
Hanya beberapa menit saja, Mena sudah merasa tubuhnya panas, Heiden yang juga baru pertama kalinya merasakan dorongan gairah memuncak pun mengeluarkan miliknya.
Dengan cepat Heiden mengarahkannya pada milik Mena, dan ia sudah siap untuk memberikan dorongan yang kuat.
Saat itu pakaian Mena sudah sangat berantakan, ada di atas dadanya, dan roknya ada di bagian perut, sedangkan Heiden jasnya sudah terlepas di lantai dan kemejanya sudah terbuka memperlihatkan dada nya yangbkeras dan kekar, ia pun juga hanya membuka celananya dan melemparkannya sembarang.
Satu kali dorongan dan hentakan, milik Heiden langsung masuk ke dalam, membuat Mena memekik dan mencakar punggung Heiden yang masih memakain kemeja putih.
"OOGHHH!!!"
Dalam hati dan pikiran Mena itu sangat menyakitkan, dan panas serta perih, seperti di robek secara paksa, namun setelah Heiden perlahan bergerak dan mempercepatnya, rasa sakit itu berubah menjadi sesuatu yang membuatnya gila.
Hingga akhirnya, mereka melakukannya hingga pukul 4 dini hari, dengan gerakan yang panas dan penuh gairaah mereka masih saling berpacu dalam kenikmatan, pakaian mereka telah terbuka dan di buang sembarangan hingga berserakan di atas lantai.
Dua pasang manusia itu melampiaskan hasrat mereka diam-diam tanpa siapapun ada orang yang tahu.
Mena yang baru pertama kalinya merasakan bercumbuu, justru jatuh pada pria yang salah, ia melakukannya dengan musuh yang harus ia gali informasinya, dan Heiden yang juga baru pertama kalinya merasakan kenikmatan itu juga justru melakukannya dengan musuh yang akan ia serang dan ia hancurkan.
"Sedikit lagi." Kata Heiden dengan suara berat karena tenaganya yang memompa di atas Mena dan meremass lalu menyesapp bagian dada Mena.
Mena yang kelelahan merasakan kenikmatan berulang hanya bisa merangkulkan tangannya pada leher Heiden dan merapatkan kakinya di punggul Heiden.
"OGH!!!!!" Heiden dan Mena merasakan puncaknya secara bersamaan, dan Heiden pun menyiram rahim Mena dengan sperm miliknya.
Heiden ambruk di atas Mena dan ia sadar bahwa ia sudah beberapa kali menyiramkan sperm miliknya pada Mena.
"Aku akan bertanggung jawab jika suatu hari nanti kau hamil." Kata Heiden.
Mena tersadar pada ucapan Heiden, dan memejamkan matanya. Betapa bodohnya dia, hanya karena nafssu sesaat ia melupakan hal yang sangat penting. Bahwa ia harus menggali informasi dari Heiden dan Gia lalu menangkap dan membunuh mereka.
Saat itu Heiden bangkit dan memakai pakaiannya. Mena cukup di buat menganga, bagaimana bisa pria itu tidak terlihat lelah sedikitpun.
"Aku harus bersiap, hari ini ada urusan. Kunci pintunya jika kau masih lelah, aku akan katakan pada para pelayan untuk tidak masuk ke sini." Kata Heiden.
Mena hanya diam dan memeluk selimut yang menutupinya.
Namun, tak di sangka ketika Heiden sudah berpakaian, pria itu tiba-tiba mencium kepala Mena.
Sontak Mena terkejut dan melihat ke arah Heiden yang pergi.
Pria itu memang dingin, tak pernah berekspresi apapun di wajahnya, seperti mayat hidup yang seperti tak memiliki perasaan, namun sikapnya ini pada nya, apa artinya. Mena bertanya-tanya.
Berkali-kali Mena memukul kepalanya, baru kali ini Mena terlibat adegan panas dengan musuhnya, biasanya Mena hanya akn menancapkan belati tajamnya ke perut musuh dan mengoyak isi perutnya.
Di sisi lain Heiden yang sudah berada di kamarnya, ia bersiap dan membersihkan diri lalu mengganti pakaiannya dengan setelan jas yang baru, Gia sudah siap dan mengambil beberapa serbuk racun racikannya untuk berjaga-jaga jika situasinya di luar prediksinya.
Saat itu sudah pukul 5 pagi, saatnya mereka berangkat ke Pulau Netral.
__ADS_1
Perjalanan menggunakan helikopter untuk ke Pulau Netral dan beberapa pengawal yang membawa Moran serta mata-mata Zac juga mengikuti Gia serta Heiden menggunakan helikopter.
Matahari belum nampak, dan pulau Netral masih sangat berkabut, udara pun masih sangat dingin, mereka sudah tiba di pulau Netral lebih dulu tepat di pinggiran pantai.
Suara deburan dan gulungan ombak terus bersahut-sahutan, meski suara deburan ombak itu keras tetap saja pulau terasa sepi dan mencekam.
Tak berapa lama rombongan Zac pun datang, helikopter-helikopter yang mengudara perlahan turun dan membuat pusaran angin bercampur dengan pasir.
Kemudian mereka semua turun dari helikopter, Zac membawa Gaby, serta ada Charles dan Yaron bersamanya, dengan beberapa pengawal di belakang.
Zac berjalan bersama Gaby, angin besar yang di hasilkan dari laut, dan dari baling-baling helikopter membuat rambut Zac bergaerak, dan juga mantelnya berkibar di belakang.
Kini dua keluarga yang saling bermusuhan pun sudah berhadapan. Matahari mulai naik dan memperlihatkan sinar hangatnya, sedikit demi sedikit kabut tebal pun perlahan hilang di ganti dengan sinar matahari yang cahayanya memancar memperlihatkan setiap wajah dari mereka.
Moran terlihat mengenaskan ada beberapa luka yang membuatnya tak bisa berdiri dengan baik, dan wajahnya sudah di penuhi darah.
"Astaga... Kau menyiksa kakekku, padahal aku memperlakukan anakmu dengan baik." kata Zac.
"I... Ibu..." Gaby menutup mulutnya dan tak percaya ibunya menjadi wanita yang kejam. Gaby masih berpikir, bahwa ibunya berubah karena Zac telah membunuh ayahnya, sehingga ibunya tak ada pilihan lain selain menggantikan posisi sang ayah untuk balas dendam.
Tak berapa lama satu helikopter pun datang lalu mendarat, helikopter itu berwarna hitam dengan lambang keluarga Vince.
Seorang pria pun keluar dengan menggunakan jas rapi, lalu berjalan ke sisi Gia.
Gaby yang melihatnya terkejut, ia tahu dan sangat mengenal wajah itu dengan baik.
"Aaron Vince kau datang juga." Kata Gia dengan bangga.
"Tentu saja, karena aku sendiri yang harus menjemput calon pengantinku." Kata Aaron.
"Argon..." Kata Gaby.
Zac seketika melihat pada Gaby.
"Kau mengenalnya Nona Gaby?" Tanya Charles.
"Dia... Dia teman masa kecilku, dulu ketika masih kecil dan ayah melarangku bermain di luar mansion, aku sering menyusup keluar untuk bermain dengannya, namun saat remaja dia tiba-tiba menghilang." Kata Gaby.
"Apakah dia yang anda maksud cinta monyet itu?" Tanya Charles
Zac berdehem.
"Aekhem!"
"Itu cinta monyet Tuan Zac, masa-masa masih anak-anak." Kata Yaron mencoba meredam rasa panas di hati Zac.
"Bagiku tidak, akan berbeda untuk dia. Itu bukan sekedar cinta monyet. Nyatanya dia masih menginginkan Gaby untuk menjadi pengantinnya." Kata Zac menunjuk pada Aaron dengan tatapan dingin.
__ADS_1
"Gaby..." Panggil Aaron.
"Kau... Adalah Argon... Kau benar Argon... ?" Tanya Gaby.
"Sekarang namaku adalah Aaron, Aku Aaron Vince, dan bukan Argon, Aaron Vince adalah nama asliku. Maaf aku membohongimu tentang nama asliku. Kau masih ingat kan dengan semua janji kita, bahwa aku akan datang padamu untuk melamarmu." Kata Aaron.
Zac langsung tersenyum sinis, seperti sebuah ejekan yang penuh rasa cemburu.
Aaron balik menatap dingin pada Zac.
"Ayo kita lakukan barter sekarang." Kata Gia.
Heiden bersiap membawa Moran dan mata-mata Zac, sedangkan Charles dan Yaron membawa Gaby.
"Saat bertemu di tengah, kalian harus saling melepaskan." Perintah Gia.
Ketika Charles hendak membawa pergi Gia, Zac mencegatnya.
"Jangan lupakan rencana kita, saat sampai di Pulau Tanpa Nama." Bisik Zac.
Charles hanya diam dan setelah itu melanjutkan membawa Gaby.
Barter pun di lakukan, Heiden melepaskan Moran dan mata-mata Zac, kemudian Charles membawa Gaby ke tempat Gia, Yaron membawa Moran ke sisi Zac.
Gia pun tertawa.
"Kau nampaknya tidak terkejut Zac, kenapa Charles ada di sini." Kata Gia.
"Yaa.. Aku cukup terkejut, kenapa Charles terus maju dan sekarang berdiri di sampingmu. Tapi, pengkhianatan dan penyamaran adalah hal biasa dalam mafia. Lagi pula aku harus tetap terlihat keren, jadi bukan hal besar dan harus di khawatirkan." Kata Zac.
"Seharusnya kau khawatir dan cemas Zac, bagaimana bisa kau tidak khawatir dan tidak sadar jika selama ini Charles adalah orangku, kau tahu Zac, Charles sudah menyimpan banyak informasi tentang mu dan mansion, jadi akan sangat mudah mengalahkanmu nanti di saat pertempuran ketika gencatan senjata di cabut."
"Terserah saja, yang jelas kau tidak akan pernah menang. Karena kau berperang untuk dirimu sendiri, orang yang berperang untuk keserakahan dirinya sendiri tak akan pernah menang melawan orang yang berperang untuk yang ia sayangi."
"Tak perlu banyak omong kosong, kau tak tahu rasanya menjadi miskin dan menderita, kau juga tak tahu rasanya cintamu di rebut." Kata Gia
"Aku tahu, sekarang aku merasakannya." Kata Zac
Alih-alih Zac termakan provokasi Gia dan serius mendengarkan Gia yang mengoceh, ia justru melihat pada Gaby dan Aaron.
"Gaby lihatlah pembunuh ayahmu, dia ada di sana." Kata Gia berbisik pada sang anak.
Namun, Gia tak tahu jika saat melakukan Barter, Moran telah menyelipkan sesuatu di tangan Gaby, cucunya.
Barter pun selesai, dan dua keluarga itu kembali dengan rencana mereka masing-masing. Helikopter-helikopter pun saling mengudara menuju ke tempat dan ke sisi-sisi yang berlawanan.
Bersambung~
__ADS_1