
"Pembohong!" Kata Suuny.
Tiba-tiba Sunny menggigit lengan Ben dengan gigitan yang kuat.
"Shh..." Ben melepaskan pelukannya.
Sunny kemudian berlari mencari sesuatu, ia melemparkan semua yang ada. Sikap Sunny kalap dan penuh amarah.
Ben melepaskan dasinya dan membuangnya, kemudian ia juga menggulung lengannya dan membuka kancing bajunya yang atas.
Dengan cepat Ben memeluk Sunny, ketika Sunny hendak melemparkan lampu tidur, dan langsung membanting Sunny dengan gerakan cepat namun juga mengontrol nya sepelan mungkin ke atas tempat tidur, dengan melindungi kepala Sunny menggunakan telapak tangan Ben yang besar.
"Hentikan Daisy. Berhentilah." Ben memeluk Sunny dan membenamkan kepalanya di samping kepala Sunny.
"Kau adalah pria jahat, kau pembohong!"
"Aku benar-benar terpaksa melakukan itu semua demi keselamatanmu, tapi setelah kau memilih meninggalkanku dengan menjatuhkan dirimu ke laut dari atas tebing, kau telah menghukumku dengan sangat lama Daisy. Aku tersiksa. Aku hampir gila dan aku tidak bisa hidup. Aku hampir mati. Kau menyiksa ku Daisy."
"Kau pasti sedang merayuku dengan tertawa di dalam hatimu." Bantah Sunny dengan kesal dan geram.
"Aku merindukanmu Daisy, sangat merindukanmu, aku gila. Aku mohon berhentilah menghukumku, aku sudah menahannya selama 2 tahun ini. Selama 2 tahun ini juga aku tidak pernah tidur, aku teringat kalimat-kalimat ku padamu yang membuatmu memilih menjatuhkan dirimu, seandainya aku lebih berani. Aku sudah mendaoatkan hukuman dari mu Daisy, selama 2 tahun ini. Aku benar-benar sangat merindukanmu."
Sedikit demi sedikit Sunny mulai tenang, ia melihat kamar yang berantakan, dan melihat banyak botol obat berserakan. Kepala Ben yang terbenam di samping kepalanya pun membuat Sunny merasakan hawa panas di kepala Ben yang seolah berdenyut.
Lalu tubuh Ben yang berada di atasn Sunny, membuat Sunny merasakan degup jantung Ben yang cepat dan keras. Tubuh Ben gemetar, dan yang paling Sunny rasakan adalah, sepertinya Ben menangis.
"Maafkan aku... Aku benar-benar tidak bisa kehilangan dirimu, tapi ternyata dengan kalimatku sendiri aku telah mendorongmu untuk meninggalkanku."
Sunny menelan ludahnya, ia tak percaya Ben menangis. Pria monster. Pria iblis yang tak berperasaan. Pria berhati dingin yang kejam. Pria yang tanpa belas kasih bisa membunuh siapapun, kini putus asa dan menangis memohon pada Sunny. Tentu saja itu membuat Sunny pun menangis.
"Aku merindukanmu Daisy."
"Aku kesepian Daisy."
"Aku hampir mati tanpamu Daisy."
"Jika kau masih bersikeras, maka aku tidak akan pernah melepaskan Mena."
Sunny membulatkan matanya, dan kembali sadar apakah Ben telah mengetahui semuanya.
YA. Sesaat Sunny memang di butakan oleh balas dendam hingga Sunny lupa kekuatan Ben yang sebenarnya, bahkan dinding pun dapat memberikan informasi pada Ben.
"Aku akan memaafkan Mena jika kau mau kembali." Kata Ben meminta dengan putus asa.
Tenaga Sunny mulai melemas, kedua tangannya kemudian berada di punggung besar Ben.
__ADS_1
"Benarkah kau akan melepaskan dan memaafkan Mena?"
Ben mengangkat kepalanya dan melihat wajah Sunny.
"Aku pria yang selalu menepati janjiku."
"Tapi... Kenapa kau membunuh ayahku." Kata Sunny.
Ben menundukkan kepalanya, dahi mereka saling bersentuhan.
"Aku akan menjelaskannya nanti, jika semuanya sudah pasti, untuk sekarang kau hanya perlu percaya padaku. Aku mohon." Pinta Ben.
Baru kali ini Sunny melihat wajah sedih Ben, baru kali ini Sunny benar-benar melihat Ben yang putus asa, dan baru kali ini Sunny melihat Ben menangis.
Sunny berkali-kali berfikir, apakah benar Ben telah melewati masa sulit? Apakah obat-obatan yang berserakan itu adalah obat yang di konsumsi oleh Ben.
Semua fakta yang berbanding terbalik dengan yang yang Sunny kira selama ini membuatnya sakit kepala.
"Jadi apa kau meminum semua obat itu?" Tanya Sunny.
Sunny melihat obat yang berserakan keluar dari botolnya, dan beberapa botol obat yang terlempar, lalu masih ada beberapa botol obat di atas meja.
"Semua obat-obatan itu payah. Tidak berefek apapun."
Sunny menatap dengan wajah terkejut.
"Kau sudah memaafkanku?" Tanya Ben.
"Tapi... Aku tidak bisa begitu saja memaafkanmu, setelah semua yang telah ku lalui dengan perjuangan yang keras. Selama 2 tahun ini perasaan balas dendamku padamu sudah mendarah daging. Tidak mungkin begitu saja aku bisa berpindah perasaan." Kata Sunny.
"Aku bisa membantumu meredakan semuanya." Kata Ben.
Wajah Sunny penuh tanya.
"Yang jelas aku tidak akan memanggilmu Sunny, aku tidak akan lakukan itu, nama Sunny sangat jelek, kau lebih cocok menggunakan nama Daisy." Kata Ben.
Ben kemudian mencium bibir Daisy dengan lembut sebelum Daisy menjawabnya.
Ciuman yang lembut, ciuman kerinduan Ben pada Daisy selama 2 tahun ini, ciuman kesepian selama 2 tahun ini, dan perlahan ciuman pelan yang lembut menjadi ciuman yang panas dan dalam.
Lidah Ben masuk dan berjelajah, mulut Ben menyesap mulut mungil Daisy, sehingga menimbulkan suara-suara indah yang semakin menggugah jiwa yang haus.
Ciuman Ben semakin panas dan ganas, ciuman Ben semakin membuat dada mereka berdegup dan panas.
Nafas Daisy mulai hangat dan dadanya terengah, suara Daisy mukai keluar dan merasakan lembutnya ciuman Ben yang mesra dan fulgar.
__ADS_1
Kemudian Ben berhenti dan mencium kening Daisy.
"Aku mencintaimu Daisy." Kata Ben menatap mata Daisy.
Daisy menerima pernyataan cinta Ben. Daisy akhirnya menerima ungkapan perasan Ben yang selama ini tidak pernah ia dengar.
Ben kemudian mengulanginya lagi.
"Aku mencintaimu Daisy." Kata Ben lagi.
"Aku mencintaimu Daisy." Kali ini Ben mengucapkannya lebih lamban.
Wajah Daisy berubah menjadi terkejut, ia teringat kembali ketika menjatuhkan dirinya ke laut.
Wajah Ben saat itu, kalimat yang tak ia dengar saat itu, dan hanya gerakan bibir Ben yang terlihat.
"Aku mencintaimu Daisy." Kata Ben lagi dengan kalimat lamban.
Daisy seketika mengingat itu, dan ternyata gerakan bibir Ben adalah mengatakan perasaannya yang sebenarnya.
Dengan cepat Daisy mengalungkan kedua tangannya ke leher besar Ben dan mendekap tubuh Ben.
Kali ini Ben tersenyum dan memeluk balik Daisy.
Ben kemudian mencium leher Daisy dan telinga Daisy, menyesap telinga Daisy dengan lembut, sangat lembut, dan memutari telinga Daisy dengan lidah Ben.
"Aku merindukanmu sayang."
"Aku bisa mati tanpamu sayang."
"Aku sangat mencintaimu sayang."
Berulang kali Ben membisikkan kalimat-kalimat romantis yang mesra di telinga Daisy sembari mengecup telinga Daisy dan menjilat lembut telinga Daisy.
Seolah-olah Ben ingin melampiaskan kalimat nya yang selama 2 tahun ini tidak pernah bisa ia katakan pada Daisy.
Selama 2 tahun ini Ben hanya bisa mengatakannya sendiri di dalam ruangannya yang gelap, bahkan hanya ada angin dan dirinya.
Ben tersika tidak dapat bisa mengatakan bahwa ia sangat mencintai Daisy.
Dan kini seolah Ben melampiaskan semuanya, setiap menit Ben mengatakan pada Daisy bahwa ia mencintai Daisy.
Perlahan Ben membuka kancing kemejanya dan membuangnya, kemudian dengan gerakan lembut dan pelan Ben juga membuka kancing baju Daisy sembari menciumi leher Daisy.
bersambung
__ADS_1