatku sangat berefek, hanya sedikit, memang cukup lumayan, tapi aku masih baik-baik saja, seharusnya tidak berefek padaku namun ada yang aneh dengan racikan obat Gia, aku kebal dengan segala obat perangsang. Tapi yang ini aku bisa terpengaruh dan berhalusinasi. Traver akan menelitinya.." Kata Ben.
"Ben, sebaiknya kau juga pulang, kau harus menemani Daisy, tanyakan apakah dia baik-baik saja. Kau tahu kan, Pulau Kematian bahkan terlihat seperti lautan darah dan mayat, Daisy selalu pusing dan hampir pingsan jika melihat darah." Kata Rudolf.
Cukup lama Ben diam, dia pun akhirnya mengangguk. Pada akhirnya, Ben pulang di temani Traver dan Mena, Sedangkan Zac pulang sendirian.
Di Mansion saat Ben baru sampai, ia langsung menuju kamar istrinya. Ben langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Ben kah itu?" Tanya Daisy.
"Ya aku." Kata Ben dari dalam.
Daisy mencoba membuka pintu kamar mandi, namun anehnya, pintu itu di kunci dari dalam.
Ben tak pernah sekalipun mengunci kamar mandi, Daisy berfikir ada kejanggalan lagi.
Sedangkan Ben yang mandi, ia menyangga tubuhnya di dinding marmer dingin dengan kedua tangan kekarnya, dan membiarkan air menyiram kepalanya hingga ujung kakinya.
"Sial! Obat apa yang Gia berikan padaku." Kata Ben
"BUUUGGG!!!" Tiba-tiba Ben memukul dinding kamar mandi tersebut dengan kepalan tangannya.
Ada yang aneh di pikiran Ben, Ben mencoba mengingat-ingat lagi, apakah ada obat lain yang di masukkan pada dirinya ketika Ben sedang halusinasi.
Semakin Ben memikirkannya, semakin Ben merasa frustasi.
Pasalnya, saat berhubungan dengan Daisy, beberapa kali kedua mata Ben justru melihat wajah istrinya sebagai wajah Gia.
"BUUUGGGHH!!!"
"BUUGGGGHH!!!"
Berulang kali Ben memukul-mukul dinding marmer itu dengan kepalan tangannya yang kekar dan berotot.
"Benn... Kau baik-baik saja?" Teriak Daisy dari luar.
"Ya... Tenang saja." Kata Ben dengan suara rendah.
Ben menarik nafas panjang dan membasuh kepalanya, menyingkap rambutnya kebelakang saat air shower mengguyurnya.
Berulang kali Ben mencoba mengingat-ingat, apakah Gia menyuntikkan sesuatu, ataukah Ben melakukan sesuatu saat sedang berhalusinasi.
"Aku harus menemui Gia." Kata Ben kemudian keluar dari kotak kamar mandi shower, menyambar handuk dan ia lilitkan di pinggangnya.
Saat keluar dari kamar mandi, Ben terkejut, Daisy masih menunggu dan berandar di dinding dengan menyedekapkan tangannya.
"Sayang... Kau masih di sini?" Tanya Ben.
__ADS_1
"Aku melihat kau murung, ada apa?" Tanya Daisy.
Ben mencoba mengalihkan pandangannya.
"Ben tatap aku, ada apa?" Tanya Daisy.
"Gavriel... Dia sekarat." Kata Ben, meski Gavriel membuatnya kepikiran, namun ada alasan lain yang juga membebaninya.
"Astaga... Lalu bagaimana..." Tanya Daisy.
"Para dokter akan melakukan semua yang bisa mereka lakukan." Kata Ben kemudian ia berjalan pergi menuju walk in closet.
Daisy mengerutkan alis dan keningnya sesaat, ia merasa Ben sangat dingin, sikap Ben padanya seperti yang biasa Ben lakukan pada para wanita, ia tak lernah menanggapi wanita lain dengan serius, dia dingin dan acuh dan ketus.
"Ben... Kau yakin hanya alasan itu, apakah ada hal lain yang mengusikmu." Tanya Daisy.
"Tidak ada." Kata Ben memakai pakaiannya.
Daisy kemudian memeluk Ben dari belakang.
"Apakah karena Gia?" Tanya Daisy yang perasaannya sangat sensitif.
Ben diam dan masih mengancingkan bajunya.
"Aku harus bertemu Mena dulu, ada yang harus ku urus." Kata Ben.
"Sikap mu ini... Aku hampir tak mengenalimu, apakah kau menginginkan Gia yang memuaskanmu?" Tanya Daisy entah dasar apa tapi Daisy hanya tak tahu harus mengatakan apa karena sikap dingin Ben, ia hanya mengikuti nalurinya yang gelisah.
"Kau mengatakan sesuatu yang tak masuk akal. Istirahatlah, aku akan di ruang kerja cukup lama." Kata Ben memakai celananya.
"Tapi sikapmu ini berbeda dari biasanya!" Daisy masih belum puas dengan jawaban Ben dan masih mengejar.
"Daisy. Kenapa hari ini kau ribut sekali. Aku sedang mencoba berfikir." Kata Ben.
"Berfikir tentang apa? Tentang Gia! Apakah kau berniat akan menemuinya seperti yang dia katakan! Jadi, apakah semua yang Gia katakan benar? Kau sebenarnya mencintainya!!!" Teriak Daisy.
Ben terdiam ketika Daisy mencecarnya, namun yang Ben ingat hanyalah wajah Gia saat ia melakukannya dengan Daisy ketika ia berada dalam halusinasi dan obat perangsang, ketika Ben di bawah obat perangsan hanya wajah Gia yang ia pikirkan.
Maka dari itu Ben memutuskan untuk berhenti melakukan hubungan badan dengan Daisy, karena berulang kali wajah Gia ada dan muncul di hadapannya.
"BEEEENNN!!!" Teriak Daisy.
Ben kemudian tersadar dari lamunannya.
"Jangan dengarkan kata-katanya, dia hanya wanita gila. Okey." Kata Ben mencium kening Daisy.
Cukup lama ia meyakinkan bahwa itu adalah Daisy dan bukan Gia.
__ADS_1
Dalam hati Ben dia terus menerus mengumpat, bagaimana ia mengira Daisy adalah Gia.
Bersambung~