Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 88


__ADS_3

FLASHBACK ON


Ben yang mengetahui bahwa setelah pemakanaman Gustav, Daisy memutar tujuan dan balik arah tidak jadi pulang ke mansion, seketika membuat Ben sangat marah saat masih berada di ruangan rapat.


Pikirannya di liputi oleh rasa curiga dan takut kehilangan Daisy.


Saat itu, sore hari Ben bergegas pulang ke mansion setelah ia meninggalkan ruangan rapat, namun pada pertengahan jalan dan saat yang bersamaan, Ben mendengar kabar lagi dari mata-matanya bahwa Daisy sedang makan bersama Gavriel


Dalam perjalanan Ben mengecek ponselnya lagi, dan ternyata memang benar saat itu Daisy sedang berada di restoran sederhana bersama Gavriel.


Karena Daisy belum makan dan Gavriel juga melewatkan sarapan, saat akan mengantarkan Daisy pulang dari Rumah sakit, mereka memutuskan untuk mengisi perut lebih dulu sebelum mereka pulang ke mansion.


Ben semakin curiga dan menjadi penasaran.


"Traver kita pergi ke restoran dimana Daisy dan Gavriel makan." Kata Ben.


"Baik Tuan."


Kemudian mobil putar arah menuju restoran yang di maksud.


Ternyata itu adalah restoran outdoor sederhana, Ben melihat Daisy dari dalam kaca jendela mobilnya.


"Dia tersenyum seperti malaikat, tapi malaikat itu lah pasti yang akan mencabut nyawa ku." Kata Ben.


"Tuan apakah kita hanya mengawasi di sini?" Tanya Traver.


"Pergilah dan pasang perekam langsung, aku ingin mendengar apa yang sedang mereka bicarakan." Kata Ben.


"Baik Tuan."


Kemudian Traver pun menyamar menjadi seseorang dengan melepaskan baju dan mengganti dengan kaos santai, ia memakai topi berwarna hitam.


Traver keluar dari mobil dan mendatangi Gavriel serta Daisy, ia duduk di sebelah mereka dan mengaktifkan alat perekam langsung.


Ben mulai bisa mendengar percakapan Daisy dan Gavriel.


Senyuman Ben kaku, dan wajahnya gelap.


"Jadi mereka sudah saling bicara santai, dengan menyebut aku dan kau... Bukan saya dan anda lagi... Hahahaha... Daisy... Daisy..." Kata Ben dengan wajah gelap.


Kemudian Ben menghubungi Traver.


"Sudah cukup. Kita pulang Traver." Kata Ben.


Kemudian Traver pergi dan masuk lagi ke dalam mobil


"Tuan... Sepertinya mereka hanya mengobrol tentang masalah kesehatan." Kata Traver.


"Kau takut aku akan membunuh Gavriel?"


Traver menelan ludahnya.


"Maaf Tuan..."

__ADS_1


Ben melihat lagi wajah Gavriel yang sumringah dan wajah Daisy yang tertawa mereka saling mengobrol dan meminum pesanan mereka.


"Jadi apakah aku harus membunuhnya atau tidak?" Kata Ben menyentuh bibirnya dengan jari-jarinya.


Wajah Ben gelap, mobil pun melaju menuju mansion.


Sesampainya di Mansion, Ben turun dengan aura yang sangat mencekam.


Ben melangkah kan kakinya dan melihat ke sekeliling ruangan Mansion, begitu banyak jejak kenangan Daisy di sana.


"Ambilkan aku stick golf." Kata Ben.


"Ya Tuan?" Tanya Traver.


"Perlukah aku mengulanginya." Kata Ben dengan wajah sangat marah.


Traver kemudian pergi dan mengambil tongkat golf milik Ben.


Kemudian Ben membuang mantel besarnya dan juga jasnya, ia pun menggulung lengan kemeja hitamnya, dan menerima tongkat golf itu.


Lengan yang berotot dan berurat membuatnya terlihat besar dengan tongkat golf yang terlihat kecil di tangannya.


Padahal, tongkat golf itu berat dan besar, bagaimana bisa menjadi kehilangan posturnya ketika ada di tangan Ben.


Ben kemudian mengayunkannya pada pajangan Vas besar yang setinggi orang dewasa.


"PYAAARRRR!!!" Suara Vas yang pecah berkeping-keping karena pukulan tongkat golf milik Ben membuat semua pelayan berdatangan, mereka bertanya-tanya apakah yang sedang terjadi.


Semua pelayan hanya diam membisu, bahkan mereka tidak berani melihat apa yang sedang terjadi selanjutnya, karena bisa saja mereka akan kehilangan mata.


"PYAARRR!!!!" Kali ini suara yang memekakkan telinga.


Ben memukul meja yang terbuat dari kaca.


Semua kaca pecah berhamburan di lantai.


"Aku tahu dia tidak akan benar-benar menerima ku. Dia hanya akan membalas dendam padaku." Kata Ben.


Kemudian Ben memukul sebuah patung hingga patung itu pecah juga.


Tak hanya sampai di sana Ben pun memukuli semua hiasan Mansion, membuat Mansion porak poranda.


Amarah Ben yang tinggi pada Daisy, rasa kecemburuannya, rasa cemas dan panik ketika ia membayangkan bahwa Daisy akan meninggalkannya, membuatnya sangat murka namun ia tidak dapat menyakiti Daisy.


Ben marah, namun Daisy sangat penting baginya, ia tidak mau menyakiti Daisy, dan tanpa sadar Ben telah melampiaskan semua amarahnya dengan merusak dan menghancurkan barang-barang yang telah Daisy sentuh.


"Apa dia akan meninggalkanku? Apa dia akan balas dendam? Apakah dia memiliki kesepakatan lagi dengan Derreck? Atau jangan-jangan Mark Waldorf menghubunginya?"


Ben seolah berubah menjadi pria yang tak waras.


Hingga akhirnya telinga Ben mendengar mobil datang, ia tahu siapa itu.


Ben menunggu seseorang itu hingga masuk ke dalam Mansion.

__ADS_1


Ketika Ben menunggu, dan akhirnya wajah itu muncul di depan pintu mansion.


Wajah yang sangat Ben cintai, wajah yang membuat Ben bertekuk lutut, dan wajah yang membuat Ben siap mati untuknya.


Namun, kini Ben krisis kepercayaan, ia terobsesi pada Daisy, ia panik dan frustasi.


Melihat wajah ketakutan Daisy, membuat Ben semakin ingin menunjukkan pada Daisy bahwa, ia ingin menekankam pada Daisy, ia ingin memastikan pada Daisy bahwa Daisy tidak akan pernah dan tidak akan boleh pergi dari sisinya.


FLASHBACK OFF


******


Malam itu Daisy tidur di kamarnya, ia telah berbaring dan menarik selimut hingga batas dadanya.


Daisy berulang kali memikirkan kejadian Ben yang merusak semua isi Mansion.


Merasa tak tenang Daisy pun turun dari kamar nya dan memeriksa, semua perabot sudah di ganti dengan yang baru. Semua sudah bersih.


Kemudian Daisy menghubungi Traver, karena ia tidak melihat ada Traver.


"Halo Traver, dimana Mena?" Tanya Daisy.


Sesampainya di Mansion Daisy mengira Mena menunggunya, namun ternyata Mena tidak ada di mansion.


"Mena, sedang bertemu dengan mafia pengepul senjata Nona, karena senjata-senjata milik Mena telah hilang saat di laut." Kata Traver.


Daisy mengerti dan menutup ponselnya, kali ini Daisy pergi kembali ke kamarnya, namun sebelum sampai di kamar, ia melihat kamar Ben.


Pintu kamar itu tertutup rapat, Daisy penasaran apakah Ben baik-baik saja.


"Haruskah aku memeriksa?" Tanya Daisy.


Kemudian perlahan Daisy berjalan menuju pintu kamar Ben, dan hendak membukanya.


Namun sebelum Daisy melakukannya, pintu telah terbuka.


Ben keluar dari kamarnya tepat saat Daisy berada di depan kamar Ben.


Daisy langsung merasa canggung.


"Aku akan pergi ke luar negeri beberapa hari." Kata Ben dingin dan tanpa melihat ke arah Daisy.


"Ya?" Tanya Daisy.


"Kenapa mendadak?" Tanya Daisy lagi.


"Ibunya Lucy, adalah ketua mafia bayangan, mereka menyembunyikan identitas asli mereka, dan sedang melakukan pergerakan untuk balas dendam. Saat ini, kabarnya para pengawalnya sedang menyandra barang-barang milikku yang ada di pasar gelap."


"Kenapa harus kau yang turun tangan? Tidakkah kita juga sedang memiliki sesuatu yang harus di bicarakan?" Kata Daisy.


Ben menarik lengan Daisy dan wajah mereka saling berdekatan.


"Tidak ada. Kau tidak akan pergi kemana pun, kau tidak akan meninggalkanku Daisy... Mulai sekarang kau akan di kurung, terlebih aku akan ada di luar negeri beberapa hari. Katakan juga pada Mena jika dia sudah kembali, jangan pernah melanggar perintahku lagi, atau kali ini aku tidak akan memaafkannya."

__ADS_1


Setelah Ben berbicara dengan dingin dan tegas, ia pergi meninggalkan Daisy.


Bersambung


__ADS_2