
Acara malam Amal telah selesai, pagi hari dimana semua menjadi lebih bersemangat karena Tahun baru akan segera datang, namun tidak bagi Zay.
Pagi itu, sesuatu telah menggemparkan kehidupannya, Zay berangkat sepagi mungkin ke rumah sakit, karena berita sudah tersiar ke jagad dunia seperti virus yang sangat kuat menyebar.
Dengan berlari dan tergesa-gesa Zay membuka pintu rumah kamar perawatan Gavriel dengan kasar, pelipis Zay sudah di penuhi dengan keringat, rambutnya pun basah karena keringat, Zay berlari menuju kamar Gavriel.
Saat itu Zay, melihat Gavriel sudah berdiri di dekat jendela dan menonton berita Tv tentang acara Amal tadi malam.
Tentu saja juga berita menggemparkan Zay yang berpelukan dengan Gege Vamos di dalam kamar, pelukan yang sangat erat, dan di sertai bukti foto yang sudah menyebar.
Zay masuk dan menutup pintu dengan kasar, hingga pintu itu berbunyi keras.
Zay kemudian mengambil remote di atas meja dan mematikan Tv yang berukuran sangat besar tersebut.
Dengan gugup Zay memandangi Gavriel yang sudah bisa berdiri dan berjalan normal.
"Kau bersenang-senang tadi malam?" Tanya Gavriel dengan tersenyum.
"Sekarang aku benci senyuman mu itu. Apakah senyuman mu itu mengejekku dan kau berpura-pura tidak marah, atau kau benar-benar tidak marah." Kata Zay.
"Aku sudah katakan padamu, kau bisa melakukan apapun yang kau mau." Kata Gavriel.
"Apa kau tidak marah atau cemburu, jika kau marah dan cemburu aku bisa jelaskan semuanya." Kata Zay memeluk Gavriel.
"Sebenarnya aku memang marah dan cemburu, tapi seluruh dunia merestui hubungan kalian. Sejak foto itu menyebar tadi pagi, dan berita pernikahanmu menjadi trending nomer satu di seluruh dunia, aku menjadi merasa tidak percaya diri untuk ada di sampingmu."
"Aku tidak menikah dengan Gege Vamos, semua itu hanya salah paham, sebenarnya ceritanya adalah malam itu..."
Sebelum Zay ingin menjelaskan, Gavriel sudah menutup mulut Zay dengan ciumannya.
Ciuman yang sedikit memaksa dan sangat kuat.
"Aku sedang tidak ingin mendengar apapun." Kata Gavriel tersenyum dan membelai kepala Zay.
Di lain sisi, Zay bingung dengan sikap Gavriel, ia ingin sekali meluruskan dan menjelaskan semua kejadian yang menimpanya semalam, namun Gavriel seolah berubah menjadi sosok yang dingin dan bersembunyi di balik senyuman palsunya.
"Aku tahu kau tak akan percaya padaku, jika kau marah kenapa kau menahannya, jika kau cemburu kenapa tak kau luapkan saja." Kata Zay.
Gavriel kemudian melangkah pergi dan duduk di tepi ranjang pasien.
"Aku sudah sembuh, ada banyak pekerjaan menantiku, mungkin nanti sore aku sudah keluar dari kamar ini." Kata Gavriel.
"Kenapa kau bodoh!! Aku sedang membahas hubungan kita dan sikapmu yang menjengkelkan!!! Jangan mengalihkan pembicaraan!!!" Teriak Zay masih menghadap jendela dan membelakaingi Gavriel yang duduk.
__ADS_1
Gavriel membuang nafasnya pelan, dan berdiri lagi lalu memeluk Zay dari belakang.
"Aku marah dan cemburu, tapi aku tidak bisa marah terhadapmu, aku tidak akan menyalahkan apapun padamu. Aku mencintaimu Zay." Kata Gavriel mencium punuk kepala Zay dengan lembut.
"Jadi kau marah dengan siapa?" Tanya Zay melihat Gavriel.
"Entahlah, mungkin marah dengan diri ku sendiri." Kata Gavriel.
"Kenapa bisa begitu!" Kata Zay.
"Aku juga tidak tahu, yang aku tahu kini, semua orang di seluruh dunia mendukung kalian menikah, karena kalian pasangan yang serasi, namun jika mereka tahu, aku yang ada di sisimu, aku terlihat menyedihkan, yaa... Semua orang tahu perbedaan usia kita, dan itu membuatku tidak percaya diri, itulah mengapa aku marah pada diriku sendiri. Seolah, aku sudah kalah dengan Gege Vamos. Sejak awal aku sudah kalah."
Zay segera naik ke atas sofa dan memeluk Gavriel, kini tinggi mereka sejajar.
Zay menangkupkan kedua tangannya di wajah Gavriel.
"Aku janji aku tak akan membuat kesalahan lagi, aku hanya akan bersamamu Gav, aku janji akan menyelesaikan masalah ini, dan melakukam jumpa pers. Aku akan mengumumkan bahwa kau lah yang akan menjadi pasanganku." Kata Zay.
Gavriel tersenyum mendengar kalimat Zay, namun Gavriel tahu, hubungan mereka tidak akan semudah itu.
Gavriel kemudian mencium Zay dan melumaat bibir Zay yang mungil dan berwarna merah muda.
"Aku tahu." Kata Gavriel tersenyum menenangkan kegundahan Zay.
Di lain sisi di Mansion milik Zac, Traver sudah berada di sana dengan beberapa dokter yang ia kenal untuk memeriksa keadaan Gaby.
Gaby duduk dengan tegang di sofa kulit berukuran besar berwarna hitam, dan Zac juga terlihat cemas begitu pula Moran.
Dengan menggunakan alat yang memiliki sinar X, dan alat yang bisa memotret bagian dalam lengan Gaby, itu seperti alat rongent mini, Traver dan beberapa dokter lainnya mencoba sebaik mungkin apakah bisa di keluarkan tanpa ada efek sampingnya.
"Kita butuh Dokter Gavriel." Kata salah satu dokter lainnya.
"Tapi, Dokter Gavriel sedang tidak fit." Jawab dokter lain.
"Aku sudah sering menemui hal seperti ini, awalnya aku percaya diri mampu melakukan operasinya, namun ternyata chip yang terpasang ini sangat rumit, sudah menyatu dengan daging dan syaraf, karena di pasang dari kecil." Kata Traver.
"Apa yang harus kita lakukan Tuan Traver?" Kata salah satu dokter lain lagi.
"Kita hanya bisa menunggu sedikit lebih lama lagi, untuk menunggu Dokter Gavriel." Kata Traver.
"Tuan Traver kabarnya, dokter Gavriel nanti sore sudah bisa pulang." Kata seorang pengawal yang tiba-tiba mendapatkan info.
"Itu kabar yang bagus, segera hubungi Dokter Gavriel."
__ADS_1
"Tidak Traver, biar aku yang akan ke sana." Kata Zac.
Traver pun mengangguk.
"Baik Tuan Muda."
Sedangkan Gaby terlihat sedih dan putus asa, wajahnya pucat pasi dan gemetar, ia takut, benar-benar takut, pikirannya pun melayang jauh bagaimana jika pada akhirnya chip itu meledak dan dirinya mati dengan orang-orang yang berusaha menolongnya.
Dalam hati Gaby ingin sekali bertanya pada mendiang sang ibu, kenapa begitu tega menanamkan chip yang dapat meledak di tubuhnya.
Setelah kepergian Traver dan beberapa dokter lain, Zac mendekati Gaby yang masih melamun di kursinya, Zac kemudian memegang tangan Gaby perlahan dengan lembut.
"Semuanya akan baik-baik saja." Kata Zac menenangkan.
"Iyaa..." Kata Gaby tersenyum menutupi kegelisahannya.
"Aku akan selalu menemanimu." Kata Zac.
Gaby melihat ke arah Zac dengan penuh keterkejutan.
"Bisakah aku meminta sesuatu?" Tanya Gaby.
"Apa itu.."
"Aku... Mau di operasi, asalkan kau tidak menemaniku, aku ingin kau memiliki jarak yang jauh dariku."
Wajah Zac menegang, ia tentu tahu apa yang di maksud dan diinginkan Gaby, Zac paham kegelisahan Gaby.
"Aku akan tetap ada di sampingmu."
"Tapi..."
"Zac langsung menggelengkan kepala pertanda ia benar-benar tidak setuju.
"Percayalah padaku, chip itu tak akan meledak." Kata Zac meyakinkan Gaby.
Air mata Gaby akhirnya tumpah di pipinya.
"Maafkan aku... Maaf... Karena aku lahir dari seorang iblis. Kau dan semua keluargamu menjadi serba kesulitan."
Zac memeluk Gaby dan menepuk pelan punggung Gaby lalu membelainya.
"Kau tahu... Aku benar-benar ingin segera menikah denganmu, dan memberikan cucu pada Keluarga Haghwer, jadi, jangan pernah memikirkan hal konyol lagi, anggap saja kau yatim piatu dari kecil, anggap dia bukan ibumu, dan kau hanya memiliki 1 kakek dan 1 paman, kau terlahir di keluarga Murder. Aku tidak mau kau terlalu gelisah memikirkan itu."
__ADS_1
Bersambung~