Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 214


__ADS_3

Di Negara AS, Daisy masih diam membisu, ia juga sedang malas berbicara.


Suasana hatinya benar-benar buruk dan ia tidak dapat mengontrolnya lagi, jika saja tidak ada Zay pastilah Daisy sudah menangis sepanjang hari dengan terisak.


Zay menjadi pelipur lara di hatinya yang terluka akibat pengabaian Zac yang lebih memilih gadis itu daripada sang ibu.


Berulang kali Derreck, dan Ben saling melirik ke arah Daisy yang sibuk memotong buah dengan wajah tanpa ekspresi, meski sebenarnya wajah Daisy yang cantik lebih terlihat seperti murka dan sangat suram.


"Klang!" Suara piring kecil berisi buah yang sudah selesai di potong oleh Daisy dan di letakkan di atas meja oleh Daisy dengan kasar.


Ben dan Derreck mendadak terkejut, mereka tentu tahu alasan kenapa kemarahan Daisy semakin meluap.


"Daisy... Kau pasti lelah, istirahatlah dulu." Bujuk Derreck.


Daisy menarik nafas dan membuang nya dengan kasar, lalu berjalan ke arah jendela dan melihat pemandangan.


"Aku yang mengandungnya! Aku yang berjuang melahirkan dirinya, aku memberinya Asi, menjaganya saat sakit, dan memandikannya, aku benar-benar menyayanginya dengan tulus, aku rela begadang demi dirinya yang rewel, bagaimana bisa dia lebih memilih gadis itu yang baru saja bertemu beberapa bulan dengannya!" Kata Daisy emosi dan berdiri di dekat jendela, menyedekapka tangan, matanya mulai merah.


Traver merasa tak enak, ia mungkin dapat menebak kenapa Zac sampai buta dan kehilangan akalnya memilih keluar dari keluarga Haghwer untuk bersama dengan gadis itu, insting Traver sudah langsung menyahut, namun ia tak mungkin memberitahukan kebenaran uang di alami Zac pada keluarganya.


Jika Zac sebenarnya impoteen, dan berita Zac menjado pria Playboy hanyalah karangan indah traver untuk menutupi fakta sebenarnya.


Ben melirik ke arah Traver dan Rudolf yang juga khawatir, Ben tidak tahu harus melakukan apa, karena dirinya tidak dapat bergerak dari ranjangnya untuk meredakan emosi Daisy.


Biasanya Ben akan memeluk Daisy pelan dan menenangkannya dengan membelai kepala Daisy.


"Bukankah sudah jelas, Zac menuruni watak ayahnya." Sahut Rudolf yang tiba-tiba nyeletuk.


Ben segera mempertajam tatapannya pada Rudolf, untuk tak mencoba menggoda istrinya yang sedang lebih galak dari macan betina.


Derreck kemudian mendekat dan memberikan air minum pada Daisy, namun Daisy menggeleng tak mau.


"Ibu... Aku penasaran gadis seperti apa Gaby itu, sampai membuat kakak yang begitu menyayangimu dan patuh pada ibu menjadi membangkang dan memilih keluar dari keluarga kita, bagaimana jika aku pergi memata-matai mereka?" Tanya Zay.


Daisy menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku tidak mau berpisah denganmu lagi Zay, baru saja kita bertemu, bagaimana bisa kau juga ingin meninggalkan ibu..."


"Kakak di Negara K, kita juga sebentar lagi pasti pulang ke Negara K, mansion kakak bisa di tempuh dengan kendaraan ibu... Kita masih di negara yang sama, aku hanya akan memata-matai kakak secara diam-diam." Kata Zay.


Daisy membuang nafasnya bingung.


"Tapi, ibu harap, kau tetap harus pulang."


"Aku akan pulang dan tidur di mansion ibu." Kata Zay memeluk sang ibu.


"Jadi, apa sikap yang akan kau ambil pada Zac dan keputusannya itu." Tanya Ben.


"Entahlah... Tapi, jika ku pisahkan mereka, entah itu dengan cara apapun, dan bagaimana pun, aku tetap tidak yakin apakah Zac akan menerimanya? Dengan sikap dan wataknya, alih-alih akan patuh, aku yakin dia pasti justru akan semakin nekat dan brutal." Kata Daisy kemudian duduk menghempaskan dirinya di sofa dengan kasar.


Ben semakin tak tega dengan Daisy yang bersedih. Baru saja mereka seharusnya berkumpul, namun ada lagi sesuatu yang memisahkan ibu dan anak.


"Dia bahkan tidak berpamitan padaku, tapi jika dia berpamitan pun rasanya aku juga pasti tidak kuat untuk menahan kesedihan dan amarah." Kata Daisy bimbang, setitik air mata menetes dan Zay memberikan sapu tangannya.


Tiba-tiba Traver melihat ponselnya yang bergetar, ia mendapatkan rentetan informasi-informasi baru.


"Tuan ada informasi penting." Kata Traver.


"Setelah perintah anda untuk menarik semua pengawal Haghwer, para pengawal yang ada di mansion milik Tuan Zac, beberapa dari mereka ada yang memilih tinggal, lalu beberapa pengawal milik Tuan Douglas masih stand by di depan gerbang mansion milik Tuan Zac, ada lagi ini tentang Tuan Douglas." Kata Traver.


Diam-diam Ben tetap memantau anaknya yang nakal itu. Ben memang terlihat santai dan tak peduli namun sesungguhnya dia selalu memikirkan anak-anaknya, meski anak-anaknya terkadang menyakiti semua sikap acih Ben yang seolah-olah tak peduli.


"Aku benar-benar mengkhawatirkan anak laki-laki ku, tapi kenapa sikapnya menyakitiku, aaaaahh Zaac... Kau membuat ibu mu serba bingung!!!" Geram Daisy.


"Kemarilah." Perintah Ben pada istrinya.


Kemudian Daisy mendekat dan duduk di kursi samping ranjang Ben, dengan lembut Ben menggenggam kedua tangan Daisy, dan membelai perlahan dengan jemari-jemarinya, Ben berharap itu dapat meredakan amarah Daisy meskipun hanya sedikit.


"Lanjutkan lagi." Perintah Ben.


"Tuan, saya sudah mendapatkan informasi mengenai Douglas yang mengganti nama marga keluarganya menjadi Scoot."

__ADS_1


Saat Traver mengatakan itu, Gavriel sedang ada di pintu masuk kamar, yang tidak di tutup.


"Tuan Gavriel." Kata Traver terkejut.


"Gavriel... " Panggil Derreck juga khawatir.


"Tidak apa. Aku juga ingin mendengarnya, bagaimana pria gila itu memilih melepaskan namanya dari keluarga Murder." Kata Gavriel dan kemudian masuk lalu menutup pintunya.


"Tuan... Apakah anda yakin?" Tanya Traver.


"Kenapa tidak yakin? Aku mengenalnya, dia kakakku dan aku tahu bagaimana wataknya yang kini mungkin sudah semakin gila."


Gavriel mendatangi Ben dan memeriksa beberapa alat yang masih terpasang di tubuh Ben.


"Tuan Gavriel, sepertinya nama Scoot seharusnya memiliki arti bagi anda, apakah anda benar-benar tidak ingat?" Tanya Traver.


"Setahuku marga keluarga Scoot sudah putus keturunan, artinya sudah tak ada lagi penerusnya." Kata Gavriel.


"Sebenarnya masih ada, dan Marga Scoot adalah marga dari musuh bebuyutan keluarga Murder. Ahli warisnya tersisa satu yaitu seorang perempuan yang dikenal dengan Yana Scoot, dia satu-satunya ahli waris dan penerus keluarga Scoot, tapi sayangnya, dia mengalami depresi yang cukup parah, seperti halnya Tuan Douglas yang memiliki bipolar, dan kepribadian ganda."


"Jadi maksudmu, Douglas menjadi suaminya?" Tanya Rudolf.


"Bukan Tuan. Tepatnya kakak tiri dari Yana Scoot, kami menyelidiki pulau yang tak berpenghuni yang di datangi Tuan Douglas ketika masih remaja, di sana sebenarnya adalah pulau milik Keluarga Scoot, dan sepertinya di sanalah Tuan Douglas bersembunyi selama ini, meski Tuan Douglas tidak membawa sepeser uang pun dari Keluarga Murder, jika penopang ekonomi nya adalah keluarga Scoot, semua menjadi hal yang tidak mustahil lagi, kini Tuan Douglas bahkan bisa sekuat mafia lain."


"Aku masih tidak faham, jadi kenapa dia memilih untuk menjadi kakak dari Yana, sedangkan dia punya aku sebagai adiknya."


"Mungkin, dia membenci mu." Kata Rudolf nyeletuk.


Bersambung~




__ADS_1



THANKS UNTUK TIPS NYA @SUGA


__ADS_2