
Daisy bangun lebih pagi, seperti biasanya para pelayan masuk mendorong troli yang berisi makanan.
Tak lama kemudian Mena pun menyusul masuk.
"Maaf Nona Daisy, dari semalam saya harus mengurus beberapa kekacauan di Kota S." Kata Mena.
"Apa ada sesuatu yang penting?" Tanya Daisy.
"Ti... Tidak ada... Hanya..." Baru kali ini Mena merasa sangat gugup.
"Ada apa Mena?"
Sebelum Mena menjawab, Traver mengetuk pintu dan masuk.
"Selamat pagi Nona Daisy." Kata Traver.
"Pagi." Jawab Daisy.
Kemudian Traver mengulurkan sebuah ponsel.
"Tuan Ben tidak sempat berpamitan, namun beliau berpesan agar anda tidak meninggalkan mansion apapun yang terjadi." Kata Traver.
Daisy menundukkan kepalanya dan melihat ponsel yang ada di hadapannya.
"Apakah dia... Akan baik-baik saja?"
"Dulu, keseharian Tuan Ben adalah berperang melawan para mafia dan bandit kotor, tidak ada yang perlu di khawatirkan." Kata Traver.
"Baguslah." Kata Daisy menyembunyikan rasa khawatir dan cemas.
"Kalau begitu saya permisi, saya harus menyusul Tuan Ben." Kata Traver.
"Traver...." Daisy memanggil Traver dengan malu.
"Ya Nona..."
"Anu... Katakan pada Tuan Ben untuk kembali." Kata Daisy dengan malu.
Traver mengangguk pelan dan pergi, pria itu langsung menuju ruang bawah tanah dimana Rudolf Gama sedang bersama John.
"Ck... Ck...Ck....!" Rudolf mendecakkan lidahnya melihat kondisi John yang mengenaskan.
Pria itu kemudian menggelengkan kepalanya berkali-kali.
Tak berapa lama Traver datang.
"Kita harus segera membawanya Tuan." Kata Traver.
"Kau... Benar-benar pshyco Traver. Jika kita membawa John sepertinya dia hanya akan menjadi beban, lihatlah wajahnya yang penuh siletan dan siksaan, dia tak terlihat dan tak berwujud, aku ngeri menatapnya." Kata Rudolf.
"Maafkan saya Tuan telah terlalu bersemangat bermain-main." Kata Traver.
"Astaga... Bahkan tubuh nya penuh dengan darah dan luka sayatan, kau benar-benar menikmatinya Traver?"
"Hanya sedikit, dia terlalu lemah." Kata Traver.
__ADS_1
Wajah Rudolf berubah menjadi ngeri, ia tahu Traver adalah mesin pembunuh paling berbahaya.
Di atas tepatnya di kamar Daisy, Mena kembali gusar dengan beberapa masalah yang sedang beruntun menerpa. Mena menduga apakah semua itu memiliki kaitannya dengan El Joa, apakah pemerintah sedang bersekutu dengan El Joa.
"Jadi Mena... Ada apa di Kota S?"
"Bukan masalah yang serius Nona, hanya pemerintah Negara K sepertinya ingin melahap lahan milik Tuan Ben, saya pikir ini aneh, kenapa pemerintah bergejolak." Kata Mena menuangkan teh ke cangkir cantik di hadapan Daisy.
"Semua akan baik-baik saja bukan?" Kata Daisy.
Mena hanya diam terbelenggu dengan pikirannya sendiri, sedangkan Daisy juga memiliki pikiran dan kecemasannya sendiri.
******
Malam gelap telah menyelimuti belahan bumi yang lain, Traver dan Rudolf telah sampai dengan membawa John bersama mereka.
Meski kondisi John sangat buruk, namun Ben akan menjadikan John sebagai jasad yang di persembahkan untuk El Joa.
"Kau bermain-main dengan tahananmu Traver..." Kata Carlos melihat kondisi John yang mengerikan.
Tubuh John penuh dengan luka sobekan, wajah John penuh luka siletan, dan semua tubuhnya di penuhi darah, luka-luka itu meradang, dan kemudian Traver berbicara.
"Hanya sedikit sensasi pedih, agar dia juga merasakan kenikmatan." Kata Traver.
Carlos memandang Traves.
"Jangan bilang...."
"Ya Tuan, saya menyiram luka-luka nya dengan air cuka."
Carlos memandang ngeri pada Traver, bibir atasnya terangkat naik, dan menutupi bibirnya kemudian.
Tak hanya Carlos, Rudolf pun memilih pergi, dan di susul Yamaguchi.
"Malam ini kita bergerak." Perintah Ben sembari menyesap wiski dan memandang ke luar jendela.
Semua mengangguk tanda mengerti.
Tepat pukul 12 malam, Ben sudah memakai pakaian yang serba hitam, kemeja hitam, dan jas hitam, serta mantel yang menutupi tubuhnya.
4 Mafia besar bergabung untuk menghancurkan El Joa sang Mafia licik. El Joa telah menjual nama Carlos dan Ben, sedangkan di masa lalu El Joa telah membunuh istri Yamaguchi.
Mobil-mobil bergerak saling beriringan dan menuju ke suatu tempat.
Ben akan maju dengan anak buahnya lebih dulu.
Tempat persembunyian El Joa telah di konfirmasi.
Penyerangan akan di lakukan melalui darat, udara dan laut.
Mobil Ben kahirnya beehenti, saat roda-roda mobil berhwnti debu berterbangan. Ben turun dari mobil dan menapakkan kakinya di atas tanah kering yang tandus, sebuah debu berterbangan di sekitar kakinnya, pria itu melihat para anak buahnya sudah bergerak maju. Ben masih memantau mereka semua.
Hingga akhirnya bunyi alarm pun berkumandang keras di langit malam yang gelap.
Ribuan burung-burung gagak berterbangan dan mengeluarkan suara-suara yang mengerikan secara bersama-sama.
__ADS_1
Ben tersenyum dan mengingat dirinya, hidupnya tak pernah lepas dari peluru, pedang, dan darah.
Semua anak buahnya telah merengsak masuk dengan persenjataan mereka, suara-suara senapan dan bom telah saling bersahutan, bau bubuk mesiu dan asap bom bercampur bau darah telah tercium oleh hidung Ben, pria itu semakin bersemangat.
Ben melangkah kan kakinya dengan mantap, sesekali seorang pria yang sudah pasti itu anak buah El Joa hendak menghadangnya namun Ben menembaknya dengan santai.
Di sekitarnya semua anak buahnya melindunginya, nyawa adalah harga murah yang harus di bayar karena telah melawan Ben. Para anak buahnya menembaki mereka semua hingga tak bersisa.
Sedangkan Traver sendiri telah memimpin para anak buahnya masuk melalui atap mansion, mereka semua menembakkan tembakan beruntun dan turun melalui tali helikopter sepeti ninja.
Traver tersenyum girang seolah ia sedang menembaki ribuan ikan yang pasrah.
Ben masih berjalan santai, langkahnya bak iblis yang menerjang lautan mayat, sepatunya menginjak samudra darah yang telah membanjir, tubuhnya bak sosok yang tak tertembus peluru, banyak peluru lalu lalang di sekitarnya, namun Ben terus berjalan bagai iblis yang tak akan mati.
Ben sampai di depan pintu mansion dan melihat El Joa berdiri di atas tangga memegang gelas wine dengan mantel tidur yang terbuka.
Dengan cepat El Joa mengambil pistol dari balik punggungnya dan menembakkan ke arah Ben.
"DOOORRR.... DDOORR....!!!"
Tembakan nya meleset, Ben dapat menghindar.
"Sial! Aku terlalu banyak minum." Kata El Joa.
Namun mata El Joa melotot, dan mengingat setiap ingatan yang ada di memorinya.
"Tidak mungkin!!" Kata El Joa memegangi kepalanya.
"Apa kau bersenang-senang dengan perempuan-perempuan itu?" Kata Ben melangkah kan kakinya.
"Sialan... Ternyata benar, perempuan-perempuan itu adalah jebakan!" Geram El Joa.
"Kau pikir aku lawan yang sepadan untukmu." Kata Ben menarik pelatuk pistolnya.
DOOORRR!!!
Vas di dekat El Joa bersembunyi pecah karena tembakan Ben.
Yamaguchi dan Carlos serta Rudolf menyisir jalanan memastikan semua pengawal El Joa telah tewas, mereka juga membawa para anak buah yang bertugas sebagai medis.
"Nyalimu benar-benar besar ya... Kau bermain-main dengan Benjove Haghwer." Kata Ben.
"Keluar atau ku tembak kepala mu!" Peringat Ben.
Tak berapa lama El Joa keluar dengan kepala pening dan pandangan mata yang buram.
Ben menyeringaikan bibirnya.
El Joa mengangkat kedua tangannya di hadapan Ben.
"Aku tidak tahu, kau memakai trik kotor!" Kata El Joa.
"Kau pun selalu memakai trik kotor." Kata Ben.
"Apa wanita-wanita itu anak buahmu." Kata El Joa.
__ADS_1
Bersambung