
Saat Casey hendak pergi, tiba-tiba Traver menghentikannya.
"Mungkin ini terlambat, tapi... Maaf." Kata Traver.
Casey melihat penuh tanya pada Traver.
"Maaf untuk?"
"Seharusnya ku katakan sejak dulu. Tentang hubungan yang tak berjalan baik." Kata Traver.
"Itu sudah berlalu." Kata Casey.
Traver hanya diam.
"Tapi... Aku tidak menyangka kita akan di pertemukan seperti ini sekarang. Saat itu, saat aku mengetahui kau adalah orang kepercayaan Tuan Ben, aku tidak percaya kau mau menjalani kencan buta dan bertemu dengan ku." Kata Casey.
"Saat itu, Tuan Rudolf yang mengatur, aku pun tidak menyangka justru bertemu denganmu, kau adalah orang kepercayaan Tuan Derreck, melihat hubungan Tuan Ben dan Tuan Derreck tidak baik, ku pikir lebih baik saat itu tidak perlu di lanjutkan."
"Ya... Aku pun juga berfikir seperti itu, tapi waktu itu aku cukup kesulitan melupakanmu." Kata Casey.
"Benarkah?" Tanya Traver.
Casey mengangguk.
"Namun, saat Nona Daisy melarikan diri pertama kalinya dengan bantuan Tuan Derreck, dan kita bertemu di taman hiburan, lalu kau menatapku seperti musuh untuk melindungi adikmu, aku tahu saat itu yang tersisa dalam dirimu hanyalah kebencian terhadapku, dan mulai saat itulah hal itu ku jadikan cambuk untuk melupakanmu."
Traver hanya diam ketika mendengar penuturan Casey.
Traver, pria itu sejujurnya tak benar-bebar ingin menghadiri kencan buta yang sudah Rudolf atur, Rudolf mengatakan jika Traver adalah pria paling kaku dan dingin setelah Ben, maka Rudolf selalu saja ingin menjodohkan Ben atau Traver dengan para wanita.
Dan sayangnya, ternyata perjodohan itu mendatangkan Casey, tangan kanan Derreck.
"Sepertinya Tuan Ben sudah selesai, ayo ku antar." Kata Traver.
"Ya ayo..."
Namun, ketika Casey hendak naik ke tangga berikutnya, tiba-tiba kakinya menginjak di tangga yang salah, ia kurang naik dan kemudian tubuhnya tersentak jatuh.
Dengan cepat Traver menangkap Casey, dengan salah satu tangannya.
"Hampir saja." Kata Traver berbisik di telinga Casey.
"Terimakasih, jika bukan karena gerakanmu yang cepat, wajahku pasti sudah terbentur tangga." Kata Casey.
"Bukan hal besar." Kata Traver.
Namun, pelukan tangan Traver belum juga di lepas dari pinggang Casey.
Saat itu Casey menatap wajah tampan Traver, wajah yang sangat sulit ia lupakan, wajah yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
Wajah mereka kian dekat, dan hampir menyentuh ujung bibir antara Casey dan Traver.
"Braakkk!!!" Pintu tangga tiba-tiba terbuka.
"Aahh... Maaf... Saya pikir tidak ada orang."
Traver dan juga Casey segera berdiri dengan benar.
Kemudian Casey keluar lebih dulu, sedangkan Traver melihat dengan tatapan tajam pada pegawai tersebut, seperti memberitahu jika pegawai itu sedang menganggu di saat yang tidak tepat melalui mata Traver yang menusuk.
__ADS_1
Saat itu Ben sudah selesai makan dan Traver masuk bersama Casey.
"Tuan Nona Casey ingin bertemu atas perintah Tuan Derreck." Kata Traver.
"Ya ada apa?" Tanya Ben.
"Tuan Derreck ingin mengajukan beberapa proposal tentang rancangan ide pernikahan, perusahaan WO JiMi Group adalah perusahaan nomer 1 di dunia." Kata Casey.
Kemudian Casey mengeluarkan tabletnya dan memberikan nya pada Ben, ia menaruhnya di atas meja.
Ben menggeser setiap foto dan ide yang di miliki JiMi Group.
Dengan mengerutkan alisnya, Ben memperhatikan dengan seksama semua ide itu.
"Masukkan semua ide ini ke dalam satu proposal, dan kirimkan ke surel pribadiku." Kata Ben.
Casey sedikit ragu.
"Bukan ke surel perusahaan?" Tanya Casey.
Ben kemudian berfikir.
"Kalau begiti buatlah 2 proposal dan kirimkan masing-masing ke perusahaan serta ke surel pribadiku." Kata Ben.
"Baik tuan Ben." Kata Casey masih tidak mengerti apa yang akan Ben lakukan.
Tingkah Ben sangat aneh, mengapa harus di kirimkan ke surel pribadi. Apakah benar, Ben memutuskan untuk menikahi Daisy.
"Ada lagi?" Tanya Ben.
Pertanyaan Ben membuat Casey tersadar.
Traver kemudian mengantar Casey keluar, hingga sampai ke tempat parkir mobil.
Di bassemant Traver menahan Casey dan menyudutkan Casey di dinding tepat di samping mobil milik Casey.
"Kau benar-benar sudah menyerah?" Tanya Traver.
"Tentang apa?"
"Tentang kita."
"Bukankah, kau yang dulu sangat bersemangat untuk mengakhiri kelanjutan dari hubungan kita setelah kita bertemu dalam kencan buta?" Kata Casey sedikit kesal.
"Bukan begitu, dulu dan sekarang situasinya berbeda."
"Lalu kau ingin memungutku lagi? Setelah membuangku?" Cerca Casey.
Tatapan Casey lurus ke depan, tepat di mata Traver.
Kemudian Traver hendak mundur dan melepaskan Casey, namun dengan cepat Casey menarik krah jas milik Traver dan memutarnya, hingga punggung Traver pun membentur dinding.
"BUGGGH!!" Suara punggung Traver membentur dinding.
Dengan cepat Casey meremas krah jas Traver dan menariknya mendekat, lalu Casey mencium bibir Traver dengan sangat vulgarr.
Ciuman itu membuat Traver membelalakkan matanya, ia terkejut melihat Casey yang dia anggap sebagai gadis pasif, ternyata begitu berani dan menantang.
Traver masih tak berkedip, hingga Casey masih terus menyesapp bibir Traver dengan kasar.
__ADS_1
Merasa Traver tak bergeming, dan tak membalas ciumannya, Casey perlahan berhenti untuk mencium Traver.
Tangannya pun melepaskan krah jas milik Traver.
"Baiklah, aku tahu jawabannya. Kau memang tak pernah serius." Kata Casey pergi dan masuk ke dalam mobilnya.
Saat Casey menyalakan mobil, dan hendak pergi, ia melihat sekilas ke arah Traver.
"Kau memang pengecut!" Gumam Casey dan menginjak gas mobilnya.
Traver masih tertegun, ia terkejut, matanya masih tak berkedip, jantung nya serasa panas dan ingin meledak karena berdebar dengan sangat keras.
Perlahan Traver menggerakkan tangannya, dengan ujung jarinya ia menyentuh bibirnya sendiri, saat itu matanya masih tak berkedip.
"Apa ini mimpi? Apa tadi itu yang dinamakan ciuman?"
Traver belum sadar, ia masih terkejut dan tak bisa berkata apapun ketika Casey menciumnya.
Pengalaman pertamanya, ciuman pertamanya, dan debaran jantung pertamanya, kini di miliki oleh Casey.
"Astaga... Jantungku." Kata Traver meremas jasnya yang ada di dada.
"Tunggu dulu... Jadi dimana Casey?" Traver akhirnya sadar dan melihat ke sekeliling.
Namun, mobil Casey sudah tak terlihat dan tak ada lagi di parkiran bassemant tersebut.
"Ck...!" Traver mendecakkan lidahnya.
Kemudian Traver pun hendak kembali ke atas untuk menemui Ben, namun saat ia mulai berbalik dan berjalan ternyata Ben sudah berdiri di hadapannya.
"Tuan Ben..." Sapa Traver.
"Mmm..." Kata Ben.
"Saya baru mau naik menemui anda."
"Kita pulang sekarang." Kata Ben.
"Baik Tuan."
Kemudian Ben berjalan dan ketika berada di samping Traver, mereka saling berhadapan, Ben memberikan sapu tangannya ke dada Traver dan Traver dengan sigap namun gagap pun menerimanya.
"Bersihkan lipstik di bibirmu, Casey menciummu dengan sangat rakus.... Ck... Ck... Ck... Dasar para anak muda. Seharusnya kalian lebih menahan diri." Kata Ben berlalu pergi.
Traver yang mendengar ucapan Ben menjadi malu.
Namun ketika kalimat Ben tentang mengejek bahwa dirinya adalah anak muda yang seharusnya menahan diri membuat Traver pun ingin membela diri.
"Bukankah saya hanya mengikuti gaya dari boss saya, saya pikir semua itu karena boss saya yang sulit menahan diri juga ketika jatuh cinta." Kata Traver membaliknya.
Ben kemudian berbalik, dengan menarik nafas dan memiringkan sedikit kepalanya ingin menempeleng Traver.
"Anda tidak pernah bisa menahan diri jika itu tentang Nona Daisy. Ijin Tuan, saya hanya mengingatkan anda."
"Baiklah kali ini kau menang." Kata Ben memukul pelan dada Traver.
Sudut bibir Ben tersungging, itu adalah senyuman tipis karena merasa geli pada dirinya yang tak pernah bisa menahan diri jika itu tentang Daisy.
Bersambung
__ADS_1