
Di Mansion Zenith, Gaby duduk bersama Moran di taman, mereka sudah semakin terlihat akrab.
"Aku sudah mengatur semuanya, kau tidak perlu khawatir, meskipun kau menjadi yatim piatu, kau masih memiliki aku sebagai kakekmu dan Gavriel sebagai pamanmu. Semuanya sudah ku urus, kau akan menjadi pewaris sah Keluarga Murder. Lagi pula, lebih baik tidak memiliki ibu daripada memiliki namun dia hanya membuatmu terluka." Kata Moran dengan tegas.
"Terimakasih Tuan Moran."
"Ehem.. Mulai sekarang kau bisa membiasakan dirimu memanggilku kakek." Kata Moran yang juga menyembunyikan kegembiraannya. Moran terlihat gugup, ia sangat senang memiliki cucu.
"Baik kakek." Kata Gaby.
Moran tersipu, ia menyembunyikan senyumannya.
"Jadi kau sudah tahu kan kelakuan ibumu." Kata Moran kemudian.
"Aku tidak menyangka ibu akan melakukan hal seperti itu, meskipun ayah memiliki watak yang keras, tapi tidak seharusnya ibu meracuninya. Ibu juga memiliki obesesi serta ketamakan yang tidak wajar, ibu tidak sadar diri siapa dirinya dan justru ingin memiliki Tuan Ben, sejujurnya aku malu." Kata Gaby.
"Lalu ada satu hal lagi, ada satu lagi kejahatan ibu mu yang telah dia lakukan padamu, namun itu bukan lah tugasku memberitahumu, Zac akan mengatakannya padamu."
"Apa itu?" Tanya Gaby.
"Zac sebentar lagi akan tiba, dia akan mengatakannya. Tapi, apapun itu aku akan selalu melakukan hal terbaik untukmu, aku akan mengupayakan segala nya umtukmu, demi keselematan dan kebahagiaanmu karena kau adalah cucuku." Kata Moran memegang tangan Gaby dengan kehangatan dan kasih sayang.
Akhirnya Zac sudah pulang, dan mobil terparkir rapi di garasi dengan mobil-mobil nya yang lain.
Namun, Zac langsung mendapati Gaby yang sedang duduk di taman bersama Moran, ternyata Moran sudah bisa berjalan dan terlihat jauh lebih baik.
Dengan cepat Zac mendatangi mereka, namun kening dan alisnya mengerut, tatkala tangan besar Moran yang telah terlihat sedikit mengeriput memegang tangan Gaby dan menggenggamnya.
Saat sampai, Zac dengan cepat mengambil tangan Gaby dan menggenggamnya.
"Jauhkan tanganmu itu Pak Tua." Kata Zac.
"Astaga.. Pelit sekali pada orang tua, dia cucuku dan bukannya aku akan memakannya." Kata Moran.
"Zac.. Kau pulang lebih cepat?" Tanya Gaby.
"Ya. Ayah yang mengurus perusahaan, aku memilih pulang."
"Bukannya perusahaan sudah menjadi milikmu, bagaimana bisa ayahmu yang ke sana, ku dengar ayahmu sudah pensiun."
"Aku mengembalikannya, aku sudah bukan Haghwer lagi, perusahaan ku Zenith akan ku pastikan lebih besar dari Benjove Haghwer."
"Astaga pria ini memang keras kepala. Ayahmu tidak akan begitu saja membuang anaknya yang paling berbakat, pada akhirnya kau tetap pewarisnya yang sah."
"Tidak untuk sekarang, dia masih hidup, biarkan dia urus sendiri perusahaannya dan aku melebarkan sayap perusahaanku sendiri."
__ADS_1
"Terserah kau saja. Tapi, ku dengar Gege Vamos akan membuka lahan baru untuk mendirikan perusahaan nya di Negara K, meski jauh dari ibu kota tapi ini kabar yang menggemparkan karena lokasinya jauh dari Kota Z yang sangat Strategis, biasanya para Mafia berlomba-lomba membangun apapun di Kota Z." Kata Moran.
"Ku dengar seperti itu tapi, dia mengambil bagian barat daya Negara K, hutan belantara yang masih sangat susah di lalui, aksesnya juga minim, aku heran mengapa dia mendirikan cabang perusahaannya di sana." Lanjut Zac
"Tidak, ku rasa dia sudah memikirkannya, di dekatnya adalah wilayah milik Marfin Vince. Ku rasa Gege Vamos ingin mengepakkan sayapnya lebih lebar, dan menyingkirkan Marfin Venue."
"Marfin...?" Zac melihat ke arah Gaby dan berhenti, ia tak melanjutkan lagi kalimatnya.
"Gaby bisa kah mau kembali ke kamar lebih dulu, aku membawakan hadiah untukmu, sepertinya Yaroon sudah meletakkannya di sana." Kata Zac.
"Hadiah? Hadiah apa?"
"Coba lihatlah, apa kau suka?" Kata Zac.
"Baiklah." Kata Gaby kemudian berlalu pergi.
Zac kemudian duduk di kursi berhadapan dengan Moran.
"Marfin Vince bukankah sudah terbantai saat perebutan wilayah kekuasaan dengan Aaron Vince?"
"Belum, dia memalsukan berita itu karena dia berharap ada orang-orang yang mengira dirinya mati, sejujurnya dia belum mati. Meskipun Marfin Vince dan Aaron Vince terlibat perang saudara, tapi jika dia tahu kau mengalahkan Aaron Vince, ada 2 kemungkinan yang terjadi, dia menjadi di pihakmu atau dia akan melawan mu."
"Ya... Pilihannya hanya itu. Tapi, sepertinya dia akan fokus pada Gege Vamos, karena Gege yang mengusiknya, wilayah milik Marfin Vince sangat strategis, banyak pelabuhan dan aksesnya sangat menguntungkan, di lalui berbagai banyak perdagangan mafia, tentunya keuntungan itu sangat membuat Marfin kaya." Kata Zac.
"Dan untuk itulah Gege Vamos membangun perusahaannya tepat di samping wilayah Marfin Vince, dan akan merebut wilayan Marfin Vince, sepertinya Marfin juga menyadari itu. Hanya tinggal membangun jembatan untuk menghubungkan wilayah mereka." Kata Moran.
"Ck! Dia anak yang keras kepala dan tangguh, tak perlu di jenguk." Kata Moran berdiri dengan tongkatnya.
Zac melihat tangan Moran sedikit gemetar memegang tongkatnya.
"Tinggalah di sini." Kata Zac.
"Apa katamu?" Tanya Moran.
"Tinggal lah di sini saja tak perlu kembali ke Mansion mu."
"Tanpa kau mengatakan itu aku juga akan tetap tinggal di sini, bersama cucu ku." Kata Moran.
"Dasar... Pak Tua licik." Kata Zac.
Kemudian Moran terkekeh dan ia pun berlalu pergi dengan di jaga beberapa perawat dan pengawal.
Zac pun naik ke kamar, dan melihat saat itu Gaby telah memcoba gaun yang Zac bawakan untuknya.
"Apakah bagus?" Tanya Gaby.
__ADS_1
Zac termenung sejenak, gaun yang pas dan mengikuti lekuk tubuh Gaby.
"Aku akan carikan yang lainnya lagi." Kata Zac.
"Kenapa? Apakah jelak?"
"Tidak. Sebalikmya, kau terlalu cantik dan gaunnya juga terlihat sangat seksi, terlalu terbuka untukmu."
"Tapi ini bagus aku suka, memangnya kita akan kemana?" Tanya Gaby.
"Ada acara nanti malam, pertemuan Organisasi Perserikatan Mafia." Kata Zac.
"Semua akan datang?" Tanya Gaby.
"Ya semuanya." Zac mendekat dan memeluk Gaby dari belakang.
Saat itu Gaby sedang memamdangi dirinya yang berdiri di depan kaca.
"Bagaimana kau bisa secantik ini." Kata Zac menyibak rambut Gaby yang sudah tumbuh semakin panjang dan mencium leher Gaby.
"Mmhh... Kenapa yaa..." Kata Gaby tersenyum.
"Kenapa? Jawab atau ku hukum." Kata Zac menyesap leher belakang Gaby membuat nya berbekas.
"Aaah Zac, jangaan.... Nanti berbekas, saat ada acara pasti mereka bisa melihatnya." Kata Gaby.
"Biarkan mereka melihatnya, justru itulah yang ku inginkan, agar mereka berfikir 1000 kali saat memiliki keinginan untuk mendekatimu." Kata Zac mengelus lengam Gaby.
Namun saat itu, Zac tersadarkan sesuatu, lengan yang di jahit.
"Ini...." Kata Zac.
"Aaah... Kata ibu ku, ketika aku masih kecil, aku pernah terjatuh. Mengakibatkan luka di lenganku yang cukup dalam dan harus di jahit." Kata Gaby.
Wajah Zac berubah menjadi gelap dan sedih.
"Benerkah seperti itu?" Tanya Zac tubuhnya sedikit membungkuk karena dahinya ia letakkan di dahi Gaby.
"Ya... Kata ibu seperti itu."
"Maukah kau mendengar yang sebenarnya?" Tanya Zac ragu dan khawatir.
"Yang sebenarnya?"
"Ya.... Yang sebenarnya tentang jahitan di lenganmu." Kata Zac mengelus pelan jahitan di lengan Gaby. Dahi mereka masih menempel satu sama lainnya, mata mereka saling memandang.
__ADS_1
Bersambung~