Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
FLASHBACK


__ADS_3

Pagi hari, di kediaman Mark Waldorf di Negara K, semua tak bisa tidur, saat itu mereka sudah berada di ruang keluarga.


Zac dan Zay selalu bangun lebih pagi dan meminta bermain.


Semua orang memang tak bisa tidur menanti kabar tentang Ben, dan mereka memilih menemani Zac dan Zay.


Namun, tiba-tiba pagi hari yang berkabut dan dingin, ponsel Mark Waldorf bergetar, dan itu panggilan dari Mena lalu mengangkatnya.


Mendengar kabar dari Mena, Mark terkejut dan tak bisa lagi menahan harapannya dengan sontak berteriak.


"Apa!!! Sudah di temukan!! Dimana lokasinya aku akan segera kesana!!!" Kata Mark Waldorf.


Seketika itu juga Daisy menegang, wajahnya berubah menjadi harapan yang tinggi, Derreck pun berdiri dari tempat duduknya, sedangkan Beatrice juga harap-garap cemas.


Casey datang dengan membawakan susu untuk Zac dan Zay, sedangkan Lewi baru saja sampai dari penyisiran pulau di sebelah Maladewi namun bukan Pulau Tanpa Nama.


"Ayah ada apa?" Tanya Daisy dan mendatangi ayahnya dengan menggendong Zay.


Mark kemudian menutup telfonnya.


"Dari Mena, Ben sudah di temukan semua sedang menuju ke sana." Kata Mark.


"Benarkah!!!" Air mata meleleh di pipi Daisy. Rasa bahagia tak bisa lagi ia ungkapkan dengan kata-kata.


"Aku akan kesana juga, dimana mereka menemukan Ben." tanya Daisy.


"Kita semua akan menjemput Ben, Casey dan Lewis akan menjaga Zac dan Zay." Perintah Mark.


Daisy mengangguk cepat, ia berlari mengambil mantelnya.


Mark serta Dereck dan yang lainnya bernafas lega, mereka buru-buru memberikan perintah pada pengawal untuk ikut menjemput Ben.


Perjalanan Ke pulau Tanpa Nama pun akhirnya di tempuh menggunakan pesawat pribadi.


Hingga beberapa jam perjalanan mereka baru sampai di bandara Pulau Tanpa Nama.


Mereka tiba bersamaan dengan iring-iringan mobil Traver serta Rudolf yang menempuh perjalanan melalui darat.


Traver turun dan menunduk hormat pada Mark.


"Tunjukkan jalannya." Kata Mark.


"Baik Tuan." Kata Traver.


Traver berlari menuju mobil paling depan.


Semuanya bertemu di titik kota Pulau Tanpa Nama dan segera melaju pergi ke tempat Ben.

__ADS_1


Meski pagi itu matahari sudah menyongsong namun anehnya kabut tak juga segera menghilang, cuaca begitu dingin dan membuatvsemua orang kedinginan. Mungkin, hari itu adalah hari terdingin sepanjang masa.


Daisy duduk dengan harap-harap cemas di samping Derreck, dengan lembut Derreck membelai kepala adiknya dan memeluknya.


"Kenakan mantelmu dengan benar. Dia akan baik-baik saja sekarang." Kata Derreck menenangkan adiknya dan membenarkan mantel Daisy.


"Aku tidak tahu keadaannya seperti apa, tapi aku yakin dia akan segera pulih." Kata Derreck lagi.


Daisy menghapus air matanya, Ben telah berjanji padanya tapi dari seluruh janji yang Ben berikan pada Daisy, baru kali ini Ben tak dapat menepatinya.


"Ben... " Kata Daisy dengan bibir bergetar dan ketakutan.


Derreck menarik nafas dan menghembuskannya pelan, lalu menggosok lengan adiknya pelan.


Tak berselang lama, iring-iringan mobil sampai di sebuah desa terpencil yang terisolir dari kota.


Desa tepi pantai dan sangat minim dengan kemajuan.


Traver dan Rudolf serta Gavriel turun, selanjutnya Mark dan Derreck di ikuti Daisy serta Mena.


"Apakah ini lokasinya?" Tanya Rudolf.


"Menurut lokasi yang telah kami lacak dari ponsel yang di gunakan Tuan Ben tadi pagi saat menghubungi saya, posisi Tuan Ben tepat ada di sini." Kata Traver


"Bukankah pantai ini bersebelahan dengan pantai Maladewi yang proyeknya sedang mangkrak, Ben tidak melanjutkannya karena tersandung peraturan perebutan wilayah antara pulau Tanpa Nama, karena Pulau ini dan Pulau Maladewi. Pantai mereka menyambung menjadi satu." Kata Rudolf.


Rudolf berlari ke tepi pantai.


"Sialan... Itu benar, ini benar-benar bersebelahan, bahkan pantainya menjadi satu dengan Maladewi, astaga Ben... Akan ku bunuh saja kau, kenapa dia tidak mengatakannya saja, apakah dia memang bermaksud membuat kita membuang-buang waktu dengan memutar arah!!!" Geram Rudolf.


Daisy berjalan pelan memasuki penginapan di susul yang lainnya.


Di sana terlihat kakek tua yang sedang membersihkan kandang ayamnya yang penuh dengan kotoran.


Daisy kemudian mendekat.


"Permisi... Saya ingin menemui seseorang." Kata Daisy.


"Ya Nyonya?" Tanya kakek tua itu tak mendengar.


Daisy menahan tangisannya, yang tercekat di leher.


"Apakah saya boleh melihat-lihat penginapan?" Tanya Daisy.


"Silahkan..." Kata Kakek tersebut dengan melambaikan tangannya menunjukkan jalannya, meski masih berjongkok membersihkan kandang ayamnya.


"Masuk saja..." Kata Kakek Tua mempersilahkan dengan tangan keriputnya.

__ADS_1


Daisy pun akhirnya berjalan pelan diikuti semua orang.


Sepelan mungkin karena hentakan sedikit saja debu akan berterbangan. Lantai yang tak pernah di bersihkan dan sangat kotor, tentu saja membuat Daisy merasa sangat sedih, apakah benar Ben tinggal di tempat seperti ini, dengan kepribadiannya yang sangat amat mencintai kebersihan dan membenci kotoran meski hanya seberkas debu tipis.


Dengan hati-hati Daisy memeriksa setiap pintu yang tertutup.


Penginapan itu setidaknya memiliki 5 kamar, dan kamar terakhir adalah yang paling ujung.


Jemari tangan Daisy bergetar, ia memegang handle pintu dan membukanya.


Saat pintu di buka, ia melihat Ben terbaring di atas ranjang yang kotor dan berdebu.


Seketika tubuh Daisy sangat lemas, kakinya seperti tak kuat menyangga tubuhnya lagi. Lehernya tercekat, namun tetap saja air matanya jatuh menetes dengan deras.


Daisy kehilangan kata dan kalinatnya melihat kondisi suaminya, kemudian dengan penuh rasa sakit di dadanya Daisy berlari dan memeluk Ben yang saat itu sedang memejamkan matanya.


Suara tangisan Daisy menggema dan meraung di ruangan berukuran 3X3 yang pengap dan berdebu.


Ben kemudian membuka matanya, perutnya terasa sangat nyeri, namun ia menahannya karena ia tahu istrinya pasti sangat mencemaskannya


"Kau sudah datang sayang?" Kata Ben dengan suara rendah.


Daisy pun mengangkat kepala dan melihat wajah suaminya.


Wajah itu telah di tumbuhi bulu-bulu halus di sekitar dagu, dan kumisnya juga sedikit tumbuh, rambutnya pun tak lagi rapi seperti biasanya, parahnya seluruh tubuh suaminya sangat kotor, kakinya bahkan seperti singkong yang baru saja di cabut dari dalam tanah.


Daisy yang melihat kondisi suaminya semakin menangis meraung hingga tersedak, dan terbatuk.


"Kau kenapa.... Kenapa kau menjadi sangat jelek....!!! Kenapa kau jahat sekali, kau tidak menepati janjimu, aku hampir ingin ikut mati jika kau mati, aku hampir bunuh diri jika kau tak di temukan, aku benar-benar tak bisa hidup tanpamu." Kata Daisy menangis di perut Ben.


Ben seketika menahan betapa sakitnya perut yang menahan tubuh Daisy, ketika Daisy menaruh tangan dan kepalanya di perutnya.


Tangan Besar Ben pun terulur maju dan membelai rambut serta kepala Daisy.


"Kau pasti sangat khawatir... Maafkan aku, sayang." Kata Ben terbata sembari menahan sakit.


"Aku tidak akan mau kau tipu lagi, apapun yang terjadi kita akan tetap bersama-sama!!!" Teriak Daisy.


Di luar, Gavriel yang melihat Ben menahan sakit kemudian maju, ia tahu ada sesuatu yang tidak beres.


"Biar ku periksa dulu." Kata Gavriel maju.


Ben memberikan kode memakai tangan bahwa "Jangan dulu." Ben tahu Daisy pasti akan merasa bersalah karena telah menaruh tangan dan kepalanya di perut Ben yang terluka.


Sedikit mendesis Ben mengankat tubuhnya dan memeluk Daisy.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2