Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 87


__ADS_3

Daisy pulang ke mansion dengan di antarkan oleh Gavriel, dalam perjalanan pulang mereka memiliki obrolan yang menyenangkan.


Daisy merasa bahwa ia lebih ringan setelah mencurahkan keinginan dan harapannya yang mengganjal pada Gavriel.


Gavriel adalah dokter sekaligus tempat berkeluh kesah yang tepat.


Perjalanan menjadi sangat singkat, dan mereka sampai di mansion dengan selamat. Hubungan mereka pun meningkat menjadi pertemanan.


"Kau mau mampir?" Tanya Daisy.


"Tidak, aku akan langsung pulang." Kata Gavriel tersenyum.


"Baiklah terimakasih. Hati-hati dijalan." Kata Daisy tersenyum.


Setelah melihat mobil Gavriel pergi, Daisy pun berjalan masuk ke dalam mansion, namun anehnya mansion seakan sunyi.


Belum sampai kaki Daisy masuk, dan masih di ambang pintu, sebuah insiden membuat Daisy tertegun, pemandangan yang mengerikan dan campur aduk menjadi satu.


Daisy pikir telah terjadi perampokan atau penyerangan dari musuh Ben.


Saat itu Daisy menelan ludahnya, dadanya berdebar dan darahnya mendadak panas, ia takut dan cemas ketika melihat Ben memegang tongkat golf dengan tangan kekarnya, itu adalah jejak yang ia pakai untuk memporak porandakan isi mansion.


Pria itu benar-benar terlihat menyeramkan, wajah marahnya terlihat sangat jelas.


Ben, si pria kuat yang liar, dia mulai merasakan kepanikan luar biasa, setelah mengalami 2 tahun di tinggalkan oleh Daisy.


Dan sekarang Ben merasakan ketakutan yang menggerogoti perasaan dan hatinya, ia takut Daisy akan pergi bersama Gavriel.


Ben menunggu Daisy tepat di depan pintu, itu adalah di ruangan yang luas dengan semua perabot mansion yang telah porak poranda.

__ADS_1


"A.... Aapa yang terjadi..." Kata Daisy.


"Maaf Nona Daisy suasan hati Tuan Ben sedang kacau." Kata Traver.


Saat itu Gavriel telah pergi dan tidak tahu apa yang sedang terjadi.


Ben kemudian mendatangi Daisy.


"Kau bersenang-senang?" Kata Ben.


"Apa maksud ucapanmu?"


"Kau bersenang-senang dengannya!!!" Teriak Ben.


Daisy masih tidak mengerti, dan melihat semua pelayan ketakutan.


"Kau bermain intim dengan Gavriel bukan!" Kata Ben.


"Kau... Bermain intim dengam Gavriel..." Kata Ben.


Daisy mencium bau alkohol, hembusan nafas Ben begitu kuat menyerang wajah Daisy.


"Aku tidak paham apa yang menyebabkan kemarahanmu seperti ini, kau merusak semua barang, dan membuat semua pelayan takut, tapi yang jelas aku benci tuduhanmu yang tidak berdasar dan asal-asalan!!!" Teriak Daisy.


Ben menarik lengan Daisy dengan kasar.


"Aaakk... Sakit!!!" Pekik Daisy.


"Ben ada apa denganmu!!!" Teriak Daisy lagi.

__ADS_1


"Ikut aku....!" Kata Ben tanpa melihat ke belakang dan membuang tongkat golf besar dan berat namun terlihat kecil dan ringan di tangan Ben.


Daisy pasrah saat lengannya di tarik dengan paksa oleh Ben, saat itu Ben membawa Daisy ke kamar, lalu membaringkannya di sana dengan kasar.


"Kau... Sudah berani bermain di belakangku, padahal kau tahu ponsel mu sudah ku pasang pelacak! Sebentar... Apa ini semua adalah rencanamu! Kau seolah-olah kembali padaku... Tapi sebenarnya kau hanya ingin menjatuhkanku? Kau akan menyiksaku dengan tindakan-tindakanmu? Kau akan membuatku menyedihkan karena telah mempercayaimu, padahal kau hanya ingin bermain-main denganku dan meninggalkanku. Aku tahu kau hanya balas dendam padaku, kau akan menggoda semua orang yang ku percaya dan memghancurkanku, karena aku mencintaimu!!!" Kata Ben mendelik.


"Apa yang sudah merasukimu Ben!" Kata Daisy kesal, dan sedih.


Daisy berdiri dari ranjangnya dan ingin pergi namun Ben menarik lengan Daisy dan memeluknya.


"Baiklah... Aku akan memaafkanmu kali ini karena kau bermain dengan Gavriel, tapi aku tidak akan memaafkan dia, setidaknya kepalanya harus hilang."


Daisy mendorong Ben.


"PLAAKKK!!!" Daisy akhirnya menampar Ben.


Dengan wajah merah dan mengalir air mata, Daisy lepas kontrol.


"Kau... Menuduh sesuatu yang tidak pernah aku lakukan, dan kau akan membunuh orang yang tidak pernah berbuat jahat padamu, dia tidak pernah mengkhianatimu Ben..." Kata Daisy lirih.


Ben hanya diam. Dia terpaku dengan tamparan yang Daisy layangkan.


"Tenangkan dirimu, aku akan tidur di kamarku." Kata Daisy putus asa.


Saat itu Daisy pergi dari kamar Ben dan meninggalkan Ben yang entah telah di rasuki apa jiwanya, ia begitu ketakutan, ia marah, ia panik, ia tidak bisa membayangkan jika Daisy akan pergi meninggalkannya lagi.


Ben pikir, Daisy tidak tulus kembali padanya.


Ben mengira, Daisy kembali padanya hanya untuk membalas dendam dan menyakitinya, sepulang dari perusahaan, Ben mengamuk dan memukul semua perabot dengan tongkat golf miliknya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2