
"PAATSS..!!" Zac kemudian menghidupkan lampu apartmen nya.
Seluruh apartmen pun menjadi terang benderang.
Gaby melihat wajah tampan yang muda dan masih sangat segar serta begitu seksi dengan memakai kemeja berwarna putih dan menggulung sedikit lengan kemejanya.
Zac duduk di sofa dan memandangi Gaby yang masih berdiri satu kaki dengan memegang kedua telinganya.
"Maju." Perintah Zac.
Gaby tidak mengerti.
"Maju mendekat." Perintah Zac lagi.
"Baik Tuan Muda." Gaby kemudian menurunkan kakinya dan hendak berjalan.
"Siapa yang menyuruhmu menurunkan kaki mu." Kata Zac dingin.
"Ya Tuan Muda... Maafkan saya. Saya salah." Kata Gaby menaikkan kakinya lagi.
Gaby pun meloncat perlahan dengan menggunakan satu kaki, dan masih memegangi kedua telinganya.
Zac menahan geli dalam hatinya, namun wajahnya tetap dingin, sepertinya ia mulai menikmati untuk mempermainkan wanita di hadapannya itu.
2 langkah, 3 langkah, aman, namun ketika langkah yang ke 5 dan sudah dekat di hadapan Zac, kaki Gaby goyah, terasa kesemutan dan sangat sakit, tubuh Gaby pun tiba-tiba ambruk.
"AAAAAA.....!!!" Teriak Gaby tak bisa menahan tubuhnya lagi.
Gaby dan Zac saling menatap terkejut, mata mereka saling membulat penuh.
"BRUUGGGG!!!"
Gaby jatuh di atas tubuh Zac yang duduk di sofa,nia menubruk Zac.
Zac menelan ludahnya ketika Gaby ada di atas tubuhnya. Saat itu Gaby masih memakai gaun hitamnya yang cukup terbuka dan memperlihatkan sedikit belahan dada dan pahanya.
Jantung Zac berdesir, sentakan wangi yang lembut dan aroma yang manis masuk ke dalam kedua hidungnya, ia tak menyangka Gaby memiliki aroma yang begitu wangi dan manis.
"Maa.. Maafkan saya..." Kata Gaby.
"Berdirilah, kau pikir aku kasur!" Kata Zac mendorong Gaby.
"BRUUGGG!!!" Lagi-lagi Gaby jatuh, namun kali ini ia mendarat di atas lantai, panttatnya sangat sakit dan nyeri.
"Kamar mu ada di sebelah kanan, dan ingat jangan pernah memakai kamar mandi di lantai atas, tanpa sepengetahuanku!" Kata Zac.
"Satu lagi, hukumanmu masih belum berakhir, aku akan memikirkannya lagi besok, sekarang pergi lah ke kamarmu." Perintah Zac dan pergi naik ke atas.
Saat Zac masuk ke dalam kamarnya, jantungnya berdebar tak normal.
__ADS_1
"Ada apa denganku?" Kata Zac menekan dadanya.
Tidak di sadari oleh Zac saat ia menunduk, benda miliknya yang ada di dalam celana tiba-tiba saja sudah mengeras.
"Hey... Hey... Ada apa ini aku bahkan tak sadar ini mengeras, sejak kapan kau seperti itu, dia hanya sekretaris pribadi yang bodoh." Kemudian benda miliknya pun mengempes perlahan.
"Nah itu baru bagus, seharusnya kau mengeras pada wanita yang ku sukai, ini membuatku pusing!" Kata Zac merebahkan dirinya di atas ranjang.
"Apakah karena obat yang paman Gavriel suntikkan padaku? Jadi "dia" bereaksi, padahal sebanyak wanita telanjangg di hadapannku "dia" tak mau berdiri. Hmmm..." Kata Zac mendesahh dan meringkukkan tubuhnya.
Di kamar lain, Gaby menarik kopernya dan langsung merebahkan dirinya di atas ranjang kecil, ia menghela nafasnya berulang kali karena sangat lelah.
"Apakah begini rasanya, di permainkan, di oermalukan, di marahi, di bentak, di perlakukan tak adil, apakah begini rasanya ketika para orang-orang itu bekerja, aku baru kali ini merasakan bekerja, apakah semua perlakukan ini benar?" Tanya Gaby pada dirinya sendiri.
"Seandainya ibu tidak memaksaku melakukan pernikahan atau perjodohan gila aku pasti sudah sangat nyaman tidur di atas ranjang ku yang besar dan di temani cemilan malam yang enak." Kata Gaby memeluk guling dan menggigitnya.
"Haaahh... Baiklah, aku sudah memutuskan keluar dari rumah dan mengurus hidup ku sendiri, jadi mari lakukan, tapi sebelum itu aku harus membuang semua kartu kredit ku, mereka orang tua yang jahat, bagaimana mereka bisa tega memblokir semua kartu kredit ku....!!!!" Gaby menangis.
"Huuuuuuu.... Huuuu... Huuuu... Aku akan tunjukkan pada mereka bahwa aku juga bisa hidup tanpa belas kasihan dan uang dari mereka!!!" Gaby mengatakannya dengan mantap dan berapi-api.
"Tapi... Pantatku sangat sakittt..... Uuuuuuu."
******
Di mansion, Ben membawa loyang berisi makanan, ia melihat Daisy duduk di balkon dengan memegang album foto keluarga.
Ben menaruh loyang berisi makanan di atas meja lalu duduk di dekat istrinya.
"Aku bertemu pelayan di depan, dan mengambil itu darinya." Kata Ben.
Daisy kemudian mengambil beberapa camilan yang ada di loyang dan memakannya.
"Kenapa Zac tidak pulang?" Tanya Daisy.
"Dia ada di apartmennya." Kata Ben.
"Apa kalian bertengkar lagi."
"Setiap kami bersama apakah ada pembicaraan yang baik." Ben mengambil air putih dan meminumnya.
"Tapi, dia anakmu Ben, cobalah untuk melunakkan hatimu, lebih lembut dan hangat."
"Aku sedang berusaha."
"Aku akan menunjukkan foto album ini pada Zac. Siapa tahu dia akan memiliki cara pandang yang berbeda padamu."
Ben melihat foto-foti dirinya dengan anak-anaknya saat masih kecil, begitu banyak foto Ben yang bertingkah lucu dan kocak hanya agar Zac dan Zay tertawa.
Ben melenguhkan nafasnya.
__ADS_1
"Tidak perlu Daisy." Ben memegang tangan Daisy.
"Kenapa?"
"Sebenarnya aku juga mengharapkan anak-anakku cukup dengan membenciku."
Daisy memgernyitkan kedua alisnya.
"Aku hanya ingin melindungi mereka, entahlah ini hanya perasaanku saja atau sekedar ke khawatiran, aku merasa ada kematian yang kian mendekat." Kata Ben.
"Beenn!!!" Mata Daisy melotot, ia marah, Ben mengatakan hal semacam itu.
"Jika Zac dan Zay membenciku, setidaknya mereka tidak akan tenggelam dalam kesedihan ketika aku meninggalkan mereka selamanya." Kata Ben.
Daisy dengan cepat duduk di atas pangkuan Ben dan mendekap Ben.
"Kau tidak boleh sekalipun mengatakan hal seperti itu, aku tidak akan mengijinkanmu menginggalkan kami Ben, aku akan marah padamu jika kau mengatakan itu lagi." Kata Daisy.
"Akhir-akhir ini, mafia terlalu tenang, dan itu justru pertanda keadaan krisis, karena ketika keadaan terlalu tenang, itu berarti beberapa mafia sedang menyusun kekuatan dan mengumpulkan kekuatan, aku sebagai ketua organisai mafia, sedang menyelidiki ada apa sebenarnya, karena akhir-akhir ini banyak kasus mencurigakan ." Kata Ben.
"Apakah itu buruk?"
"Rudolf mengatakan, ini berhubungan dengan hilangnya Carlos." Kata Ben.
"Jadi, Carlos belum mati?!" Tanya Daisy terkejut.
Ben menggelengkan kepala.
"Selama 25 tahun ini, aku tak pernah tahu, aku seperti hidup di dalam goa, kenapa kau tudak menceritakan ini padaku?"
"Bagaimana caranya? Kau bahkan tak mau di sapa, setiap kita berpapasan kau memilih menghindar, aku hanya menahan diri agar kau tidak pergi dari mansion ini lagi, walaupun kau tidak pernah berbicara padaku, dan marah padaku, setidaknya kau tetap ada di mansion ini, aku sudah bersyukur."
"Lalu, kenapa kau tidak pergi ke Rumah Madam itu, biasanya ketika kau meminta di puaskan kau pergi ke sana, kenapa kau lakukan sendiri dan memanggil namaku."
"Aku sudah katakan padamu, bahwa aku sudah banyak berubah, aku tak ingin kehilangan kau lagi, apalagi hubungan kita sedang tidak baik, bagaimana jika kau mendengar aku ke rumah bordil. Aku yakin kau akan membakar mansion ini, bagiku tak masalah, yang menjadi masalah adalah jika kau melarikan diri lagi dan pergi dari ku, menghilang seperti dulu." Kata Ben.
"Jadi selama 25 tahun ini, kau... Melakukan ituu... Sendiri? Menggunakan tanganmu dan memanggil namaku... Kau memuaskan dirimu sendiri?" Tanya Daisy malu.
Ben tersenyum kecil.
"Apa kau menyesal dan kasihan padaku?" Tanya Ben membelai punggung istrinya.
"Itu karena kau sendiri yang mendidik anak-anak sampai seperti itu... " Daisy cemberut.
"Iya maafkan aku... Jadi, jika sekarang aku meminta lebih sering apakah boleh?" Tanya Ben.
"Meminta apa?"
"Kenapa kau jadi pura-pura lugu seperti gadis perawan yang tak mengerti..." Tangan Ben merayap masuk ke dalam gaun tidur Daisy.
__ADS_1
Bersambung