Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 187


__ADS_3

Malam itu juga, Gaby berangkat ke Pulau Tanpa Nama di antar oleh Traver, namun Traver meminta maaf karena ia tak bisa menemani Gaby sampai ke Pulau Tanpa Nama.


Traver meminta maaf hanya bisa mengantar sampai di bandara pribadi karena Traver harus menemui Ben ia pun kemudian menugaskan beberapa pengawal untuk menemani Gaby dalam penerbangannya hingga sampai di Pulau Tanpa Nama.


Butuh waktu beberapa jam untuk sampai di pulau Tanpa Nama, dan sesampainya di sana Gaby sudah di jemput oleh beberapa pengawal beserta mobil yang berderet di depan bandara.


Sekretaris pirbadi Douglas Scoot sudah menunggu, dan menundukkan kepalanya pada Gaby.


"Nona Gaby." Katanya menyambut sembari membukakan pintu mobil untuk Gaby.


"Jhonder... Jika aku punya kekuatan, kau adalah orang pertama yang ingin ku bunuh." Gaby menatap tajam pada sekretaris pribadi ayahnya.


"Saya sangat terhormat bisa mati di tangan anda Nona." Kata Jhonder menyentuh dadanya dan menundukkan kepala.


"Kau harus tahu bahwa aku sangat membencimu."


"Saya akan mengingat itu Nona."


Pandangan Gaby tajam seperti pisau dan kemudian masuk ke dalam mobil.


Jhonder pun menutup pintu mobil dan dan duduk di depan.


Mobil-mobil beriringan menuju mansion, pulau tanpa nama kini menjadi pulau yang kian pesat, semua serba ada dan pembangunan pun semakin lancar.


Douglas mengebut semua proyek dan kini banyak wisatawan yang datang berkunjung.


Pulau tanpa nama yang dulu suram, banyak bangunan yang terbengkalai dan mangkrak kini menjadi pulau yang penuh bangunan kemewahan, menjadi tempat wisata resort yang hampir setiap hari di penuhi wisatawan.


Tak berapa lama, mobil iring-iringan yang membawa Gaby pulang akhirnya sampai di sebuah mansion yang besar dengan gaya modern.


Mobil berhenti tepat di depan pintu besar, Jhonder keluar dan membuka pintu, Gaby pun keluar dengan perasaan campur aduk.


"Tuan Besar sudah menunggu anda di ruangannya bersama Nyonya." Kata Jhonder.


Gaby hanya melirik sinis pada Jhonder dan pergi dengan langkah kaki kesal.


Mansion yang besar membuat Gaby membutuhkan waktu untuk sampai ke tempat yang Jhonder maksud.

__ADS_1


Akhirnya beberapa menit Gaby telah berdiri di depan pintu besar, Jhonder mendorong dan kemudian terlihat lah kedua orang tuanya duduk di sofa menunggu kehadirannya.


Gaby pun masuk.


"Ini sudah larut malam, bisa kah aku beristirahat dulu." Pinta Gaby dengan nada ketus.


Douglas menatap tajam pada sikap dan keberanian Gaby, kemudian pria itu berdiri dan mendatangi Gaby.


Kini, Douglas berdiri tepat di hadapan Gaby.


"PLAAKKK!!!" Tamparan keras langsung mendarat di pipi Gaby.


Seketika Gia langsung berdiri karena terkejut, air matanya mengucur, dengan cepat Gia mendatangi anaknya dan memeluknya dari samping.


"Suamiku, maafkan anakmu... Dia masih belum dewasa." kata Gia membela anaknya.


" Belum dewasa? Apakah dia masih terlihat seperti bayi!! Apa yang kau lakukan selama ini, apakah kau tak mendidiknya dengan baik!" Teriak Douglas pada Gia.


"Jangan membentak ibuku!!!" Teriak Gaby.


"PLAAKKK!!!" Tamparan kembali mendarat lagi di pipi Gaby.


"Besok malam kau harus ikut, kali ini jangan gagal kan acara perjodohan ini, jika tidak kau akan tahu akibatnya!!!" Kata Douglas.


Gaby menggigit bibirnya, ia kesal dan kemudian pergi berlari keluar dari ruangan itu.


Melihat Gaby berlari dengan menangis, Gia pun menyusul anaknya.


Di dalam kamar Gaby langsung masuk dan membanting pintu kamarnya, ia menangis dan tak kuasa menahan sesak dadanya, dua kali tamparan begitu menyakitkan hatinya.


Sedari kecil, Gaby merasa bahwa hidupnya selalu di setir tanpa memiliki pilihan sendiri.


Gia datang dan mengelus kepala Gaby, ia duduk di tepi ranjang dan kemudian ingin memeluk anaknya, namun Gaby menarik diri dari pelukan Gia.


"Kau marah pada ibu?" Tanya Gia menangis.


"Tidak... Aku hanya sangat marah kenapa aku harus menjadi keluarga ini. Aku benci ayah. Ibu kumohon aku tidak mau menikah.... Aku tidak ingin ada perjodohan lagi... Aku tidak mauu... " Kata Gaby menangis dengan sesenggukan.

__ADS_1


Gia kebingungan ia pun tak dapat melakukan apapun pada suaminya, namun Gia juga tak tega pada anaknya jika anaknya harus menikahi pria yang tak di cintainya.


Gia terdiam dan tak menjawab.


"Ibu... Bukankah dulu, ibu dan ayah menikah atas dasar saling mencintai, kenapa aku harus di jodohkan, ku mohon ibu, katakan pada ayah, bahwa aku juga ingin menikahi orang yang ku cintai." Gaby memohon dengan memelas dan mengenggam kedua tangan ibunya.


"Sebenarnya, dulu... Ibu... Mengajukan diri pada ayahmu untuk menjadi istrinya." Kata Gia dengan ragu-ragu.


Gaby perlahan menarik tangannya dari menggenggam tangan ibunya, dan wajahnya berubah menjadi sebuah keterkejutan bercampur dengan perasaan yang penuh pertanyaan.


"Ba... Bagaimana ceritanya bu..." Tanya Gaby.


"Jika ibu menceritakan ini apakah kau akan membenci ibumu?" Tanya Gia.


Gaby menggelengkan kelala.


"Bagaimana pun ceritanya, kau tetaplah ibu ku, aku tetap menyayangi mu, dan hanya kau yang selalu memberikan kasih sayang serta kehangatan untukku, bagaimana bisa aku membenci ibu." Kata Gaby mengusap air matanya.


Gia menarik nafasnya pelan, kemudian ia mulai bercerita bagaimana awal cerita bisa menikah dengan Douglas.


"Dulu, ibu pernah mencintai seorang pria, dia sangat tampan, dan juga sangat mempesona, dia seperti malaikat yang turun dari langit. Saat itu dia terluka parah, namun dia dapat bertahan karena ibu merawat nya, ibu nekat melakukan operasi pengambilan peluru dengan intruksinya, saat ibu telah mengambil pilihan untuk menyatakan perasaan cinta ibu kepadanya, tapi ternyata dia sudah...." Gia tak melanjutkan ceritanya, ia menahan nafas dan air matanya mengalir.


Gaby menepuk punggung dan membelai punggung ibunya, lalu menghapus air mata ibunya.


"Ternyata dia apa?" Tanya Gaby.


"Ternyata dia sudah memiliki istri, dan istrinya menampar ibu karena ibu menyatakan bahwa ibu mencintai suaminya." Kata Gia dengan leher tercekat.


Kwmudian Gia melanjutkan ceritanya lagi.


"Ibu tidak bisa berbuat apapun, pada akhirnya dia pulang bersama istri dan keluarganya, selang beberapa bulan, ayahmu, kembali ke Pulau Tanpa Nama, awalnya tak ada yang mengenalinya, setelah ia membawa seluruh pekerja untuk membangun Pulau Tanpa Nama yang mangkrak, barulah namanya terkenal."


"Suatu siang, ibu benar-benar putus asa karena tidak dapat melupakan cinta pertama ibu, dan berniat bunuh diri, ibu berjalan lurus menuju pantai, hingga seluruh tubuh ibu terendam air laut, namun seseorang menarik tubuh ibu kembali, dia adalah ayahmu, sosok yang begitu mengerikan dengan luka codet di wajahnya, ibu saat itu ketakutan, dan berteriak, namun dia menenangkan ibu dengan mengatakan bahwa dia pemilik Pulau Tanpa Nama ini, dan akan memenuhi semua permintaan ibu. Seketika ibu terkejut, yang terlintas di pikiran dan benak ibu adalah ayahmu pria kaya raya seperti pria yang pernah ibu tolong, dan ibu akan berubah menjadi wanita cantik, agar tak di hina lagi, maka dari itu ibu meminta padanya untuk menjadikan ibu istrinya."


"Lalu... Apa yang terjadi selanjutnya?" Tanya Gaby.


"Tentu saja ayahmu tertawa, namun saat itu tawanya terhenti ketika ibu membasuh wajah ibu karena merasa malu telah mengatakan hal itu, ibu membasuh wajah berkali-kali dengan air laut, sejenak kemudian wajah ayahmu berubah entah kenapa ayahmu, dia langsung menyetujui permintaan ibu, dan kami pun menikah."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2