
Setelah membuka baju Daisy, dan membuangnya kelantai Ben mengecup dada Daisy, dan tangan kekarnya meremas dada yang masih memakai bra berwarna merah muda.
Ben kemudian menaikkan Bra tersebut ke atas, membuat dua gunung yang padat dan kenyal menyembul sempurna seolah menantang Ben.
Mata dan wajah Daisy mulai sayu, kedua tangannya membelai perlahan tengkuk dan rambut Ben.
Kemudian Ben mengecup salah satu puncak dada Daisy, dan mengulummnya masuk ke dalam mulutnya, sedang tangan satunya yang kekar meremass dan memelintir pelan dada milik Daisy yang satunya.
Ben menghisap dengan pelan, lalu dengan lembut, dan terkadang dengan kuat, hingga membuat tubuh Daisy tersentak kaget dan menggigit bibirnya, ia menahan suaranya karena sentuhan-sentuhan Ben.
Nafas Daisy mulai memburu berlomba dengan panas tubuhnya yang mulai mengganas, dan Daisy memeluk erat tengkuk leher besar milik Ben.
Ben mulai menghisap areola milik Daisy lagi, terkadang juga menggigit pelan dan gemas.
"Ngghhh..." Suara Daisy mencuat, ia menutup kedua matanya dan menikmatinya.
"Tulililitt... Tulililiit....!!!" Telfon berdering berulang kali.
"Ada telfon..." Bisik Daisy pelan dengan suara serak.
Namun Ben tak bergeming dan masih acuh, ia masih terus menghisap dada Daisy, membuat dada Daisy di penuhi tanda-tanda berwarna kemerahan, Ben selalu menyukai itu.
"Tulililit... Tulililitt....!!!"
Telfon berbunyi lagi.
"Ck..! Akan ku bunuh Traver." Kata Ben kesal.
Kemudian tangan besar Ben mengulur dan menekan tombol di salah satu telefon, dengan tubuh Ben masih di atas Daisy.
"Tuan Ben, Tuan Derreck menjemput Nona Sunny, sekarang berada di kantor anda." Kata Traver.
Kemudian Ben menekan tombol mengakhiri panggilan. Daisy mendengar itu, Ben dan Daisy saling pandang.
"Apa kau akan tetap pergi?"
"Aku harus pulang." Jawab Daisy.
"Tidak akan ku ijinkan." Jawab Ben dingin.
Ben bangun dan pergi berjalan ke ruangan lain untuk mengambil kemeja baru, lalu memakainya dan mengambil dasi baru dan membawanya, kemudian Ben membenarkan pakaiannya, sembari mendatangi Daisy yang membenarkan Branya dan memungut bajunya yang ada di lantai.
"Jangan pakai itu." Perintah Ben.
Daisy menatap wajah Ben dengan bertanya-tanya.
__ADS_1
Ben berjalan menuju telfon, dan menghubungi seseorang dengan menekan tombol.
"Ya Tuan Ben, ada yang bisa saya bantu?" Kata Clarissa.
"Suruh Alexa menyiapkan pakaian wanita, dan borong semua yang merk terbaik, kalau perlu bawa departmen storenya ke sini. Serahkan pada Traver dia akan mengerti." Perintah Ben.
"Ba... Baik Tuan."
Daisy menghela nafasnya, ia sudah mengenal betul sifat Ben yang selalu arogan dan semaunya sendiri.
"Casey akan curiga jika aku tidak memakai pakaian yang sama seperti yang aku pakai saat ke sini."
"Aku bilang hentikan semuanya. Permainan selesai, dan aku tidak mengijinkanmu untuk pergi, mulai sekarang kau akan tinggal denganku lagi."
"Tapi aku harus menjelaskan semuanya dulu pada Derreck, dia akan terkejut dan sedih jika tiba-tiba aku tidak pulang dan tinggal denganmu."
"Aku yang akan memberitahunya."
"Kau hanya akan berdebat dengannya, dan itu pasti berakhir dengan pembicaraan yang tidak lancar."
"Tepatnya perkelahian. Jika itu perlu." Kata Ben mengancingkan bajunya.
"Tidak!"
Ben telah selesai merapikan kemeja nya, dan mengalungkan dasi hendak memasangnya.
Daisy kemudian maju dan menarik dasi Ben, agar Ben dapat membungkuk, dan itu berhasil membuat seorang Ben yang tidak pernah membungkuk pada siapapun, kini dia membungkukkan punggung nya pada Daisy.
"Tidak ada perkelahian." Kata Daisy.
"Baik, tidak akan ada perkelahian."
"Kau harus berjanji padaku."
Ben mencium bibir Daisy, kemudian mengangkat tubuh mungil Daisy dan menempatkan Daisy di atas sofa, membuat Daisy berdiri di atas sofa dan tinggi mereka menjadi sejajar.
"Aku berjanji. Aku tidak akan memprovokasinya dan membuat perkelahian."
Daisy mengangguk pelan.
"Kau puas sayang?" Tanya Ben dengan senyuman tipis.
Daisy mengangguk lagi.
"Jadi sekarang pasangkan dasinya, kau mencengkramnya terus."
__ADS_1
Daisy tersadar dan terkejut, kemudian Daisy mulai menyimpulnya, ia akhirnya fokus pada pekerjaan itu.
"Kau menjadi serba bisa dan hebat, apa kau juga menyimpul dasi milik Derreck sebelum di pergi?"
"Sayangnya kali ini tebakanmu salah, aku belajar banyak tentang aristrokat, aku sekolah kepribadian, sikap, table manner, dan segala hal, aku belajar sangat keras, dan satu hal lagi, aku dan Derreck tinggal terpisah, aku ada di apartmen ku sendiri dan dia ada di mansion." Kata Daisy selesai menyimpul.
"Jadi....!!!" Daisy menarik simpul dasi dengan kencang membuat ikatan nya sangat kuat.
"Uhuk... Khem...!" Ben terbatuk pelan karena tarikan kencang Daisy ketika selesai menyimpul dasi.
"Jadi... Jangan berkelahi dan jangan memiliki prasangka yang tidak-tidak, aku dan Derreck murni berteman." Kata Daisy mengendurkan ikatan dasi dan merapikan kerah Ben.
Kemudian Daisy mengelus kedua bahu depan Ben, menggunakan kedua tangan lentiknya, agar kemeja milik Ben lebih rapi.
"Selesai." Kata Daisy tersenyum dingin.
Ben menelan ludahnya dan sedikit membenarkan kerahnya dengan menarik menggunakan ujung jarinya yang panjang, agar sedikit loggar.
"Kau sangat cantik saat marah." Kata Ben mengecup bibir Daisy.
"Aah... Satu lagi, di dunia ini tidak ada pertemanan antara pria dan wanita. Di katakan ataupun tidak di katakan, di pendam atau pun di ungkap, salah satunya pasti memiliki perasaan, entah si pria atau wanita. Jadi, aku tidak mengijinkanmu berteman dengan pria, apalagi mengingat latar belakang Derreck seperti apa. Dia menyukai mu sejak kau ada di Kota S, dia membantumu melarikan diri dariku ketika di Kota Z, dan dia juga menyembunyikanmu selama 2 tahun. Aku tidak pernah mempercayai nya, kecuali jika sudah di pastikan dia adalah...." Ben memotong kalimatnya.
"Di pastikan dia adalah apa?" Sahut Daisy.
Ben menarik nafas malas.
"Dia tidak suka wanita dan lebih menyukai sejenisnya. Itu pun aku masih tidak percaya padanya, bahkan jika kalian sedarah, aku tetap tidak akan melepaskanmu padanya lagi. Sudah cukup selama 2 tahun ini." Kata Ben sembari pergi dengan kesal.
Daisy mengernyitkan alisnya merasa aneh.
Ben keluar dari kediamannya, dan langsung menuju kantor menggunakan lift turun, saat keluar dari lift khusus presdir, dan keluar Ben sudah melihat jika Derreck menunggu dengan berdiri di kantornya, Ben melihat melalui jendela kantornya yang menghadap ke pada para karyawannya.
Kemudian Ben menaiki tangga dan masuk ke dalam kantor, Ben mengambil remote dan menutup jendelanya yang menghadap ke arah para karyawannya yang sibuk bekerja lalu menutup pintu.
"Dimana Sunny, apa kau mengurungnya. Biar ku perjelas bahwa dia adalah tunanganku Ben!" Kata Derreck dengan tatapan kesal.
Kali ini bahkan Derreck tidak menggunakan kalimat yang sopan seperti biasanya.
Ben menarik nafasnya mencoba bersabar, ia mengingat janjinya pada Daisy.
"Kau tidak mau duduk?" Tanya Ben.
"Tidak perlu, aku hanya perlu Sunny dan membawanya pulang."
"Mari kita bicarakan." Kata Ben memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
__ADS_1
Ben dan Derreck saling berdiri dan menatap tajam. Ben yang meredam ego dan emosinya demi janjinya pada Daisy, dan Derreck yang sudah kehabisan kesabaran karena ia tahu bahwa tunangannya pasti telah di kurung oleh Ben. Derreck sudah cukup lama menunggu dan ia tahu ada yang tidak beres.
Bersambung