Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 145


__ADS_3

Saat itu Gia sudah sampai di kota, meski tidak seperti kota pada umumnya yang terlihat maju atau terlihat canggih dan modern.


Namun, kota itu lebih cocok di sebut dengan kota yang mangkrak.


Begitu kering dan tak terurus, seperti wilayah yang terbuang atau sengaja di biarkan tanpa pembangunan.


Gedung-gedung yang mangkrak dan berjamur serta menjadi tempat pemukiman yang tak layak di tinggali, menjadi pemandangan yang sudah biasa bagi semua orang yang hidup di pulau itu.


Gambaran dan lukisan gedung-gedung mangkrak itu seolah menandakan bahwa kota itu seperti di tinggal kan pergi oleh para kontraktornya dan dibiarkan begitu saja tanpa dilanjutkan kembali.


Gia melihat telepon umum di ujung sana, ketika Gia memarkirkan sepedanya, pandangan mata nya yang berwarna kebiruan melihat ke arah para manusia yang mengekor seperti ular karena mengamtri untuk menelepon.


"Ya tuhaaan...." Kata Gia menepuk jidatnya.


"Akan selesai berapa jam ya...." Kata Gia meringis, karena setiap satu orangnya saja selalu menelpon dengan begitu lama.


Di pemukiman yang Ben tinggali.


Saat itu, Ben tertidur dengan sangat lelap karena kelelahan.


Hingga akhirnya siang semakin panas dan terik, namun tetap saja, kamar nya gelap tanpa penerangan, korden berdebu tetap di tutup agar tak ada cahaya yang masuk.


Pria itu kemudian melenguhkan nafasnya, sekujur tubuhnya terasa sakit.


Ben mencoba berdiri perlahan, berjalan terseok, sedang pikirannya cemas dan berharap bahwa lukanya tak akan terbuka kembali, meski sudah di jahit namun jahitan itu masih sangat basah.


Ben mencari dan meraba-raba saklar lampu di dekat pintu kamarnya dan menekannya, akhirnya lampu menyala meski hanya redup dan tidak terlalu terang namun itu sudah cukup membuatnya dapat melihat dengan jelas.


Ben mulai mengamati ruangannya dengan seksama. Kamar yang ia sewa bukanlah kamar kosong, ternyata ada beberapa baju yang tertinggal di almari serta ada sepatu usang berdebu meski tidak sebagus yang Ben miliki namun alas kaki itu cukup muat untuk kaki nya, yang paling penting ia memerlukannya untuk berjalan nanti.


Di sisi lain di kota, Gia masih mengantre beberapa orang.


Setidaknya masih ada 5 pria yang ada di hadapan Gia dan satu pria di dalam kotak telepon.


"Astaga... Kenapa pria itu menelpon hampir satu jam lebih, apakah dia sedang menggosip!!" Maki Gia tak sabar dan kesal, apalagi saat itu panas terik matahari semakin tinggi membuat perasaan emosinya juga semakin meningkat hingga ke ubun-ubun kepalanya.


"Heyyy!!! Cepatlah ini sangat darurat!!!" Teriak Gia.


Para pria di hadapan Gia menoleh pada Gia.

__ADS_1


Gia pun melempem.


Namun, si pria yang ada di dalam kotak telpon masih saja asyik mengobrol dan tertawa terbahak-bahak seolah tak peduli dengan teriakan dan kekesalan Gia.


Gia semakin kesal, dan benci, serta amarahnya meluap karena muak melihat wajah menyebalkan pria itu yang sangat tenang tertawa dan mengobrol.


Gia pun maju dan menggedor-gedor kaca usang kotak telepon.


"BRAKKK BRAKKK BRAAAKK!!! Keluar!! Kau sudah 2 jam berbicara, gantian yang lain, aku sedang sangat terburu-buru, ini adalah keadaan darurat dan sangat urgent!!!" Teriak Gia dengan marah.


Pria di dalam kotak telepon pun melihat Gia, dan menaikkan kedua bahunya seolah ia tak mengerti atau pura-pura tak mengerti apa yang Gia katakan dan melanjutkan mengobrol lagi.


Karena amarah Gia tak di respon oleh lelaki itu, Gia pun semakin marah dan semakin kesal.


"BRAAAKKKK BRAAKKK BRAKKK BRAAKK BRAAKK BRAAKKK!!!" Gia memukul kotak kaca telepon berkali-kali dengan emosi membara.


"Nona... Ada masalah apa?" Tanya salah satu pria yang ada di antrian.


"Anuu... Kakakku... Ya, kakakku terluka sangat parah di desaku, dan aku tak memiliki kendaraan selain sepeda, tapi dia memintaku untuk menghubungi istrinya agar istrinya datang, mungkin ini adalah waktu terakhir nya, jadi aku harus menyampaikannya." Kata Gia mengarang cerita.


"Astaga itu sangat buruk dan sangat mendesak..." Kata pria lain yang ada di barisan antrian.


Saat itu si pria yang ada dalam kotak telepon masih asyik berbincang dan tertawa terbahak-bahak.


Para pria yang mengantri pun membuka pintu kotak telepon dengan paksa, namun tak bisa terbuka.


Mereka semua marah dan menggedor-gedor kaca usang itu agar si pria keluar.


"Ada apa dengan kalian!!!" Teriak si pria penelpon di dalam kotak.


Wajah si pria itu semakin buruk, dan sangat kesal, ia pun menutup telponnya.


"Apa masalah kalian!!!" Teriak si pria itu masih dari dalam kotak telepon sembari berkacak pinggang, matanya melotot dan dagunya terangkat naik menantang semua pria yang ada di hadapannya.


Salah satu pria besar kemudian maju dan semakin mendekat lalu menunjuk si pria menyebalkan itu untuk benar-benar keluar menggunakan kode jarinya.


Kemudian si pria yang ada di dalam kotak telepon keluar, belum sampai mengeluarkan kakinya, si pria itu langsung di seret keluar oleh pria-pria itu, entah mau di bawa kemana.


"Heyyy!!! Ada apa ini!!! Lepaskan!!"

__ADS_1


"Silahkan Nona, kau masuk, karena urusanmu sangat mendesak." Kata salah satu pria dan menyusul yang lainnya untuk memberikan pelajaran pada si pria menyebalkan.


Gia pun harap-harap cemas, meski ia sangat marah dan kesal pada si pria menyebalkan itu namun, Gia juga tak bisa begitu saja membiarkan jika si pria menyebalkan itu akan di pukuli.


"Apa kalian akan memukulinya?" Tanya Gia.


"Kami hanya akan memberikannya sedikit pelajaran Nona, jangan khawatir." Kata salah satu pria.


"Terimakasih banyak..." Kata Gia merapatkan kedua telapak tangannya.


Kemudian Gia masuk, ia membuka tas nya, mencari nomor telpon yang ia tulis di kertasnya.


Namun, sudah Gia obrak-abrik kertas itu tidak ada, hingga Gia menumpahkan isi tasnya, kertas berisi nomor telepon itu juga tak terlihat.


Gia mengingat-ingat kembali, kemudian ia menepuk jidatnya, dan merogoh saku di belakang celananya.


Akhirnya ketemulah kertas bertuliskan rangkaian angka-angka.


Gia, memencet nomor-nomor angka yang ada di kertas tersebut.


Setidaknya ada 3 nomor angka yang Ben berikan, yang pertama adalah nomor Traver, kedua Rudolf, dan ketiga adalah Carlos, Ben lupa tak memberikan nomor Mena, sedangkan Ben tak memberikan nomor Daisy pada Gia, karena ia ingat, ponsel miliknya dan milik Daisy masih tertinggal di Resort, tentu saja, pasti sudah hancur.


Gia memencet nomor pertama, itu adalah Traver, namun setelah beberapa kali menelpon, tak ada yang mengangkat.


Gia kemudian memencet nomor kedua, itu adalah Rudolf, berkali-kali Gia juga menelpon Rudolf, namun tetap juga tak ada yang mengangkat.


"Apakah ini nomor yang benar? Kenapa tidak ada yang mengangkat. Apakah mereka... Apakah jangan-jangan pria itu di buang dan dia tidak tahu bahwa sebenarnya dia sudah di buang keluarganya? Astaga... Bagaimana ini, apakah dia akan mati?.." Gia mulai ketakutan.


Namun, kemudian Gia memencet nomor ketiga, itu adalah milik Carlos.


Baru beberapa detik tersambung, panggilan itu langsung di angkat.


"Ya.."


"Ya... Halo... Halo... Ini... Apakah benar ini adalah keluarga dari Tuan yang sakit?" Tanya Gia kebingungan.


"Apa maksudmu."


"Kalau tidak salah namanya adalah Ben. Apakah anda keluarganya?" Tanya Gia harap-harap cemas.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2