
"Ben... Aku tidak bisa lagi membohongi diriku, bahwa aku masih mencintai istrimu." Kata Carlos.
Ben semakin menekan walking sticknya di leher Carlos, hingga darah semakin banyak mengucur.
"Eekkk.... Bennn...." Kedua tangan Carlos menahan walking stick milik Ben ingin melepaskan diri namun tenaganya tak cukup bisa melawan Ben.
Mata Carlos membulat, ia terkejut dengan kekuatan Ben, padahal Ben masih dalam kondisi terluka.
"Kenapa? Tidak sesuai dengan harapanmu? Sayangnya meski aku terluka, kau tetap tidak bisa mengalahkanku, jadi kenapa kau mencium dan menyentuh istriku!" Kata Ben dengan berteriak, menekan leher Carlos hingga darah membasahi baju putihnya.
"BEENNNN!!!" Tiba-tiba Daisy datang.
"HENTIKAAANN!!!" Teriak Daisy menahan walking stick itu.
Ben tak mengindahkan kalimat Daisy.
"BENNNN....!!!" Teriak Daisy lagi.
"Jika kau tidak mencabutnya aku akan pergi!!" Teriak Daisy.
Ben kemudian mencabut walking sticknya dan melihat ke arah istrinya.
"Kau membelanya?" Kata Ben, rahangnya mengerat.
"Tidak, aku tidak akan membelanya, aku sudah mendengar dari Mena bahwa diam-diam Carlos menciumku, tapi.... Kau tidak adil." Kata Daisy.
"Tidak adil?" Tanya Ben.
"Kenapa hanya Carlos dan wanita itu tidak!! Apakah hanya aku dan Carlos yang haram, dan kau di halalkan!" Kata Daisy.
"Apa yang kau maksud jika kau ingin aku membunuh wanita itu aku akan melakukannya sekarang!" Kata Ben berteriak.
"Jika aku mau? Lalu apakah itu tidak benar-benar dari niatmu sendiri ingin membunuhnya? Bukankah kau adalah Ben, dulu kau selau membunuh wanita yang berani mencium atau menyentuhmu, apakah harus aku yang mau dan ingin dulu, baru kau membunuhnya? Bukankah itu keinginanmu sendiri ingin membunuhnya, kenapa sekarang berbeda?!!!"
__ADS_1
"Aku tidak tahu dan tak mengerti apa yang kau pikirkan Daisy, tapi aku berubah karena kau."
"Waww, aku terkesan, apakah kau juga sudah berubah tentang kepribadianmu? Apakah kau sudah tak apa jika di sentuh wanita dan di cium wanita? Selamat kalau begitu! Dan lagi, jika kau ingin membunuh Carlos jangan pernah lakukan itu di sini, karena di sini di setiap sudut mansion anak-anakku menyentuh menginjak dan bermain, mereka bermain di seluruh mansion ini, aku tidak mau kau mengotori mansion ini!" Daisy kemudian berbalik dan meninggalkan Ben serta Carlos yang kesakitan, darahnya keluar begitu banyakndan mengalir hingga ke lantai.
Ben melihat itu, ia ingat lobby belakang inilah tempat kesukaan Zac, dia selalu ingin bermain di sini.
"Traver... Bersihkan tempat ini dan bawa Carlos ke ruang bawah tanah, siksa dia, kuliti dia... Tenang saja, sekarang dia adalah mainanmu." Perintah Ben pada Traver kemudian ia pergi perlahan menyusul Daisy.
Daisy duduk di kamar, ia mengambil ponsel barunya yang barus saja ia beli lagi, entah ini sudah ponsel ke berapa kalinya semenjak ia menjadi orang yang paling dekat dengan Ben.
Ben melangkah pelan, ia mendekati Daisy dan menekan kedua bahu Daisy lalu memijat pelan.
"Kau pasti lelah...." Kata Ben.
"Aku memang lelah, aku lelah dan muak dengan semua yang telah terjadi, tapi aku tak menyesali keputusanku menjadi istrimu, hanya saja aku tak tahan hidup seperti ini, aku ingin kehidupan norma."
"Apakah hidup kita tidak normal?" Tanya Ben.
Ben memeluk Daisy dari belakang.
"Jika itu yang kau mau, dan jika itu bisa membuatmu bahagia serta dapat memberikan maaf padaku, aku akan memberikannya sayang." Kata Ben.
Daisy terdiam, ia pun melihat dan membalikkan tubuhnya pada Ben.
"Benarkah? Benarkan kau bisa memberikan kehidupan normal yang ku inginkan?" Tanya Daisy.
Ben kemudian duduk di samping Daisy, dan memeluk Daisy dari samping.
"Tapi dengan syarat..." Kata Ben.
"Apa itu..."
"Aku dan kau akan pergi ke Pulau dimana ketenangan iti berada, namun Zac dan Zay harus tetap menjadi mafia sepertiku, mereka harus tetap mewarisi seluruh kekuasaan ini." Kata Ben pada Daisy.
__ADS_1
Seketika Daisy menarik diri dari pelukan Ben.
"Kau tidak bisa memaksa mereka Ben, Zac dan Zay akan memilih jalan mereka sendiri, anak-anakku akan menjadi manusia yang seperti apa, hanya mereka sendiri yang boleh memutuskannya." Kata Daisy.
"Daisy... Keluarga Haghwer harus terus ada, pewaris harus tetap menjalankan perannya."
"Aku tidak mengijinkan anak-anakku menjadi mafia, itu sama saja membuat ku resah, untuk apa aku mencari ketenangan namun kedua anakku pun di kelilingi oleh malaikat maut yang setiap saat bisa merenggut nyawa mereka!!! Kau tega pada anak-anakku, kau mau merebutnya dan menjadikanya monster."
"Monster? Apa mafia seperti monster? Apakah selama ini kau menilaiku sebagai monster?" Tanya Ben dengan keterkejutan luar biasa.
"Jika bukan monster lalu apa lagi? Kalian saling membunuh, saling mencincang dan bermandikan darah, belum lagi... " Daisy menahan kalimatnya rasa mual kembali menghinggapi perutnya, ketika Daisy mengingat setiap Ben dan Traver berduet di pertarungan.
"Kau hanya harus memilih Daisy, hidup di sini mendampingi anak-anakmu tumbuh menjadi mafia besar, atau kau ingin hidup mencari ketenangan denganku di pulau yang akan ku sediakan untuk kita berdua menikmati sisa hidup kita." Kata Ben.
"Kau jahat Ben... Kau tahu aku tak mungkin berpisah dengan anak-anakku... Kau egosi!!!" Daisy memukuli dada Ben.
"Tidak ada jalan mundur sayang, kau bertemu dengan ku saat aku sudah menjadi seperti ini, aku tak mungkin begitu saja melepaskan kekuasaan ini, apa yang ku miliki saat ini semuanya hasil dari menjadi mafia, perusahaan yang berdiri di seluruh dunia pun hasil dari aku menjadi mafia. Aku mohon bersabarlah dan percayalah padaku. Aku hanya menginginkan kepercayaanmu sayang, ku mohon, berikan aku kepercayaanmu dan jangan tinggalkan aku."
"Tapii... Hatiku seperti akan habis jika aku melihatmu terluka, aku seperti sudah tak tahan lagi setiap kali membayangkan mu akan meninggalkanku...." Daisy menangis di pelukan Ben.
"Aku mohon Ben... Anak-anakku, jangan biarkan mereka mati ketika mereka menjadi sepertimu, aku tidak ingin kehilangan kalian bertiga, aku tidak bisa..." Kata Daisy menangis sesenggukan.
"Percayalah, Zac dan Zay akan menjadi mafia paling tangguh dan tak akan terkalahkan. Banyak orang-orang ku yang akan melatihnya, yang ku minta padamu hanyalah, bersabar dan percaya. Semua didikan ku pada anak-anakku, kau tidak boleh mencampurinya, kau boleh membanjiri anak-anak dengan kasih sayangmu, namun aku tetap harus menempa mereka dengan didikanku sendiri." Kata Ben meyakinkan Daisy.
"Akuu... Tidak yakin dengan semua ini apakah aku akan bisa..."
"Kau hanya perlu memberikan mereka kasih sayangmu, dan aku akan mendidik mereka menjadi mafia tangguh."
Meski dengan berat hati, dan dengan rasa masih tak ingin anak-anaknya menjadi mafia, namun pada akhirnya Daisy kemudian mengangguk, Ben memeluk Daisy dengan lembut dan mencium kepala Daisy.
"Maafkan untuk semua yang sudah terjadi sayang. Kita akan baik-baik saja. Tidak perlu khawatir."
SEASON 2 SELESAI
__ADS_1