Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 161


__ADS_3

Mata Ben berkaca-kaca, namun ia tak bisa begitu saja memperlihatkan kelemahannya di depan anaknya.


"Kerja bagus temui ibumu." Sebuah kalimat singkat tanpa ada kehangatan sedikitpun, kemudian Ben berbalik kembali duduk di kursinya.


Zac menatap dingin pada ayahnya.


"Kau masih sama, tak punya hati, bahkan kau membuat ibuku menangis sepanjang hari. Apakah kau sudah puas menyiksa batin ibuku, hingga akhirnya kau memilih menarikku kembalinke Negara K." Kata Zac.


"Aku sedang tak ingin berdebat. Meskipun kau sudah menempati posisi presdir, tapi itu semua tidak langsung membuatmu harus mengatakan kalimat berani padaku kan. Lagi pula aku adalah ayahmu yang seharusnya kau hormati, sekalian saja mumpung kau di sini, pidato mu sangat arogan, kau tidak menghormati para tetua pemegang saham yang duduk disana aku tidak pernah mengajarkan itu padamu." Kata Ben dingin.


"Sejak kecil aku menuruti semua maumu, aku berjuang dengan keras agar aku bisa menjadi seperti apa yang kau mau, asalkan kau tidak membuat ibuku menangis atau memisahkanku dari ibuku, tapi kau melanggar semua itu, apakah sekarang aku harus mendengarkan omong kosong dari seorang yang tak bisa menepati janjinya. Kau selalu berkata seorang pria terhormat tidak pernah melanggar janjinya." Kata Zac.


"Jadi, kau mau menuntut apa lagi sekarang? Bukankah kau menerima nya untuk pergi ke luar negeri merintis nama dan karir mu di sana karena kau juga mengajukan syarat jika kau ingin menjadi presdir di Benz Group. Sekarang kau mendapatkannya sesuai maumu, jadi kita impas, karena kau juga mendapatkan impianmu." Kata Ben.


"Itu bukan impianku, itu adalah impianmu, aku mengajukan itu agar kau tak membuangku begitu saja di luar negeri."


"Siapa yang membuangmu. Aku hanya ingin kau menjadi pria yang tangguh." Kata Ben.


"Kau membuangku dan adikku, kau hanya mementingkan kekuasaan dan harta, bahkan kau tidak sepeduli itu pada ibuku." Kata Zac.


"Sudahi perdebatan ini, dan temui ibumu, ternyata kau masih belum dewasa, terlalu banyak bicara." Kata Ben.


Zac tak habis pikir bagaimana ayahnya begitu kejam dan dingin padanya, bahkan seulas senyuman kecil saja, Zac tak pernah ingat ia mendapatkan dari ayahnya.


Dalam ingatan yang telah terpatri di otak Zac, hanya tatapan dingin, sikap acuh yang kejam, dan perintah nya yang otoriter selalu menghantui Zac, ayahnya begitu kaku dan seperti monster.


"Ya... Aku juga merasa sia-sia datang ke ruangan ini, kupikir kita bisa berbicara layaknya pria, tapi sepertinya hanya aku yang mengharapkan itu." Zac pun berbalik dan pergi.


Traver menundukkan kepala pada Ben, sudah lama juga Traver dan Ben tak saling bertatap muka.


"Kau sehat?" Tanya Ben pada Traver.


"Saya yang seharusnya bertanya pada anda. Tuan, kesalahpahaman anda dan juga Tuan Muda Zac sudah terlalu parah, saya harap anda harus menjelaskanya pada Tuan muda agar kalian dapat membina kembali hubungan ayah dan anak."


"Itu bagus Traver, semakin Zac membenci ku, semakin bagus, ketika aku mati, dia tidak akan sedih dan berduka terlalu lama."


"Tapi, jaman sekarang bukan lagi seperti jaman dulu, kita adalah mafia terkuat Tuan, dan saya pastikan tidak akan ada lagi yang bisa mengkhianati kita."

__ADS_1


"Traver... Dunia ini penuh teka teki dan seperti pazzle, kita tak pernah tahu bukan? Aku hanya ingin melindungi anak dan istriku. Membekali anak-anakku dengan bekal yang cukup, jadi mereka bisa bertahan hidup." Kata Ben berdiri membelakangi Traver.


Sedangkan Zac, ia berjalan perlahan menuju tangga besar, pria muda yang tampan itu berpapasan dengan para pelayan yang menunduk hormat.


Kakinya berjalan mantap, sepatu mengkilap yang bersih menapakki karpet yang membentang di sepanjang koridor.


Tak ada suara langkah kaki dari Zac, hingga akhirnya ia tiba di ujung perjalanannya, sebuah pintu besar dimana itu adalah kamar Daisy.


Perlahan Zac memegang handle pintu dan membukanya.


Zac menelan ludahnya melihat sang ibu memandangi dan mengulang-ulang layar televisi nya.


Zac melihat itu.


Ibunya dengan penuh derai air mata, memutar berulang ulang video Zac yang berbicara di atas mimbar.


Perlahan Zac berjalan pelan tak ingin membuat ibunya terkejut, namun ia pria nakal yang begitu menyayangi sang ibu.


Dengan perlahan Zac menutup kedua mata ibunya.


"Tebak siapa aku."


"Kau akhirnya pulang..." Kata Daisy menangis.


Zac kemudian duduk di samping ibunya dan memeluknya.


"Butuh tekad yang kuat untuk kembali ke sini, jika tidak ada ibu, aku tidak akan pernah menginjakkan kaki ku ke sini."


"Ini rumahmu bagaimana kau mengatakan itu." Kata Daisy mengusap wajah anaknya.


"Semenjak ayah menyuruhku pergi keluar negeri dan memisahkanku dengan ibu, aku sudah menganggap bahwa aku telah di usir." Kata Zac.


Daisy menarik nafas dalam dan menghembuskannya, air matanya terus menetes, Zac pun menghapus air mata ibunya dengan kedu ibu jarinya.


"Kau sudah makan?" Tanya Daisy.


Zac menyimpan bibirnya masuk ke dalam dan menggeleng manja.

__ADS_1


"Aku rindu biskuit gosong buatan ibu yang rasanya pahit."


Daisy tertawa sembari menangis.


"Akan ku buatkan besok, sekarang ayo kita makan di luar." Ajak Daisy.


"Kenapa ibu sangat bersemangat makan di luar?" Tanya Zac.


"Sekarang sedang trend para ibu-ibu mengajak anak mereka untuk berjalan-jalan, aku merasa iri dengan mereka saat para ibu-ibu itu menggandeng lengan anak-anak mereka di mall. Aku selalu membayangkan ingin berjalan seperti itu dengan anak-anakku, makan bersama, belanja bersama."


"Hahahahhaha..... " Zac tertawa keras.


"Ibu... Mari lakukan itu. Mari sombong kan anak tampanmu ini di depan semua ibu-ibu yang membawa anak mereka. Mari berjalan-jalan santai sampai semua ibu-ibu dan orang-orang iri denganmu." Ajak Zac.


"Tapi bagaimana dengan Zay." Tanya Daisy.


"Sebentar lagi Zay juga akan pulang ke Negara K, kita akan menjadi formasi yang mengguncang Negara K." Kata Zac tersenyum.


Daisy juga tersenyum.


"Tapi, ibu harus janji, akan makan dengan banyak malam ini, kau terlihat sangat kurus, apakah orang itu tidak mengurusmu dengan benar, apakah dia hanya berada di meja kerjanya sepanjang hari?" Tanya Zac.


"Aku sedang tidak ingin membahas itu, ada kau di sini dan aku sedang bahagia, aku sudah menantikan kedatanganmu berpuluh-puluh tahun, aku tidak bisa mengunjungimu dan kau juga begitu tak di perbolehkan pulang sebelum posisi yang di inginkan ayahmu tercapai oleh mu di luar negeri, jadi untuk hari ini mari kita bersenang-senang." Kata Daisy.


"Itu ide bagus ibu... Ayo... " Zac berdiri dan menggandeng ibunya dengan lembut.


Saat Daisy dan Zac menuruni tangga besar mansion dengan gembira, serta Daisy tersenyum bahagia bersama Zac, Ben melihatnya dari kejauhan, ia juga merasa lega bahwa senyuman yang cantik milik Daisy telah kembali lagi, sebenarnya masih lama Ben ingin menempatkan Zac di luar negeri, belum saatnya Zac mewarisi kepemimpinan Ben.


Namun, Ben pun sungguh sudah tak tahan juga melihat Daisy yang setiap hari murung, berpuluh-puluh tahun lamanya, Ben tak bisa lagi melihat senyuman cantik milik Daisy, dan ia selalu di liputi rasa bersalah.


Meski istri dan anak-anaknya membencinya, namun Ben tidak masalah, karena yang paling penting baginya adalah ia akan tenang saat Zac dan Zay menjadi tangguh.


"Aku sudah tenang sekarang, jika suatu hari nanti aku mati."


"Tuan... Jangan pernah berkata seperti itu."


"Traver, pergilah jaga mereka." Perintah Ben dan kembali masuk ke dalam ruang kerjanya.

__ADS_1


Seperti biasa, Ben kembali mengurung dirinya dalam kesendirian, kesunyian dan kesepian di dalam meja kerjanya selama berpuluh tahun ini.


Bersambung


__ADS_2