Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 69


__ADS_3

Ben kemudian pergi ke rumahnya yang ada di lantai atas perusahaan. Pria besar itu sudah tidak pernah pulang ke mansion, dengan alasan semua mansion memiliki kenangan tentang Daisy.


Saat itu jam istirahat, biasanya Ben tidak pernah memakai jam istirahatnya dan tetap bekerja, hingga membuat sekretaris dan para pegawai yang berada di satu lantai dengan kantor Ben membuat mereka tidak nyaman dan hanya menyelesaikan makan di kantin lalu kembali bekerja.


Selama 2 tahun ini pun sekretarisnya yaitu Clarissa terus mengomel di belakang Ben, jika Clarissa hanya memakai jam istirahat setengah dari jam yang seharusnya di tetapkan itu karena Ben tidak pernah beristirahat, Clarissa juga harus memakai hari liburnya untuk bekerja karena bosnya bekerja di hari libur.


Clarissa selalu emosi di belakang Ben karena ia selalu pulang malam, itu dikarenakan Ben selalu bekerja hingga larut malam.


Sang sekretaris kini bertanya-tanya, bahkan keheranan.


"Apakah bumi telah terbelah, matahari terbit dari barat, dan kutub utara telah mencair? Apa kah akan kiamat?" Kata Clarissa bergidik ngeri.


"Tuan Traver, apakah Tuan Ben benar-benar memakai jam istirahatnya?" Tanya Clarissa dengan mata membulat.


"Bukankah selama 2 tahun ini Tuan Ben monster kerja." Tanya Clarissa lagi, ia takut di prank.


"Pakai lah jam istirahatmu dengan penuh, biar aku yang berjaga di sini." Kata Traver.


"Benarkah? Astaga... Aku sangat senang!!!" Pekik Clarissa.


Kemudian para pegawai lain pun ikut bahagia.


"Apa akan ada hal baik? Apa perasaan Tuan Ben menjadi lebih baik, selama 2 tahun ini, seakan kami semua berada di bawah monster atau iblis yang murka." Kata salah satu pegawai dan pegawai lain pun juga mengangguk sepakat.


"Semoga ada hal baik akan datang." Kata Traver.


"Baiklah kami keluar makan siang dulu, mohon bantuannya Tuan Traver." Kata Clarissa dan pegawai lain sembari meninggalkan kantor untuk makan siang di luar.


Traver masih berdiri di depan ruangan kantor Ben, dan semua pegawai telah meninggalkan kantor untuk makan siang, saat itulah Sunny serta Casey sampai di kantor.


"Tuan Traver maaf saya datang di jam istirahat, apakah Tuan Ben sedang makan siang? Saya hanya ada jadwal kosong di siang hari sampai sore, karena pagi saya ada pemotretan dengan beberapa produk JiMi Group." Kata Sunny.


"Tidak apa-apa Nona Sunny, saya akan mengantar anda ke tempat Tuan Ben. Tapi, pengawal anda harus di sini bersama saya."


"Tidak bisa, saya harus bersama dengan Nona Sunny." Kata Casey marah.


"Anda akan bersama saya untuk mengurus sesuatu, ada hal yang harus anda lakukan dengan persyaratan keamanan Nona Sunny jika Nona Sunny bersedia bekerja sama dengan perusahaan Benz, sesuai perjanjian kerja, Nona Sunny akan mendapatkan pengawalan dari perusahaan Benz Group, dan Nona Casey dapat memilih sendiri orang-orang yang kami siapkan." Kata Traver.


"Lakukan itu Casey, akan lebih bagus jika pengawalnya pria dan wanita, pasti aku akan merasa canggung jika semua nya pria." Kata Sunny, ia juga berfikir ingin menemui Ben sendirian.


"Tapi Nona Sunny, bukankah sudah jelas jika kita akan menol.." Kata-kata Casey tidak berlanjut karena Sunny memberikan kode agar Casey diam.


"Baiklah." Kata Casey kemudian.


"Tapi anda harus segera menghubungi saya jika terjadi sesuatu." Pinta Casey.


"Tenang saja." Jawab Sunny.


Kemudian Traver mengantar Sunny menaiki lift ke lantai atas, dan lift itu langsung tertuju di kediaman Ben.


Rumah yang sangat rapi dan bersih, dengan interior di dominasi warna abu-abu yang modern.

__ADS_1


Beberapa ruangan pun di desain dengan menggunakan kaca membuat rumah itu begitu banyak cahaya yang masuk.


Meski di desain dengan kaca, namun itu adalah kaca tembus pandang satu arah, hanya dapat melihat dari dalam, dan berwarna hitam pekat dari luar, kaca-kaca itu juga tahan peluru.


"Apa Tuan Ben tinggal di sini?" Tanya Sunny.


"Benar Nona Sunny, Tuan Ben sudah tinggal di sini selama 2 tahun."


"2 tahun!" Sunny tersentak kaget.


Traver mengangguk.


"Silahkan duduk Nona, dan menunggu di sini, sebentar lagi Tuan Ben akan keluar." Kata Traver kemudian menyalakan api unggun dengan api yang sedang, tempat api unggun itu di desain minimalis dan modern.


"Saya permisi." Lanjut Traver dan pergi akan menemui Casey.


Benar saja, tak berapa lama Ben datang.


"Kau tidak bersama Tunangan mu." Kata Ben saat itu sembari menuangkan whiskey.


"Dia akan menyusul." Kata Sunny.


"Kau mau minum?" Tanya Ben.


"Terimakasih, saya tidak bisa minum." Kata Sunny.


Ben kemudian meneguk sedikit whiskeynya dan duduk di sofa berhadapan dengan Sunny. Ben duduk menyilangkan kaki, dan membuka kancing jasnya.


"Jadi, apa kau setuju?" Tanya Ben masih memegangi gelas whiskeynya dengan menyandarkan tangannya di siku sofa.


Sunny mengeluarkan dokumen perjanjiannya.


"Maaf Tuan Ben, kami menolaknya, setelah mempelajarinya, banyak yang tidak kami setujui, apalagi tentang perjanjian dilarang meneken kontrak drama syuting dengan perusahaan lain, dan kontrak kerja ini terlalu mengikat jadwal saya, bisa dikatakan setiap hari saya harus bersama anda.Namun, jika anda mau mengubah perjanjiannya dengan syarat yang saya ajukan, mari kita lanjutkan." Kata Sunny.


Ben mengangguk mengerti.


"Semuanya sudah ada di situ, mau atau tidak itulah yang ada. Aku seorang pebisnis dan aku tidak mau rugi." Kata Ben.


"Tapi, saya di tuntut untuk selalu ada di dekat anda dengan pemotretan semua produk yang bahkan itu tidak masuk akal, dan anda tetap tak bersedia mengubahnya meski saya memintanya. Sebentar, apakah itu memang rencana anda?" Kata Sunny.


Ben meneguk lagi whiskeynya dan kemudian menaruhnya di atas meja kaca yang ada di hadapannya.


Merasa Ben diam tak bergeming, kemudian Sunny merobek dokumen itu dan membuangnya.


"Baiklah, jadi kita tidak menemukan titik temu." Kata Sunny.


"Jadi keputusanmu adalah berperang dengan Benz Group." Kata Ben.


Kemudian Ben berdiri dan melepaskan jasnya.


Sunny bergetar melihat Ben, ia ingat tatapan itu, ia ingat wajah yang dingin itu, dan Sunny ingat jika sikap Ben saat ini adalah peringatan baginya, bahwa Sunny harus keluar.

__ADS_1


"Saya akan menemui anda lagi ketika anda sudah tenang." Sunny berdiri dan hendak pergi.


Sunny mengeluarkan ponselnya dan hendak menghubungi Casey, namun Ben dengan cepat mengambil ponsel Sunny dan membuangnya ke sofa.


Dengan gerakan cepat Ben menarik tubuh Sunny mendekat di tubuh besar Ben.


"Tu... Tuan Ben... A... Apa yang akan anda lakukan!" Kata Sunny panik dengan wajah terkejut.


"Hentikan semua ini.... Daisy." Kata Ben dengan wajah dan ekspresi dingin.


Mata Ben dan mata Sunny saling menatap dalam.


"Saya, adalah Sunny. Anda yang seharusnya berhenti memanggil saya Daisy."


"Apa kau benar-benar akan terus seperti ini, beritahu aku apa yang akan kau lakukan, apa rencanamu, kau tahu Daisy, kau tidak akan berhasil."


"Aku adalah Sunny, Benjove Haghwer!!!" Teriak Sunny.


Teriakan Sunny membuat Ben terkejut, dan ia sadar ia harus benar-benar mengakhiri semuanya, Ben sendirilah yang akan menghentikannya.


Ben menarik Sunny masuk ke dalam kamarnya, namun Sunny meronta dan berteriak.


"Brengsek!! Dasar Badjingan!! Kau adalah pria brengsek Ben!!!" Teriak Sunny.


"Berteriaklah tidak ada orang bisa mendengarmu." Kata Ben santai.


Kemudian Ben mengunci pintu kamarnya dan Sunny berlari memukul Ben, Sunny juga meronta ingin keluar.


"Keluarkan aku dari sini atau aku akan melaporkanmu pada polisi karena melakukan pelecehan seperti ini!!!" Teriak Sunny.


"Polisi tidak akan mempan padaku."


Ben memeluk Sunny dengan erat.


"Berhentilah Daisy. Ku mohon." Kata Ben memeluk erat Sunny.


Nafas Sunny terengah, amarahnya memuncak, dan masih terus memukul Ben.


"Pukul aku sepuasmu jika itu dapat meredakan dendam dan amarahmu padaku." Kata Ben.


"Kau memang brengsek!!!" Teriak Sunny yang mulai kehabisan tenaga dan menangis.


"Kau brengsek Ben..." Sunny mulai melemah, dan hanya bisa menangis di pelukan Ben.


"Aku membencimu, aku benar-benar membencimu, aku ingin kau merasakan bagaimana rasanya di permalukan layaknya kau mempermalukanku seperti 2 tahun lalu di hadapan semua orang."


Ben melihat wajah sendu Sunny yang basah, dan menghapus air mata di kedua pipi Sunny menggunakan kedua ibu jari Ben, sembari masih memegangi kepala Sunny dengan lembut.


"Maafkan aku... Maaf karena aku tidak cukup berani untuk terus maju menyelamatkanmu, maaf karena aku terlalu lemah dan takut karena khawatir Rei Brandon akan meyakitimu. Percayalah padaku, aku pun terluka dengan kalimatku sendiri ketika aku mengatakan kau bukan wanita berharga untukku."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2