
Tatapan Gavriel jelas begitu dalam dan ia semakin terpikat dengan wajah Zay.
Wajah Zay versi duplikat sang ibu, bahkan bisa dikatakan lebih memiliki aksen yang tegas karena bercampur dengan wajah sang ayah, dengan mata yang bulat dan tajam serta bulu mata tebal yang lentik berwarna hitam lekat.
Benar-benar wajah yang sempurna.
Namun, Zay tidak menyadari perasaan Gavriel, tidak peka dengan tatapan Gavriel.
"Kenapa?" Tanya Zay.
"Yang mana?" Tanya Gavriel.
"Pertanyaanku..." Sahut Zay.
"Iya yang mana, tentang aku menyuruhmu jangan memanggilku paman, atau tentang pertanyaanmu kenapa aku tidak ada di sana membantu kelahiranmu?"
"Keduanya... Jawab dulu salah satu." Perintah Zay.
"Pertama jangan panggil paman, aku masih muda."
"Tidak kau seumuran dengan paman ku, paman Derreck." Zay menolak.
"Panggil aku Gavriel."
"Tidak mau, aku tidak bisa memanggil mu begitu, sama saja aku tak menghormatimu."
"Baiklah, aku tak akan menjawab pertanyaanmu yang satunya, jika kau tak mau menurutiku." Goda Gavriel.
"Oke... Oke... Aku akan memanggilmu Gavriel. Tapi, sedikit agak aneh..." Kata Zay.
"Lama-lama kau akan terbiasa nanti."
"Jadi ayo jawab... Kenapa kau tidak ada di foto para dokter itu."
"Perhatikan dengan baik, semua dokter dan perawatnya adalah wanita." Kata Gavriel.
"Ohh... Astaga... Benar!" Zay menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa bisa begitu." Tanya Zay.
Gavriel tertawa.
"Ben tak ingin ada dokter pria yang membantu Daisy melahirkan, apalagi Daisy melahirkan normal."
"Hahahahahhah!!!" Zay tertawa terbahak-bahak.
Gavriel yang melihat Zay tertawa dengan indah dan wajah cantik, menikmati pemandangan itu, ia tersenyum melihat Zay seceria itu.
"Astaaggaa... Ayahku memangg.... Apakah semua pria seperti itu...?" Tanya Zay menghapus air mata karena terlalu banyak tertawa.
__ADS_1
"Entahlah... Tapi jika istriku melahirkan, mungkin aku sendiri juga akan meminta perawat wanita, dan aku sendiri yang akan membantunya melahirkan." Kata Gavriel menyangga dagunya dengan telapak tangan, dan sikunya berada di meja memandangi Zay.
"Ooouuuuwww.... Ooouuu... Ouuuu.... hahahha !!!" Zay tertawa lagi.
"Kenapa?" Tanya Gavriel.
"Kau pasti sudah menemukan wanita yang akan kau jadikan istri... Setahuku kau tak pernah menyinggung tentang istri, malah ku dengar dari paman Rudolf dan Traver saat di Rumah Sakit AS, kau selalu menolak perjodohan yang di atur ayahmu. Apa kah akhirnya kau menyerah dan memutuskan akan menikah? Siapa kira-kira calonnya?" Tanya Zay menaruh dagunya juga di tangannya.
Gavriel benar-benar di buat tertawa dengan gaya dan polah Zay yang blak-blakkan namun menggemaskan.
"Lanjutkan melihat foto lagi." Kata Gavriel menggosok rambut di kepala Zay.
Zay tersenyum dan membuka foto-foto nya lagi.
Dalam hati Gavriel, berulang kali ia menyebutkan nama Zay.
"Zay Haghwer, kaulah yang ingin ku jadikan pengantinku, kaulah yang ku harapkan menjadi pasanganku." Kaya Gavriel dalam hati dan menatap Zay.
Namun senyuman Zay tiba-tiba meredup, pandangan mata Gavriel beralih pada foto yang sedang di lihat Zay.
Itu adalah foto-foto Zay dan Zac yang naik di atas punggung sang ayah. Ben yang kuat, yang arogan dan penuh dengan ketegasan serta sifat otoriternya membuat dirinya harus merangkak demi sang anak.
Zac dan Zay terlihat sangat ceria di atas punggung sang ayah.
Seketika air mata Zay menetes. Gavriel menepuk pelan dan mengelus pelan punggung Zay yang bergerak naik turun karena isak tangis Zay.
Gavriel masih menenangkan Zay dengan menepuk pelan dan membelai kepala Zay.
"Bagaimana jadinya jika moment-moment bahagia yang manis ini terukir jelas di ingatanku? Aku pasti akan sangat membenci ayah seumur hidupku, tapi melihat ayah yang tak pernah membalas atas semua perkataan kasar dan kebencianku padanya, lalu sekarang aku melihat fakta bahwa ayahku sangat menyayangiku, justru membuatku sangat menyesal, aku merasa menjadi anak yang tak tahu balas budi dan tak tahu terimakasih."
Zay membenamkan wajahnya di sela lengannya yang ada di atas meja.
"Zay... Ayahmu pasti hanya ingin anak-anaknya hidup dengan bekal yang cukup. Maka dari itu, saat kalian masih kecil, Ben selalu berusaha membuat moment indah setiap detiknya, karena ia sadar nantinya ia tak bisa lagi bersikap seperti itu ketika kalian menginjak usia untuk berlatih."
"Gavriel, aku harus memberitahu Zac, dia masih saja tak tahu bahwa ayah sangat mencintai kami." Kata Zay.
"Mansion Zac sedang di kepung, ayahmu memerintahkan untuk tak ikut campur." Kata Gavriel.
"Tapi..."
Gavriel melihat ke arah jendela, dan ternyata malam sudah tiba, begitu tak terasa waktu ternyata berjalan begitu cepat.
"Kau harus istirahat, selama di Rumah Sakit AS kau tak cukup tidur, dalam penerbangan juga kau tak istirahat dengan baik."
Zay mengangguk, tak bisa membantah aoa kata sang dokter.
"Semoga ada titik temu, Zac seharusnya melihat album ini." Kata Zay dengan sedih.
"Kita lanjutkan besok melihatnya lagi, kelihatannya juga ada beberapa kaset video yang tersimpan rapi di sana dengan catatan tanggal serta judul nya." Gavriel berdiri dan mengambil salah satu kaset, lalu membacanya.
__ADS_1
"Zay belajar berjalan..." Kata Gavriel memegangi kaset itu.
Zay kemudia merebutnya, dan memasukkannya lagi ke dalam rak.
"Akan banyak aib di sana, kau tidak boleh ikut bergabung, hanya aku dan Zac yang akan menonton." Kata Zay melotot.
"Hahahahha.... !!!" Gavriel tertawa.
"Kita lihat bersama-sama besok." Gavriel mencoba bernegosiasi.
Zay menggelengkan kelapa dengan mantap, sambil berjalan keluar beriringan dengan Gavriel.
Kemudian malam itu juga, Zay mengakhiri nya, besok Zay akan membuka buku albumnya kembali dan melihat video-video masa kecilnya lagi.
Gavriel mengantar Zay naik ke lantai atas dan mereka saling berpamitan di pintu kamar Zay.
"Tidur yang nyenyak, kau harus janji, tidur malam yang cukup, itu baik untuk kesehatan, jangan begadang." Kata Gavriel.
Zay mengangguk.
"Seperti nya kamarku ada di sebelah sana." Gavriel menunjuk kamar yang ada di ujung koridor.
"Ah ya kau juga akan tinggal di sini mulai hari ini, aku lupa." Kata Zay.
"Kau tak suka?"
"Ah buka begitu, aku suka...."
"Jadi, kau suka aku ada di sini..." Cerca Gavriel dengan cepat.
"Ahh maksudnya bukan suka juga, bukan suka yang seperti itu..." Zay menjadi gugup takut Gavriel akan salah paham dan mengira dirinya mesumm.
"Hahahahaa... Iya aku bercanda Zay..." Kata Gavriel.
Zay tersenyum canggung, ia merasa ada yang aneh pada sikap Gavriel padanya. Zay bahkan tidak pernah mengobrol dengan Gavriel, tak benar-benar melihat atau menatap Gavriel, tapi hari ini Zay merasa lebih akrab dan lebih dekat dengan Gavriel.
"Selamat malam." Kata Gavriel.
"Malam." Zay tersenyum.
Kemudian Gavriel pergi dan Zay menutup pintu, ia menghempaskan diri berbaring di atas ranjangnya.
"Tiba-tiba aku jadi sangat ingin pergi ke mansion milik Zac. Aku ingin mengatakan padanya tentang album foto dan rekaman video kami saat masih balita, tapi aku juga sangat penasaran ingin melihat wanita seperti apa yang membuat kakakku nekat pergi dan tidak lagi memakai nama Haghwer. Se special apa dia? Apakah dia cantik? Apakah sikapnya baik? Aku benar-benar penasaran, kenapa dia seolah menjadi jauh lebih special dari pada keluargamu Zac. Jika aku tak menyelidikinya sendiri, maka aku tak akan pernah bisa tidur."
Zay kemudian bangkit dari ranjangnya.
Bersambung~
Bersambung
__ADS_1