Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 106


__ADS_3

Ben sampai di perusahaan. Saat itu juga Ben memerintahkan para staff nya untuk mengumumkan bahwa Ben mencari perusahaan WO terbaik di Negara K.


Semua staff hampir terkejut, apa kah Ben akan menjalin kerja sama dengan pelayanan pernikahan.


Namun, Ben masih menutup kabar jika dia akan melangsungkan pernikahan.


Di saat semua staff sibuk dengan perintah Ben, mereka juga penasaran dengan tingkah Ben saat itu.


Ben selalu menutup hidungnya dengan menggunakan sapu tangan.


Semua pegawainya berfikir Ben sedang terkena Flu.


Namun sontak mereka pun terkejut, karena ada tingkah Ben yang aneh.


"Parfum kalian terlalu kuat dan norak, hidung ku sampai sakit, membuat mual saja, mulai sekrang di larang memakai segala bentuk wewangian jika ketahuan masih memakai parfum, akan di pecat saat itu juga!!!" Kata Ben dan pergi dari ruangan para staff.


Semua staff bergidik ngeri bagaimana hidup tanpa menggunakan parfum, dan wewangian sedangkan mereka di tuntut bekerja ekstra, belum lagi jika sedang lembur, akan jadi apa bau tubuh mereka.


Setelah marah-marah di depan staff, Ben kembali ke kantornya dan duduk di kursi, Traver hanya berdiri di depan meja Ben.


Saat itu Ben mengeluarkan nasi goreng buatan Daisy yang sudah di masukkan ke dalam kotak bekal mewah.


"Tuan ini belum jam makan siang apa anda sudah lapar lagi?" Tanya Traver.


"Tentu saja, aku mondar-mandir, lalu berteriak ke sana dan kemari, belum lagi otakku berfikir sangat keras, tentu membuat aku kelaparan." Ben membuka kotak bekal itu.


Traver yang memperhatikan dan melihat Ben mulai memakan nasi goreng dengan lahap, membuat Traver merasa tak enak perut.


"Tuan.. Saya permisi. Ada sesuatu yang harus saya kerjain."


"Hmmm... Pergilah, kau pasti juga lapar, karena bau nasi goreng yang enak ini, sayangnya aku tidak akan berbagi denganmu. Pergi lah makan sendiri." Kata Ben.


"Yaa... Tuan..." Kata Traver canggung dia bahkan tidak memikirkan tentang berbagi makanan. Namun Ben mengira Traver menginginkan nasi gorengnya.


Traver keluar dari ruangan kantor Ben dengan wajah pucat. Dia membayangkan kembali rasa nasi goreng yang luar biasa itu, lalu membayangkan Ben melahapnya dengan begitu senang.


"Astaga... Sepertinya memang ada yang aneh dengan otak Tuan Ben." Kata Traver.


"Tuan Traver apa ada masalah? Apa anda sakit?" Tanya Clarissa berdiri dan melihat ke wajah Traver yang pucat.


Traver hanya diam.


Namun Clarissa kemudian menyentuh dahi nya dan membandingkannya dengan telapak tangan Traver.


"Tangan anda sedikit panas, apa anda demam?" Tanya Clarissa.


Saat itu juga Casey datang dan melihat Clarissa begitu dekat dengan Traver, sontak Traver langsung menepis tangan Clarissa.


"Aku tidak apa-apa. Lain kali jangan lakukan seperti itu, aku tidak nyaman." Kata Traver.


"Maaf Tuan Traver." Kata Clarissa sedih dan berbalik.


Clarissa terkejut ketika melihat Casey.


"Aah... Anda... Bukankah... Anda adalah asissten Nona Sunny?" Tanya Clarissa.

__ADS_1


Casey menundukkan kepala pelan.


"Saya ingin bertemu dengan Tuan Ben, ini perintah dari Tuan Derreck." Kata Casey.


"Tuan Ben? Sebentar saya akan menghubunginya lebih dulu." Kata Clarissa.


Namun, Traver menahan Clarissa.


"Jangan, Tuan Ben sedang istirahat, dan makan."


"Apa!!!" Sontak Clarissa terkejut.


"Astaga, apakah memang kutub utara mencair, Tuan Ben yang kuat tanpa makan berhari-hari, sekarang bahkan belum jam makan siang. Anu... Apakah akan ada kabar baik?" Kata Clariss.


Traver kemudian mendekat pada Casey, tanpa menggubris Clarissa.


"Ayo ke kantin, setelah Tuan Ben selesai, aku akan mengantarmu ke ruangannya." Kata Traver.


"Aku akan kembali nanti." Casey menolak.


"Temani aku makan sebentar, perutku tidak nyaman." Kata Traver berjalan lebih dulu.


Mau tidak mau Casey pun mengikuti Traver.


Mereka akhirnya sampai di kantin dan memesan beberapa makanan.


Traver memakan dengan lahap, sedangkan Casey hanya makan sedikit.


"Kau kelaparan?" Tanya Casey.


"Perutku tidak nyaman rasanya mual dan ingin muntah, entah karena Tuan Ben juga memiliki penyakit itu dan menularkannya padaku, atau memang karena aku mencicipi masakan Nona Daisy." Kata Traver meminum soda.


"Itulah masalahnya, Tuan Ben tidak selera makan dengan apapun yang di masak oleh para Koki, dan hendak memecat mereka, namun Nona Daisy memasakkan untuknya dan Tuan Ben sangat lahap." Kata Traver.


"Bukankah itu bagus?" Tanya Casey.


"Masalahnya..." Wajah Traver berubah menjadi gelap dan ingin muntah.


Casey mengerutkan alisnya.


"Masakan Nona Daisy sangat luar biasa, aku sampai tidak bisa menelannya, dan sampai sekarang perutku terasa sangat mual, apalagi melihat Tuan Ben makan dengan lahap, membuat ku semakin ingin...." Traver menutup mulutnya karena hendak muntah.


Casey segera berdiri dan menepuk punggung Traver dengan pelan.


"Ada tempat yang sepi?" Tanya Casey.


Traver langsung melihat ke arah Casey, dengan wajah penuh tanya.


"Kau memikirkan apa? aku ingin mengobatimu, agar kau sembuh." Kata Casey.


Traver mengangguk pelan.


Kemudian Traver berdiri dan mengajak Casey, mereka pun tiba di jalur tangga yang sepi.


"Di sini?"

__ADS_1


"Ya, orang jarang lewat tangga, mereka malas dan memilih memakai lift."


"Kemarikan tanganmu." Kata Casey.


Kemudian Traver memberikan tangannya.


Casey mengeluarkan jarum kecil, dan menusuk ujung ibu jari Traver. Darah hitam yang kental pun keluar.


Kemudian Casey menepuk-nepuk punggung Traver.


"Apakah masih mual?" Tanya Casey.


Traver menggelengkan kepala.


"Sepertinya Tuan Ben menjadi aneh, setelah Nona Daisy hamil." Kata Traver.


"Nona Daisy hamil?!" Casey terkejut.


Traver mengangguk.


"Tuan Ben mendadak mual dan muntah, dia sensitif dengan wewangian dan sifat pemarahnya semakin parah." Kata Traver.


Casey membuang nafasnya.


"Aku sudah menghubungi dokter Gavriel, namun dia sedang ada perjalanan ke luar negeri, kakeknya memanggilnya pulang. Ku pikir Tuan Ben menularkan penyakitnya padaku, aku sepanjang hari ini juga merasa mual." Kata Traver lagi.


"Itu bukan penyakit, Tuan Ben sedang menggantikan Nona Daisy ngidam." Kata Casey.


"Apa? Apa yang kau maksud dengan ngidam?" Kata Traver.


"Kau tidak tahu apa itu Ngidam?" Tanya Casey.


Traver menggelengkan kepalanya.


"Itu seperti dorongan atau sugesti yang membuat seseorang merasakan efek dari kehamilan, orang itu akan merasa mual, muntah, dan sensitif, lalu menginginkan sesuatu makanan atau sesuatu barang dengan sangat ingin." Kata Casey.


"Kenapa Tuan Ben bisa begitu? Tuan Ben tidak hamil." Kata Traver.


"Itu bisa terjadi, jika ikatan mereka sangat kuat, apalagi jika Tuan Ben memiliki ikatan yang kuat dengan jabang bayi yang ada di perut Nona Daisy, bisa saja kelak saat bayi nya lahir, dia akan lebih dekat dengan ayahnya di banding ibunya." Kata Casey.


"Apakah ada yang seperti itu."


"Kalau kau tidak percaya perhatikan saja Tuan Ben kedepannya, apakah dia akan meminta sesuatu yang aneh, karena kebanyakan orang ngidam itu meminta sesuatu yang aneh dan di luar nalar akal manusia." Kata Casey.


Traver mengangguk.


"Lalu apa yang membuatmu ingin bertemu dengan Tuan Ben?"


"Ada pengumuman tentang perusahaan WO, dan Tuan Derreck berminat menjadi salah satu yang ingin ikut memenangkan tender nya. Perusahaan WO kami sangat bagus dan terkenal." Kata Casey.


Traver mengangguk pelan.


"Ya, aku tahu, kalian memiliki perusahaan WO yang begitu bagus dan keren." Kata Traver.


"Kenapa Tuan Ben meminta perusahaan WO, apakah akhirnya Tuan Ben memutuskan akan menikahi Nona Daisy, karena Tuan Derreck pun bertanya-tanya?" Tanya Casey.

__ADS_1


Traver mengambil nafas panjang, ia ragu apakah harus mengatakan yang sebenarnya pada Casey.


Bersambung


__ADS_2