
Clarissa mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan dan menghubungi Traver jika pakaian yang di pesan Tuan Ben sudah tiba.
"Tuan Traver maaf menganggu, Alexa membawa pakaian wanuta yang di pesan Tuan Ben." Kata Clarissa dengan suara rendah.
Namun Derreck mendengar itu, wajahnya semakin malas dan kesal.
Ben hanya diam.
Traver mengerti, dia pun keluar dan mengarahkan Alexa yang sudah menunggu di depan ruangan Ben untuk mengikutinya, Alexa membawa seluruh pakaian ber merk bersama dengan beberapa asisstennya dan pegawainya untuk ke rumah Ben yang ada di lantai atas.
Setelah itu Traver kembali turun.
Di dalam ruangan Ben, semua sudah saling bersitegang dalam diam, Ben tahu kali ini akan sulit menepati janji Daisy yang tidak ingin ada perkelahian, apalagi di lihat dari sikap Derreck yang sudah terprovokasi.
"Kau meniduri Sunny." Kata Derreck yang akhirnya tak bisa menahannya lagi.
Ben tahu Derreck tidak akan melepaskan Daisy, apalagi Derreck sudah mendapatkan Daisy selama 2 tahun ini, tidak akan mudah bagi Derreck melepaskan Daisy. Itu adalah impiannya, membuat Daisy berada di sisi Derreck, karena Derreck mencintai Daisy.
Jika bukan Ben yang memulai perkelahian sudah di pastikan akan muncul di pihak Derreck.
"Kau mau minum? Anggur? Whiskey?" Ben menawari Derreck minuman.
Namun, dengan tidak sabar Derreck menarik krah jas Ben dan mencengkramnya.
"Berikan Sunny padaku!!!" Geram Derreck sudah tak sabar dan diliputi amarah.
"Kau memang pria tak beradab, kau bahkan memaksa Sunny melakukan hal kotor, kau tidak akan pernah ku lepaskan!!!" Geram Derreck.
Ben kemudian mencengkram kedua pergelangan tangan Derreck dengan kuat, dan dengan paksa kekuatan Ben mampu menurunkan tangan Derreck yang mencengkram jas milik Ben.
Derreck mendelik, ketika kekuatannya di kalahkan Ben. Derreck tahu, ia tak pernah melupakan bagaimana kekuatan Ben, ia tak akan mungkin bisa menang melawan Ben. Namun, rasa cinta Derreck pada Daisy dan rasa amarah Derreck pada Ben terlalu kuat.
"Aku berjanji padanya tidak akan menimbulkan perkelahian, jadi jangan memancing kesabaranku. Kau harus tahu Derreck, aku bukan tipe orang sabaran." Bisik Ben mengancam Derreck.
Traver dan Casey yang berdiri mulai tegang juga.
Kemudian Ben mendorong Derreck menjauh dan Ben merapikan jas nya.
"Traver keluarkan rekaman itu, dan beberapa dokumen yang harus Derreck lihat." Perintah Ben.
"Baik Tuan." Kemudian Traver menyerahkan rekaman dan dokumen untuk Derreck.
"Duduk dan lihatlah dengan santai. Jika kau butuh cemilan sekretarisku akan menyiapkannya." Kata Ben.
Traver memutar rekaman suara Daisy yang saat itu mengungkap dirinya sendiri di depan Mena, kaki Derreck mulai lemas, ia duduk di sofa dan meraih dokumen yang ada di atas meja lalu melihatnya.
Casey mulai goyah, dan matanya di liputi rasa cemas, ia pun melihat Traver yang memandanginya dingin dan angkuh.
__ADS_1
"Di kamar Mena ada perekam, dan bukan aku yang memaksanya mengatakan itu. Dia sukarela. Jika kau tidak percaya kau juga bisa cek cctv yang ada di ruangan itu." Kata Ben.
Derreck menelan ludah dan meremas dokumen yang sedang ia pegang. Itu adalah dokumen semua bukti jika keluarga Sunny telah di palsukan, sekolah akselerasi dan teman-teman Sunny juga di palsukan."
Ben kemudian berjalan hendak mengambil minum.
Namun dengan cepat Derreck berdiri, mengambil pisau nya yang ada di sakunya, lalu menekannya, pisau itu pun terbuka.
Saat itu juga, Daisy masuk, dan melihat Derreck mengarahkan pisau itu pada Ben.
Derreck melangkah dengan kaki panjang yang cepat, semua terjadi begitu cepat, hingga Traver dan Casey tidak menyadari.
Daisy berlari dan langsung berdiri di hadapan Ben.
"Tidak!!! Derreck!!!" Teriak Daisy.
Semua orang terkejut. Derreck melihat Daisy, matanya membelalak, ia sangat syock, karena tiba-tiba Daisy menghadangnya dan berdiri tepat di depan Ben.
Traver menegang, Casey pun juga terkejut dan membuka mulutnya.
Ketika Derreck menyadarinya, itu sudah terlambat. Daisy sudah berdiri di depan Ben menjadikan tameng untuk Ben.
Gerakan cepat Derreck tidak bisa lagi di tahan, tangannya sudah terlanjur bergerak maju menyerang, tidak ada waktu tersisa untuk dapat mengeremnya lagi.
Dengan cepat dan gerakan yang cepat, Ben menyadari itu, instingnya tak pernah meleset dan langsung menahan pisau itu menggunakan tangan kanannya sendiri.
"CRASSHHH!!!"
Derreck menelan ludah dan melihat baju Daisy robek.
Traver maju dengan mengeluarkan sapu tangan dan bergegas untuk mengambil pisau yang di genggam Derreck dan Ben. Traver menutup nya dengan sapu tangan lebih dulu, dan mengambilnya.
Daisy melihat darah yang menetes di telapak tangan Ben.
"Ben... Tanganmu... Dokter.... Traver hubungi dokter Gavriel!!!" Teriak Daisy panik.
Ben kemudian mengeluarkan sapu tangannya menggunakan tangan kiri dan menaruh sapu tangan itu di tangan kanannya.
Ben tersenyum dingin, senyuman tipis.
"Derreck apa yang kau lakukan! Pisau itu! Kau mau membunuh Ben!" Kata Daisy.
Derreck hanya diam tubuhnya kaku, ia tak bisa mengontrol emosi, matanya terus tertuju pada perut Daisy dimana pakaian itu sudah sobek terkena pisau.
"A... Apa kah kau terluka... Daisy." Kata Derreck.
Akhirnya nama yang selalu Derreck pendam dan sembunyikan, bahkan Derreck bertekad mengubur nama itu selamanya, kini keluar juga dari mulutnya.
__ADS_1
Casey terkejut dan Daisy pun juga.
Ben kemudian memeriksa Daisy, menggunakan tangan kirinya, Daisy masih berdiri di hadapan Ben menjadi tameng, perut Daisy aman, hanya baju milik Daisy yang sobek terkena pisau.
Ben menatap Derreck dengan tatapan kemenangan, ia tahu Daisy pasti akan kecewa pada Derreck.
Pada akhirnya pembicaraan mereka berakhir dengan perkelahian, namun bukan Ben yang memulainya.
"Daisy, ikutlah dengan Derreck." Kata Ben.
Derreck yang saat itu linglung, ia merasa bersalah pada Daisy terkejut Ben mengatakan itu.
Bahkan Casey juga terkejut dengan mata membulat, ia tidak menyangka Ben akan melepaskan Daisy.
"Tuan...!" Traver mencoba mencegahnya, ia tak habis pikir kenapa Tuannya melepaskan Daisy, padahal dia sudah tersiksa selama 2 tahun. Padahal Ben sudah berusaha sekuat tenaga untuk mencari tahu dan membongkar penyamaran Daisy, dan sekarang begitu saja melepaskan Daisy?
Bukan hanya mereka, Daisy juga terkejut mendengar pernyataan Ben.
Derreck kemudian membuang senyuman ketus, dan mengangguk pelan.
"Kau... Ini memang rencanamu agar aku terlihat buruk di depan Daisy." Kata Derreck.
Ben masih diam.
"Kau merencanakan agar aku terlihat seperti penjahat di hadapan Daisy, dan kau terlihat seperti manusia yang lemah agar Daisy berada di pihakmu, agar Daisy membenciku dan ia mulai memihakmu lagi!!!
"Terlihat seperti penjahat ya? Kau memang penjahat Derreck. Apa yang sudah kau lakukan selama 2 tahun, apakah kau tidak merasakannya. Aku ingin terlihat lemah? Ayolah, aku Ben. Bagaimana bisa aku ingin terlihat lemah di hadapan wanita yang ingin ku perjuangkan."
"Derreck... Apa yang kau katakan? Alih-alih meminta maaf kenapa kau justru menuduh Ben? Aku tahu kau kecewa padaku, maafkan aku." Kata Daisy.
Ben tersenyum tipis, begitu tipis hingga tak ada yang sadar.
"Walaupun aku lebih senang kau ada di sini, tapi kau bisa ikut dulu dengan Derreck, kalian pasti ingin berbicara."
"Tapi luka mu..." Daisy menatap Ben dan luka Ben dengan khawatir.
"Tidak apa-apa... Bukan masalah besar yang penting kau tidak terluka."
"Maafkan aku Ben..." Kata Daisy matanya memerah.
Ben mengangguk pelan.
"Aku yang menyuruhmu untuk bersamanya dulu, tidak perlu merasa bersalah." Kemudian Ben mengecup bibir Daisy.
Derreck memalingkan pandangannya dan pergi, sedangkan Casey menunggu Daisy, dan mereka menyusul Derreck.
Di luar ruangan Ben, para karyawan juga tegang karena keributan yang telah terjadi.
__ADS_1
Semua karyawan saat itu bekerja lembur, sudah menjadi kebiasaan bagi mereka pantang pulang sebelum atasan mereka pulang.
Bersambung