
Di mansion milik Zac, Gaby masih berusaha melepaskan belenggu yang menjeratnya. Namun, Zac masih menikmati permainan panasnya yang di berikan pada Gaby.
Tak hanya itu, kali ini Zac sudah melepaskan handuk yang ia lilitkan pada pinggangnya, Gaby tak sengaja melihat benda besar yang sudah berdiri dengan sempurna. Benda yang berukirkan urat-urat menonjol dan kuat, serta kulit yang begitu bersih.
Ukuran itu besar, yang ia tahu, bahwa itu bukanlah ukuran yang normal.
Ingatan Gaby kembali pada rasa sakit yang sangat perih dan membuatnya terngiang sampai sekarang. Ketika pertama kali Zac mencoba memasukkan benda itu padanya.
"Tidaak... Aku tidak mau..." Kata Gaby.
Gaby melihat Zac turun dari ranjang entah mau kemana. Saat itulah Gaby langsung duduk, dengan tangannya yang masih terikat.
Gaby segera membuka ikatannya dengan menggesek-gesekkan kedua tangannya agar ikatannya mengendur, setelah mengendur Gaby membuang ikatan itu, lalu Gaby meraih selimut untuk menutupi tubuhnya, segera Gaby berlari ke arah pintu.
Namun, ketika Gaby ingin membuka pintu, pintu itu ternyata terkunci.
"JEGLEKK!!! JEGLEKK JEGLEKK!!!"
Gaby tak bisa membukanya.
Saat itulah ia panik, karena Zac sudah keluar dari ruangan, ia membawa dasi yang panjang dan berjalan ke arah Gaby.
Gaby menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Aku mohon jangan..." Pinta Gaby.
"Aku harus melakukannya, karena aku ingin menandaimu, bahwa kau adalah milikku." Kata Zac dan langsung menggendong Gaby dengan satu tangannya ke atas bahunya, sedang tangan lainnya membawa dasi serta beberapa renteng kond*m dan menaruhnya di atas meja dekat ranjang.
Gaby melihat ke arah Zac yang sudah telanjangg dengan bentuk tubuh penuh luka.
"Jangan lakukann.... Aku mohon." Pinta Gaby menangis.
"Aku harus lakukan Gaby. Kau harus menjadi milikku, dengan atau tanpa persetujuanmu." Kata Zac dengan suara tenang dengan mengikat kedua pergelangan tangan Gaby menggunakan dasinya.
Kemudian Zac kembali mencium payudaraa Gaby, Gaby pun menggigit bibirnya, untuk menahan suaranya. Tak hanya sampai di situ Zac juga mengulangi setiap kecupannya pada Gaby, hingga menimbulkan banyak bekas cupangg di tubuh Gaby.
Zac turun dan menciumi setiap jengkal kaki Gaby, mengulum setiap kulit Gaby dan naik kembali di bagian area sensitif Gaby.
"Tidaakk... Nggghh..."
Zac memasukkan jarinya perlahan, Gaby mendadak mendelik dan membusungkan tubuhnya naik.
"Ooohh.... !!!" Teriak Gaby.
Zac kemudian menarik dan memasukkan kembali dengan pelan lalu merubah gerakannya menjadi lebih cepat.
Hingga membuat bagian Sensitif milik Gaby basah dan sangat basah.
"Tidaaakk.... Eeemhhhh.... Oohhh...."
"Kau menyukainya." Kata Zac dengan suara rendah.
__ADS_1
"Eeemhhhh... Ooohhh.... " Tubuh Gaby menggelinjang ketika gerakan Zac semakin cepat dan cepat.
Entah sudah berapa kali Gaby merasakan Orgasmee, sebelum berhubungan, dan kini tubuhnya terasa lemas dan tak bisa menahan lagi, bahwa ia ingin lagi.
Zac kemudian mengarahkan benda miliknya pada Gaby ketika Gaby sedang merasakan di puncak kenikmatan.
Dorongan pelan yang menyakitkan menyadarkannya, kenikmatan yang memusingkan berubah menjadi rasa sakit yang seperti di robek dan perih, begitu sangat tak tertahankan.
Gaby berusaha memberontak, ia memukul Zac dengan tangannya yang terikat, bahkan memukul kepala Zac.
Zac masih berusaha mendorongnya masuk di bagian sensitif milik Gaby yang sangat sempit.
"EEGH... Ini sangat sempit." Kata Zac.
"Jangan teruskan, sakiitt... Ini sangat sakiiittt..." Gaby menangis, berteriak dan memukul Zac.
Namun, Zac terus maju dan mendorongnya.
Zac merasakan remasan yang kuat dan ketat ketika setengah miliknya sudah masuk.
"Sial." Kata Zac menenangkan dirinya.
Nafas Zac memburu, keringatnya sudah bercucuran karena menahan ledakan yang bahkan ingin ia semburkan.
Sedangkan Gaby meringis dan menangis, tubuhnya panas dan penuh keringat karena kesakitan, semua tubuhnya gemetaran karena kesakitan, selangkannganya sudah terasa sakit, dan bagian sensitifnya seakan sedang di robek.
"Kau jahaatt, aku membencimuuu....!!!" Geram Gaby dengan menangis tersedu.
"Yaa... Tapi kau harus menjadi milikku." Kata Zac masih menenangkan diri dengan bertumpu pada salah satu lengannya.
Zac kemudian kembali mendorong benda miliknya, dan kemudian mendorong dengan satu kali hentakan yang kuat, membuat Gaby mendelik karena rasa sakit yang teramat. Tubuhnya naik dan menegang.
"Aaaaaagghhhhh....!!!" Gaby mencengkram dan mencekar bahu Zac dengan masih tangan terikat.
Sedangkan Zac membenamkam kepalanya di samping kepala Gaby dengan mencium lembut leher mulus Gaby.
"Ini sempit dan ketat sekali, aku bisa klimakss hanya dengan memasukkannya." Kata Zac dalam hati.
Nafas Zac dan Gaby beradu, nafas Zac yang merasakan kenikmatan hingga pada ubun-ubunnya dan segera ingin bergerak cepat, sedangkan nafas Gaby yang memburu karena merasakan seperti area sensitifnya di robek dengan paksa.
Zac kemudian mencium bibir Gaby namun Gaby menolak.
Zac lalu mencengkram rahang Gaby dan menciumnya dengan paksa.
Ciuman yang dalam dan lidah Zac masuk. Namun, tanpa di sadari, Gaby justru menggigit bibir Zac dengan sangat keras.
Zac melepaskan ciumannya, bibirnya terlihat merah dan berdarah, lalu Zac mengusapnya dengan jempolnya.
Pelan namun pasti Zac mulai bergerak, pinggul Zac yang kuat bergerak maju dan mundur, dengan sangat pelan.
Gaby menahan nafas karena masih sangat sakit, Zac menghapus air mata Gaby dengan menjilatinya.
__ADS_1
Setelah beberapa menit, Zac masih terus bersabar, agar Gaby tak merasakan sakit yang lebih, ia bergerak sangat pelan, sembari sibuk membangkitkan gairah Gaby.
Zac menciumi dengan lembut leher dan payudaraa Gaby, meremass dan menghisapnya, dengan menaikkan kedua tangan Gaby ke atas kepala yang masih terikat.
Tak hanya sampai di situ, Zac terus memancing gairah Gaby dengan menekan bagian kacang di sensitif Gaby dengan jarinya.
Saat Zac menekan kacang tersebut, Gaby menjerit merasakan sengatan kenikmatan luar biasa.
"OOOHHHHH....!!!" Gaby pun langsung menggigit bibirnya karena ia sadar jeritannya yang kuat.
Sedangkan gerakan pinggul Zac yang maju mundur pun sudah mulai lancar karena cairan gairah milik Gaby yang mulai banyak.
Zac kemudian memompa dengan kecepatan sedang.
Gaby mulai merasakan sengatan-sengatan kecil, setruman-setruman yang hilang timbul bergantian, antara sakit, perih dan rasa nikmat.
"Stopp... Berhenti... Ini Aneh... Mmmhhh...!!!"
Zac tak peduli dengan racauan Gaby, ia lalu mencium Gaby dan menyesap bibir Gaby dengan masih memompa kecepatan sedang.
Saat itu bulir-bulir keringat Gaby mulai turun dan membasahi tubuhnya, gairah Gaby mulai bangkit, ia merasakan sensasi lain selain sakit dan perih.
Sensasi yang tak bisa Gaby jelaskan.
Zac terus memompa pinggulnya, kini dengan kecepatan yang bertambah.
"Aaahhh.... Mhhhh.... Ohhhh...."
Gaby mulai meracau, mendesahh tak karuan, merasakan aliran kenikmatan mulai menyelubungi seluruh tubuhnya.
Zac masih mempercepat dan menambah kecepatan, hingga Gaby akhirnya merasakan pikirannya kosong, yang ada hanyalah ia mau lebih, ia tak ingin ini berhenti.
Gaby mulai gila, dia merintihh dan mendesiis, mendesahh dan meracau.
Zac mempercepat pinggulnya, dan ia mulai melepaskan ikatan di tangan Gaby.
Tubuh Gaby yang di pompa dengan cepat membuatnya bergerak naik turun dengan terus mendesahh. Payudaraanya yang kecang besar dan sintal ikut bergerak naik dan turun.
"Zaacc... Mmhhh... Berhentiii... "
"Kau yakin?" Kata Zac dengan keringat yang banyak dan nafas yang memburu.
"EMMMHHHH....!!!!"
"Kau yakin aku harus berhenti?" Tanya Zac lagi.
Kemudian Zac mengulum bagian payudaraa Gaby dengan kuat.
"OOHHHHH.... EEMMMHHHHH!!!" Gaby sontak dan reflek memeluk tubuh Zac, lalu ia mengeratkan kakinya di pinggang kuat Zac.
"Kau mau aku memasukkannya lebih dalam lagi?" Tanya Zac.
__ADS_1
"EMMHHH....!!! Aku tidak tahu... Ini membuatku gila... Hhhhmmm.... " Gaby tak bisa lagi menjernihkan pikirannya, kini tubuhnya hanya ingin terus di puaskan dan di berikan kenikmatan.
Bersambung~