
Dokter Gavriel mulai mengobati kaki Sunny, dan membalutnya dengan perban elastis.
"Nona Sunny, sebaiknya pekerjaan yang memerlukan banyak tenaga di bagian kaki, anda kurangi lebih dulu, jauh lebih baik anda istirahat."
"Tapi..."
"Jangan di paksakan atau akan semakin parah, saya sudah meresepkan obat serta salepnya silahkan untuk menebusnya di apotek."
"Terima kasih banyak Dokter." Kata Sunny.
"Terimakasih dokter." Kata Derreck pada Gavriel sembari menerima resep obatnya.
"Tapi Nona Sunny, bolehkah saya bertanya sesuatu?"
"Ya... Silahkan."
"Darimana anda mendapatkan bekas luka di tumit anda." Tanya Dokter Gavriel.
Seketika mata Sunny terbelalak, tubuhnya mendadak kaku dan gemetar.
"Maaf Dokter Gavriel, saya harus membawa Sunny, ada jadwal yang lain, dan orang tua saya juga ingin bertemu dengannya." Kata Derreck menyela dan memapah Sunny.
Ben hanya diam dan masih menyandarkan punggungnya di dinding, ia bediri santai sembari memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana.
"Baiklah." Kata Gavriel.
Derreck memapah Sunny pergi, dan Gavriel melihat ke arah Ben.
"Ada apa." Kata Ben santai.
"Sebenarnya luka di mata kaki Sunny, sama persis seperti yang di miliki Daisy." Kata Gavriel.
Ben diam sejenak.
"Ya, aku tahu." Kata Ben.
"Lalu kenapa kau diam saja."
"Traver sedang memastikannya, aku tidak mau gegabah tanpa bukti apapun." Kata Ben.
"Kau memang sudah dewasa." Kata Gavriel.
"Apa kau pikir aku selalu melangkah tanpa rencana." Kata Ben pergi.
"Ya, biasanya kau langsung akan mengamuk dan memerintahlan penahanan atau penculikan, ya semacamnya." Kata Gavriel.
Gavriel mengikuti Ben dari belakang.
"Aku tidak suka menculik, jika itu musuh akan lebih baik langsung membunuhnya, bagiku menculik hanya merepotkan, karena kebiasaan Traver suka menyiksa aku memberikannya pengecualian, aku mengijinkannya menculik musuh, semata-mata hanya agar dia bisa bermain dan tidak merasa bosan." Kata Ben sembari berjalan.
"Ya... Tapi dulu kau menahan Daisy, di dalam sangkar emas." Kata Gavriel.
Ben diam.
"Mena sepertinya menolak untuk berbicara, dan membuat memori kepala nya menjadi syock." Lanjut Gavriel membuka obrolan.
Ben berhenti berjalan dan berfikir sejenak.
__ADS_1
"Jika kau senggang, ajak Sunny ke rumah sakit untuk melihat Mena." Kata Ben dan kemudian melanjutkan melangkah.
Gavriel manggut-manggut tanda mengerti.
"Tapi, aku benar-benar salut pada Traver, dia sangat menyayangi Mena." Kata Gavriel.
"Karena hanya Mena satu-satunya keluarga yang dia miliki." Kata Ben.
"Saat aku sedang akan memeriksa Mena dan akan masuk kamarnya, aku tidak sengaja mendengar Traver mengatakan jika dia tidak akan menikah, dia mengatakan bahwa hidupnya hanya akan di dedikasikan untuk Tuannya dan Mena, satu hal lagi yang ku dengar, dia menceritakan sesuatu tentang Casey, katanya Casey adalah orang yang pernah ia cintai, namun ketika Traver mendapatkan misi dari mu, dia tahu bahwa lawannya adalah Casey, jika aku tidak salah dengar saat itu adalah memperebutkan Semenanjung. Aku baru kali ini melihat Traver dapat menceritakan kehidupannya, dan ternyata obrolan Traver membuat Mena tersadar dari Koma selama 1tahun lebih."
Ben berhenti lagi, saat itu mereka sudah sampai di dekat mobil yang akan Ben naiki.
"Itu sudah sangat lama, namun seperti nya dendam yang dimiliki Derreck padaku karena masalah perebutan wilayah masih tidak dapat di lupakan oleh Derreck. Ku pikir dia sudah tidak mempersoalkannya lagi, dia tahu kekuatanku, dan mungkin alasan itulah yang membuatnya tidak membalas dendam, mungkin Sunny adalah jalannya untuk membalas dendam padaku, dan untuk Traver yang ternyata saat itu jatuh cinta pada Casey, aku tidak pernah mengetahui itu, dan baru saja mendengarnya." Jawab Ben lagi-lagi tanpa menengok ke belakang.
Ben kemudian masuk ke dalam mobilnya.
Tak berapa lama Traver datang dan menundukkan kepalanya pada Gavriel.
Kemudian Traver masuk ke dalam mobil menyusul Ben, Gavriel juga pergi menggunakan mobilnya sendiri.
Di lain tempat, tepatnya apartmen milik Sunny, Derreck membaringkan tubuh Sunny di atas ranjang.
"Kau benar-benar tidak mau menginap di mansion?" Tanya Derreck.
"Tenang saja aku aman di sini, banyak pengawal di bawah."
"Tapi aku tetap khawatir padamu, apalagi kaki mu sedang sakit."
"Tidak apa-apa... Aku baik-baik saja, aku akan menemui dokter lagi besok pagi." Kata Sunny tersenyum.
Sunny mengangguk dan tersenyum, kemudian dengan berat hati Derreck meninggalkan kamar Sunny dan pergi meninggalkan Apartmen Sunny.
******
Pagi hari yang sunyi, gerimis halus dengan langit berwarna abu-abu begitu awet dan perkiraan cuaca di pastikan akan seperti itu sampai sore.
Sunny sudah bersiap, ia memakai pakaian elegan, kakinya masih terbungkus perban elastis, setelah meminum obat resep dari dokter Gavriel, kakinya memang tidak merasa nyeri namun perutnya terasa sakit, ia memutuskan untuk menemui dokter Gavriel.
Sunny masuk ke dalam mobil dan sopir langsung mengantar Sunny, saat itu Sunny telah meminta ijin pada Derreck dan akan langsung kembali karena Derreck juga akan berkunjung ke apartmen setelah pekerjaannya selesai.
Setelah menempuh sekitar 25 menit perjalanan, akhirnya Sunny sampai di rumah sakit milik Gavriel, sang sopir langsung membukakan pintu dan memberikan payung pada Sunny.
Tanpa sengaja saat itu kebetulan Gavriel sedang berada di luar bersama salah satu bawahannya, Gavriel sedang membicarakan pembangunan apa yang harus di perbarui untuk rumah sakitnya.
"Nona Sunny..." Sapa Gavriel.
"Maaf apa saya terlalu pagi untuk datang?" Tanya Sunny.
"Tidak... Saya hanya terkejut, saat anda melakukan reservasi untuk pemeriksaan, apakah ada keluhan." Tanya Gavriel.
"Sebenarnya obatnya sangat efektif, tapi perut saya terasa sangat sakit."
"Ahh... Oke, mari kita lanjutkan di ruangan saya." Kata Gavriel.
Kemudian Gavriel mengambil kursi roda yang ada di loby rumah sakit.
"Duduklah." Kata Gavriel sembari tersenyum.
__ADS_1
"Saya bisa jalan sendiri Dokter Gavriel."
"Tidak, saya menolak anda jalan sendiri, itu akan memaksa pergelangan kaki anda, dan saya memaksa anda agar anda mau duduk di kursi roda." Gavriel memapah Sunny sembari tersenyum.
Tanpa bisa menolak lagi, Sunny tersenyum dengan perilaku Gavriel yang begitu baik dan hangat, kemudian Sunny duduk di kursi roda dan Gavriel mendorongnya.
Setelah sampai di ruangan pemeriksaan, Gavriel membantu Sunny untuk merebahkan dirinya di atas ranjang periksa, dan mulai memeriksa bagian perut Sunny.
"Sepertinya anda memiliki penyakit lambung." Kata Gavriel.
"Apakah parah?" Tanya Sunny.
"Ini karena obatnya mengiritasi, saya tidak tahu anda memiliki penyakit lambung, saya akan mengganti obatnya." Kata Gavriel.
Sunny tersenyum.
Kemudian Gavriel membantu Sunny untuk kembali duduk di kursi roda.
"Saya akan menuliskan resep baru."
"Terimakasih dokter."
"Tapi... Nona Sunny, boleh kah saya meminta waktu anda sebentar? Anggap saja saya sedang meminta bantuan anda."
"Tentu saja Dokter Gavriel." Kata Sunny.
Kemudian Gavriel membawa Sunny dengan mendorong kursi roda Sunny ke suatu tempat, dan itu adalah ruangan perawatan seseorang.
"Saya ingin anda menemuinya, mungkin itu bisa membantunya kembali mengingat sesuatu, dan mau berbicara." Kata Gavriel.
Kini mereka ada di depan pintu kamar perawatan.
"Si... Siapa... ?" Tanya Sunny.
"Seorang teman, saya minta bisa kah anda mengobrol dengannya, tentang apa saja. Saya akan meninggalkan anda bersama orang itu." Kata Gavriel.
Kemudian Gavriel membuka pintu dan mendorong kursi roda milik Sunny.
Namun ketika Sunny masuk, ia melihat seseorang yang hanya terbaring menggunakan alat-alat bantuan hidup, mata itu terbuka dan hanya berbaring.
Mata Sunny mendadak berair, ia menangis, hatinya sakit, jantungnya nyeri, tubuhnya bergetar hebat, membuatnya lemas dan tidak percaya.
"Kenapa anda menangis Nona Sunny?" Tanya Gavriel.
"Sa... Saya... Merasa kasihan... Siapa dia? Dan kenapa dia seperti itu?" Tanya Sunny.
"Namanya adalah Mena. Ceritanya sangat panjang tapi, dia telah melewati masa kritis, dia koma selama 1tahun lebih, namun setelah sadar dari koma, dia tidak mau berbicara dan kepalanya mengalami syock, sepertinya dia tidak mau mengingat sesuatu dan menyebabkan distorsi otak."
"A... Apa....!" Sunny kembali menangis dan ingatannya di hadapkan pada masa lalu dengan melihat kondisi Mena yang sekarat.
"Mena... Maafkan aku..." Kata Sunny dalam hati, Sunny menangis dan tak tahu apa yang harus ia perbuat.
Kini Sunny berada di ujung jalan kebimbangan, apakah ia harus berhenti untuk membalas dendam, ataukah dia akan menutup rasa kemanusiaannya dan menjadi kan hatinya mati tanpa mau melihat pada kondisi Mena lalu melanjutkan aksi balas dendamnya untuk Ben.
Sunny benar-benar bimbang.
bersambung
__ADS_1