Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 205


__ADS_3

Di sisi lain, Zac yang sudah sampai merasakan kejanggalan.


"Paman Rudolf sepertinya Carlos menipu kita!" Kata Zac marah.


Mansion itu memang terlihat mewah dan bersih, namun begitu kosong dan tak ada siapapun.


"Traver lacak kembali!!" Teriak Rudolf.


"Baik Tuan."


Wajah Rudolf memerah, dan Zac mulai panik, kemudian Zac mengeluarkan sebuah senapan dan membidik pada salah satu foto.


"DOORRR!!!" Tembakan tepat di wajah Carlos. Itu adalah foto besar Carlos yang terpajang di dinding.


Traver sibuk mengecek laptop yang di bawa salah satu pengawal dengan sigap Traver pun melacaknya.


"Tidak bisa ketemu."


Namun Traver memiliki insting tajam, ia kemudian membuka cctv yang ada di Rumah Sakit.


"Tuan, ada penyusup di rumah sakit!!!" Teriak Traver.


"Sialan!!! Ini pengalihan!!!!" Rudolf sangat marah.


"Tuan Rudolf, aku melihat dari rekaman satelit ada pergerakan di bagian selatan pelabuhan, banyak sekali kapal besar bergerak dan beberapa helikopter, sepertinya itu adalah mansion terpencil." Kata Traver.


"Apakah kita akan periksa kesana?" Tanya Rudolf pada Zac.


"Bagaimana jika kita bagi 2, kita harus sampai di 2 tempat berbeda dengan waktu bersamaan!" Kata Zac.


"Hubungi Dereck suruh mereka kembali lebih dulu ke rumah sakit Jarak mereka tidak terlalu jauh dari Rumah Sakit!" Perintah Rudolf pada Traver.


"Baik Tuan."


Zac kemudian diam berfikir sejenak.


"Paman Rudolf kembalilah dengan Traver ke rumah sakit, aku akan memeriksa mansion itu dengan membawa pasukan." Kata Zac.


"Tidak, kita akan pergi bersama dan Traver akan kembali ke Rumah Sakit, Carlos pintar dalam berkamuflase dan menyamar. Carlos pasti mengincar Ben di rumah sakit, Traver memiliki mata jeli seperti elang." Kata Rudolf.


"Tapi..."


"Di sana juga ada Mena dan Casey, Derreck juga akan melindungi Ben." Kata Rudolf meyakinkan.


Rudolf tak ingin membiarkan Zac pergi sendiri setelah apa yang terjadi pada Zay, Rudolf harus melindungi Zac, karena Zac adalah pewaris Haghwer.


Zac mengangguk.


Kita bergerak sekarang.


Kemudian semua bergerak secara bersama-sama, namun pada saat di perjalanan, mobil-mobi, helikopter serta para pasukan pun terpecah menjadi dua.


Mobil-mobil yang beriringan membelah menjadi dua, sebagian mengikuti Traver dan sebagian lain mengikuti Zac serta Rudolf.

__ADS_1


Kemudian para amfibi seluruhnya akan menuju pelabuhan yang di maksud, helikopter terpecah menjadi 2 dan menuju kelokasi masing-masing.


Derreck, Daisy, Mena dan Casey setelah mendapatkan kabar mereka pun juga kembali. Daisy sangat panik dan tak bisa lagi berfikir jernih, pikirannya melayang jauh pada hal-hal mengerikan membuatnya semakin was-was dan ingin segera tiba di Rumah Sakit.


Dalam perjalanan menuju mansion terpencil yang bahkan masih di cari tahu lokasinya, Zac berfikir ulang, untung saja Ibunya ikut bersama Pamannya, Derreck, karena jika ibunya tetap di rumah sakit, sudah di pastikan jika terlambat sedetik saja, pasti Carlos akan menculik ibunya, menjadikan tawanan Carlos yang paling diinginkannya, membuat semuanya menjadi runyam dan berantakan karena Carlos memiliki 2 tawanan paling penting.


Mengingat betapa licik dan begitu merepotkannya Carlos, dia seperti bunglon yang bisa menyamar menjadi apapun, begitu sangat lihai dalam pelarian diri belum lagi Carlos mempunya kekuatan menghipnotis.


Tak berapa lama Zac dan Rudolf sampai di mansion yang di maksud. Terlihat beberapa pengawal masih tersisa dan berjaga disana.


Rudolf keluar dari mobil lebih dulu dan memeriksa keadaanya, Rudolf melihat para pengawal bergerak.


"Logo De Hugo!" Rudolf berteriak pada Zac yang baru saja turun dari mobil.


Zac langsung mengambil senapan, dan berlari, para pengawal menjaga dengan tembakan perlindungan.


"DORRRR....DOORRRR!!!" Tembakan mengarah pada para pengawal.


Itu adalah tembakan kejutan dengan sekali serang dafi pasukan Haghwer.


"CARLOSSS!!!" Teriak Zac.


Saat itu Zac berlari ingin mengejar Carlos yang sudah terbang menggunakan Helikopter.


"BADJINGAN SERAHKAN ADIKKU!!!" Teriak Zac.


"DOORR....!!! DOORRR!!! DOORRR!!!" Tembakan bertubi-tubi dari Zac mengenai helikopter.


"Trangg!! Trangg!! Trang!!!" Sayangnya tembakan itu tak mempan.


"Jangan tembak lagi!! Zay masih belum di konfirmasi keberadaannya, jika dia ada di helikopter dia akan ikut mati!!!" Teriak Rudolf


Helikopter yang di pakai Carlos juga sudah mengudara tinggi dan menjauh.


Carlos hanya tersenyum sinis dan kemudian duduk di dalam helikopter dengan tenang.


Sayangnya saat itu penembak jitu juga tak bisa menembak karena takut di dalamnya ada Zay.


Jika saja sudah di pastikan Zay tak ada dalam Helikopter, para penembak jitu pasti sudah menembak dan membuat helikopter meledak.


"Sialan!!! Sebagian ikuti dan kejar Carlos sebagian lagi periksa semua tempat dan bunuh sisanya!!!" Perintah Zac dengan marah.


Rudolf pun mengikuti Zac dari belakang.


"Perintahkan para ambifi mengejar kapal-kapal yang bergerak!" Perintah Zac pada para pengawal.


"Baik Tuan."


"DOORRR!!! DOORRRR!!!"


Semua saling tembak, Zac menembak tepat pada kepala para pengawal, tembakan yang jitu dan tak ada satu pun yang meleset.


Rudolf melihat tangkas dan terampilnya Zac, mengingatkannya ketika Ben masih sangat muda, penuh daya tarik yang luar biasa, bahkan gerakannya seindah ayahnya.

__ADS_1


"DOORRR... DOOORRR DOOORRR!!!"


Tangan Zac sangat cepat dan tepat.


Rudolf dan Zac saling menekan punggung, mereka berputar dan saling menembaki para pengawal, hingga darah menciprat di wajah-wajah serta tubuh mereka.


Pasukan Haghwer masuk dan menerobos mansion, di sana ternyata masih banyak pengawal yang sedang membereskan barang-barang yang akan di bawa.


"DORR... DOOOORRRR...DORRR...DORRR....!!!"


Zac pun naik dengan penjagaan para pasukan, ia mendobrak setiap kamar, dan kamar.


Kemudian satu kamar terbuka, Zac masuk dan melihat rantai di atas tempat tidur, gaun sobek ada di lantai, kamera yang masih berdiri, dan beberapa cairan terlihat masih basah di atas ranjang, belum lagi ranjang itu juga berantakan.


Tentu saja Zac bisa membayangkan apa yang sudah pria itu lakukan pada adiknya.


Dada Zac terasa sakit seperti sedang di hujam oleh batu yang besar, nafasnya sangat cepat, amarahnya mendidih seperti banteng yang sedang mengamuk.


Seorang bawahan Carlos pun masuk dan ingin menembak, namun ia terkejut ketika melihat raut wajah marah Zac yang menyeramkan.


Pengawal itu bergetar, dan kaku, tak dapat bergerak, tangannya yang menodongkan pistol pada Zac gemetaran.


Zac maju dengan tenang meski marahnya memuncak, kemudian Zac mengambil pistol itu dengan kasar.


"BADJINGAN KALIAN SEMUA!!!! APA YANG SUDAH KALIAN LAKUKAN PADA ADIKKU!!!!" Teriak Zac dan menembaki pengawal Carlos yang ada di hadapan Zac.


"DORRRR.DOORRR..DOORRR..DOORRR.DOOORRR!!!!"


Tembakan brutal berulang kali di kepala dan di bagian tubuh lain, hingga darah muncrat di wajah Zac, darah itu mengalir hingga ke kaki Zac.


Pengawal itu sudah tumbang bahkan tak lagi terlihat bentuknya, tapi Zac masih menembakinya melepaskan semua amarahnya.


Rudolf kemudian maju dan menenangkan.


"Zac kita kembali ke Rumah Sakit atau kita mengejar kapal-kapal itu?" Tanya Rudolf.


"Brengsek... Sialaan... Akan ku cincang habis mereka semua...." Kata Zac sambil mengusap wajahnya yang penuh darah dengan sapu tangan nya.


Rudolf menelan ludahnya dan melihat ranjang yang sudah dapat menggambarkan situasi nya saat itu


Rasanya ia sangat menyesal, kenapa tak lebih cepat menyelamatkan Zay.


"Kita harus cepat ke Rumah Sakit Paman, ku pikir, salah satu pengawal yang menyusup adalah suruhan Carlos untuk memutar video, ku pikir..." Zac tak mampu melanjutkannya lagi.


Rudolf paham dan melihat ke arah kamera yang masih berdiri.


"Ayah akan sangat terpukul."


"Carlos ingin menyerang mental dan kepercayaan diri Ben sebagai mafia yang paling kuat, dan saat ini Ben sedang dalam keadaan tak baik, kita harus pergi sekarang sebelum terlambat."


"Baik. Hubungi Traver dan yang lainnya paman. Katakan pada mereka berhati-hati pada serangan virus atau hacker. Apapaun itu!!" Zac khawatir mereka akan menyabotase elektronik dan kemudian memutar video itu di seluruh laptop dan tv yang ada di rumah sakit itu.


"Lalu pasukan amfibi terus kejar kapal-kapal itu, akan kemana mereka." Kata Zac.

__ADS_1


"Baik, ayo kita kembali Zac." Ajak Rudolf.


Bersambung


__ADS_2