
"Tapi... Kau kan tahu aku sudah di sentuh oleh Carlos, dan aku malu, aku malu mengakui bahwa aku sudah ternoda."
"Aku tidak peduli itu." Kata Gavriel mencium dan mengulum jemari lentik Zay satu demi satu.
Sikap Gavriel yang lembut, sikapnya yang dewasa dan selalu sabar terhadap Zay, benar-benar sosok yang Zay cari, apalagi dulu Zay jatuh cinta pada Carlos karena Zay mencari seseorang yang sabar menyayanginya, yang dewasa dan selalu memanjakannya. Seseoramg yang penuh perhatian.
Zay yang tak pernah merasakan kasih sayang sang ayah ketika remaja, menjadikannya gadis yang mencari kasih sayang di luar dari pria yang lebih tua darinya.
Dan kini Gavriel memiliki sifat itu, lebih lembut, lebih penyabar, penyayang, dan selalu tersenyum meski Zay melakukan semua hal yang menjengkelkan.
Satu demi satu Gavriel mengulumm jari-jari Zay, membuat Zay menggigit bibirnya, tangan satunya pun terulur maju dan mencengkram bahu lebar nan kokoh milik Gavriel.
Zay pikir, ia berubah dan memiliki fikiran erotiss yang kotor karena Carlos telah mengotorinya membuatnya menjadi wanita yang selalu ingin di sentuh.
"Apakah karena aku pernah mengalami peleecehan itu, aku jadi seperti ini? Apa aku sama dengan pelacuur?" Tanya Zay tiba-tiba.
Sontak Gavriel terkejut dengan kalimat dan ucapan Zay.
Gavriel pun berdiri dan melepaskan pakaiannya.
Zay menelan ludahnya ketika di hadapannya seorang pria yang bahkan jauh dari kata akrab sewaktu ia masih remaja hingga dewasa kini telanjangg di hadapannya.
"Jika aku seperti ini apa aku seperti pelacuur juga? Atau gigoloo?" Tanya Gavriel.
Zay memalingkan wajahnya karena malu, namun berkali-kali Zay menelan ludahnya, jantung nya berdegup semakin keras dan dadanya seolah ingin meledak.
Gavriel pria yang terlihat sangat kuat, dan Zay melihat ukuran yang terlihat menyembul dari balik ****** ***** milik Gavriel. Zay mencoba menerka sepertinya itu sangat besar dan memiliki ukuran di luar normal.
Wajah Zay menjadi merah padam.
"Kau mau aku menghapus jejak yang sudah di buat pria itu? Aku akan menggantinya dengan kenangan yang lebih manis." Kata Gavriel menarik dagu Zay dengan lembut.
Zay ragu.
"Jika kau keberatan, aku tak akan memaksamu." Kata Gavriel dan mengambil handuk lalu memutupi tubuh Zay.
Zay masih diam dan Gavriel pun juga mengambil handuk kimono untuk menutupi tubuhnya, kemudian Gavriel mengambil lagi kemeja miliknya untuk Zay pakai.
"Aku akan menghubungi Alexa untuk mengantarkann baju untukmu." Kata Gavriel sembari memakaikan baju pada Zay.
"Tidak! Besok saja. Sementara aku pakai ini, tidak jadi masalah." Kata Zay.
"Kau yakin?" Tanya Gavriel menggendong Zay.
Zay merangkulkan kedua tangannya di leher kokoh Gavriel.
"Aku yakin."
Gavriel pun membawa Zay ke kamar dan ia membaringkan tubuh Zay di atas ranjang, namun ketika Gavriel hendak pergi, Zay tak melepaskan kedua tangannya yang menggantung di tengkuk leher Gavriel.
__ADS_1
Tentu saja itu membuat Gavriel terkejut.
"Akuu... Ingin tahu apakah tadi kau menciumku? Saat aku masih di alam bawah sadar? Aku hanya merasa ada seseorang yang menciumku, aku ingat itu bukan ciuman Carlos, karena rasanya berbeda." Kata Zay.
"Jika aku bilang ya apakah kau akan marah?" Tanya Gavriel.
Zay memggelengkan kepalanya pelan.
"Jika aku ingin mencoba nya lagi, apakah kau akan memberikannya?" Tanya Zay.
"Mencoba ciumanku?"
Zay memgangguk pelan.
"Kenapa?" Tanya Gavriel.
"Karena, kurasa aku bisa menghapus ingatanku tentang ciuman pria itu dengan mengganti ingatan ciuman darimu, karena rasanya berbeda." Kata Zay malu dan menggigit bibir bawahnya, ia melihat ke arah lain.
Gavriel kemudian secara perlahan menunduk lalu mencium bibir Zay, pelan dan lembut, dengan menyesapp dan menghisapnya selembut mungkin, memasukkan lidahnya dan memainkannya di sana dengan sangat pelan.
Sebuah ciuman yang dalam dengan irama lembut yang justru membuat rasanya semakin canduu.
Nafas Zay semakin memburu, Gavriel juga tak berhenti begitu saja, pria itu pun juga menikmatinya, sedikit demi sedikit tangan Gavriel maju dan membelai leher jenjang milik Zay.
"Bolehkah?" Tanya Gavriel memegang kancing kemeja Zay.
Dahi dan bibir mereka masih saling bersentuhan, nafas panas mereka pun bertabrakan dan saling bercampur. Zay akhirnya mengangguk.
"Jika ini berlanjut, aku anggap sekarang kau adalah kekasihku Zay. Kupastikan kau tidak akan pernah bisa lari dariku." Bisik Gavriel di telinga Zay dan mengulumnya perlahan.
"Ngghh....!" Zay menahan suara dan menggigit bibirnya, sembari mengeratkan rangkulannya pada leher Gavriel.
Zay menelan ludahnya, sejujurnya belum ada rasa cinta di hati Zay pada Gavriel, namun sikap Gavriel yang ngemong dan dewasa membuat Zay akhirnya bisa luluh pada Gavriel. Setidaknya Zay memiliki rasa suka pada Gavriel karena sikapnya yang baik dan lembut.
Perlahan Gavriel membuka kancing kemeja milik Zay dan menurunkannya. Bahu kecil yang putih dan bening membuat Gavriel semakin terasanggsang.
Gavriel pun langsung mencium dan menghisap bahu kecil milik Zay.
"Hhmnnnhhh... "
Gavriel kemudian turun lagi di mana dua payudaraa yang kenyal dan sintal serta sangat penuh itu menarik perhatiannya.
Dengan kedua tangan kekarnya, Gavriel meremassnya pelan, selembut mungkin, tanpa ada rasa ingin memaksa atau pun rakus, Gavriel benar-benar menahan diri meski kepalanya sudah panas dan ingin meledak.
"Hhmmm...." Zay merasakan remasaan yang lembut membuatnya semakin panas.
"Panggil namaku Zay..." Pinta Gavriel.
"Gavriell..." Kata Zay ketika Gavriel mulai mengulum kedua payudaraa Zay.
__ADS_1
"Terus panggil namaku... " Pinta Gavriel.
"Gavriell... Hmmm.... Ohhh...." Zay meremas rambut dan kepala Gavriel dengan cengkraman yang kuat.
Kemudian Gavriel mulai turun di perut Zay, mendadak Zay terkejut dan tubuhnya kaku, seolah bayangkan kelam mengingatkannya pada situasi itu.
"Okey... Ini aku... Tenang.... Zay... " Kata Gavriel kemudian naik kembali dan melihat pada Zay yang ketakutan.
Kedua mata Zay bergetar, wajahnya pucat.
"Lihat aku Zay..." Kata Gavriel.
Kemudian Gavriel mencium bibir Zay dengan lembut, mengecupnya pelan dan sangat pelan.
"Ingatlah Zay, aku yang menyentuhmu... Panggil namaku..." Perintah Gavriel.
Kemudian tangan Gavriel meluncur kebawah, mata Gavriel masih menatap lembut Zay, bibir Gavriel pun mencium dan mengulum bibir Zay dengan pelan dan lembut.
Tangan Gavriel yang sudah meluncur pun membelai bagian sensitif Zay dengan lembut.
"Ngghh... Tungguu... Aku takutt..." Kata Zay.
"Tidak apa-apa, ini aku dan panggil namaku..." Kata Gavriel menenangkan.
"Gavriel... Hmm... Ngghhh..."
"Gavrieeellll... Mmmhhh...."
Zay memanggil nama Gavriel dengan gemetar. Zay masih begitu ketakutan, jika bayangan dan sosok Carlos tiba-tiba ada di ingatannya ketika menyentuh dirinya.
"Its okey Zay... Itu adalah tanganku..." Kata Gavriel mengulum telinga Zay.
Sedangkan tangan Gavriel aktif di bawah sana masih membelai dan mulai sedikit demi sediki masuk lalu menekan bagian paling sensitif milik Zay.
"Gaaavrieell.... !!" Zay menggigit bibir bawahnya merasakan sentakan dahsyat yang lembut karena sentuhan Gavriel.
"Ouuhh.... Gav.... Gav....!!!"
Ketika tangan Gavriel mulai memutar lebih cepat, Zay mulai gelisah.
"Panggil namaku terus Zay... Hingga kau mengingat bahwa hanya sentuhan inilah yang membuatmu merasa puas, hanya kenangan manis inilah yang akan terus teringat dalam memori mu, bukan rasa nikmat yang takut, bukan rasa benci dan rasa kotor di balut dengan kenikmatan, dan hanya namaku yang akan selalu kau ucapkan ketika kau merasakan kenikmatan ini." Kata Gavriel mencium bibir Zay.
Perlahan Gavriel mulai memasukkan satu jarinya, dan ia mulai turun menciumi tubuh Zay.
"Gavrieelll....!"
Panggil Zay berulang kali, seolah ia ingin mengusir kenangan buruk dan nama yang tak ingin ia ingat bahkan tak ingin ia sebutkan.
Bersambung~
__ADS_1