
Dalam perjalanan menuju Mansion, mobil yang di kendarai Gege Vamos dan Zay melaju dengan kencang, pengawal Gege Vamos sudah menghubungi dokter yang akan merawat luka di kepala Gege.
Saat itu Gege hanya diam, dan mengelap darah yang ada di pelipis serta lehernya dengan sapu tangan. Perlahan dan pandangan Gege terus tertuju ke depan tanpa melihat pada Zay yang ada di sampingnya.
Saat itu Zay merasa sangat bersalah dan mencoba membantu, namun ketika tangan Zay terulur, Gege menghindar pelan dan tak mau di sentuh oleh Zay.
"Kau marah?" Tanya Zay.
Gege masih diam dan masih mengelap darah, kemudian Gege menekan luka yang ada di kepalanya menahan darah yang terus keluar.
"Kau benar-benar marah padaku? Kau dingin dan acuh, apa kau juga akan meninggalkanku." Kata Zay.
Gege kemudian melihat ke arah Zay.
"Zay... Saat kau melakukan sesuatu apakah terbesit di pikiran atau di kepalamu, sosok orang-orang yang menyayangimu? Apakah kau tidak memikirkan bagaimana perasaan orang-orang yang mencintaimu?" Kata Gege melihat dengan tatapan tajam pada Zay.
Seketika Zay mengerut melihat mata Gege yang melihatnya secara tajam. Baru kali ini, Zay merasakan sesuatu getaran atau sesuatu yang menyadarkan dirinya bahwa ia salah. Gege memiliki sifat yang tak di miliki Carlos dan Gavriel, yaitu ketegasan.
Zay berfikir, jika itu Gavriel, pasti Gavriel hanya akan memaafkan semua yang di lakukan Zay, dan memeluknya, namun Gege tidak, Gege seolah seperti seorang pria yang ingin meluruskan tingkah Zay yang keliru.
Jika Zay keliru maka Gege akan bertindak tegas.
Keluarga Vamos memang terkenal dengan didikan keras yang penuh tanggung jawab, alih-alih Gege akan memeluk Zay dan bersikap manis, namun, justru sebaliknya, Gege kesal karena Zay begitu ceroboh, namun kekesalan itu adalah bentuk rasa khawatirnya pada Zay.
"Jadi, kau sudah menemukan pria yang akan kau ajak tidur?" Tanya Gege.
"Belum." Jawab Zay cepat.
"Kemarilah." Kata Gege.
"Apa?" Tanya Zay.
"Duduk mendekat." Perintah Gege.
Zay pun duduk lebih dekat, kemudian Gege menjitak dahi Zay pelan dengan ujung jarinya.
"Aaaaa!!!" Pekik Zay.
"Sakitttt tahuuu....!!!" Gerutu Zay.
"Jangan lakukan hal bodoh lagi, atau aku akan menggila." Kata Gege.
Zay menundukkan kepala dan mengusap usap dahinya.
Mobil milik Gege sudah masuk ke dalam Mansion, namun Gege dan Zay melihat beberapa mobil juga sudah terparkir di sana.
Ternyata Ben sudah menunggu mereka, di depan mansion.
Dengan cepat Gege keluar dan menemui Ben, di belakang Gege Zay menyusul.
"Ayah... Kenapa kau kemari?"
"Tuan Ben, kenapa tidak masuk dan menunggu di dalam?" Tanya Gege.
__ADS_1
"Kau masih bertanya kenapa aku ke mari?" Kata Ben pada Zay.
Zay hanya diam dan menundukkan kepala.
Hari itu sudah malam, dan Gege kemudian mempersilahkan Ben masuk, Traver juga ikut masuk.
Saat itu dokter yang menunggu sudah siap mengobati luka Gege di dalam kamar, sedangkan Ben menunggu di luar bersama Zay.
"Tinggal dimana kau sekarang?" Tanya Ben.
"Tidak tahu, aku gelandangan." Kata Zay asal.
Ben hampir tertawa mendengar jawaban anaknya. Keluarganya begitu kaya, bagaimana Zay menyebut dirinya gelandangan dengan masih menaiki mobil mewah, memakai tas branded, pakaiannya pun limited khusus untuk keluarga Haghwer.
"Kemasi barang-barang mu dan pulang ke mansion." Perintah Ben.
"Tidak mau, untuk apa pulang, bukan kah semua itu milik Zac, ayah juga hanya memikirkan Zac, karena Zac anak laki-laki dan pewaris Haghwer, dia yang akan memimpin keluarga Haghwer, sedangkan aku? Entah aku ini apa." Kata Zay merajuk.
Tak berapa lama, dokter yang menangani Gege sudah keluar.
"Tuan Gege sudah bisa di temu i, saya permisi Tuan Ben." Kata dokter itu dan pergi.
Zay langsung masuk ke dalam kamar, diikuti oleh Ben.
"Apa itu sakit?" Tanya Zay duduk di tepi ranjang yang besar dan mewah di mana Gege sudah duduk dan mengganti pakaiannya.
"Tidak, bukan lah hal besar." Kata Gege.
"Aku berterimakasih padamu, karena sekali lagi anakku membuat masalah." Kata Ben.
"Tidak Tuan Ben jangan berterimakasih. Sudah seharusnya saya melindungi Zay."
"Zay, kau seharusnya pulang dulu, Nyonya Daisy pasti khawatir." Kata Gege.
Zay diam.
"Zay... Ayo pulang, ibu mu khawatir." Kata Ben lagi.
"Baiklah." Kata Zay dan berdiri.
"Lekas membaik, dan maaf." Kata Zay lagi.
Gege kemudian mengangguk pelan.
"Terimakasih Tuan Ben sudah mau mampir ke mansion saya." Kata Gege.
"Aku yang seharusnya berkata terimakasih." Kata Ben menepuk bahu Gege.
Kemudian Ben dan juga Zay meninggalkan kediaman Gege Vamos.
Dalam perjalanan pulang, di dalam mobil Ben dan juga Zay hanya saling diam dan tak berbicara.
Hingga akhirnya mereka sampai di Mansion pun ,Zay turun lebih dulu dan meninggalkan ayahnya.
__ADS_1
"Tuan Ben, anda harus sabar." Traver mengingatkan.
"Aku tahu."
Ben langsung menyusul Zay, saat itu Zay sudah ada di kamarnya.
Mengetahui ayahnya ternyata mengikutinya sampai di kamar, Zay pun kesal.
"Kenapa lagi?" Tanya Zay yang sudah berbaring sembari memeluk gulingnya.
Ben duduk di tepi ranjang dan melihat anaknya yang semakin dewasa semakin membangkang serta menatapnya dengan mata kebencian.
"Kau mau berlibur dengan ayah?" Tanya Ben.
"Kenapa tiba-tiba mengajakku liburan." Jawab Zay ketus.
"Entahlah, tiba-tiba saja ayah ingin berlibur." Kata Ben.
"Terserah saja. Ayah atur saja, tugasku kan hanya menuruti semua perintah ayah." Zay kembali berbaring dan memunggungi ayahnya.
"Baiklah, besok pagi kita berangkat, aku akan bicara pada ibumu dan kakakkmu."
"Terserah." Kata Zay kesal.
Tak berapa lama, Ben hanya diam, namun ia pun berbicara lagi.
"Aku ingin kau melupakan Gavriel." Kata Ben.
Mendengar kalimat itu Zay langsung bangkit dan duduk melihat ayahnya dengan mata tajam.
"Kenapa!" Kata Zay.
"Ini demi kebaikanmu dan juga kebaikan Gavriel."
"Ayah tidak berhak memerintahku dalam urusan itu, ayah bisa memerintahku menjadi mafia, memberikan pendidikan yang berat, tapi apa sekarang ayah juga ingin mengatur perasaanku!" Kata Zay dengan berteriak.
"Ayah tidak mau kau semakin menyakiti Gavriel, dia adalah orang penting dan orang baik."
"Aku? Menyakiti Gavriel?" Zay tersenyum sinis, namun tiba-tiba air matanya meleleh, karena ia tak sanggup lagi, Zay pun berbaring lagi dan memunggungi ayahnya dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Zay... Bolehkah ayah menceritakan sesuatu?" Tanya Ben.
Zay tetap diam, namun meski Zay diam, Ben tahu Zay mendengarkannya.
"Aku lahir dari seorang pelacurr dan juga pecanduu, bahkan, dia tidak bisa di sebut sebagai seorang ibu, kau tahu usia berapa aku mulai mendapatkan Trauma dan Gavriel mati-matian menyembuhkanku? Ingatan ku di mulai dari usia 6 Tahun, ketika pertama kalinya aku melihat bagaimana ibuku bergumul dengan banyak pria, san ayahku pulang dengan keadaan mabuk lalu memukuli ibuku. Kau tahu, rumah seperti apa yang ku tempati dulu? hanya ukuran 3X3 dengan beberapa potongan-potongan Alumumium yang di satukan. Tidak kah kau ingin tahu cerita kelanjutannya?" Tanya Ben.
"Aku akan mempersingkatnga, kau tahu Zay, usia 7 tahun bagaimana ibuku menyiksa dan memukuliku, hingga dia berniat menjajakanku sebagai pemuas bagi para pria tua? Akhirnya aku dapat melarikan diri, namun aku tidak tahu harus kemana, usia 7 Tahun tidak bisa berfikir jernih, yang aku tahu hanya bisa memikirkan orang yang selama ini ku anggap sebagai keluarga dan rumah, tempatku satu-satunya kembali, namun ketika aku kembali, apa yang aku dapatkan? Ibuku menjualku secara ilegal dengan hanya 10juta." Kata Ben.
Sedetik kemudian Ben berhenti bercerita, ia menahan rasa sakit di dalam ulu hati nya karena ia mengingat dan membuka lagi kenangan buruk itu.
"Jika kau ingin mendengarkan ceritanya lagi, ku harap besok kau ikut berlibur bersama kami." Kata Ben kemudian mencium kepala Zay yang sedikit terlihat memyembul dari balik selimut.
Di satu sisi, saat itu Daisy mendengar kan dari balik pintu kamar Zay, dan menahan sesak di dadanya, ia juga menahan isak tangisnya, Daisy bahkan tak tahu apakah bisa kuat atau tidak jika mendengarkan cerita Ben masa kecil.
__ADS_1
Ketika Ben hendak keluar, Daisy buru-buru kembali ke kamarnya untuk menunggu suaminya, ia ingin memeluk suaminya seerat mungkin dan menciumnya, Daisy ingin mengatakannya dalam hati, bahwa suaminya adalah pria terhebat.
Bersambung~