Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 164


__ADS_3

"Apa yang harus kita bicarakan dengan baik-baik?" Tanya Ben.


"Tentang perjanjian dan kesepakatan pisah ranjang."


"Kau tidak berbakat untuk melakukan perjanjian semacam itu." Kata Ben.


"Aku berbakat nyatanya aku bisa melakukannya selama ini." Kata Daisy.


"Itu karena aku yang dengan keras menahannya... Kau tahu aku Daisy, kau tahu bagaimana aku."


Daisy menelan ludahnya, ia tahu saat-saat itu Ben memang di sibukkan dengan pekerjaannya mendidik anak-anak, dan semua pikirannya pasti telah terforsir di sana.


Bahkan setiap kali Daisy memaki dan memarahi Ben, pria itu bahkan seolah tak memiliki tenaga lebih atau pikiran lebih untuk membalas atau meladeni Daisy.


Suatu ketika, saat Daisy benar-benar merasa sangat marah karena Zay pulang dengan tubuh penuh memar, Daisy langsung membabi buta mencari Ben.


Saat itu Ben bahkan sedang bersama rekan mafianya, sontak Daisy langsung memarahi Ben tentang keadaanya putrinya yang begitu membuatnya sedih di depan mereka semua.


Sejauh ini, Ben tak begitu mengambil hati setiap makian Daisy, karena ia tahu, Daisy adalah ibu yang penuh dengan kasih sayang pada anak-anaknya.


Ben tahu, Daisy pasti akan terluka melihat anaknya berjuang dengan keras dan selalu pulang dengan memar di tubuh mereka.


"Sepertinya kau sadar, jika aku memang membiarkanmu memaki dan memarahiku, bahkan tak hanya sekali kai menamparku, aku ingat saat itu, kau menamparku dua kali, karena aku menyuruh Zac dan Zay berdiri di tengah hujan karena mereka tidak masuk kelas beladiri, dan justru pergi bermain." Kata Ben.


Daisy diam.


"Seberapa kau memaki ku, seberapa keras kau menamparku Daisy, kau tahu aku orang seperti apa, kau juga tahu bahwa aku pun tega dan samggup membunuh wanita, tapi apa pernah aku memukulmu?" Tanya Ben.

__ADS_1


Daisy menggelengkan kepala.


"Ya, seberani nya dirimu padaku, apakah aku pernah membentakmu dan memakimu?"


Daisy menggelengkan lagi kepalanya dengan pelan.


"Jadi, kenapa kau masih tidak percaya padaku, bahwa aku mencintaimu dan menyayangi anak-anak bahkan melebihi nyawaku sendiri." Kata Ben lagi.


"Kau tidak tahu sulitnya menjadi seorang ibu Ben... Jika saja kau tahu rasanya..."


"Aku tahu betapa kau mempertaruhkan hidupmu demi anak-anak, melahirkan mereka ke dunia, tapi dengan kita hanya memberikan dan mencurahkan kasih sayang itu tak akan cukup, kau tahu betapa kejam dunia ini. Semua orang yang kita kira ada di pihak kita, mengkhianati kita. Mereka yang serakah dan rakus akan merebut semua yang anak-anak kita miliki."


"Kita sudah pernah membahasnya Ben, kita memiliki pandangan yang berbeda, kau menilai semuanya dari cara pandang mafia, cobalah untuk melihat dari cara pandang kita menjalani kehidupan biasa-biasa saja."


"Aku juga sudah mengatakan berulang kali padamu Daisy, kita tak akan pernah bisa menjalani kehidupan biasa layaknya orang lain, karena kita adalah keluarga mafia, suami mu mafia, di sekelilingmu banyak mafia yang menargetkankanmu, kau dan anak-anak sudah masuk dalam lingkaran ini, dan tak semudah itu menjalani kehidupan yang biasa, semua orang akan tetap ingin membunuh kalian." Kata Ben menjelaskan.


"Apapun alasannya, aku tetap tidak setuju, semua didikanmu terlalu keras pada anak-anak, bahkan Zac memiliki begitu banyak luka yang membekas, kau seharusnya memiliki sedikit rasa kasihan pada mereka."


Daisy menelan lagi ludahnya yang kering ketika mata Ben begitu tajam melihatnya.


Daisy tak pernah mendengar kalimat itu sebelumnya, bahwa Ben juga merasa hari-harinya berat ketika mendidik anak-anaknya.


"Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika Zac dan Zay tumbuh tanpa bisa melakukan apapun. Kau memang selalu memanjakan mereka, aku juga ingin, tapi, apakah itu semua akan berguna, apakah dia akan menjadi kuat seperti sekarang. Daisy, aku bukan dewa yang bisa hidup 1000 tahun atau aku bukan dewa yang kebal dan kekal, suatu hari nanti, maut pasti akan tiba, dan ketika itu tiba, aku ingin membuat anak-anakku setidaknya bisa menjagamu, atau menjaga diri mereka sendiri."


Ben membenamkan kepalanya di samping leher Daisy. Seolah Ben sudah lelah berdebat.


"Jika aku bilang aku kesepian, dan merindukanmu, apakah kau akan percaya?" Tanya Ben mencium leher Daisy.

__ADS_1


"Entahlah rentetan masalah yang kita hadapi sepanjang tahun membuatku gila, semua itu seolah mengikis semua rasa cintaku padamu.." Kata Daisy.


"Kenapa kau sangat kejam padaku Daisy..."


"Kau juga kejam pada anak-anakku..."


"Bagaimana lagi aku menjelaskannya agar kau mengerti maksud dan tujuanku. Satu-satunya hal yang bisa membuatku bertahan karena kau masih mau berada di mansion ini, aku menginginkanmu setiap saat tapi aku tak bisa menyentuhmu, kau membenci diriku jika aku mencari pelacurrr untuk transaksi bisnis sebatas or*l, tapi aku juga butuh Daisy. Kau benar-benar membuatku gila Daisy, aku sangat merindukanmu. Ku mohon jangan menolakku lagi, hentikan pisah ranjang ini, sudah puluhan tahun, apakah kau tidak mencintaiku lagi?"


"Aku memcintaimu, tapi kau yang selalu begini, aku meminta kau untuk tak memisahkanku dengan Zac dan Zay."


Ben melenguhkan nafasnya panjang.


"Apa yang bisa membuatmu memaafkan aku...?"


"Aku ingin kau berbicara pada Zac dan Zay, minta maaf pada mereka, bersikaplah lebih hangat dan lembut pada mereka."


Ben mendesahkan nafasnya pelan lalu mengangguk.


"Aku akan mengumpulkan mereka ketika Zay sudah tiba di negara K."


"Satu lagi, bukan aku yang seharusnya kau bujuk, tapi kau harus membujuk anak-anak, kau harus membuat mereka percaya lagi padamu, kau harus membuat Zac dan Zay, memandangmu dengan hormat tanpa rasa dendam dan kebencian apa kau bisa?"


Ben mengangguk pelan.


" Aku akan melakukan itu, aku akan jelaskan pada mereka apa tujuanku selama ini."


Ben, tahu tidak akan selamanya juga ia memendam dan menyimpan semuanya sendirian, cepat atau lambat Ben juga harus menjelaskan pada anak-anak maksud dan tujuannya melakukan pendidikan yang keras pada mereka terlepas mereka akan mengerti atau tidak, Ben akan tetap menjelaskannya, untuk keputusan mereka akan menganggap itu baik atau buruk Ben akan memikirkannya lagi belakangan.

__ADS_1


Kali ini Ben hanya ingin memperbaiki hubungannya dengan istri dan anak-anaknya.


Bersambung


__ADS_2