Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 206


__ADS_3

Di tempat lain ternyata Carlos tak terkejar, semua pasukan sudah berusaha maksimal untuk mengejar.


Akhirnya pasukan yang mengejar Carlos meminta bantuan pada pasukan Haghwer yang lain, agar mereka menghadang Carlos di depan sebelum helikopter yang membawa Carlos sampai ke Rumah sakit.


Semua pasukan Haghwer yang ada di depan bersiap menghadang, mereka melemparkan banyak tali pada Helikopter Carlos.


Sebelum sampai ke rumah sakit, mereka harus memaksa Helikopter itu untuk mendarat.


Banyak Helikopter mengepung helikopter milik Carlos, para pengawal dan pasukan Haghwer melemparkan banyak tali dan menarik turun serta menyeratnya turun dengan menodongkan berbagai senjata api pada helikopter itu.


"Peringatan! Untuk tahan tembakan karena Nona Zay kemungkinan ada di dalam helikopter, jangan meledakkan atau menembak, cukup paksa untuk mendarat." Kata salah satu pengawal dengan headphonenya.


Helikopter-Helikopter mewah berwarna hitam menarik paksa Helikopter merah milik Carlos untuk terus mendarat turun.


Dan akhirnya pun semua mendarat di atas tanah yang lapang, angin yang di hasilkan dari banyaknya baling-baling Helikopter membuat pusaran debu yang sangat besar.


Para pasukan Hahgwer maju dengan membawa senapan mereka, serta memakai topeng hitam sebagai pelindung dari debu dan angin.


"Jangan bergerak!!!"


"Jangan Bergerakl!!!" Semua berteriak pada pengawal Carlos.


Semua pengawal Carlos dan pilotnya pun sudah turun dengan mengangkat kedua tangan, salah satu pengawal Haghwer masuk dan memeriksa.


"TAHAN TEMBAKAN!!!" Kata salah satu pengawal Haghwer, namun ketika ia masuk bukannya menemukan Zay, tapi justru Carlos pun tak ada.


"CARLOS MELARIKAN DIRI, DIA TIDAK ADA DI SINI!!" Teriak sang komandan Pasukan Haghwer dari dalam Helikopter.


"Hubungi Tuan Zac, kita harus apakan para pengawal Carlos yang tersisa ini, lalu hubungi Rumah sakit, untuk berjaga, Carlos sangat pintar melarikan diri dan menyamar!"


Lagi-lagi saat helikopter itu di paksa turun dan menyerah, Carlos ternyata tak ada di sana, Carlos telah melarikan diri pergi entah kemana.


Di rumah sakit, Derreck, Mena, dan juga Casey sudah sampai untuk menjaga Ben di depan pintu, sedangkan Daisy ia telah di berikan izin oleh Gavriel untuk berada di samping Ben.


Saat itu Ben memang sudah membuka matanya meski masih tampak lemah, ia pun melihat ke arah Daisy yang masuk dan berdiri di samping ranjang pasien.


Tubuh Ben masih di penuhi selang dan kabel-kabel.


"Ben... Aku akan di sini menjaga mu...." Bisik Daisy sepelan dan selembut mungkin.


Ben kemudian mengedipkan matanya dengan pelan pertanda ia bersedia.


Daisy sebenarnya tidak sanggup melihat suaminya yang kuat dan selalu tangguh di medan perang terbujur tak berdaya di atas ranjang, padahal pria yang ada di hadapannya ini adalah sang penguasa medan perang.


"Ben... Kau seperti ini karena kau begitu menyayangi anak-anakmu... Aku semakin sadar ketika melihat semua pengorbananmu, semoga anak-anak kita dapat terbuka pikiran dan hatinya, bahwa sebenarnya kau tidak sekeras yang mereka pikir dan bayangkan, bahwa kau menomor satukan mereka, dengan rela menjadikan dirimu tameng untuk melindungi mereka, semoga mereka segera kembali, kita dapat berkumpul dan mereka dapat menyayangimu..." Daisy berdoa dalam hatinya dengan sungguh-sungguh.


Begitu khusyuk, hingga air matanya mengalir, rasa sesak di dadanya semakin bergumul dan semakin terasa berat.


Ketika Daisy hendak mencium suaminya, seorang perawat pria memakai masker pun masuk dengan mendorong sebuah troli.

__ADS_1


"Nyonya saya akan menyalakan audio rangsangan untuk Tuan Ben, ini akan merangsang otaknya dengan baik dan membuatnya sembuh lebih cepat." Kata perawat itu.


"Baik." Kata Daisy.


Daisy pun ikut melihat dan perawat pria itu kemudian menyalakan layar tv yang besar di hadapan Ben. Kamar yang di tempati Ben memang sangat mewah, karena Rumah Sakit itu adalah milik Keluarga Haghwer.


Setelah pria itu menyalakan Tv, yang terlihat hanyalah gambar hitam dengan suara berdenging yang cukup mengganggu.


"Nyonya saya pergi dulu." Kata perawat itu.


"Ya..." Jawab Daisy yang tak pernah merasa curiga karena saat itu ia pikir audio terapinya mungkin saja seperti itu meski telinga cukup terganggu.


Namun ketika perawat itu membuka pintu untuk keluar.


Sebuah teriakan memekakkan seluruh ruangan.


"Hadang dia jangan sampai lolos!!!" Itu adalah suara teriakan Gavriel dan para pengawal.


Daisy kemudian menengok ke arah perawat itu dan berlari keluar, sedangkan sang perawat sudah berlari pergi.


Derreck, Mena, serta Casey pun ikut memgejar setelah Gavriel berteriak.


Sedangkan di dalam kamar, tidak ada yang berjaga, Daisy meninggalkan Ben untuk ikut mengejar pria yang mengaku perawat, dan sebuah video pun mulai terputar.


"Siapa orang itu!!!" Tanya Daisy berteriak.


"Nyonya, kemungkinan itu adalah Carlos, anda harus kembali masuk!!!" Teriak para pengawal.


Saat kembali ke Rumah Sakit, Derreck memang tak memberitahukan yang sebenarnya pada Daisy, ia hanya mengajak Daisy untuk pulang ke Rumah Sakit.


Para pengawal pun menjaga Daisy, sedangkan yang lain mengejar dan membuka setiap ruangan dan kamar, mengobrak-abrik di setiap Rumah sakit dan gudang.


Di dalam kamar, Ben melihat adegan ketika pakaian Zay di robek, dan melihat tangan Carlos menelusup masuk ke dalam payudaraa Zay.


Dada Ben bergemuruh, kepalanya terasa nyeri dan berdenyut sangat kuat seolah ingin pecah.


Amarah pria itu naik hingga darahnya seperti mendidih, sebuah alarm mesin berbunyi, menandakan jantung Ben berpacu tidak normal.


"SIIIUUWWW DOOORRRR!!!!" Dari arah luar peluru masuk melalui pintu dan menembus layar Tv.


"DUUUAAARRRR!!!!"


Dengan berlari dan gerakan cepat Zac masuk ke dalam kamar Ben, lalu dengan tangan secepat kilat Zac menembak layar tv besar yang terpampang cukup jauh dari Ben sekali lagi karena amarahnya.


"DOOORRR!!!"


"BRAAAAKKK!!!" Tv benar-benar hancur berkeping-keping.


Semua perawat berdatangan dan tampak histeris, bagaimana bisa Zac menggunakan pistolnya di dalam kamar Ben yang sedang sakit.

__ADS_1


Para perawat yang hendak menolomg Ben ketakutan melihat layar tv itu hancur di lantai dan mengeluarkan asap.


"Paman Rudolf!!! Panggil Dokter Gavriel!!!" Teriak Zac.


Ketika Zac hendak keluar, Ben menarik tangan Zac dengan kekuatan yang besar, tangan itu seharusnya lemah dan tak berdaya namun dalam kondisi seperti itu pun Ben justru terlihat bak monster yang tak bisa mati.


"DIA... MEN...YENTUH... TU...BUH... ADIK... MU, BUNUH DIA.... ZAC, PENGGAL.... KEPALANYA, DAN.... BAWAKAN... KEPALA ITU.... SEBAGAI HADIAH UNTUK AYAH... MUU...." Kata Ben dengan kalimat terbata namun juga penuh emosi.


Zac melihat ke arah ayahnya yang terlihat murka.


"Aku akan membawakan kepalanya ke hadapan ayah."


Tak berapa lama Dokter Gavriel dan para dokter lainnya datang.


Zac pergi dengan amarah yang sangat tinggi, dengan langkah mantap, Zac menarik kedua pistolnya, hingga Daisy yang panik dan ketakutan pun melihat anaknya seolah melihat sosok orang lain yang asing, entah mengapa tapi wajah Zac dan fokus yang di miliki Zac, serta mata yang Zac pancarkan, seolah Daisy tak mengenali itu.


Zac pergi tanpa menyapa ibunya.


Di depan Rumah sakit, ia pun mendatangi Traver.


"Ambilkan samurai." Perintah Zac sembari mengisi peluru dan menaruh pistolnya ke pinggang belakang.


"Tuan... Anda mau pakai samurai Tuan Ben?" Tanya Traver.


"Ya."


"Baik Tuan." Kemudian Traver bergegas mengambil samurai milik Ben.


Pedang samurai itu adalah benda yang paling Ben jaga dan tidak pernah ia keluarkan kecuali ketika ia benar-benar dalam kondisi sangat marah dan ingin mengamuk.


Banyak darah telah tumpah karena pedang itu.


Kemudian Traver memberikannya pada Zac, dan Zac menaruhnya di pinggang kanan.


"Zac..." Rudolf dan Derreck datang bersamaan.


"Semua akses sudah di tutup, dia tidak mungkin kabur." Kata Rudolf.


"Aku yakin dia sudah pergi, Rumah sakit di kelilingi tanah lapang dengan rumput yang terawat rapi, tak ada tempat persembunyian, semak pun hanya sebatas kaki, tidak mudah keluar masuk Rumah Sakit jika tak ada yang membantu. Siapapun itu, periksa semua pekerja Rumah Sakit di sini, atau para pengawal, apakah ada yang berkhianat."


Rudolf mengangguk.


"Traver apakah pasukan Amfibi sudah memberi kabar?" Tanya Zac.


"Lokasi sudah terkunci Tuan, mereka melihat para pengawal keluar dengan membawa Nona Zay, apakah kita perintahlan saja pasukan Amfibi langsung menyerang?" Kata Traver.


"Jangan, tunggu sampai Carlos kembali ke Mansion. Kita berangkat sekarang, bawa pasukan dengan tanpa banyak suara. Bawa Mesiu sebanyak mungkin untuk meratakan mansion itu." Perintah Zac.


"Baik Tuan." Kata Traver.

__ADS_1


"Paman Rudolf kau di sini bersama Paman Derreck, Mena kau jaga ibuku, dan Casey, kau ikut dengan ku, kita menuju persembunyian Carlos yang baru." Perintah Zac.


Bersambung~


__ADS_2