
"Bantu aku membedah perutku, dan ambil pelurunya, nanti aku yang akan menjahitnya sendiri." Kata Ben menenggak alkoholnya lagi.
Wanita kasir itu tegang, takut dan was-was itu pasti, bagaimana lagi, yang akan ia hadapi adalah tentang nyawa seseorang yang ada di ambang kematian.
Sedangkan, wanita kasir tersebut bukanlah seorang dokter, ia hanyalah wanita biasa yang bekerja di balik meja komputer kasir, meski sesekali ia membantu di klinik tapi kemampuannya tidak sejauh itu.
"Pergilah jika kau takut." Kata Ben lemah, dan mengayunkan botol whiskeynya.
"Akan ku lakukan."
"Benarkah? Aku tidak mau kau pingsan di pertengahan."
"Tidak, aku yakin aku bisa, berikan instruksinya." Kata Wanita kasir tersebut dan duduk di samping Ben dengan mengambil sarung tangan latex.
"Pertama-tama bersihkan dulu tanganmu menggunakan desinfektan, atau jika perlu kau cuci tangan dulu." Kata Ben.
"Akan ku lakukan." Wanita itu berdiri dan pergi dari kamar Ben.
Setelah beberapa menit, wanita itu kembali dengan tangan bersih dan menutup pintu Ben dengan tubuhnya.
Setelah bersih, Wanita itu mengolesi tangannya dengan Desinfektan, kemudian memakai sarung tangannya.
"Ambil belati itu." Kata Ben.
"Kenapa memakai belati? Di sini ada pisau bedah."
"Pakai saja itu, untuk membuka perutku, aku akan lebih menikmatinya daripada memakai pisau bedah." Kata Ben.
Ben kemudian menaruh gumpalan kain kembali ke dalam mulutnya, dan menuangkan alkoholnya pada perutnya yang berlubang karena peluru.
Wanita itu segera memasang alat infus lebih dulu, dengan instruksi yang Ben berikan, sesekali Ben membantu memasang alat infusnya sendiri ke tangannya, ia mengambil jarum kecil dan mendorongnya seperti hanya sedang bermain di otot tangannya.
"Kau sangat terampil." Kata Wanita itu.
"Aku terlatih dalam segala hal, apalagi saat keadaan terdesak." Kata Ben serius.
Jarum kecil itu pun langsung menancap ke dalam ototnya, dan wanita kasir membantu memasang infus dengan bantuan instruksi Ben.
Setelah urusan infus selesai, dan kantong darah selesai, semuanya di taruh dan gantung di tempat gantungan baju. Sembarang saja yang penting lebih tinggi dari tubuh Ben.
"Iris memanjang, dengarkan aku, saat tanganku naik, kau harus berhenti." Kata Ben.
Wanita itu mengangguk, tangannya gemetar memegang belati.
"Jangan gemetar, jika tanganmu bergerak kau akan memotong tempat yang salah." Kata Ben.
Wanita kasir itu menarik nafasnya panjang, dan memejamkan mata sembari membuang nafas pelan.
__ADS_1
Perlahan, dengan membuka mata dan berusaha tenang, hingga jantungnya mulai tak berlarian ia mulai menusukkan belatinya, membuka luka, dan melebarkannya agar ia dapat melihat dimana posisi peluru yang bersarang di perut Ben.
Ben mulai menahan kesakitannya yang luar biasa, tak hanya itu, ia menggigit keras kain yang ada di mulutnya, keringat mulai mengucur begitu deras dan nafasnya mulai naik turun dengan sangat cepat.
Jantungnya tiba-tiba berdetak dengan cepat pula seperti akan meledak di dadanya.
Teriakan-teriakan Ben serta erangan kesakitan, otot-otot kepala dan tubuhnya terlihat ketika wanita itu mulai mengiris dan mengobrak abrik kulit luar Ben, wajah Ben pun menjadi merah padam dan keringat mengucur di setiap pelipis wajahnya.
Detik demi detik, menit demi menit, berlangsung, dan semakin lama wajahnya semakin merah menahan kesakitannya.
Tubuh berototnya bergetar dan menggigil, kain yang tadi kering mulai basah terkena air liurnya sendiri.
Darah semakin banyak, wanita kasir itu gemetaran.
Ben mengangkat tangannya, pertanda wanita itu harus berhenti, lalu Ben membuka kain yang ada di mulutnya.
"Siapa namamu..." Tanya Ben dengan suara lemah, dan terengah.
"Gia." Kata wanita kasir itu.
"Gia... Ambil penjepitnya jika kau sudah menemukan pelurunya, apa kau sudah melihatnya?"
Gia mengangguk.
"Sekarang lakukan." Kata Ben dan menyumpal mulut nya lagi dengan kain gumpalan.
Gia kemudian mengambil penjepit dan menjepit peluru yang bersarang, ternyata peluru itu tak terlalu dalam karena berada di sisi perut luar Ben.
Mata Ben juga mulai sayu.
"Klangg!!" Suara peluru itu jatuh di tempat loyang steinless.
Ben kemudian mengambil Hecting, dan akan menjahitnya dengan tangan gemetar, tusukan demi tusukan terlalu menyakitkan, dan Gia tak bisa hanya diam saja.
Gia kemudian mengambil alih untuk menjahit, ia pun mendengar instruksi Ben bagaimana caranya menjahit pada luka robekan.
Untungnya peluru itu tak mengenai organ dalam, dan masih berada di perut bagian luar, artinya tak sampai pada lapisan dalam.
Meski begitu, semua proses operasi benar-benar terasa begitu lama, apalagi setiap detiknya Ben merasakan kesakitan.
"Maaf Tuan Ben, seharusnya saya memberikan anda obat bius." Kata Gia.
"Sia-sia... Tidak akan mempan padaku." Kata Ben kelelahan.
Proses penjahitan pun selesai, Gia menaruh alatnya di loyang stainless lagi.
Tangan Gia penuh dengan darah begitu pula ranjang dan tubuh Ben.
__ADS_1
"Untung lah kau berhasil." Kata Ben membuang kain gumpalan yang ada di mulut Ben.
Botol demi botol whieskey telah habis, karena sesekali ia berhenti untuk minum dan membuka gumpalan kain di mulutnya. Botol-botol desinfektan dan perban yang penuh darah tercecer di lantai.
Jam demi jam Ben tersiksa. Wajahnya merah padam, keringat dingin bercucuran, tangannya gemetar, tubuhnya bergetar, otot-ototnya menegang.
Setiap tusukan dan sayatan yang membuka luka membuat Ben menggigit kain yang ada di mulutnya, erangan, serta suara Ben seperti menggeram bak harimau yang marah mengisi ruangan tersebut.
Akhirnya jahitan lukanya telah selesai, Gia pun membalutnya dengan perban memutari perut kekar Ben, balutan yang rapi, tangannya sangat terampil meski bergetar hebat.
Ben membaringkan tubuhnya dengan erangan panjang.
Pria itu merasa lemas, ia memejamkan matanya, kembali memutar ingatan demi ingatan di setiap kejadian yang terjadi.
Terlihat setitik air di sudut matanya, lehernya tercekat menandakan ia sedang menahan kesedihan, kesedihannya adalah ia tak bisa menepati janjinya pada istrinya, bahwa ia tak akan pernah terluka.
Namun, saat ini Ben sedikit tenang karena peluru sudah keluar, dan setidaknya lukanya sudah di jahit.
Ben hanha berfikir untuk sementara waktu, biarlah seperti ini dulu, meski jahitannya sangat jelek dan berantakan namun itu lumayan membantunya, agar tak terus kehilangan darah.
Sesampainya di mansion, Ben akan memerintahkan Gavriel untuk mengambil alih, dan memperbaikinya. Setidaknya untuk sementara Ben aman dari kematian.
"Gia..." Panggil Ben.
"Ya... " Gia menjawab saat sedang membenarkan infus dan kantong darah.
"Kau punya ponsel?" Tanya Ben.
"Tidak."
"Lalu telefon umum?"
"Tidak ada telefon di sini, jika harus menggunakannya kita harus pergi ke kota, butuh waktu 1 jam pergi ke sana menggunakan sepeda."
"Di sini tidak ada motor?"
"Ada sepeda saja di sini sudah untung, dan di kota jika ada motor juga sangat beruntung."
"Astaga... Apa kalian sedang hidup di jaman megalitikum, benar-benar parah, aku penasaran siapa pemilik pulau ini." Kata Ben lemah.
"Jika kau harus menghubungi seseorang aku akan pergi ke kota untukmu ada telepon umum di sana, tapi antriannya cukup lama bisa berjam-jam, apakah kau tahu nomornya? Lagi pula aku juga harus menjual jam tangan milikmu."
"Astaga.... Aku tidak yakin ada yang akan mampu membeli jam milikku." Kata Ben tertawa lemah.
Gia menelan ludahnya, ia tahu sosok pria di hadapannya ini pasti bukanlah orang jahat. Gia hanya ingin menyelamatkan pria tampan yang baik ini.
Namun, dalam sekejab saja, Gia sudah memastikan, bahwa ia tenggelam dalam perasaannya sendiri yang begitu cepat. Gia jatuh cinta pada Ben.
__ADS_1
"Berikan nomornya aku akan membantumu menghubunginya."
Bersambung