Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 256


__ADS_3

"Tidaak... Berhentii..." Pinta Gaby.


Saat itu Zac berhenti sejenak, ia menuruti apa yang Gaby pinta.


Namun, pandangan Gaby seolah menjadi tercengang ketika Zac benar-benar berhenti.


"Kenapa? Kau memintaku berhenti kan. Apa kau merasa kosong? Kau pintar membual Gaby, kau menyukainya kan? Katakan sejujurnya." Kata Zac.


"Aku membencinya!! Aku benci melakukannya dengamu!!!" Kata Gaby.


Zac tersenyum sinis kemudian ia kembali mengarahkan mulutnya pada milik Gaby, sembari matanya melihat dan memandang pada Gaby.


Jari nya pun tak mau tinggal diam, kini ia memasukkan 2 jari, telunjuk dan jari tengah lalu ia buka bagian sensitif Gaby, kemudian ia memasukkan lidahnya dan bermain di sana.


"AAAHHHHHH!!! NGGGHHHH!!! AAAHHH!!!" Gaby semakin menjerit ia tak kuasa menahan kenikmatan itu, tubuhnya terus mengikuti arus kenikmatan itu.


Dan pada akhirnya tubuh Gaby pun bergetar hebat, sembari Gaby mencengkram rambut dan kepala Zac, ia menekan kepala Zac dan menekan bagian sensitifnya pada mulut Zac.


"Aaaaaaahhhh!!!" Sebuah serangan orgasmee yang sangat kuat dan membuatnya melayang.


"Mintalah Gaby." Kata Zac.


"Mintalah agar aku memasukkannya." Bisik Zac.


Namun Gaby masih diam ia tak mau memintanya.


"Baiklah terserah kau saja." Kata Zac.


"Tapi jangan salahkan aku jika kali ini tubuhmu benar-benar remuk."


Zac kemudian melepaskan celananya dan memasang pengaman.


Zac mengarahkan benda miliknya lalu ia memasukkannya dengan satu kali dorongan.


Hentakan yang keras membuat Gaby menjerit, itu adalah sensasi yang sangat kuat.


"OOHHHH!!!" Seketika Gaby mengalungkan tangannya ke leher Zac.


"Kau masih tidak mau meminta?" Kata Zac.


Gaby masih diam.


Kemudian Zac memompa dengan cepat, hingga kedua buah dada Gaby bergerak naik dan turun, beberapa menit berlangsung, hingga Gaby merasakan serangan lagi, ia akan di bawa ke puncak lagi, namun saat serangan itu kian kuat menyerang dengan cepat Zac menarik miliknya keluar. Sehingga Gaby gagal mencapai puncak kenikmatan.


Mendadak Gaby membuka matanya dan melihat kenapa Zac hanya diam dan menarik miliknya keluar.


Wajah Gaby nampak sedih dan putus asa, ia mendadak ingin tahu kenapa Zac mencabutnya kenapa Zac menarik miliknya.


"Kenapa kau murung?" Tanya Zac.


"Kau masih tak mau memintanya." Kata Zac.


Gaby masih diam.


Kemudian Zac menatap Gaby dengan dingin.


Zac kembali memasukkan miliknya lagi, lalu mengguncang pinggul milik Gaby lagi, mendorong maju dan mundur lagi dengan sangat cepat.


"Aaahh... Oohhh... Mmmhhh...." Gaby mulai mengeraang lagi, kenikmatan mulai memuncak lagi. Gaby mengalungkan tangannya erat pada leher Zac.


Namun, ketika Gaby hendak mencapai puncak, Zac kembali menariknya.


"Aaahh...." Suara desaahan Gaby bercampur dengan rasa kecewa.

__ADS_1


Gaby membuka matanya dan melihat ke arah Zac dengan rasa lelah yang putus asa. Matanya mulai sayu.


"Kau masih tak mau memintanya?" Tanya Zac.


Melihat Gaby masih bungkam, kini Zac pun hendak turun, kemudian dengan cepat Gaby bangun dan menarik tangan besar Zac.


Zac menaikkan alisnya, ia bertanya dengan kode.


"Aku... Aku mau..." Kata Gaby.


"Mau apa?"


"Aku meminta kau memasukkannya." Pinta Gaby dengan perasaan malu.


"Memohon lah dengan benar." Kata Zac dingin.


Gaby terdiam.


Karena terlalu lama Zac kemudian hendak turun dari ranjang lagi.


"Aku mohon... " Pinta Gaby.


"Aku mohon masukkan lagi Zac..." Kata Gaby.


Zac kemudian tersenyum nakal, lalu dengan cepat mencium bibir Gaby dan membaringkan Gaby.


"Kau tahu, aku hanya ingin kau mengatakan yang sejujurnya. Katakan kau menyukainya, katakan kau menyukai ketika aku menyentuhmu, katakan bahwa kau sangat menyukainya ketika kita melakukannya." Kata Zac pada Gaby.


"Aku.... Aku..." Lidah Gaby masih saja kelu, ia ingin mengatakan bahwa ia menyukainya namun di ujung lidah dan ingatannya juga tertuju pada kematian sang ayah.


"Katakan kau menyukainya Gaby, kau suka kita melakukan ini." Kata Zac mencium leher Gaby.


"Aakuu... Sukaa... Aku sukaa semua hal yang kau lakukan padaku.." Kata Gaby.


Zac pun melebarkan kaki Gaby dan memasukkannya lagi


"Aku sangat mencintaimu Gaby..." Kata Zac dengan suara parau dan bergetar karena tubuhnya yang memompa dengan cepat.


Zac berulang kali mencium bibir Gaby dan menghisap milik Gaby sembari memompa pinggulnya maju dan mundur dengan cepat.


Hingga beberapa menit berubah menjadi beberapa jam, beberapa jam berubah menjadi pagi dini hari, dimana Gaby sudah tidak bisa bertahan, tubuhnya terasa remuk redam, Zac mengakhirnya dengan suara yang tertahan, entah sudah berapa kali Zac membuang spermnya di dalam pengaman, dan entah sudah berapa kali Gaby merasakan kenikmatan orgasmee hingga ia pun merasa tulang belakangnya sudah seperti menghilang.


*******


Pagi hafi dimana sinar hangat terbit di ufuk timur, Heiden menepati janjinya pada Mena untuk menemani dan mengantar Mena ke suatu tempat.


Perjalanan itu cukup memakan waktu lama, karena mereka akan tiba di perbatasan Pulau Tanpa Nama dan Pulau Maladewi, pulau milik Ben.


Setelah perjalanan lama itu, sampailah Mena di sebuah rumah kecil yang bersih.


Mobil terparkir di depan rumah, dan kemudian Heiden serta Mena turun.


"Rumah siapa." Tanya Heiden.


"Ini adalah rumah saya, dulu saya tinggal di sini, namun sudah lama saya tidak pulang karena saya terus menerus sibuk bekerja di luar negeri sebagai pelayan, kemarin tiba-tiba saya sangat ingin pulang menengok rumah ini." Kata Mena tersenyum.


Heiden mengangguk pelan.


"Mari..." Ajak Mena.


Kemudian mereka masuk, Mena meletakkan barang-barangnya.


"Saya akan buatkan anda minum, saya akan coba lihat apakah masih ada beberapa bahan, jika tidak kita harus berbelanja dulu." kata Mena.

__ADS_1


"Tidak perlu, ku rasa aku ingin minum sesuatu yang lain, dari dirimu." Kata Heiden menarik Mena dan membuat Mena berdiri di depannya.


Heiden menurunkan underware Mena lalu menaikkan rok Mena, kemudian Heiden menghisap bagian milik Mena.


Mena meremas kepala Heiden, sontak ia merasakan rangsangan kuat yang bergejolak pada tubuhnya.


Heiden pun langsung membaringkan Mena di atas ranjang, dan pergumulan pun terjadi beberapa menit.


Heiden sudah di mabuk oleh cintanya pada Mena, ia melepaskan semua pakaian dan senjatanya di atas lantai, sedangkan Mena juga pasrah apapun yang akan Heiden lakukan padanya.


Pada saat Heiden sedang ada di atas Mena menikmati kedua buah dada Mena, tiba-tiba Mena memutar tubuhnya dan duduk di atas tubuh Heiden.


Dengan sangat celat, gerakan yang tak terbaca oleh Heiden.


"CEKREK!!!"


Mena memborgol tangan Heiden pada ranjang besi tersebut.


Heiden menelan ludahnya.


"Kau ingin bermain kasar?" Tanya Heiden.


"Mungkin." Kata Mena.


Saat itu Mena turun dari ranjang, dan ia pun memakai pakaiannya.


Heiden hanya melihat dengan penasaran, namun feelingnya mulai bekerja ketika Mena memakai pakaiannya dengan tenang.


"Siapa kau sebenarnya." Kata Heiden.


Setelah berpakaian, Mena melepaskan topeng kulitnya yang tipis dari wajahnya.


"Semoga kau tidak terkejut, aku Mena, pengawal pribadi keluarga Haghwer."


Sontak Heiden tersenyum sinis dan getir.


"Jadi kau menyamar hanya untuk menangkapku?" Tanya Heiden.


"Selain itu aku juga harus menggali apa rencana kalian." Kata Mena membuka tas dan mengeluarkan beberapa senjata lalu memasukkannya ke pinggang, tak lupa memasukkan belati kesayangannya di pahanya.


"Kau lebih cantik dari penyamaranmu." Kata Heiden.


"Terimakasih tapi aku tidak terpesona dengan pujian."


"Jadi, apa perasaanmu padaku juga hanya penyamaran. Hanya palsu?" Kata Heiden.


Mena diam dan hanya berdiri memandang Heiden.


"Jika kau ingin menangkapku seharusnya jangan bermain-main dengan hatiku. Jika kau ingin menangkapku, jangan menghancurkan hatiku." Kata Heiden.


"Kau melankolis, ku kira kau pria dingin." Kata Mena.


"Pria sepertiku juga punya hati, kau kira pria dingin tak bisa mencintai?"


Mena terdiam.


"Jadi apa yang kau inginkan dariku? Membunuhku?" Tanya Heiden.


"Mungkin membunuhmu, tapi itu tugas Traver. Setidaknya jika kau tak ada, keluarga Scoot akan pincang. Jadi, sementara aku akan menyekapmu di sini sampai kakakku tiba dan membawamu ke mansion keluarga Haghwer." Kata Mena.


"Untuk di bunuh? Kenapa bukan kau saja yang menbunuhku? Di sini." Pinta Heiden.


Mena menelan ludahnya.

__ADS_1


"Aku harus pergi untuk menelpon Traver." Kata Mena tak menjawab dan pergi meninggalkan Heiden.


Bersambung~


__ADS_2