
Malam itu hati Daisy berkecamuk, sebagian hatinya ingin mengatakan pada suaminya dan meminta penjelasan, namun satu sisi ia tak bisa berhenti dari kesenangan yang telah 3 tahun lebih tak pernah ia rasakan dari Ben.
Kekeringan yang melanda rongga dada dan sel-sel syarafnya membuat Daisy lupa kendali, ia tak dapat lagi mengontrol hasratt yang justru kian membara hingga membakar dirinya sendiri. Hasrat yang menggebu-gebu telah mengambil posisi atas tubuhnya.
Ben pria matang yang juga telah menahannya begitu lama, ada semburat ketegangan dari seluruh urat syarafnya yang mengeras dan tak ingin lepas dari kenikmatan.
Perlakuan yang jauh dari kata lembut, di sesapi bulir-bulir keintimman yang tajam dan berbau hasrat yang berkobar dengan segala macam sahutan nafas yang saling memburu satu sama lain membuat dua tubuh pria dan wanita saling membakar satu sama lain.
Ben tahu, ia meluapkan emosinya, kemarahannya, dan terbakar cemburu pada pengakuan berani Daisy, tentu saja Ben tak ingin percaya bahwa Daisy menginginkan belaian dari pria lain, Ben tak mau percaya, namun ia terlanjur tersulut emosi dan cemburu karena semua kalimat Daisy di pertegas dengan sikap Daisy yang seolah ingin mendekat dengan pria lain.
Dengan masih menggendong Daisy, dan memegang pantatt serta punggung Daisy, Ben membawa istrinya menuju kamar, perlahan Ben menaiki tangga dengan berjalan begitu halus dan tetap memeluk serta menyesap leher Daisy.
Sedangkan Daisy memeluk leher Ben dengan erat, dan melingkarkan kedua kakinya di pinggul Ben dengan erat pula.
Sesampainya di dalam kamar, Ben membaringkan Daisy, dengan gerakan kasar Ben membuka piyama tidur miliknya yang masih melekat di tubuhnya lalu membuangnya sembarang.
Tak ada kelembutan, pria itu masih di liputi amarah dan gelap mata.
Ben, menarik tubuh Daisy untuk duduk di atas nya membelakanginya dan memasukkan lagi benda miliknya, kemudian Ben memeluk Daisy dari belakang dan meremas kedua gunung kembar Daisy yang besar dan kenyal.
Ben mencium leher Daisy dari belakang, dan terus mencium seluruh punggung Daisy, hingga menimbulkan bekas-bekas merah yang membiru.
Ben memacu pinggulnya dengan gerakan liar sehingga membuat Daisy merasa kenikmatan.
"Benn... Hnggg... Aahh..."
Daisy mencengkram lengan kekar Ben yang memeluknya.
Kemudian setelah beberapa lama, dan Daisy mengejang artinyabtelah merasakan puncaknya nikmat, Ben merubah posisi Daisy, ia memutar kembali Daisy untuk menghadapnya.
__ADS_1
Kini Daisy ada di bawahnya, dan dengan cepat Ben menarik kaki Daisy ke atas dan memasukkannya lagi.
"Aah...!!! Ben... Terlalu.... Dalam... Ku mohon..." Kata Daisy menggigit bibirnya.
Semua itu, membuat Daisy semakin kehilangan akalnya, ia semakin di buat melayang serta tak bisa berhenti.
"Ingat ini baik-baik Daisy. KAU TIDAK AKAN MENDAPATKAN KEPUASAN DARI PRIA LAIN. KAU AKAN PUAS, BAHKAN TAK BERDAYA HANYA DENGANKU, HANYA AKU YANG BISA MEMBUATMU SEPERTI INI!" Kata Ben marah sembari membuat gerakan cepat memompa pinggulnya.
Mata Daisy naik ke atas dan mulutnya menganga tak bisa mengontrol lagi semua hasrat dan keinginannya, Ben telah benar-benar memegang kendali atas diri Daisy, seolah kini Ben sedang mengikat leher Daisy dengan rantai kenikmatan dan membajiri Daisy dengan tali hasrat yang melilit Daisy hingga tak akan pernah Daisy bisa melepaskannya.
Jam berdetak lambat, keringat telah membajir di sekujur tubuh mereka, sprei ranjang telah begitu banyak tumpahan sperm dan basah karena keringat mereka serta cairan milik Daisy sendiri yang begitu banyak.
Hingga pukul 6 pagi, Ben baru saja menyelesaikannya, pria itu murka dan masih saja belum mereda meski semua telah melampiaskannya pada Daisy.
Ben turun dari ranjang dengan nafas cepat dan ngos-ngosan, baru kali ini Ben begitu kalap dan begitu kasar melakukannya pada Daisy, bahkan lebih kasar dari apa yang pernah ia lakukan pada Daisy.
Keringat mengucur deras di tubuh, kepala, pelipis serta dadanya, keringat-keringat itu tak berhenti mengalir.
"Sial, aku sudah berusaha membuatmu seperti ini, tapi kau malah terlihat jauh lebih cantik dan sensual, tapi kau ingin pria lain melihatmu seperti ini. Jangan berkhayal." Kata Ben menarik selimut dan menyelimuti istrinya dengan lembut.
"Kau benar-benar telah membuatku marah dan membuka borgol pada tangaku Daisy." Kata Ben mencium kening Daisy.
Ingatan Ben meluncur dan bergerilya pada masa lalu dimana Daisy selalu mengutuk i Ben.
Pria itu menarik nafas panjang dan menguyap wajahnya dengan telapak besarnya, ia menyesal telah membuat Daisy seperti itu lagi. Memperlakukan Daisy seperti dulu lagi.
"Kau pasti akan membenci ku lagi. Ya kann..." Kata Ben lirih dan menyentuh pipi Daisy.
"Kau selalu mengatakan, pikiran dan otakku hanya di penuhi sekks dan tidur di ranjang, aku berusaha keras menahannya demi dirimu, agar kau tak membenci pikiran dan otakku padamu, hingga rasanya aku hampir ingin mati. Aku tak tahan jika tidur di sampingmu, setiap aku tidur di sampingmu, malamku begitu panjang dan terasa seperti tak kan pernah berakhir."
__ADS_1
"Kau membenci aku yang seperti ini kan... Kau membenciku yang selalu seperti ini kan, memaksamu berhubungan sekss denganku, melayaniku yang tak pernah mudah untuk di puaskan. Tapi, meski kau membenciku, aku tak akan pernah membiarkan kau pergi dariku, lebih baik kita mati bersama, Daisy."
Ben kemudian mencium bibir Daisy dengan lembut dan pergi keluar dari kamar, dengan perasaan penuh kegundahan dan berkecamuk Ben menuju ruang kerjanya mencoba untuk berfikir.
Banyak yang harus ia pikirkan, hingga kakinya pun tiba-tiba berhenti melangkah.
Saat itu Ben memutar tujuannya, ia menuju ruang obat, dan memanggil beberapa pelayan untuk datang.
Ben berfikir sejenak dan kemudian mengambil botol berwarna cokelat yang berisi obat cair. Sesuatu yang tak asing baginya dan pasti juga untuk Daisy. Itu adalah obat pencegah kehamilan.
Beberapa pelayan akhirnya datang, Ben berbalik dan melihat mereka, ia kemudian memberikan obat itu pada seorang pelayan, dan pelayan itu menerimanya dengan nampan kayu yang mewah.
"Pastikan istriku meminumnya." Kata Ben dengan dingin dan tegas.
"Baik Tuan." Kata salah satu pelayan.
Kali ini Ben tidak ingin Daisy hamil, bukan karena Ben trauma anaknya akan seperti dirinya di masa kecil, atau dia trauma dengan masa lalunya yang kelam saat menjadi anak-anak, bukan juga karena Ben tak suka anak kecil atau membenci anak-anak yang rewel.
Ben takut kehilangan Daisy, ia takut Daisy melalui proses yang panjang lagi.
Satu sisi Ben senang dan bahagia karena Daisy di sampingnya namun, satu sisi itu juga sebuah siksaan baginya ketika Daisy hamil.
Selama 9 bulan Ben tak berani menyentuh Daisy, itu karena begitu banyak faktor yang mengganggu pikirannya.
Ben, tak tega melihat Daisy mengalami kehamilan selama 9 bulan, ia merasa kasihan pada Daisy dengan perut besar.
Sebenarnya, bukan hanya itu saja, ada banyak faktor yang menjadi alasan Ben, yang paling mempengaruhi mentalnya adalah kalimat dokter yang membantu Daisy melahirkan telah menjadi Alarm bagi dirinya.
"Daisy... Kau tidak tahu betapa aku mencintaimu hingga aku mampu menahannya selama 3 tahun ini."
__ADS_1
Dokter itu mengatakan hal yang membuat Ben merasa tenggelam dalam kegelapan.
Bersambung