Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 196


__ADS_3

Di mansion tepatnya Pulau Tanpa Nama, Gaby duduk di depan ayahnya dengan tenang tanpa menundukkan kepalanya karena ia merasa tak harus menundukka kepalanya atas apa yang terjadi, itu semua kesalahan Xuan, dan karena Gaby tidak akan tunduk lagi pada ayahnya yang selalu mengatur hidupnya.


"Jadi, selama ini kau bekerja untuk perusahaan Benz Group." Kata Douglas berdiri dengan wajah dingin.


Gaby mengangguk.


"Lalu, anak muda yang menembak sekretarisku adalah atasanmu? Dia anak dari Benjove?"


Sekali lagi Gaby mengangguk pelan.


"Jadi, dia memiliki rasa padamu." Kata Douglas membaca situasi saat itu.


Gaby hanya diam, namun kemudian menjawab.


"Dia tidak memiliki perasaan apapun pada ku."


"Haah!!" Douglas menghela nafas kasar.


"Seorang pria tak akan pernah berani mengambil keputusan besar untuk menembak seseorang, jika dia tak memiliki landasan kuat, kau pikir Ayahmu ini buta." Kata Douglas.


"Mungkin saja itu hanya persaingan bisnis, ku dengar Tuan Zac dan Xuan berseteru masalah perusahaan Giant Grup."


"Apapun itu... Aku melihat mata anak itu selalu melihatmu, lebih dari sekali atau bahkan lebih dari 5 kali matanya mengawasimu, kau pikir Jhonder tak mengawasi kalian saat Zac memukuli Xuan? Kau pikir aku tak tahu apa yang dilakukan anak itu pada Xuan." Kata Douglas.


Gaby terlejut mendengar itu.


"Ayah... Dari kecil... Aku selalu mengagumi sosok Tuan Benjove, aku senang bisa bekerja di perusahaan Benz Group. Aku tidak akan menyerah meski ayah menentang." Kata Gaby dengan tegas dan penuh ketenangan.


"Jadi, kau juga ingin keluarga kita hancur seperti yang terjadi pada mereka? Kau ingin membuat ibumu kembali ke pelukan pria itu? Kau pikir akan bebas dari pengawasanku? Jika Jhonder mati, kau pikir aku tidak bisa mencari penggantinya?" Kata Douglas tegas dan dingin.


Gaby terkejut mendengar penuturan ayahnya, Gaby selalu merasa ada Jhonder yang terus membayanginya, dan ternyata itu benar, Jhonder selalu saja menjadi mata-mata ayahnya. Dari kecil, Jhonder selalu saja melaporkan aktifitasnya, sehingga ayahnya akan marah dan menyuruhnya untuk tetap di dalam mansion, meski Gaby hanya ingin bermain di sekitar pantai di luar mansion.


Alasan itulah, Gaby begitu membenci Jhonder, jadi ketika Zac menembak mati Jhonder, Gaby merasa cukup tenang.


"Kau... Apapun yang terjadi, tidak akan pernah bisa keluar dari Mansion, aku melarangmu berhubungan dengan keluarga Haghwer sekarang kembalilah ke kamarmu!" Perintah Douglas.


"Ayah. Ini hidupku." Kata Gaby.


"Hidupmu? Jadi kau merasa berhak atas hidupmu sedangkan kau masih memakai fasilitas yang ku berikan!"


"Aku bisa menanggalkan semuanya." Kata Gaby lagi dengan tenang.


"PLAAAKKK!!!"


Akhirnya tamparan mendarat di pipi Gaby. Gadis itu masih sangat tenang, ia diam saja dan menahan sakit serta perih pipinya, belum lagi beberapa detik kemudian pipinya menjadi terasa sangat panas.


"Kembali ke kamarmu, dan renungkan kesalahanmu." Perintah Douglas.

__ADS_1


Kemudian Gaby pergi ke kamarnya, Douglas juga menuju kamarnya, saat itu ia langsung melihat ke arah istrinya yang sedang melamun.


Douglas langsung menarik rahang sang istri mendongak untuk melihatnya.


"Kau bahkan tidak sadar jika aku masuk ke dalam kamar, sebegitu sedihnya kau kehilangan Ben?" Kata Douglas meremas rahang Gia dengan keras.


"Jika saja bukan Jhonder yang menembak Ben, pasti itu adalah aku." Kata Douglas membulatkan matanya.


"Aku tahu kau yang memerintahkan Jhonder membunuh Ben bahkam sejak awal acara itu di mulai." Kata Gia.


"Jadi kai sekarang sedih pacar mu sekarat dan akan mati! HM!!! Kau pasti sibuk memikirkan dia bukan!!!"


Gia menggelengkan kepala dengan cepat.


"Lalu?!"


"Aku... Tidak memikirkan apapun, hanya saja..."


"Hanya apa!"


"Sebenarnya, bagaimana bisa dokter itu adalah adik mu." Kata Gia mencari-cari alasan.


"Kau tak perlu tahu lebih jauh." Douglas melepaskan Gia dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sejujurnya, selain penasaran bagaimana Gavriel adalah adik Douglas, Gia juga sedang memikirkan keadaan Ben. Tanpa sadar air matanya meleleh jatuh.


Gia terkejut dan menghapus air matanya dengan cepat, ia tak ingin suaminya tahu.


*****


Kediaman Carlos De Hugo


Carlos menyesap minuman kerasnya, dan memandangi hamparan gedung-gedung yang megah.


Saat itu, Zay di sekap dengan cara di rantai di atas tempat tidurnya, kedua tangan dan kakinya di ikat menggunakan rantai, seolah itu adalah peliharaan.


"Aku akan menceritakan kisah yang menarik tentang cinta pertama ku yang tak pernah ku bahas selama ini." Kata Carlos.


Zay hanya tertidur berbaring memunggungi Carlos, meski matanya terpejam namun telinganya masih bisa mendengar dengan baik.


"Kau ingat saat kita bertabrakan di sebuah jalan, dan tas kita tertukar? Aku sengaja menukarnya. Aku sudah mengamatimu lebih dari setahun, perilakumu, sifatmu, dan segala kebiasaanmu. Aku sengaja mendekatimu hanya agar, aku bisa melihat Daisy lebih dekat, kau tahu? Wajahmu itu mengingatkanku padanya." Kata Carlos meminum lagi alkoholnya.


Kemudian Carlos berbalik, ia duduk di tepi ranjang.


"Ku pikir kau benar-benar telah menjadi super tangguh karena langsung di didik oleh ayahmu yang mafia hebat itu, ternyata hanya sekali gombalan saja kau mau menjadi kekasihku." Kata Carlos tersenyum mengejek.


"Kau tahu, sepertinya kau tergila-gila padaku, bagaimana jika malam ini kita lakukan hal yang menyenangkan." Kata Carlos.

__ADS_1


Zay kemudian membuka matanya, nafasnya kian memburu karena ia merasa begitu marah, pada dirinya sendiri, karena kebodohannya ayahnya menjadi terluka


Ingin sekali saat itu Zay mengambil senapan milik Traver dan menembaki mereka yang melukai ayahnya dan menembak Carlos, namun entah mengapa kaki dan tangannya begitu tak mampu ia gerakkan, Zay terlalu terpuruk atas apa yang terjadi dan ia menganggap semua itu adalah salahnya.


"Jadi, daripada aku menganggur malam ini, bagaimana jika kita mencoba malam pertama sebelum pesta pertunangan kita?" Tanya Carlos membelai bahu Zay.


Seketika Zay mengibaskan tangan Carlos dengan kasar.


"Jangan mimpi!!! Menjijikkan!!" Teriak Zay.


"Ahahahaha... Menjijikkan katamu? Kau bilang jika aku menjijikkan? Apa kau lupa? Kau lah yang selalu menikmati ciuman kita? Kau bersemangat hingga seperti cacing yang kepanasan... Hahahaha!!!"


"SSRREEEETTT!!!"


Dengan cepat Zay menyapu wajah Carlos dengan rantainya yang ada di tangannya, rantai itu mengenai wajah Carlos dan darah pun mengalir dari pipinya.


Darah segar itu terus mengalir hingga ke leher.


Carlos pun dengan geram mencekik leher Zay menggunakan kedua tangannya yang besar.


"Kau mau mati? Akan ku berikan" Tanya Carlos.


Carlos kemudian menekan cekikan itu hingga tubuh Zay tertekan di ranjang, Zay memegangi tangan besar Carlos dengan kedua tangannya, kakinya menendang-nendang ke atas, wajah Zay mulai merah.


"Aku sudah bersabar dengan bocah ingusan seperti dirimu, kehancuran Keluarga Haghwer adalah hal yang paling ku nantikan!!!" Geram Carlos.


Nafas Zay mulai pendek, ia merasakan kepalanya berputar, dadanya berdetak keras seperti akan meledak, Zay pun kehabisan nafas dan tak lagi bergerak.


Saat itu juga Carlos melepaskan tangannya.


Zay kembali pada kesadarannya, namun tubuhnya lemah.


"Secepatnya aku ingin melakukan pertukaran dengan ibumu, aku tak ingin kau mati."


"Jangan harap." Kata Zay lemah.


"Kenapa? Kau cemburu sayang?"


Zay diam saja, Carlos melihat Zay sedang mengatur nafasnya yang pendek.


Semakin hari pikiran Carlos semakin tak sabar, emosinya pun semakin tak mudah di kendalikan.


"Seandainya aku bisa menghipnotismu, tapi aku tak pernah bisa menghipnotis dirimu... Bahkan Daisy." Kata Carlos.


Carlos pun pergi keluar karena merasa marah setiap kali melihat Zay, itu karena keinginannya yang kuat ingin bertemu Daisy tak tersampaikan.


Zay sendiri menyadari bahwa dirinya harus berbuat sesuatu, namun dirinya terlalu terkejut dengan segala kebenaran yang datang secara bersamaan.

__ADS_1


Kini, hal pertama yang harus ia lakukan sekarang adalah melepaskan diri lalu membalas dendam.


Bersambung


__ADS_2