
Traver serta Ben sudah sampai di mansion.
Saat itu Ben langsung menuju kamar, dan Daisy berada di sana dengan berbaring sembari menonton film kartun dengan beberapa cemilan di sampingnya.
Sedikit demi sedikit, Daisy memasukkan cemilan ke mulutnya dan tertawa saat melihat kartun kesukaannya.
"Sayang... Aku pulang." Kata Ben.
"Aah kau sudah pulang, aku tidak mendengar kau masuk." Kata Daisy membereskan semua cemilannya.
Sofa penuh dengan camilan dan kue-kue kering serta juga kripik-kripik.
"Apa tidak apa-apa jika cemilanmu keripik dan kue?" Tanya Ben sembari mengendurkan dasi.
"Tidak apa-apa, aku juga makan banyak buah dan sayuran, tenang saja." Kata Ben.
Kemudian Ben duduk dan mengelus perut Daisy.
"Apa sudah tidak mual?" Tanya Ben.
Daisy menggelengkan kepala.
Ben mengangguk tanda mengerti.
"Apa kau sudah makan?" Tanya Daisy.
"Aku sudah memakan nasi goreng buatanmu, tapi sekarang aku lapar lagi." Kata Ben.
"Bagaimana jika kita makan di luar?" Tanya Daisy.
"Ide bagus, kita akan makan malam di luar. Tapi sebelum itu, aku ingin memberitahumu ini." Ben menyerahkan tablet pada Daisy.
Dengan penuh tanda tanya Daisy pun melihatnya.
"Memangnya ada apa?"
"Aku sedang mencari ide pernikahan yang cocok untuk kita, cobalah kau lihaat, beberapa perusahaan sudah mengirimkan proposal mereka." Kata Ben.
Daisy kemudian melihat satu demi satu konsep pernikahan.
Dengan cermat, Daisy menggeser setiap foto ide konsep tersebut.
"Yang ini bagus, sepertinya aku ingin di luar ruangan, apalagi sekarang musim panas. Kalau mengadakannya di bawah pepohonan yang sedikit rindang pasti sejuk." Kata Daisy.
"Kau suka ini?"
"Ya, tapi terlalu mewah, aku ingin yang lebih sederhana." Kata Daisy.
"Tapi aku suka yang mewah, aku tidak ingin memberikan sesuatu yang sembarangan untukmu." Kata Ben.
"Sejujurnya aku tidak ada kerabat yang musti ku undang. Tapi.... Ahhh... Aku jadi ingat..." Kata Daisy menepuk dahinya.
Ben menaikkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Aku ingin bertanya, apa kau tahu dimana Samantha? Ibu kandung Ansella, saat aku menyusulmu di Club, aku bertemu dengannya."
"Apa dia menganggumu!" Kata Ben, suaranya naik beberapa oktaf.
"Tidak... Tidak... Sepertinya sekarang dia terlihat lebih baik, bahkan dia meminta maaf padaku, lalu dia juga tidak ingin ikut melayanimu, katanya dia ketakutan padamu, tapi dia bertanya padaku, apakah kau menyembunyikan ibunya, Dia selalu mencari ibu nya, tapi tak pernah menemukannya." Kata Daisy.
Ben hanya diam untuk sesaat, hingga Daisy memberikan kode dengan matanya lagi.
"Dia sudah mati." Kata Ben.
"Apa!!! Kau bercanda kan....!!!" Kata Daisy syock dengan mata terbelalak.
"Memang seharusnya dia pantas mati, tapi Traver memasukkannya ke penjara."
"Kenapa dia di penjara?"
"Dia bekerja di sana." Kata Ben malas.
"Aku masih tidak mengerti."
"Intinya adalah awalnya Samantha ingin memerasku, dia meminta sejumlah uang yang cukup banyak bagi dirinya sendiri, walaupun uang itu kecil bagiku, tapi aku benar-benar sedang memiliki suasana hati yang buruk saat itu, apalagi jika mengingat dia selalu menyiksamu. Aku menyuruh Traver mengurusnya, ku kira Traver akan membunuhnya, ternyata ia memasukkannya ke dalam penjara untuk bekerja, jika Ansella ingin menemuinya biar ku beritahu pada Traver untuk mengirimkan alamatnya." Kata Ben.
Daisy mengangguk pelan.
"Sudah kan." Kata Ben.
"Ya... Sudah, yang penting Samantha baik-baik saja."
"Kenapa kau menjadi sangat manja."
"Entahlah, suasana hatiku cepat berubah-ubah, kadang begini dan kadang begitu. Bagaimana jika kita makan seafood menggunakan kapal pesiar dan berlabuh ke samudra." Tanya Ben.
"Apa itu ide bagus?" Kata Daisy.
"Kurasa itu bisa membuatmu senang."
"Aku mabuk laut Ben. Lebih tepatnya aku mabuk perjalanan." Kata Daisy.
"Jika kau mabuk, aku berjanji akan langsung memanggil helikopter dan kita akan pulang. Sepertinya aku belum benar-benar melamarmu, ayo kita makan malam di kapal pesiar dengan romantis dan mewah serta malam ini hanya akan menjadi milik kita berdua, aku suka saat mrmanjakanmu, semua akan sangat indah dan romantis." Kata Ben membujuk Daisy.
"Baik lah sesuai maumu..." Kata Daisy.
Kemudian Ben mencium Daisy dan memeluk Daisy.
"Aku akan menjadikan mu wanita paling bahagia di seluruh dunia. Pesta pernikahan kita akan menjadi pesta paling meriah di seluruh dunia."
"Terserah kau saja." Kata Daisy lelah dan tertawa.
Ben mencium i leher Daisy, membuat Daisy merasa geli dan semakin tertawa saat Ben menggelitikki tubuh Daisy.
Setelah itu, Ben menghubungi Traver untuk mempersiapkan semuanya, bahwa Ben menginginkan makan malam di luar.
******
__ADS_1
Malam itu, udara tidak terlalu dingin karena sudah memasuki musim panas, dan perahu sudah mulai berlayar hingga di tengah samudra.
Kapal pesiar yang mewah dan hanya di naiki oleh Ben, Daisy, Traver, Mena serta para koki dan pelayan, dan makan malam pun akhirnya siap, semua sudah di tata rapi oleh para pelayan dan juga koki dengan sangat mewah, alunan musik lembut juga sudah di pitar, beberapa botol sampanye dan wine mahal pun di siapkan.
Daisy menikmati suasana malam itu dengan sangat bahagia dan sumringah, dia bahkan berlari ke sana dan ke mari, karena merasa takjub banyak tempat yang bagus di kapal pesiar tersebut, belum lagi ketika Daisy pergi keluar di Dek dengan memandangi hamparan lautan serta bintang-bintang yang membentuk sebuah galaxy indah.
"Astaga keren sekali. Aku suka!!!" Berulang kali kalinat itulah yang di ucapkan Daisy.
Namun, pada realitanya, rencana pun hanya rencana, Daisy yang tidak tahan perjalanan laut, bahkan saat naik pesawat pun awal nya ia merasa ingin mabuk, justru malam itu Daisy sangat senang dan menikmatinya seolah ia tak memiliki penyakit mabuk perjalanan.
Di sisi lain, Ben bolak balik keluar masuk kamar mandi, dan membuat Traver khawatir.
"Tuan... Saya akan menghubungi Dokter Gavriel." Kata Traver.
Ben kemudian keluar dari kamar mandi dengan wajah sangat pucat, tidak lagi bisa di hitung berapa kali Ben sudah muntah.
"Seumur hidupku tidak pernah yang namanya mabuk perjalanan! Ini benar-benar gila." Kata Ben geram.
Melihat Ben kesal, Traver mengulurkan sapu tangan lagi.
Namun, belum di terima oleh Ben, dengan tergesa-gesa Ben masuk lagi ke dalam kamar mandi.
"HWWWEEEKKKK!!!!" Kali ini suara muntahan Ben semakin terdengar menyakitkan.
Tak berapa lama Mena datang.
"Makan malamnya sudah siap." Kata Mena.
"Seperti nya Tuan Ben bahkan tak selera melihat makanan." Kata Traver khawatir.
"HWEEEEKKKK!!!"
Mena mendengar suara Ben yang muntah, suara itu sangat keras.
"Ada apa dengan Tuan Ben? Dia sakit?"
"Entahlah, tapi Tuan Ben tak pernah mabuk perjalanan bahkan dia mampu tanpa tidur melanjutkan perjalanan laut, udara dan darat, di iringi dengan pembantaian saat berperang, lalu sekarang Tuan Ben seperti orang yang menyerah dan putus asa dengan rasa mual dan muntahnya." Kata Ben.
Mena tak tahu harus mengatakan apa, namun akhirnya dia membuka suara.
"Tuan Ben, apakah saya perlu memberitahu Nona Daisy, mungkin saja Nona akan membatalkan makan malam ini melihat kondisi anda."
"Sial.... Jangan katakan... Dia sedang sangat bahagia." Kata Ben menyeka mulutnya.
Ben kini merasa kepalanya pun ikut pusing.
"Apa semua sudah siap?" Tanya Ben yang keluar dari kamar mandi.
Traver memberikan sapu tangan, dan kali ini Ben menerimanya.
Ben pun memutuskan untuk terus melanjutkan makan malam itu dan menuju ke tempar dimana Daisy berada.
Bersambung
__ADS_1